Arif ‘bijaksana’ dalam Menggunakan Teknologi

bijak_berteknologi

*) Ilustrasi

Kemaren, waktu akan menonton tayangan talk show kegemaran saya di youtube, saya tidak sengaja melihat iklan terbaru (versi bahasa inggris) Samsung. Secara pribadi, saya sangat terkesan dengan iklan ini, sehingga iklan di youtube yang biasanya saya skip itu, untuk kali ini saja saya lihat dan perhatikan dengan seksama. Bahkan, pada akhirnya iklan ini saya lihat berulang-ulang. Pesan yang ingin disampaikan dalam iklan berdurasi 1 menit ini adalah bahwa samsung tidak sekedar menciptakan teknologi, tetapi menciptakan teknologi yang bisa memanusiakan manusia. Dalam artian setiap teknologi yang dihadirkan Samsung pada akhirnya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

We don’t see technology, We see people. We launch technology that launch people.

Mengapa, begitu berkesan?

Saya sangat yakin, iklan ini dibuat dengan konsep yang sangat kuat, dan tentu saja pastinya dibuat oleh tim marketing yang sangat profesional. Berdasarkan teori marketing nya Hermawan Kertajaya, iklan ini  benar-benar menerapkan konsep era Marketing 3.0, dimana fokus dari marketing adalah Human Spirit. Lebih dari sekedar berfokus pada Product (Marketing 1.0) atau Customer (Marketing 2.0). Sehingga wajar iklan ini sangat menyentuh sisi-sisi kemanusian dari orang yang melihat. Tetapi, benarkah teknologi itu memang hadir untuk memanusiakan manusia? atau malah justru sebaliknya? Bagaimana pun juga, perlu diingat adalah iklan adalah bagian dari marketing, dan marketing adalah bagian tidak terpisahkan dari bisnis. Dalam bisnis, hanya ada hukum yang berlaku, yang pertama profit , kedua profit, dan yang ketiga adalah profit.

Saya pribadi justru berpendapat sebaliknya, bahwa Teknologi seringkali justru cenderung menurunkan kualitas kemanusiaan. Kebaradaan teknologi informasi justru membuat kehidupan sosial terasa gersang. Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika ada beberapa orang yang sudah saling mengenal  berkumpul di tempat yang sama. Seringkali, justru masing-masing dari mereka lebih asyik dengan gadget nya masing-masing. Masing-masing seolah sudah memiliki dunianya sendiri. Dan secara tidak sadar mereka sudah mengabaikan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Pernahkah anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, dan ketika anda hanya ingin mengobrol dengan nya, ternyata orang tersebut ternyata lebih asyik dengan gadgetnya. Apa yang anda rasakan? Sakiiiit bukan? Kalau saya mah, rasanya ingin membanting gadget lalu meninggalkanya pergi tanpa sepatah kata pun, hehe.

Diakui tidak, dalam konteks seperti ini, justru membuat hubungan sosial kita sangat gersang. Pada satu titik tertentu, terkadang saya sangat merindukan saat-saat keberadaan gadget belum seperti saat ini. Saat-saat hanya ada kita saja, dimana kita bisa ngobrol gayeng tanpa sela. Saat kita menyadari dan menghargai kehadiran kita sepenuhnya. Itulah mungkin juga alasan kenapa sampai sekarang dosen-dosen di kampus-kampus terbaik dunia seperti Universitas Cambridge dan MIT sampai sekarang masih menggunakan papan tulis hitam dan kapur ketika mengajar. Yang di Indonesia sudah lama tergusur dengan LCD/Power Point dan Whiteboard/Spidol. Lihat video contoh kuliah di MIT.

Pada dasarnya setiap manusia ingin kehadiranya dihargai, dan setiap manusia pasti tahu bagaimana sakitnya rasanya diabaikan. Seperti filsafat seni bergaul orang jawa “kudu pinter nguwong ke uwong” (harus pandai memanusiakan manusia). Setiap manusia pasti akan sangat senang jika merasa “diuwongke” , manusia merasa sisi-sisi kemanusianya disentuh. Yang pada akhirnya menjadi filosofi dari era Marketing 3.0.

Saya jadi ingat kembali kata-kata dosen pembimbing riset saya: People are People. Manusia adalah manusia dengan segala kompleksitasnya. Yang memiliki kekuatan perasaan, memiliki dimensi psiskis, emosi, spiritual, dan dimensi-dimensi tak terukur lainya. Jadi jangan sekali-kali memperlakukan manusia seperti mesin. Asyik dengan gadget anda sendiri ketika lawan bicara andaara sedang mengobrol itu sama artinya dengan menganggap orang disekitar anda tak lebih dari seonggok radio yang sudah usang.

Jadi, apakah teknologinya yang harus disalahkan?

Tentu saja tidak, harus diakui teknologi membawa kemudahan-kemudahan dalam kehidupan manusia. Tetapi sebagai manusia, kita harus arif dan bijak dalam menggunakan nya. Karena teknologi, kita jangan sampai melupakan sisi-sisi kemanusian kita. Kita harus tahu saat yang tepat menggunakan teknologi, dan harus paham kapan kita harus menyingkirkan jauh-jauh teknologi tersebut. Semoga kita bisa menjadi arif dan bijaksana dalam menggunkan teknologi untuk kualitas kemanusiaan yang lebih baik.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s