Once a good time: catatan pinggiran dari sudut kota Nottingham

Buat saya, salah satu cara jitu untuk menghilangkan kejenuhan adalah dengan melakukan sesuatu yang tidak biasa atau sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dan sungguh beruntung, hari ini saya bisa melakukan nya.  Hari ini hari Selasa (25 Juni 2013), bukan hari libur di musim panas, di hari dimana biasanya saya habiskan dengan berkutat dan bergelut dengan waktu di Laboratorium. Yah lebih dari terkadang, sebagai mahasiswa PhD, saya merasa tidak memiliki kehidupan lain. Dan saya tidak suka itu.

Entah kenapa hari ini saya ingin sekali menghilang dari peredaran di Laboratorium. Mungkin, karena kemaren saya baru saja menyelesaikan satu barrier stone terpenting sebagai mahasiswa PhD di Inggris, yaitu First Year Review. Satu barrier stone, yang menentukan layak tidaknya seseorang untuk melanjutkan sebagai mahasiswa PhD. Jika tidak layak, maka statusnya bisa diturunkan jadi mahasiswa M.Phil. Sehingga, first year review ini banyak ditakuti oleh mahasiswa PhD tahun pertama. Tetapi, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, semua akan saya lalui seperti hari biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Saya tidak perlu mengurung diri berhari-hari, bermingu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan dan memasang muka serius dan masam untuk menyambut  ujian sakral itu. Bahkan h-3, h-2, dan h-1 saya masih jalan-jalan bersama teman-teman keluar kota dan masih bisa tertawa-tawa lepas. Alhamdulilah, berkat barokah doa dari teman-teman saya, ujian saya tidak semenakutkan dan dramatis seperti yang diceritakan para senior saya. Ujian selama 45 menit dengan presentasi dan tanya jawab dengan dua orang profesor itu  berlalu begitu saja.

Hari ini saya pergi ke pusat kota Nottingham, bersama seorang teman dari Padang, Uda Isa, mahasiswa PhD bidang media dan komunikasi di Universitas Hull (baca: Hall) yang kebetulan sedang meluangkan waktunya untuk silaturrahim ke Nottingham. Pergi ke pusat kota Nottingham, bukanlah kali yang pertama buat saya. Tetapi, pergi ke pusat kota Nottingham di hari kerja “without a purpose” adalah kali pertama buat saya. Dengan Bus No. 34 dari kampus Universitas Nottingham, perjalanan ke pusat kota cukup memakan waktu 15 menit saja, dan cukup mengganti jasa dengan £1 per orang. Harga yang cukup murah, di banding bus lain yang rata-rata seharga £1.7.

Di Pusat kota, kami menyusuri jalan-jalan yag luas dan bersih khusus para pejalan kaki di antara kerumunan manusia lainya. Selalu ada kebahagian tersendiri berada di antara mereka. Berada di antara orang-orang berambut pirang, di tengah-tengah mereka yang beragam usia, beragam kebangsaan dan budaya selalu mampu menggoreskan keindahan dalam jiwa, yang menegaskan bahwa perbedaan itu memang indah jika kita mampu menghargainya.

DSC_0089

Hingga akhirnya kami bertemu dengan seorang pengamen di pinggir jalan dengan suara gitarnya yang merdu dan suaranya yang mampu melelehkan hati saya. Sungguh, suara pengamen itu membuat hati saya luluh, dan membuat saya terduduk di sebuah bangku panjang di pinggir jalan dimana orang-orang berlalu lalang. Kurang hajar, pengamen itu ternyata mampu mendengar lagu yang yang ada di hati saya dan menyanyikan lewat lagu-lagunya. Di bangku panjang itu, saya terduduk tanpa sepatah kata pun. Saya telah terhanyut dalam alunan melodi gitar pengamen itu, hatiku terbuai lirik-lirik lagu pengamen “sialan” itu.

DSC_0091

Perlahan saya keluarkan kamera SLR dari tas kecil saya. Saya tekan tombol video shooting mode. Dan saya mengintip orang-orang yang berlalu lalang di depan saya termasuk pengamen “sialan” itu dari balik lensa kamera saya. Dari balik lensa itu, saya temukan berbagai pelajaran hidup yang berharga. Ada pelajaran tentang cinta dari seorang suami yang mendorong istrinya yang lumpuh di atas kursi roda dan ibu yang mendorong kereta bayi anaknya. Tentang indahnya persahabatan. Tentang kesetiakawanan, tentang kesendirian dan kebersamaan, tentang perbedaan, tentang kemandirian, tentang perjuangan,  kerja keras dan tanpa menyerah. Dan tentang hidup yang harus terus dilanjutkan.

Tuhan, terima kasih telah kau hadirkan suasana romantis pagi hari ini. Dan terima kasih telah kau ajarkan hikmah kebajikan hidup dari orang-orang di sekitar saya.

Advertisements

2 comments

  1. Wah asyik ya… Aku puter videonya dulu aaah..

    Wait..

    btw suarane kok koyok ning studio ya? Apakah di sana ada microphonnya? Wow…

    Btw, orang di sana jalannya cepet yaaa… dan kenapa di Indonesia sini gak ada tempat jalan kaki koyok kono ya. Btw kuwi mobile wong2 podo diparkir ning ndi yaaa?

    *pertanyaanku bodoh sekali kayaknya ya ahahahah*

    1. ndak ada microphone ndop, ini murni pengamen outdoor di pinggir jalan.
      disini mereka jarang pakek mobil pribadi ndop, pada naik public transport:bus, tram. lebih murah. Pakek Mobil pribadi parkirnya mahal sekali ndop. Tempat parkirnya namanya “Park and Ride” diletakkan di pinggiran kota, then dari tempat parkir ke pusat kota ada Bus Gratis. makanya dinamakan, “Pakr and Ride”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s