Jakarta Oh Jakarta : Mengglobal?

… buat orang tak berduit banyak, hidup di kota ini tidak pernah mudah. Tetapi, dari pada mengutuk lebih baik kita menikmati nya  bukan?

jak_01

Jakarta Oh Jakarta. Karena pakai paspor dinas, setiap pulang/pergi ke luar negeri harus mampir ke Ibu kota hanya untuk mendapatkan tempelan stiker di paspor bernama exit permit yang menurut saya esensinya sangat tidak penting sama sekali. Perlu setidaknya dua hari untuk mendapatkan stiker itu. Maklumlah, nalar logika filsafat yang dipakai pembuat kebijakan birokrasi di negeri ini kan masih kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?

Yah, daripada buang-buang energi untuk mengutuk dan berkeluh kesah dengan kebijakan ini, lebih baik berdamai dengan diri sendiri dan men menyalurkan energi itu  untuk menyambung silaturahim dengan saudara dan sahabat-sahabat lama di Jakarta ini.

Setahun lebih di Inggris dan kembali di kota ini membuat tubuh saya sedikit kemenyek. Kegerahan itu sudah pasti, dari baju lima lapis menjadi kaos oblong tipis. Udara terasa menyesak dan menusuk di  hidung, yang seolah memberi pertanda bahwa sebenarnya udara di Jakarta sudah tak layak lagi untuk prasyarat hidup sehat. Alhasil, semalam tidur di Jakarta, bangun pagi tidur bukanya badan segar yang ada malah batuk pilek dan tenggorokan terasa ada yang mengganjal dan serak.

Perubahan Jakarta era Pak Lek Jokowi ternyata tak se bombastis seperti pemberitaan di media online yang saya ikuti. Nyaris, secara kasat mata saya tidak melihat adanya perubahab itu. Sama saja seperti setahun yang lalu, atau bahkan lebih buruk. Hidup di kota ini memang tidak pernah mudah buat orang yang tak berduit banyak. Jalan kaki masih harus melewati gang-gang sempit, padat penduduk nan kumuh, atau trotoar yang penuh dijejali para pedagang liar yang mencoba mengais rejeki untuk bertahan hidup di tengah-tengah kejamnya hidup di ibu kota. Belum lagi kalau hendak menyebrang jalan, pilih kuras energi naik jembatan penyebrangan yang sangat jarang jumlahnya dan tidak manusiawi konstruksinya atau mempertaruhkan nyawa lewat zebra cross yang tidak dilengkapi traffic light? Keadaan ini tentu saja sangat kontras dengan jalan kaki menyusuri kota-kota di Inggris yang sangat nyaman dan menyenangkan.

jak_02

Keberadaan public transport juga semakin tidak nyaman dan tidak bisa dihandalkan saja. Menggunakan public transport di kota ini benar-benar menguras hati dan energi. Bus way yang dulu menurut saya cukup bisa diandalkan dari segi kenyamanan dan kecepatan nya, sekarang tinggal kenangan. Bus nya sudah bobrok, AC nya sudah mati, dan informasi pemberhentian bus baik berupa tulisan digital maupun suara  “the next stop is ….” sudah almarhumah entah sudah berapa lama. Pun demikian, masih saja ada antrian panjang dan bus nya suka telat ber jam-jam. Hanya untuk bergerak dari satu titik ke titik di dalam kota ini dibutuhkan waktu berjam-jam. Belum lagi ulah sesama calon penumpang yang sangat tidak sopan, yang tidak terbiasa antri, suka main dorong dan sikut, serta sangat tidak ramah. Benar-benar menguras hati. Saya beberapa kali pada akhirnya mutung keluar dari antrian Bus Way dan beralih ke Ojek atau Taxi.

Saya jadi membayangkan jika saya Bule Eropa yang pertama kali berada di kota ini. Gimana tidak stress kuadrat dengan kondisi kota ini. Ditambah lagi, kota ini sangat tidak well-informed dan sangat tidak welcome untuk orang non-indonesia. Sangat jarang papan informasi yang berbahasa inggris. Itu pun masih untung sudah ada informasi berbahasa Indonesia, kebanyakan pun tidak ada. Masak iya, Bule Eropa ini kalau mau kemana-mana harus bertanya ke orang yang juga belum tentu bisa berbahasa Inggris. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, ketemu Bule yang sangat stres naik turun eskalator, padahal dia hanya ingin membeli tiket dari Jakarta ke Bandung untuk keberangkatan keesokan harinya. Tetapi dia dikira orang yang dia tanyain hendak menunggu kereta yang akan berangkat ke Bandung saat itu.

Mengelola kota sebesar Jakarta memang tidak mudah. Banyak sekali permasalahan klasik kota besar harus diselesaikan juga. Akan tetapi, mau tidak mau dunia yang semakin mengglobal menuntut Jakarta sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan di Indonesia harus setidaknya layak disinggahi oleh siapa pun dari negara mana pun yang tidak dapat dielakkan akan datang ke kota ini. Saya membayangkan suatu saat, Jakarta bisa seperti London. Meskipun salah satu kota terbesar di dunia, tetapi masih sangat-sangat nyaman untuk disinggahi. Atau tidak usah jauh-jauh, seperti Kuala Lumpur Malaysia, yang sudah cukup nyaman untuk disinggahi untuk warga dunia yang kosmopolit.

Bagaimana dengan Jakarta, Indonesia? kalau boleh mengutip kata-kata Sri Mulyani, “Jangan pernah berputus asa mencintai negeri ini”. Ayo terus berbenah Jakarta ku !

Advertisements

2 comments

  1. Jadi bersyukur nih tinggal di Nganjuk. Masih sangat ramah penduduknya dan udaranya bersih kang.. Yah semoga Nganjuk akan seperti ini terus deh. Dan mungkin makin hijau. Semogaa..

    Buat Jakarta, sekali2 ngadem dong, jangan stress terus. Mbok ya ada program sehari tanpa kendaraan bermotor gitu. Berani gak? hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s