Lelucon Hidup: Masa Lalu, Masa Depan, dan Persimpangan Jalan

… terkadang jika kita kembali menengok dan membaca cerita hidup masa lalu kita, entah kenapa sering kali tak peduli betapa sedih pun cerita itu di masa lalu, saat ini cerita itu hanya menjadi lelucon hidup belaka. Yang membuat kita tertawa terpingkal-pingkal jika mengingat dan mengenang nya kembali. Yah memang, pada akhirnya, di penghujung hari nanti, kita akan menyadari bahwa hidup ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

pusing

“Arrgh……. Sigh. @$#!!!**^^”!  ini mungkin yang paling tepat melukiskan apa yang saya rasakan akhir-akhir ini. Serba tidak jelas, bimbang, ragu, kehilangan kepercayaan diri hingga titik terendah, dan seribu perasaan-perasaan tak terdefinisikan dengan jelas yang selalu mengusik jiwa dan pikiran saya. Setiap berpapasan dengan orang yang menanyakan kabar saya, saya selalu bilang : “Not Too Bad “. Dan saya paling tidak suka dan sensitif , seperti perawan tua yang ditanyain umur dan pasangan hidup, jika ada yang menanyakan “How is your Research?”.

Iya. Saya sedang merasa di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan menuju kesuksesan PhD saya. Dan saya merasa tidak melakukan kemajuan sama sekali dalam riset. Bahkan parahnya saya merasa tidak tahu apa yang harus saya lakukan.  Lagi dan lagi, di setiap proses mencapai sesuatu dalam hidup saya, keraguan, ujian dan cobaan selalu muncul di tengah-tengah jalan. Benar-benar menguji komitmen, kesabaran, dan kesungguhan saya. Dan itu yang saya rasakan kembali saat ini. Disaat pertanyaan “Bisa ndak ya saya lulus PhD dalam waktu 3 tahun?” mengusik jiwa ini berulang-ulang kali. Jika sudah demikian, hanya keluhan, doa dan tangis atas segala kelemahan diri yang bisa saya munajatkan ke hadapan Tuhan.

***

Tidak seperti biasanya, dua hari berturut-turut belakangan ini, setiap dini hari sepulang dari Lab. saya menyalakan Laptop (biasanya langsung tewas tidur), online di skype, dan secara tidak sengaja kontak kembali dengan sahabat lama yang sudah lama tidak kontak. Gila, baru kali ini saya tertawa terpingkal-pingkal sendirian di kamar, dini hari lagi.

Yang Pertama adalah seorang sahabat lama dulu waktu kuliah S2 di Malaysia. Dia sekarang mahasiswa PhD tahun keempat akhir yang juga belum lulus-lulus. Berjam-jam kami ngobrol via skype hanya untuk mengenang dan menceritakan kembali masa lalu. Menelanjangi kekonyolan diri masa lalu yang membuat kami tertawa tebahak-bahak. Dari pengakuan diri yang kerjaanya cuman nonton dan jalan-jalan, sampai masa merasa diabaikan dosen pembimbing yang super sibuk dan tak tahu apa yang harus dikerjakan untuk Tesis. Toh pada akhirnya, kami bisa lulus juga.

Sedangkan yang kedua adalah sahabat lama waktu kuliah di ITS Surabaya. Sahabat seperjuangan bahkan sahabat satu ranjang. Dia sekarang bekerja di Perusahaan pertambangan milik Australia yang berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan yang saya incar sejak semester 2 karena menawarkan beasiswa ikatan dinas Rp. 10 Juta per semester. Tapi gagal gara-gara ndak lolos Tes Kesehatan. Padahal, sudah saya belain tidak puasa Ramadlan karena persyaratan tes kesehatan itu. Eh, malah dia yang akhirnya bekerja di perusahaan itu. Tapi gak papa, kesuksesan sahabat saya adalah kesuksesan saya juga. Sama dengan yang pertama, kami tertawa sampek perut sakit. Menelanjangi hal-hal konyol binti memalukan yang pernah kami lalui bersama. Betapa dulu kami untuk bisa bayar SPP dan bisa bertahan hidup di Surabaya tanpa menggantungkan kiriman uang dari orang tua, kami membuka usaha les-lesan privat dan jasa pembuatan website. Di tengah kesibukan kuliah di ITS yang padat, kami harus menyebar brosur, mengirim proposal penawaran ke sekolah-sekolah tanpa tahu malu. Hanya modal tekat dan handphone monophonic super jadul. Toh pada akhirnya, kami bisa diwisuda tepat waktu, bahkan lulus dengan pujian.

***

Obrolan via skype tak sengaja dengan dua orang sahabat lama seolah menyentil daun telinga saya. Yang memaksa mengingatkan saya bahwa saya pernah mengalami masa-masa sulit akan tetapi pada akhirnya saya bisa melalui nya juga. Termasuk waktu kelas 2 SMA yang merasa salah Jurusan. Lahwong pengen kuliah di ITS/ITB tapi sekolah di STM Jurusan Elektro yang lebih banyak praktik nyolder PCB di pesantren pula. Toh pada akhirnya saya bisa diterima juga kuliah di Jurusan dan kampus yang saya impikan. Dan semua pada akhirnya menyadarkan  saya bahwa  tidak ada yang kebetulan terjadi, semua terjadi karena sebuah alasan. Semua kejadian seperti benang-benang tenun yang terangkai manjadi kain-kain kehidupan yang indah.

Jika kau berada dipersimpangan jalan adalah wajar jika keraguan, ujian, dan cobaan datang menghadang. Yang harus kau lakukan adalah terus maju ke depan, walau sekecil apapun langkah itu. Kau tidak boleh kembali, karena jalan pulang sudah ditutup rapat-rapat dan kegagalan bukanlah pilihan.

Kata seorang sahabat yang pendaki Gunung, mencapai cita-cita itu seperti naik gunung, terasa berat memang, apalagi jika anda terus memandangi puncak gunung dan terus bertanya kapan saya akan sampai ke puncak itu. Cobalah menikmati setiap langkah perjalanan, sehingga tak terasa kau sudah berada di puncak gunung itu.

Kata seorang sahabat yang suka naik sepeda, mencapai cita-cita itu seperti naik sepeda. Harus terus dikayuh biar tidak terjatuh (gagal).

***

Duh Gusti, kuatkan tekad ini, ikhlaskan hati ini, luruskan dan ridloi niat ini, serta capaikanlah cita-cita kami. Berilah diri ini kekuatan, karena sesungguhnya tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali karena Mu semata. Allahumma Ammiin.

Advertisements

9 comments

  1. aku kalau naik gunung bersepeda, pandanganku gak pernah jauh2 kang. Paling sering ya memandang pepohonan yg sedang aku lewati. Menikmatinya. Lha kok suwe2 teko nduwur haha..

    Hari ini aku nganggur gak ada kerjaan. Dan kalau aku mengeluh, besok pun juga gak akan ada kerjaan. Tapi entahlah aku hepi aja, lha kok langsung ada yg minta tolong bikin vector.

    Huaaaaaaa.. Bener2 the power of optimistic.

  2. selalu ada persimpangan pada sebuah jalan. Selain Al Sirath Al Mustaqim tentunya. Terkadang jika menemukan simpang saat menapaki jalan utama, layak pula untuk diamati dan diteliti karena terkadang simpang itu memberikan nuansa yang tak biasa. Terlepas dari simpang dan jalan itu semua, nikmati penelitian/perjalanan tulubul ilmi yang sedang digeluti saat ini sampai beberapa waktu mendatang dan tentu dengan seizinNya jua bahwa setiap pelayaran tentulah ada pelabuhan. (nasehat diri) 🙂

  3. “Kesuksesan sahabat saya adalah kesuksesan saya juga.” gak banyak orang yang bisa bilang begini. belajarnya lama, tapi bener ya mas, senang gitu rasanya ngeliat temen kita sukses. mungkin, sama seperti saat kami melihatmu. mau iri atau cemburu susah. yang ada malah jadi ikut bangga. gimana gitu rasanya.

    kayak orang mau inden cerita dalam mimpi tapi gak bisa. hasilnya, malah senyum-senyum sendiri baca kisah. terima kasih sudah membagi pengalaman. apalagi kalo foto suasananya diperbanyak Mas.

    seperti yang sudah-sudah, selembar daun jatuh dan kuncup bunga pun bisa jadi inspirasi. semangat!!! pasti bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s