belajar kearifan hidup dari perempuan berkaki palsu

disable
*)Ilustrasi

Pelajaran kearifan hidup bisa datang dimana, kapan dan dari siapa saja. Seperti hari ini, hikmah kearifan hidup datang bersama dua perempuan muda luar biasa yang secara tidak sengaja menurut nalar saya-dan tentu saja sangat disengaja oleh takdir Tuhan-yang dipertemukan kepada ku.

Hari ini langit begitu sumringah, membiru tanpa segumpal awal pun menghalangi sinar mentari pagi yang menerobos di antara daun-daun maple yang menguning dan mulai berguguran di pertengahan musim gugur di Eropa ini. Mentari yang senantiasa setia menjalankan titah takdir Tuhan, agar kehidupan di atas bumi ini tetap berlangsung. Menghangatkan dan memberi energi kehidupan. Walaupun demikian, udara masih terasa sangat dingin, 4 derajat celcius, yang membuat aku masih merasa seperti di dalam kulkas.

Pagi ini, dari rumah aku langsung menuju perpustakaan Sir Henry & Djanogly Learning Resource Centre di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Seperti biasa aku berjalan menyusuri jalur khusus pejalan kaki di pinggiran danau buatan yang indah itu. Daun-daun pepohonon yang mulai menguning dan memerah, sekawanan burung camar, angsa, dan bebek seolah mengabarkan betapa romantisnya suasana musim gugur. Ah, tapi sayang hati ku terlalu penuh untuk bisa merasakan romantisme itu, karena seseorang yang ku sebut sayang sedang mengisi ruang hati ku yang sedang sunyi sepi.


*) Sir Henry & Djanogly Learning Resource Centre, Jubilee Campus, Universitas Nottingham

Dalam kesunyian hati dan kekalutan pikiran karena lara PhD itu, aku berdiskusi dengan pikiran ku sendiri dan pura-pura berdialog dengan Tuhan. Tuhan, seandainya pada waktu itu aku  bisa memilih, ingin rasanya aku memilih dilahirkan di dunia ini sebagai adik kandung Agus Herimurti Yudoyono. Jika demikian, pastinya semua atribut kesempurnaan hidup ada pada diriku. Ganteng dan gagah, pintar dan cerdas, kaya raya, terhormat, punya kedudukan, populer, punya garis keturunan keluarga dan jaringan orang-orang hebat dan sebagainya dan sebagainya. Dengan segala atribut kesempurnaan itu, tentunya semua capaian kesuksesan hidup baik untuk sendiri maupun orang banyak akan sangat mudah diraih. Ibarat kata, kalau meminjam istilahnya mbak Yenny Wahid, semua privilege; atau istilah sederhana Bapak ku ondo (tangga, red)  untuk meraih kesuksesan hidup sudah ada di hadapan mata. Tinggal mau menggunakan atau tidak.

Itu seandainya kalau bisa aku memilih, hanya saja sayangnya sudah menjadi kenyataan hidup bahwa aku ini bukan siapa-siapa dan jauh dari semua atribut kesempurnaan hidup itu. Ganteng dan gagah endak, kaya juga endak, punya keturunan keluarga dan jaringan orang hebat apa lagi? muke lu jauh …. haha. Pokoknya, Jauh banget deh. Katanya Bapak ku dulu suatu waktu, pada saat aku masih SMA,  begini: Koe ki ora nduwe opo-opo, ibarate arep munggah nang nduwur, tapi awak mu ki ora nduwe ondo. Yen tetep pengen munggah nang nduwur, koe kudu wani rekoso (Kamu ini ndak punya apa-apa, perumpamaan nya, kamu ini ingin naik ke atas, tapi kamu ini ndak punya tangga. Kalau kamu ingin tetap naik ke atas, kamu harus berani menderita). 

Begitulah, sampai hidup sudah sejauh ini, masih saja sering kali aku masih belum bisa memahami arti keadilan Tuhan yang maha adil dan bijaksana. Masih saja, aku sering mengeluh, dan terhanyut dalam pusaran “sawang-sinawange urip”  (rumput tetangga lebih hijau). Yang sering kali membuat aku sering kali tidak semangat dalam menjalani hidup. Membiarkan hidup mengalir seperti air, dan membiarkan apa yang akan terjadi terjadilah begitu adanya. Yang sering kali membuat raut muka ini, seperti langit yang diselimuti awan. Kemudian hati kecilku bermunajat: Tuhan, ajari aku memahami kemahaadilan dan kebijaksanaan Mu.

Lamunan ku tiba-tiba buyar, dan hati sepi ku tiba-tiba berderit-derit. Ketika dari kejauhan, ku lihat seorang perempuan muda berambut pirang sedang berjalan sendirian menuju arah yang berlawanan dengan ku. Dia berjalan dengan sangat tertatih, karena keadaan dua kakinya yang tidak sempurna. Semakin mendekat pada ku, aku semakin tahu kalau perempuan muda itu memang sejak lahir terlahir dalam keadaan dua kaki yang cacat. Dia tersenyum ramah pada ku, dan sorot matanya begitu tajam memancarkan energi semangat hidup yang luar biasa. Sangking tajamnya, seolah sinar mata itu menerobos kedua belah mata ku, lalu menghujam dalam hati ku dan meninggalkan pesan: lihatlah, kaki ku mungkin tak sesempurna kaki mu, tapi aku tidak pernah mengeluh.


*)Gedung Amenities Building, Jubilee Campus, Universitas Nottingham.

Tidak berhenti disitu,  menjelang waktu Maghrib di gedung Amenities Building lantai dua, Tuhan mempertemukan aku kembali dengan sosok perempuan luar biasa. Tepat di hadapan ku, seorang perempuan muda berambut hitam kelam, sedang tertatih keluar dari scooter listrik yang biasa dipakai jalan-jalan orang tua yang sudah lanjut usia. Di depan sebuah ruang kelas, dia berusaha keluar dari scooter listriknya, dan mencoba berdiri dengan kedua kruk penyangga tubuhnya dan berjalan memasuki pintu ruang kelas itu. Aku begitu terperanjat, ketika aku baru menyadari kalau kedua kaki  nya itu berupa kaki palsu dari besi. Seorang dosen yang menyadari kehadiran perempuan malang itu, keluar dari ruang kelas dan mencoba membantu nya : are you all right ? Perempuan itu dengan nada tegas dan penuh semangat hidup, seolah menolak untuk diberi bantuan menjawab: Yes, I am all right !

Yah begitulah hidup ini, terkadang kita terlalu sibuk untuk mengandai-andaikan apa yang tidak ada di hadapan kita. Sementara, apa yang sudah ada digenggaman kita sering kali tidak kita syukuri. Falsafah hidup orang jawa mengajarkan bahwa hidup ini hanya “wang sinawang”. Kita sering kali menganggap bahwa kehidupan orang lain begitu sempurna, dan kita begitu menginginkan kehidupan orang lain itu. Padahal, belum tentu kehidupan orang lain itu sesempurna yang kita bayangkan, dan juga belum tentu baik buat kita. Dua orang perempuan muda luar biasa hari ini kembali mengingatkan kepada ku bahwa seperti apa pun kehidupan kita adalah sesuatu yang harus disyukuri, dan terlalu indah untuk disesalkan. Dan bahwa, apa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik sesuai dengan ukuran takaran hidup kita masing-masing. Mengingatkan ku kembali untuk selalu belajar bersyukur dan selalu melakukan yang terbaik sebagai tanda kesyukuran itu.

Advertisements

10 comments

  1. kalau lagi down, kita bisa cari sesuatu untuk meng-up-kan mood kita. dengan cara: SUNDUL GAN! kalau kata anak kaskus.

    hahahha…

    Iya kang, dibalik penderitaan yg kita keluhkan, akan selalu ada contoh yg lebih sengsara dibanding kita. Khan nek jarene uwong jowo, urip kuwi sawang si???

    nawang…

  2. maturnuwun dumateng gusti Allah yang sudah mencolek kita dengan dipertemukan orang seperti itu. bahkan saya sampai malu pernah bertemu seorang tuna netra yang pernah memberikan tausiyah di masjid belakang kantor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s