Selamat Kembali ke Tanah Air Kawan

Friends come and go. Tahun ini senang sekali banyak sekali teman baru yang datang, tetapi juga harus kehilangan beberapa teman. Hiks.


*) Good Bye Arif

Kata orang bijak dua kata yang paling berat diucapkan dalam hidup ini adalah kata “Hai” pada saat pertama kali pertemuan, dan kata “Selamat Tinggal” pada saat perpisahan. Hari ini (09/11/2013) saya harus membenarkan kata bijak bestari tersebut. Yah, saya harus melepas kepergian kawan-kawan dekat sya di Nottingham, untuk kembali mengabdi ke pangkuan Ibu pertiwi. Sedih rasanya. Meskipun tidak sampai mengangis bombay, sebagai manusia yang masih memiliki perasaan. Saya bisa merasakan keharuan perpisahan ini. Sayangnya, setiap cerita harus ada akhirnya. Begitu juga dengan cerita persahabatan kami ini. Walaupun demikian, saya yakin kenangan yang telah tercipta akan jadi ingatan yang abadi. Dan lewat tulisan ini, saya ingin mengabadikan beberapa kenangan itu.

M. Ziaul Arif

withArif
*) With Arif

“Arif”, begitu biasa saya memanggil bapak satu anak kelahiran Jombang ini. Tanpa embel-embel mas, pak, dek, atau pun kang. Dia baru saja menyelesaikan kuliah S2 di Bidang Ilmu Matematika dengan gelar M.Sc. (Master of Science) dengan predikat Merit. Boleh dibilang dia adalah teman paling dekat saya selama di Nottingham. Konco Plek kata orang Jawa Timur, atau Konco Kentel kata orang Yogyakarta. Selama di Nottingham, meskipun kami tidak tinggal serumah, tapi jarak rumah kami bisa ditempuh dalam waktu 5 menit jalan kaki. Hampir tak satu akhir pekan pun yang terlewat  tanpa kami meluangkan waktu bersama. Yang paling saya ingat, Arif ini adalah teman jalan kaki terbaik menyusuri sungai dari Dunkirk ke tiga pusat belanja di Nottingham yaitu City Centre, ke Hyson Green, dan Beeston. Obrolan kami sepanjang perjalanan membuat jarak jauh jadi terasa sangat dekat.

Arif jugalah, satu-satu nya teman saya menembus dingin nya udara subuh hari, bahkan berjalan di antara bongkahan dan guyuran salju, jalan kaki dari rumah menuju Portland Building di University Park untuk jamaah sholat subuh. Dia juga teman jalan-jalan, teman pengajian, teman tahlilan, teman masak bareng, dan yang paling penting adalah teman ngobrol. Obrolan yang sering membuat kami lupa waktu. Bahkan saya pernah 3 hari ndak pulang rumah saking serunya obrolan kami haha.. (*parah).

Dari arif, saya belajar banyak hal. Diantara yang paling membekas adalah pelajaran tentang arti sebuah keluarga. Berbeda dengan saya yang tipikal activist man, yang bahkan akhir pekan pun sering ninggalin rumah untuk keluar kota; Arif adalah tipikal family man, yang sangat menikmati menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah ketimbang beraktivitas di luar rumah. Cara pandang dan Filsafat hidup Arif tentang keluarga, banyak mengkonstruksi ulang pemahaman saya apa itu keluarga. Yang membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk merubah cara pandang dan sikap saya di kemudian hari.

Kembali ke  tanah air, Arif kembali mengabdi di Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Jember. Sukses ya Rif! Semoga ilmunya bermanfaat dan Barokah!

M. Walid Ishom

iandmaswalid
*) With Mas Walid

Mas yang satu ini baru saja menggondol gelar M.A. (Master of Art) pada bidang Administrasi Publik, dengan predikat nyaris Distinction. Meskipun kami seumuran, entah kenapa saya selalu memanggilnya dengan Mas Walid. Rasanya, dia terlalu berwibawa untuk saya panggil njangkar (memanggil tanpa sapaan). Sebenarnya, kami seharusnya tidak akrab. Karena rumah kami sangat berjauh-jauhan, saya lebih banyak beredar di Jubilee Campus, sementara Mas Walid lebih banyak beredar di University Park campus. Dia latar belakang pendidikanya ilmu sosial, sementara saya ilmu komputer. Dia bergolongan darah A yang sangat perfeksionis sementara saya bergolongan darah O, yang sangat ala kadarnya. Tapi, sejak pertama kali bertemu, saya sangat yakin kalau saya sangat nyambung kalau ngobrol dengan dia.

Harus saya akui, sejak ngobrol pertama kali, Mas Walid ini sangat cerdas. Wawasanya luas, analisanya tajam, tetapi dia sangat tidak sadar dengan hal itu. Kecerdasanya sering tertutup oleh kerendahhatinya.  Jauh dari kesan sok tahu, sombong atau arogan. Ini yang mungkin membuat saya sangat nyaman dan betah ngobrol berlama-lama dengan nya. Walaupun kurang begitu intens bertemu, tetapi setiap kali bertemu, saya merasa obrolan kami sangat berkualitas, layaknya obrolan dua sahabat karib. Kami cukup sering mbambung bareng keliling UK di antaranya ke Whitby, Edinburgh, dan Manchester. Namun sayang, rencana kami yang terakhir untuk jalan-jalan bareng di Eropa Daratan Gagal Total.

Ohya mas Walid ini salah satu lulusan terbaik sebuah pesantren almamater tokoh-tokoh nasional terkenal di Ponorogo. Dia juga orang NU sama dengan saya dan Arif (penting banget). Dari mas walid saya belajar banyak tentang filsafat hidup. Diantarnya yang paling saya ingat adalah Filsafat Sarungan. Bahwa orang hidup itu harus seimbang, tengah-tengah, tidak berlebihan.

Sekembali ke tanah air Mas Walid akan segera kembali ngantor di Departemen Keuangan, di Jakarta. Sukses terus ya mas karirnya! Semoga sampai jadi pejabat Eselon 1, atau bahkan menteri Keuangan. Meskipun sampean pernah bilang ndak mau jadi menteri, pengen di tempatkan di Yogyakarta saja.


*) With Lemon

Lemon

Lemon adalah salah satu orang yang pertama kali saya kenal di riset group saya di sekolah ilmu komputer. Dia masih sangat muda, baru lulus S1 dan langsung ambil PhD tanpa master. Sayangnya, setelah kurang sukses first year review dia memilih untuk give up dan memutuskan kembali ke negaranya di Cina. Mungkin dia merasa tidak cocok atau entah karena apa dia pasti punya alasan sendiri. Yah, hidup memang pilihan dan dia telah berani memilih untuk tidak menyelesaikan PhD nya di Universitas Nottingham. Apapun pilihan hidup kamu, sukses terus ya Lemon!

Sebenarnya banyak sekali teman-teman Indonesia yang semua sukses menyelesaikan studi master nya selama satu tahun di Universitas Nottingham. Semuanya meninggalkan kesan yang mendalam buat saya. Bagaimana pun juga mereka semua luar biasa, mereka adalah sedikit dari anak-anak muda Indonesia yang memiliki kesempatan luar biasa belajar di kampus ini.[ Just to remember your names], ada Putri Novianti dan Grace yang lulus Distinction Master of Architecture; Dana, Zeva, nesa, mbak ratih, mbak Jane, mas Erik, Toni yang lulus M.A di Jurusan Sosiologi; Graciati yang lulus M.Sc bidang Matematika; Tassa dan Vani yang lulus M.BA. di Business School.  Buat semunya, Sukses terus yak !

Advertisements

5 comments

  1. nek jare pak Qurasih, hidup harus moderat, berada di tengah2. Gak boleh ekstrim, karena ektrim itu letaknya di pinggir. Gampang jatuh. Haha beener banget.

    Kang kuwi mas arif kok jik koyok bocah SMA yaaaaa…awet nom.

    Koyok aku #eh

    1. hehe iya ndop, semua orang juga bilang begitu the baby face :D, malah pas mau beli gunting di toko disuruh nunjukin ID card, karena dikira masih dibawah umur 17 tahun haha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s