Desa: kemiskinan, kebodohan, dan kekufuran

“… ah sayang, anugerah Gusti Allah berupa sumber daya alam yang melimpah gemah ripah loh jinawi itu tidak dibarengi dengan pembangunan Sumber Daya Manusianya. Malah dibarengi keserakahan segelintir orang yang sok berkuasa. Alhasil, bukanya membawa kemakmuran dan keberkahan hidup bersama, tapi malah memperpanjang cerita kemiskinan yang terus berderit-derit.” – a random thought

kemiskinan_00
*) Gerdu

Pagi itu  langit di desa Wonoasri begitu sumringah. Membiru sempurna, tak segumpal awan kelabu pun menghalangi mata telanjang ku yang menatap nya dengan khusuk. Matahari pun tak malu-malu menerangi, menghangatkan, dan memberi energi kehidupan seluruh alam jagat raya. Seolah memancarkan aura keikhlasan yang sempurna menjalankan takdir Tuhan yang telah ditetapkan untuk nya. Angin pun semilir membelai lembut rambut ku yang agak gondrong, menjanjikan kedamaian dalam nurani kecil  ku yang sedang lari dari jerat-jerat kesibukan hidup yang membelenggu. Aku yang sedang sembunyi dari hiruk pikuk dan hingar bingar pesona kemajuan dan keglamouran kehidupan dunia yang sering kali melenakan. Aku yang sedang duduk termenung di sebuah Gerdu reyot di mulut  jalan masuk rimbunan hutan jati, paru-paru desa ini. Aku yang sedang mencoba mendengar alam yang sedang bersenandung lirih.

Sesuai namanya, wono yang artinya hutan, desa Wonoasri di Kabupaten Madiun Jawa Timur ini memiliki anugerah berupa hutan, khususnya hutan jati yang begitu melimpah. Ijo royo royo (kehijau-hijauan) hutan ini begitu memanjakan mata yang memandangnya. Tidak hanya rimbunan hutan jati yang subur, hamparan tanaman jagung, kacang tanah, dan rerumputan yang tumbuh diantara pohon jati yang sudah ditebang itu juga memesona. Mereka seolah menegaskan, tanah ini adalah tanah yang subur. Tak terlalu berlebihan kiranya kalau ada yang menyebut tanah kita tanah syurga, tongkat dilempar pun jadi tanaman  seperti tongkat batang ketela pohon misalnya.

kemiskinan_01
*) Potret Kemiskinan

Di jalanan kecil menuju perut hutan jati itu Aku melihat laki-laki dan perempuan-perempuan  desa berlalu lalang,  masuk dan keluar hutan jati milik negara itu. Baju mereka terlihat sudahsangat lusuh, bahkan sudah sobek-sobek di badan,  lengkap dengan caping dari anyaman bambu dan dengan sepatu usang atau pun dengan kaki telanjang. Mereka datang dengan  mengendarai sepeda ontel yang juga sudah usang lagi sudah karatan.  Tubuh mereka kurus kering, seolah kontras dengan tanaman jati dan jagung yang subur. Menyuguhkan tidak sekedar potret kesederhanaan dan kebersahajaan hidup, tetapi sebuah keniscayaan kemiskinan dan kemelaratan hidup.

kemiskinan_02
*)Potret Kemiskinan

Keluar dari hutan, sepeda ontel mereka penuh dengan muatan yang terlihat begitu berat, berupa rumput untuk ternak mereka, atau berupa kayu bakar untuk keperluan dapur mereka atau pun di tukar dengan beberapa lembar rupiah. Begitulah, mereka pagi itu bertebaran menjemput karunia Tuhan. Dan, senyum tulus dan keramahan mereka tak jua segera luput dari ingatan ku.

kemiskinan_03
*) Potret Kemiskinan

Pikiranku tak juga hendak mau terhenti. Sebuah teka-teki beregelayut tak mau pergi dari pikiran ku. Kenapa Gusti, anugerah alam yang subur melimpah ini tak memberi kesejahterahan dan keberkahan hidup mereka? apakah karena sebuah keserakahan? Iya, bisa jadi alam yang subur ini dikuasai oleh segelintir orang yang sok berkuasa. Katanya sih dikelola oleh negara dan dijamin oleh undang-undang untuk kesejahteraan rakyat sebesar-besarnya. Nyatanya? hanya segelintir orang serakah yang dekat dengan penguasa yang menikmatinya.

kemiskinan_04
*) Potret Kemiskinan

Ataukah karena Kebodohan? Coba saja mereka pintar dan berpendidikan tinggi, pasti mereka tidak semiskin itu. Mereka bisa jadi pejabat, atau pegawai bergaji besar di kota besar. Trenyuh rasanya, di desa ini, sejauh mata telanjang memandang dari rumah saya tinggal saja saya melihat ada tiga anak manusia yang diuji dengan keterbelakangan mental. Aku jadi ingat kampung Idiot di kabupaten sebelah, yang satu kampung hampir semua penduduknya idiot.

Tetapi, apakah benar pendidikan memang begitu? bukankah pendidikan hanya menciptakan tirani, keangkuhan dan kesombongan? Lihat saja, anak-anak desa yang kebetulan brilian otaknya. Setelah menjadi pintar, kaya, berpangkat dan terhormat,  apa yang mereka perbuat untuk desa ini? Jangankan membawa keberkahan buat orang-orang di desanya, yang ada malah menyakitkan hati dengan pameran kekayaan simbol kesuksesan hidup mereka. Mobil yang mewah, istri yang cantik, dan anak-anak mereka yang terlihat pintar dan cerdas. Mereka yang dulu sering bertandang dari pintu ke pintu rumah penduduk sekitar, sekarang berubah jadi tontonan keangkuhan hidup mereka.

kemiskinan_05
*) Potret Kemiskinan

Tetapi, bukanya pendidikan seharusnya tidak begitu? Bukanya pendidikan seharusnya menjadi pemutus rantai kemiskinan? Bukanya pendidikan seharusnya mencerahkan dan membawa keberkahan hidup? Andai saja mereka pintar, tidak saja mereka hanya mampu menjual kayu gelondongan dan bahan mentah. Mereka bisa merubah kayu gelondongan itu menjadi furniture, mainan anak, pensil dan produk lain bernilai ekonomi tinggi dan sekali lagi kalau mereka pintar mereka bisa menjualnya ke seluruh penjuru dunia. Jagung, kedelai, kacang tanah, singkong mereka pun tidak hanya dijual apa adanya. Jikalau mereka pintar, mereka bisa mengubahnya menjadi produk bernilai tinggi. Keripik singkong pun bisa menjadi camilan dunia mengalahkan kentang goreng, jika dibuat, dikemas, dan dipasarkan oleh orang-orang pintar.

Mungkinkah, karena kita terlalu dimanja  dan terlenakan oleh alam, sehingga kita lupa meningkatkan kualitas diri kita? Mengapa, singapore negara sangat kecil yang tidak memiliki sumber daya alam itu jadi jauh lebih makmur dan sejahtera dari kita? Bukankah, harus kita akui karena mereka lebih pintar daripada kita?

Kalau begitu, jika pendidikan itu pemutus rantai kemiskinan? Sudahkah mereka diberi kesempatan yang sama? Bukanya pendidikan itu terbuka luas hanya buat mereka yang kaya atau memiliki otak pintar? Bukan untuk yang miskin dan bodoh. Bukanya yang miskin itu biasanya otaknya bodoh? Kebodohan memang menciptakan kemiskinan, keterbelakangan, dan bahkan kekufuran jauh dari Tuhan. Jika pendidikan pembasmi kebodohan? masih adakah harapan pendidikan yang  terbaik untuk mereka yang miskin dan bodoh? Atau buat mereka yang sengaja dimiskinkan dan dibodohkan?

Ini hanyalah satu potret kemiskinan di negeri ini. Mereka adalah silent majority di negeri ini. Mereka sebenarnya banyak, bahkan mayoritas, tetapi seolah dianggap tidak ada. Karena mereka tidak pernah bersuara dan disuarakan? Mereka adalah yang dilemahkan. Mereka yang sering kali luput dari pemberitaan. Bukankah negeri ini oleh media hanya diwakili oleh Jakarta?

Sesulit apa pun, semoga selalu ada secercah harapan  yang lebih baik untuk negeri ini.   Seperti sepenggal kutipan kata di bawah ini:

Sepahit apapun ujian saat ini..
Sebesar apapun cobaan saat ini..
Sesulit apapun kehidupan saat ini..
Yakinlah..
Bahwa semua itu hanyalah sementara
Percayalah..
Bahwa akan ada satu waktu dimana Allah pasti menggantikan
Pahit dengan Manis..
Kesulitan dengan kemudahan dan cobaan dengan keindaahan.

Jakarta, 11 Januari 2014 (Khofifah Indar Parawansa)

 

Semoga saja !

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s