Balada Secangkir Kopi Pahit dan Mahasiswa PhD

… jika segelas coklat panas dengan gula sedikit mengajarkan saya bahwa hidup harus dihadapai dengan optimis dan hati riang tapi tidak berlebihan, maka secangkir kopi pahit mengajarkan saya bahwa hidup ini tidak selalu indah, ada saat-saat dimana hidup harus terasa berat dan menyakitkan. Pahit dan manis, semuanya untuk menciptakan keseimbangan, agar kita selalu ingat dan waspada bahwa hidup hanyalah ujian dan cobaan.

Dulu, saya tidak pernah percaya bahwa secangkir kopi bisa membuat kita betah melek  (kuat tidak tidur). Makanya, saya bukanlah penikmat kopi. Walaupun, saya sering kali bertanya-tanya kenapa almarhum embah saya, H. Abdul Fatah, dulu seorang pecandu kopi yang hebat. Sepanjang harinya selalu ditemani dengan kopi. Setiap pagi, siang, sore, dan malam hari, saya selalu melihat secangkir kopi panas berwarna hitam buatan mbah dok (panggilan saya untuk nenek saya, yang artinya nenek perempuan) di atas meja di samping kursi kayu anyaman kayu jalin kesayanganya,  yang menghadap ke arah timur. Masih terekam kuat dalam ingatan saya, sayalah orang yang selalu menghabiskan cete (sisa sedikit kopi yang ada ampasnya) bekas mbah nang (panggilan saya untuk kakek). Tapi, entah kenapa ketika dewasa saya tidak pernah tahu bagaimana menikmati secangkir kopi itu.

Seminggu terakhir ini, pada akhirnya membuat saya berteman dengan secangkir kopi. Secangkir kopi yang selalu mengingatkan saya pada mbah nang saya yang hebat di mata saya. Mbah nang saya yang sangat cerdas dan pengetahuanya sangat lawas. Dari beliaulah  saya pertama belajar menulis dengan huruf jawa, HA NA CA RA KA. Dari beliaulah saya belajar pertama tentang kearifan hidup dari tokoh-tokoh pewayangan, gatot koco, bima, arjuna, dan sebagainya. Lebih dari itu, secangkir kopi telah menjadi sahabat sejati saya, yang selalu setia menemani saya tetap terjaga, menghabiskan malam-malam di musim gugur menjelang musim dingin yang sangat panjang. Secangkir kopi yang membantu saya berhasil melakukan laku tirakat dengan hanya tidur maksimal 3 jam sehari. Tidak hanya menemani tetapi juga menghangatkan malam yang semakin dingin akhir-akhir ini.

Jika di pagi hari saya jadi penikmat segelas coklat panas dengan gula sedikit. Untuk malam hari saya jadi penikmat secangkir kopi hitam pahit tanpa gula. Buat saya, segelas coklat panas dengan gula sedikit dan secangkir kopi pahit ada filosofinya sendiri. Jika segelas coklat panas dengan gula sedikit mengajarkan saya bahwa hidup harus dihadapai dengan optimis dan hati riang tapi tidak berlebihan, maka secangkir kopi pahit mengajarkan saya bahwa hidup ini tidak selalu indah, ada saat-saat dimana hidup harus terasa berat dan menyakitkan. Pahit dan manis, semuanya untuk menciptakan keseimbangan, agar kita selalu ingat dan waspada bahwa hidup hanyalah ujian dan cobaan. Tidak ada kebahagiaan yang hakiki dan selamanya didunia ini. Begitu juga dengan kesedihan dan kedukaan.

Terima kasih secangkir kopi pahit, yang telah menemani malam-malam sunyi ku, dari perjalanan panjang sekolah PhD ini.

Advertisements

7 comments

  1. jadi ingat dulu pas SD disuruh minum kopi bekasnya kyai siapa gitu, temennya bapakku, yg kebetulan mampir ke rumahku, katanya biar ketularan pinter hahaha.. semoga hal itu benar adanya hahaha aaamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s