Sepeda Ontel di Cambridge : yang tak lekang diterjang arus majunya teknologi transportasi

Menelusuri setiap sudut kota kecil ini membawa ingatan saya kembali pada tahun 90-an awal. Saya merasa bernostalgia dengan kehidupan dusun ku yang damai (Dusun Wringinpitu, Desa Plampangrejo), di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur; tempat dimana saya menghabiskan masa kecil ku yang penuh dengan kenangan. Kenanganan yang kini sudah tercerabut oleh keangkuhan perubahan Jaman yang entah saya tak tahu harus pergi kemana lagi jika saya ingin mengenangnya. Hingga akhirnya, kota kecil ini menghadirkan kenangan dan menghidupkan suasana masa lalu itu kembali. Di kota Cambridge, Inggris, kota pusat sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia di dunia saat ini, tempat dimana salah satu universitas terbaik di atas jagad raya itu berada, saya kembali terhanyut dalam buaian romantika kenangan masa lalu kembali. Dan tahukah anda, kenanganan apakah itu?

Sepeda Ontel, Desa ku dan Kenangan masa kecil ku

sepeda ontel di cambridge_26

Iya kenangan itu adalah kenangan tentang sepeda Ontel. Mode transportasi bersahaja yang menjadi bagian tak terpisahkan dari langkah  panjang peradaban umat manusia. Masih terekam kuat dalam ingatan saya ketika saya masih kecil, di era tahun 90an di kampung saya sepeda ontel pernah menjadi mode transportasi paling utama. Para petani desa hilir mudik pulang pergi dari sawah ladang mereka dengan sepeda ontel mereka, termasuk untuk mengangkut hasil panen sawah dan ladang mereka. Anak-anak sekolah pun ramai bersepeda pergi dan pulang dari sekolah mereka. Mereka pergi bergerombol dan berboncengan berarak-arakan seperti laskar prajurit yang sedang pergi berperang. Saya termasuk di antara mereka. Bahkan Waktu SMP, saya dan beberapa teman dari desa Plampangrejo, harus mengayuh sepeda di setiap pagi-pagi buta  sejauh lebih dari 10 KM untuk menuju ke SMP Negeri yang terletak di Kota Kecamatan.

Tidak hanya untuk transportasi dalam desa, sepeda ontel di kampung saya pada saat itu juga biasa digunakan untuk menempuh perjalanan jarak jauh antar desa bahkan antar kecamatan. Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya, di setiap hari raya tiba, bapak selalu mengajak saya untuk bersilaturahim ke rumah saudara-saudara kami di luar desa dan kecamatan hanya dengan sepeda ontelnya. Saya dibonceng oleh Bapak, sementara adik saya yang perempuan di bonceng oleh emak  saya. Kami tidak sendiri, biasanya kami pergi bersama-sama dengan saudara yang lain. Pergi pagi-pagi buta dan kembali di rumah ketika malam mulai menjelang. Menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer, dari desa satu ke desa lainya, melintasi jembatan bambu,  bahkan seringkali harus menyebrangi sungai. Sungguh, sebuah kekuatan semangat silaturrahim yang sangat-sangat luar biasa pada saat itu, apalagi untuk ukuran masa sekarang.

Sepeda Ontel, Desaku, dan Riwayatmu kini

Lain ladang lain belalang, lain dulu lain sekarang. Sekarang, jika saya pulang kampung keadaan jauh berbeda. Sepeda ontel, yang dahulu di setiap keluarga setidaknya memiliki satu sepeda ontel, kini pun tinggal kenangan. Sepeda Bapak saya, yang dulu kokoh dan tangguh pun sudah lama dianggurin di dalam kandang ayam. Yang lambat laun karatan dan akhirnya rusak dimakan usia. Hanya sepeda-sepeda model BMX yang dipakai oleh mainan anak-anak kecil saja yang masih tersisa. Moda transportasi desa kini telah tergantikan oleh motor dan Mobil.

Jujur dari hati nurani yang paling dalam, setiap kali pulang kampung, saya merindukan suasana kedamaian dan ketentraman desa ku yang dulu. Di jalan kampung di depan rumah saya, yang hingga saat ini belum diaspal itu, kini penuh bising dengan suara berisik sepeda motor dan mobil. Apalagi, di hari lebaran. Jumlah volume mobil yang lewat di depan rumah saya meningkat sangat drastis. Hampir setiap menit ada saja mobil yang lewat. Menghadirkan suara bising dan menghembuskan debu-debu jalanan yang sangat menyiksa.

Desa saya yang dulu damai, di setiap lebaran berubah menjadi  tak ubahnya suasana di jalanan Ibu kota yang berisik. Mungkin, karena mobil adalah simbol kesuksesan pencapaian hidup manusia Indonesia. Sehingga kuda-kuda besi dari Jepang itu harus dipertontonkan ke seluruh penduduk kampung oleh anak-anak desa yang merasa sukses merantau di negeri seberang. Atau karena mereka merasa harga diri mereka ada pada benda bergerak penyebar polusi itu? dan seolah penduduk kampung pun mengamini bahwa merekalah yang mobilnya paling bagus yang paling sukses hidupnya.

Kalau sudah begini, kemana saya harus mencari kedamaian kampung saya yang dulu lagi?

08_sepeda ontel di cambridge_01

Para Mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontelnya.

Sepeda Ontel dan Cambridge.

Di Cambrige, sepeda ontel adalah moda transportasi mainstream. Di kampus Universitas Cambridge misalnya, mayoritas mahasiswa menggunakan sepeda ontel untuk mobilitas mereka di sekitar kampus yang sangat luas. Sebenarnya ada layanan Bus murah khusus mahasiswa cambridge yang mengelilingi kampus dan city center. Tetapi sepertinya layanan Bus ini kurang dinikmati. Mungkin karena tidak gratis dan kurang fleksibel, karena bus hanya lewat setiap 10 menit sekali. Waktu 10 menit menunggu mungkin sangat berharga bugi para mahasiswa Cambridge.

08_sepeda ontel di cambridge_02

Sepeda Ontel di salah satu gedung perkuliahan di Universitas Cambridge

Tidak hanya dalam lingkungan kampus dan mahasiswa, sepeda ontel juga sangat populer di antara masyarakat pada umumnya di Cambridge. Di pusat kota Cambridge misalnya, anda bisa menyaksikan pengguna sepeda Ontel yang sangat banyak. Demikian juga sepeda-sepeda ontel yang diparkir di sepanjang jalan. Di Cambridge, dan di Inggris pada umumnya, parkir untuk mobil sangat mahal, hampir £1 pound (Rp.15.000) per jam. Tetapi tidak halnya dengan parkir sepeda ontel, anda bisa parkir di tempat-tempat parkir sepeda yang disediakan dengan gratis.

Sepeda Ontel di Pusat Kota Cambridge

Selain di pusat kota, sepeda ontel juga banyak digunakan para pemakai mass public transport seperti kereta api. Umumnya, mereka menggunakan sepeda dari rumah ke stasiun kereta api. Tetapi, banyak juga yang membawa sepedanya masuk ke dalam kereta api dan ini sangat diperbolehkan di Inggris. Mereka biasanya menggunakan tipe sepeda lipat yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas dan dibawa masuk ke dalam kereta. Kalaupun tidak memiliki sepeda lipat, di dalam kereta api juga terdapat tempat khusus para penumpang dengan sepedanya, yang terletak di antara sambungan gerbong.

Sepeda Ontel di Salah satu stasiun kereta Api

Berbagai Rupa Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin anda berfikir bahwa sepeda Ontel di Cambridge adalah sepeda ontel modern mahal berharga puluhan juta rupiah seperti sepeda Ontel kalangan berada di kota-kota besar di Indonesia. Sepeda-sepeda  ontel di Cambridge adalah sepeda ontel bersahaja yang mengingatkan saya pada sepeda ontel -sepeda ontel di kampung saya pada era 90-an. Berikut beberapa foto yang berhasil saya abadikan.

Seorang mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontel bersahaja nya

Kira-kira masih ada ndak ya saat ini mahasiswa/i di salah satu kampus di Indonesia yang masih mau berangkat ke kampus dengan sepeda bututnya seperti mahasiswi Cambridge di atas? di kampus saya di surabaya, sebuah PTN yang dulu dikenal sangat merakyat saja saat ini mahasiswa/i nya sudah pada berlomba-lomba dengan mobil-mobil nya. Yang merubah parkiran sepeda ontel dan motor butut menjadi layaknya sebuah show room mobil. Ironis memang, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru saya temukan di kampus di Inggris, negara maju yang kemakmuran dan pendapatan perkapitanya berpuluh-puluh kali lipat dengan Indonesia. Sementara, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru menjadi barang yang sangat langka di kampus di Indonesia yang katanya negara dunia ketiga yang ketinggalan secara ekonomi.

Sepeda Ontel lainya

Yang menjadi ciri khas sepeda ontel di Cambridge adalah sebuah keranjang berwarna coklat yang terbuat dari anyaman kayu serabut. Biasanya, keranjang ini digunakan untuk menaruh tas dan barang-barang bawaan lainya. Pemakai sepeda ontel di kota ini juga lintas profesi, lintas umur, dan lintas gender. Tidak hanya mahasiswa dan ibu rumah tangga, penyandang profesi lain pun ikut mengayuh sepeda.

Mahasiswi cambridge dan sepeda ontenya

Tidak hanya para remaja, anak-anak dan para lanjut usia pun bersepeda. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun bersuka ria dengan sepeda-sepeda nya.

Lelaki dan sepeda ontelnya

Bahkan tidak hanya yang bertubuh normal, yang mengalami cacat fisik pun banyak yang menggunakan sepeda. Berikut berbagai pose masyarakat Cambridge dengan sepeda-sepeda ontel mereka.

Sepeda Ontel Kaki tiga

Sang putri dengan sepeda ontelnya

Si Bapak dan sepeda Ontel feminin nya

Si Kecil dan sepeda Ontelnya

Si manis dan sepeda ontelnya

Mahasiswi cerdas dan sepeda ontelnya

Si seksi dan sepeda ontel bututnya

Pak Tua dan sepeda Ontelnya

Sang professional dan sepeda ontelnya

Si modis dan sepeda Ontelnya

Si Gaul dan Sepeda Ontelnya

Yang unik dari Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin kita berfikir sepeda ontel tidak praktis dan memiliki keterbatasan untuk ukuran keluarga. Mungkin kita berfikir mobil adalah moda transportasi paling sempurna untuk sebuah keluarga. Dimana pasangan dan anak-anak kita bisa diangkut bersama. Tetapi, yang menarik di Inggris, sepeda ontel tak menghalangi kebersamaan keluarga. Bahkan, sepeda ontel bisa digunakan untuk membawa seorang bayi. Ya Mereka  menarik baby box dengan sepeda ontelnya.

Sepeda ontel dan Baby Box

Untuk membawa anak-anak yang sudah agak besar. Sepeda ontel bisa dilengkapi dengan boncengan seperti foto-foto di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Boncengan Anak nya

Sepeda Ontel untuk dua orang

Ayah, Anak, dan Sepeda Ontelnya

Sepeda Ontel dan Kenyamanan Kota

Dengan masyarakatnya yang mayoritas adalah pengguna sepeda ontel, Cambridge menjadi salah satu kota di Inggris yang sangat nyaman untuk disinggahi. Udara yang bersih, tidak ada kemacetan, tidak ada polusi, dan yang pasti sangat nyaman untuk dinikmati. Ritme kehidupan terasa berjalan dengan penuh kedamaian yang menentramkan hati dan menenangkan pikiran.  Tidak seperti kota-kota besar yang bersisik dan penuh dengan kepenatan dan hiruk pikuk kesibukan hidup. Cambridge, tidak salah jika kota ini adalah sumber inspirasi kesempurnaan sebuah peradaban umat manusia. Di kota inilah, telah lahir ilmuwan-ilmuwan kenamaan yang telah banyak merubah dan mempengaruhi dunia, seperti  Isaac Newton, Darwin dan sebagainya.

Suasana di depan Stasiun Kereta Api Cambridge

Suasana dalam salah satu kampus Universitas Cambridge

Untuk mengintip nyamanya kota Cambridge, yuk kita intip dua video di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Masa Depan nya di Indonesia

Melihat serunya bersepeda Ontel di Cambridge, dan Inggris pada umumnya. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa tidak di Indonesia ya? Bukankah sepeda Ontel itu moda transportasi yang murah? Mungkin banyak dari kita berfikir sangat nyaman bersepeda di Eropa karena udaranya yang sejuk dan nyaman, sementara di Indonesia sangat panas dan tidak nyaman untuk bersepeda.

Tetapi, menurut saya itu tidak sepenuhnya benar. Justru cuaca di Inggris jauh lebih complicated dengan cuaca di Indonesia. Di musim panas, Inggris suhunya bisa mencapai di atas 30 derajat dan tidak kalah sumuknya dengan kota Surabaya, toh mereka malah asyik berpanas-panasan dengan sepeda ontelnya. Di musim dingin suhu bisa di bawah 0 derajat celcius dan bersalju. Hujan bisa turun kapan saja  sepanjang tahun.

Jadi menurut saya, bersepeda ontel itu bukan karena keadaan dan ketidakberdayaan. Tetapi karena pilihan budaya hidup. Pilihan yang dipengaruhi oleh bagaimana pola pikir kita terhadap kehidupan dunia ini. Jika gaya hidup mewah dan pamer kakayaan hidup adalah pilihan mungkin sepeda ontel bukanlah pilihan yang tepat. Hal ini akan berbeda jika kesederhanaan dan keharmonian hidup dan alam menjadi pilihan.

Advertisements

26 comments

  1. emang lebih ramah lingkungan gowes2. kalo di indonesia bukan karena ogah naek sepeda, tapi karena pemerintah tidak menyediakan hak buat pengguna sepeda, trotoar aja udah dilibas ama pedagang. gak ada pedestrian. gimana mau nyaman bersepeda di jalan besar yg kendaraannya pada ngebut. eniwei, kata ganti orang pertama dan kedua, -ku dan -mu, itu mesti digabung ya.

    1. Pemerintah tidak memberi contoh….swasta juga tidak memberi contoh….susah di Indonesia ini….trotoar juga sudah di monopoli pedagang…pemerintah diam saja.Jalan dikuasai motor,mobil….butuh pemerinta tangan besi untuk mengaturnya….

  2. Waaaah kok postingannya hampir sama temanya. Ada sepedanya. Wah gaya hidupku banget ya kalau hidup di Inggris sanaaa.. huwaaa..

    itu cita2 saya untuk Negara Indonesia tercinta ini. Semua penduduknya NGONTEL KAYAK SAYA! haahaha

  3. Poto-potonya keren bgt Cak…andai negeri ini, para pemimpinnya punya kesadaran utk membangun sarana yang memadai bagai para bikers sepeda ontel…Lha disini mau ngontel, malah takutnya ketubruk sepeda motor atau mobil Cak… Coba kalo ada jalur khusus sepeda ontel, aku juga mau, lha wong sampai SMA pun, dulu aku ngontel haha…

  4. Aku pernah denger pada pejabat tinggi bilang, kira kira begini, “lha kalo fasilitasnya udah disediakan tapi penggunanya gak ada khan percuma”. Kok gitu jalan pemikirannya. Bukannya tugas pemerintah ini menyediakan dulu baru masyarakatnya manut. Lha kalo jalan pemikiran begitu ya masyarakat kapan mau bersepedanya? Haha aneh.

  5. weelah, tiyang plampang toh? Tetanggaan kita, cak! saya dari sumberberas, muncar 🙂

    Oh ya, ontel sudah populer lagi kok. Seiring dengan tingkat kesadaran tentang arti penting kesehatan dan kebutuhan mengeluarkan keringat. :serius:

    Tapi yo iku, panggah jor-joran 😀

  6. Bagaimana dengan di Nott Cak…apa juga marak seperti di sini…saya terkenang dengan sepeda Raleigh almarhum ayah yang masih saya gunakan untuk ke masjid dekat rumah tiap subuh…dan Raleigh adalah buatan Nott bukan?

  7. negaranya sudah dingin, pake sepeda tambah sejuk, disini negara tropis pake motor tambah panas..kapan indonesia seperti disana ya mas 🙂

  8. Kl jalur buat org naik spd ontel kayaknya di jl raya Darma ada yach(hanya ada di situ n cuma aman di hr Minggu, soale cara free day), tp ya itu tadi kendaraan lain pada was-wes di samping kita, rasane kl sy disuruh ngontel mending sy tuntun di trotoar aja deh, ketimbang kesrempet…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s