Museum dan Media Pewarisan Peradaban?

“… orang yang melupakan sejarah, akan dikutuk oleh sejarah dengan melakukan kesalahan yang sama dengan yang pernah terjadi di masa lampau”

kota_tua01

Melipir ke Kota Tua Jakarta : Museum BI dan Museum Wayang

Keterpaksaan untuk singgah beberapa hari di Jakarta kemaren, saya manfaatkan untuk silaturrahim dengan beberapa saudara dan sahabat-sahabat dekat yang tinggal di wilayah Ibu kota dan sekitarnya bahkan sampai Cibubur dan Ciledug. Selalu ada kucuran kebahagian tersendiri setiap saat bercengkerama akrab dengan kawan lama tanpa jika tanpa diselepi kepentingan-kepentingan. Pertemuan manusia-manusia makhluk Tuhan biasa, tanpa embel-embel keduniawian.

Diantaranya, saya sempat mengunjungi dua museum di situs Kota Tua Jakarta Utara, yaitu: museum Bank Indonesia dan Museum Wayang. Kunjungan ini terasa istimewa karena ditemani dua orang teman lama, yaitu teman SMP 1 CLuring di Banyuwangi. Beruntung dan bersyukur, meski sudah 15  tahun kami berpisah, toh silaturrahim kami masih terjaga sampai sekarang.

Situs kota tua di Jakarta ini cukup mudah dijangkau dengan public transport. Jika naik busway, dari halte harmoni jakarta pusat turun saja di halte Kota. Atau, jika naik Kereta Rel Listrik (KRL) Turunlah di stasiun Jakarta Kota. Buat anda yang ingin belajar dan menghargai sejarah, situs kota tua ini adalah tempat yang tepat untuk anda kunjungi. Ada banyak museum disini, di antaranya adalah Museum Bank Indonesia, Museum Fatahilah, dan Museum Wayang.Suasana di situs kota tua ini juga cukup nyaman dan romantis. Anda bisa menyewa sepeda ontel untuk menyusuri kota tua ini.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai perjuangan dan peninggalan budaya leluhur pendahulunya. Diantaranya dengan adanya museum-museum ini. Lihat saja di kota-kota besar di Eropa. Museum adalah jujukan dan daya tarik paling utama untuk di kunjungi seperti British Museum di Kota London. Mengunjungi museum-museum besar tersebut, seolah akan membawa kita menyusuri kembali peradaban manusia di masa lampau yang pada akhirnya akan menyadarkan kita bahwa capaian peradaban manusia saat ini tidak datang sekonyong-konyong, tetapi melalui proses yang sangat panjang. Masa lalu juga mengajarkan kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Jika alquran menyuruh kita berjalan di atas bumi untuk melihat bagaimana kesudahan bangsa-bangsa jaman terdahulu. Mungkin, museum-museum di kota-kota besar di Eropa pada umumnya, dan Inggris khususnya adalah tempat yang tepat anda kunjungi untuk memahami ayat-ayat Tuhan tersebut.

Museum memang sudah seharusnya menjadi media penghargaan terhadap urun peradaban para leluhur pendahulu kita. Sekaligus media pembelajaran dan media pewarisan budaya dan peradaban dari satu generasi ke generasi bangsa berikutnya.

Akan tetapi, bagaimana dengan Museum di Indonesia? Jadi jujukan utama kah di kota-kota di Indonesia? Hehe, anda tau sendiri jawabanya. Tapi tak apalah, mari kita coba hargai dengan sudah ada.

kota_tua04

Museum Bank Indonesia

kota_tua02

Di Museum ini anda bisa belajar sejarah berdirinya Bank Indonesia sejak jaman Belanda. Dari sejak bank sentral Indonesia ini bernama Bank Jawa, hingga keberadaanya saat ini terdokumentasikan cukup baik dalam bentuk poster, diorama, dan koleksi-koleksi barang kuno. Di museum ini anda bisa melihat koleksi uang kuno yang pernah digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia. Koleksi mata uang asing dari semua negara di dunia juga bisa anda temukan disini.

kota_tua03

Pengunjung museum ini kebanyakan adalah rombongan anak-anak sekolah. Ada tour guide yang disediakan oleh museum untuk menjelaskan koleksi yang ada di museum ini. Untuk masuk ke dalam museum ini anda tidak perlu membayar sepeser pun alias gratis. Di museum ini anda juga bisa membeli souvenir seperti tas dan gantungan kunci yang tentu saja tidak gratis.

kota_tua09

Museum Wayang

Wayang, siapa yang tidak kenal warisan budaya luhur bangsa kita ini? Eh bisa jadi anak-anak kita sudah tidak mengenal yang namanya wayang. Sejarah mencatat bahwa wayang tidak hanya sekedar media hiburan kosong tanpa makna seperti hiburan-hiburan sampah di stasiun-stasiun TV di Indonesia seperti sekarang. Wayang telah menjadi media edukasi untuk mengajarkan budi pekerti, kebajikan dan  kearifan hidup. Melalui media wayang ini pulalah para Wali Songo secara santun menyebarkan nilai-nilai luhur pesan Tuhan kepada masyarakat Jawa tanpa setetes darah pun tercecer.

kota_tua06

Di museum ini anda bisa menemukan koleksi berbagai jenis wayang yang pernah ada di Indonesia. Mulai dari wayang suket, wayang kulit, wayang golek, dan wayang orang. Jika anda mengalami masa kecil di era 90-an anda pasti ingat tayangan Si Unyil setiap hari minggu pagi di TVRI dengan tokoh-tokoh Unyil, Usro, Pak Raden, Mbok Bariah, Pak Ogah dll. Di museum ini anda bisa menjumpai boneka-boneka lucu yang melegenda itu.

kota_tua05

Pertunjukan Wayang Orang

Di sela-sela menysuri bilik-bilik museum wayang ini, sayup-sayup kami mendengar suara gamelan jawa, lengkap dengan lagu-lagu jawa yang ditembangkan oleh para sinden yang suaranya kenes. Suara gamelan jawa itu menggoda kami untuk mendekat ke sumber suara. Oh rupanya, dalam sebuah aula yang tidak begitu besar di museum wayang itu sedang berlangsung pertunjukan wayang orang.

kota_tua07

Berjubel orang memadati ruangan itu. Beruntung sekali saya bisa menikamati pertunjukan ini. Karena katanya jarang sekali  ada pertunjukan semacam ini. Selaksa ada ruang kosong kerinduan dalam sanubari yang terisi. Memang, kesenian termasuk sisi peran ini tidak pernah bisa lepas dari sisi-sisi kemanusian manusia. Hanya saja gaya hidup manusia yang semakin materialistis, membuat para pelaku seni ini semakin terpinggirkan.

Saya jadi ingat masa kecil saya dulu di era 90 an, saya masih sangat sering melihat pertunjukan seni di desa saya di pelosok Banyuwangi sana. Ada kendang kempul, gandrung, janger, kuntulan, pertunjukan wayang kulit, jaranan, prabu loro, dll. Setidaknya seminggu sekali ada pagelaran budaya tersebut yang ‘ditanggap’ orang yang punya hajatan. Sekarang? setahun sekali pun sepertinya belum tentu ada.

kota_tua08

Entah kemana perginya para pecinta dan pekerja seni itu? karena kesuksesan semata-mata diukur banyaknya materi yang dikumpulkan. Bukan tidak mungkin para pekerja seni itu memilih menjadi TKI di luar negeri. Apalagi kalau tidak pandai-pandai mengemas seni budaya menjadi produk bisnis. Padahal sering kali arah seni dan materi tidak sejalan.

Semoga saja, seni warisan budaya leluhur kita ini punya seribu nyawa, sehingga tidak pernah mati. semoga saja !

Advertisements

4 comments

  1. Aku pas ndik Jakarta kok mesti akeh kegiatan tenguk2 e ya, soale kebetulan koncoku kok ya ra pati seneng dolan. Wah kapan2 kudu dolan ning jakarta ke teman yg lain yg suka bepergian wisata nihh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s