Pesantrenku dan Hingar Politik Banyuwangi 2014

“… akhirnya syahwat politik pesantren ku tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya”.

pkb_bwi01

Alhamdulilah, liburan natal tahun 2013 ini saya bisa pulang ke Tanah Air. Istirahat sebentar, sekedar melepas kejenuhan dan mengisi ulang gentong semangat untuk menyelesaikan ‘ngaji’ PhD saya di sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, UK yang baru berada di pertengahan jalan ini.

Yah, kata orang bijak, dalam meraih sesuatu terkadang kita perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang dan bersyukur. Terkadang kita juga butuh mundur beberapa langkah, untuk ancang-ancang mengambil seribu langkah lebih cepat serta meloncat lebih tinggi ke depan. Semoga saja, ini bukan alasan untuk menyembunyikan kemalasan ku.

Lebih menyenangkan lagi, liburan kali ini saya bisa membawa anak istri saya pulang kembali ke desa halaman. Lebih tepatnya, sebuah dusun kecil bernama Wringinpitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Di dusun kecil di pinggiran kali setail inilah kehidupan saya di dunia ini dimulai, dan entah di belahan bumi yang mana hidup saya akan diakhiri. Mungkinkah akan berakhir jua di dusun kecil ini? Entahlah, kita tidak perlu bermain teka-teki dengan rahasia Tuhan.

Selain sowan ke emak bapak, dan sanak saudara. Yang paling membahagiakan buat saya adalah menciumi aroma kehidupan pedesaan yang masih ‘perawan’. Belum banyak ternoda penjahat konsumerisme yang menjadi gaya hidup di jaman ‘agama’ kapitalis ini. Di sinilah saya masih merasakan bahwa tidak setiap barang dan kebaikan jasa, bahkan setiap detik waktu ada label harganya.

Di sela beberapa hari di kampung halaman, saya menyempatkan ‘nyambangi’ adek bungsu saya yang masih ‘nyantri’ di pesantren Darussalam, di desa Blokagung, kecamatan Tegalsari (sebelum pemekaran masuk kecamatan Karangdoro), Banyuwangi. Pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi ini almamater saya juga. Di pesantren inilah saya belajar banyak tentang makna hidup, serta kesederhanaan dan kebersahajaan dalam menjalani hidup.

Ada yang menarik di sepanjang perjalanan dari desa saya ke pesantren selain pesona alamn yang hijau. Yaitu alat peraga kampanye para calon anggota legislatif dan partai politik berupa sepanduk dan baliho yang jumlahnya sangat banyak di sepanjang jalan. Seolah menjadi pertanda bahwa hingar bingar politik menjelang pemilu 2014 telah dimulai. Bahkan spanduk-spanduk itu ada juga di Gerbang bahkan di dalam pesantren.

Beberapa wajah di spanduk-spanduk itu nampak sangat familiar bagi saya. Bahkan dintaranya kawan ‘dekat’ saya di media jejaring sosial. Mereka tak bukan adalah pemilik darah biru trah ‘kerajaan’ pesantren terbesar di Banyuwangi tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, baru kali ini keluarga pesantren ini pada akhirnya terjun ke politik praktis, setelah sebelumnya adem ayem tak kepincut rayuan politik.

Satu lagi yang menggelitik dari isi spanduk-spanduk itu. Ada partai yang pemimpin nya sekarang pernah melawan dan berseberangan dengan Gus Dur karena kepentingan pragmatis, sekarang kembali mendompleng nama besar Gus Dur. Padahal, kalau boleh meminjam bahasanya Mbak Yenny Wahid, partai itu dulu Ibarat kereta api dengan lokomotif Gus Dur yang gerbongnya diserobot oleh Pemimimpin partai itu sekarang. Terlalu kecilkah partai ini tanpa sosok Gus Dur?

**

Sebenarnya sama sekali tidak ada yang salah jika pada akhirnya keluarga pesantren terjun ke partai politik. Partai politik berkepentingan mengumpulkan suara rakyat dan pesantren diakui atau tidak faktanya memiliki pengaruh yang sangat besar pada masyarakat ‘grass root’ di pedesaan.

Saya (S) iseng bertanya sama Kang Anshori (A), adik sepupu saya, yang sedang duduk nyetir mobil di sebelah kanan saya.

S: “Kang, gek sampean ono sing kenal kambel caleg-caleg iku kang?”

A: “Ndak, mas …”

S: ”Lah terus, misale sesuk pemilu sampean pilih sing ngendi?”

A: “Wah mas, yen wong kene ki opo jare pak kyai. Misale kyai Plampang ngongkon milih A, yo kabeh milih A, hehe “.

S: “Oh ngunu, yo mas”.

Soal kualiatas caleg dari pesantren ini juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Satu diantaranya saya tahu bergelar bergelar master lulusan salah satu Universitas Islam di temur tengah. Satunya lagi aktivis perempuan, punya gelar master (MA), lulusan salah satu Universitas Terbaik di US dan sekarang sedang menyelesaikan double degree PhD nya di UGM dan kampus di US.

Tujuan politisnya pun juga sangat jelas. Kalau bukan para orang cerdas dan santun dari pesantren semacam ini, siapa lagi yang bisa dipercaya memperjuangkan nasib para konstituen pesantren yang kebanyakan para petani miskin tak berdaya di desa-desa. Merekalah calon perumus kebijakan, yang akan menentukan nasib bangsa ini, ya termasuk para petani miskin desa itu.

Akan tetapi ada hal yang perlu digaris bawahi dengan terjun nya orang Pesantren ke ranah Politik Praktis. Yaitu diperlukan kehati-hatian. Jika tidak hati-hati, alih-alih mau memperjuangkan nasib umat, bisa-bisa malah membuat umat tercerai berai dan kyai dan pesantren kehilangan karismanya.

Sudah banyak contohnya, pesantren-pesantren besar di Jombang contohnya. Gimana umat tidak bingung, jika dalam satu pesantren saja para kyainya tidak kompak. Para kyainya rebutan suara santrinya dengan afiliasi partai yang berbeda-beda.

Satu lagi contoh, tidak usah jauh-jauh, keterlibatan salah satu orang pesantren yang terletak beberapa kilometer dari pesantren ini di ujung timur kabupaten Banyuwangi ke politik praktis berakhir cukup tragis. Sang orang pesantren harus mendekam di balik jeruji penjara karena kasus korupsi. Kalau sudah begini, mau ditaruh dimana kehormatan Pesantren?

pkb_bwi02

Saya pribadi termasuk orang yang kurang sreg jika pesantren dibawa-bawa ke ranah politik praktis. Biarlah pesantren membangun umat secara kultural dengan caranya sendiri seperti NU yang terlepas dari partai politik. Jika personal terjun ke politik, boleh-boleh saja. Tetapi membawa gerbong pesantren ke politik praktis sangat berbahaya.

Memang selalu tidak ada keputusan yang sempurna dalam hidup ini. Walaupun akhirnya syahwat politik pesantren ku ini tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya. Semoga Tuhan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin amanah yang senantiasa diridloi Allah Swt. Semoga saja, Allahumma Ammiin.

 

Advertisements

19 comments

  1. wah caleg ya di solo saja saya gak kenal mas, boro boro yang di banyuwangi hahahahaa…kembali ke indonesia ya mas

      1. iya mas sih ngantor..td baru smpe kantor trs ni mau ngajar kelas sore ..ning england ngopo mas (mesakke bojoku nek tak tinggal) :D, jane ak duwe dulur ning kono tapi ning london mas.tp suwe bgt ra tau ketemu (budeku)

      2. selamat ngajar mas. Aku wes suwe ndak ngamen di depan kelas. Jangan2 nanti saya lupa gimana cara ngajar hehe…. eh mbok yo disambangi budene, anak bojone sampean diajak pisan. cek tambah rejekine mas hehehe…

      3. hehe iyo mas..kpn kpn klo ada rejeki main kesana mas..budeku entuk wong kono mas..biasane budeku sing ning indonesia. kan kurs nya gede sana mas hahahaha

  2. mas… ni aq lubis. arek plampang, anak.e p. sahlan heehee…. mantau terus ni blog. pengen nerusne skolah ndek luar mas… ada WA mas..?. biar enak klo q kpngn tanya…

    1. oh Lubis, piye kabare?
      aku ngerti sampean dulu masih balita.
      tak terasa waktu berjalan, tentunya sampean udah besar sekarang. hehe…
      Kuliah dmn skr?
      Ada WA: +6281213950278
      apa Ahad ini saya sudah balik ke Inggris, WA ku di Inggris: +447443521731
      Good Luck Bis!

  3. Iya mas.. Kadang emang miris dengan perkembangan pesantren sekarang yang mudah untuk “dititipi” bahkan pesantren saya sendiri. Kemarin saat liburan natal juga pulang dan mampir sebentar ke pesantren, bertemu dengan kiai pengasuh juga. Banyak cerita dan nasehat yang diberikan dan juga titipan panas di tahun politik ini untuk memilih salah satu caleg dari gambar partai diatas.
    Jawab “nggih”-nya agak berat.. Hehe.

  4. hipotesis: namanya politik, ngga jauh sama bisnis juga.

    Masuknya si Rusdi Kirana ke PKB-ne cak Imin semakin menguatkan hipotesis saya. Jadi, sampeyan sek gelem milih PKB-ne cak Imin kah? Jenenge NU ae yo dicaplok, terlaluuu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s