Ammiin… Ya Rabb!! : epik di penghujung senja tentang kekuatan sebuah Do’a

kekuatan_doa

Apa salah satu momen paling indah dalam hidup kita? Pernikahan, Percintaan, Persahabatan? Kita berhak mendefinisikan sendiri apa momen yang paling indah dalam hidup kita. Buat saya, salah satu momen terindah dalam hidup ini adalah ketika bertemu dengan sahabat dekat yang sudah lama tidak bertemu, kemudian ditakdirkan kembali bertemu, dan keduanya saling mendokan untuk kebaikan masing-masing. Seperti sekuel pertemuan antara Azam dan Furqan dalam salah satu salah satu sekuel dari  film Ketika Cinta Bertasbih 1.  Keduanya dipertemukan dalam sebuah kesempatan yang terduga, dalam sangat suka cita mereka kemudian saling menanyakan kabar, saling memuji, dan saling mendokan. Azam mendokan Furqan untuk kesuksesan ujian Munaqasah thesis Master nya, sementara Furqan mendokan Azam untuk menjadi pengusaha sukses. Kemudian keduanya “berteriak” lantang : Ammiin…Ya Rab !!

Sungguh sebuah ilustrasi persahabatan yang sangat indah. Sebuah  persahabatan yang saling menguatkan, mendoakan, dan mengingatkan dalam kebaikan. Entah kenapa, saya selalu lebih terharu membaca cerita romantika persahabatan yang sangat “manusia” ketimbang cerita romantika percintaan yang mengharu biru. Mungkin karena Cinta yang selalu didistorsi maknanya dengan selalu dikaitkan dengan hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Seperti saya saya mencintai masntan pacar saya atau istri saya yang pada akhirnya berujung pada keinginanan untuk melakukan hubungan seksual. Padahal cinta adalah sesuatu yang sangat Universal dan sangat manusia. Cinta tidak ada hubungan nya dengan hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Seperti saya mencintai anak laki-laki saya atau cinta saya kepada adik-adik  saya. Yang tak pernah sedikit pun ada hasrat seksual di dalamnya. Cinta itu tidak  berkelamin.

Cerita Azam dan Furqan barangkali hanya cerita hayalan dalam sebuah karya seni berwujud film. Tetapi adakah persabatan yang penuh keihklasan, persahabatan yang bersih dari atribut-atribut kepentingan, persahabatan yang begitu manusia seperti itu masih ada di dunia nyata yang penuh kepentingan ini? Pasti tentunya ada, walaupun mungkin sangat langka.

Terus terang saya diam-diam merasa sangat iri dengan cerita persahabatan seorang Gus Dur dan Gus Mus yang begitu akrab dan romantis, yang terjalin dalam kurun waktu yang sangat lama lama. Dari ketika keduanya masih muda, ketika sama-sama menuntut Ilmu di Al-Azhar Kairo Mesir,  yang terus berlanjut hingga di penghujung usia. Dari keduanya masih manusia-manusia biasa, hingga keduanya menjadi orang-orang penting dengan segala atribut-atribut keduniawian di negeri ini. Bahkan, hingga kini ketika Gus Dur sudah tiada, persahabatan yang akrab layaknya sesaudara itu masih dilanjutkan oleh putra-putri beliau.

Keakraban Gus Mus dengan Gus Dur  itu tercermin dari Surat yang ditulis oleh Gus Mus untuk sahabatnya, Gus Dur. Surat yang ditulis oleh Gus Mus, ketika beliau mulai merasa kehilangan sahabatnya, saking sibuknya Gus Dur. Sebuah surat yang sangat indah dan sangat romantis. Sebuah surat yang membuat saya tidak pernah bosan, meskipun sudah berkali-kali membacanya. Sebuah surat  yang sangat penuh makna. Sebuah surat yang mungkin lebih melankolis dari surat cinta terindah yang pernah ditulis oleh seseorang yang sedang jatuh cinta kepada kekasihnya. Keakraban keduanya juga  pernah diceritakan disini.

Gus Dur, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berkomunikasi laiknya sesaudara. Benar seperti yang pernah Sampeyan ramalkan, masing-masing kita akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan kesempatan ngobrol ngalor-ngidul seperti dulu sudah semakin sulit didapat. Dulu kita masih surat-suratan, lalu ketika semakin sibuk, kita hanya –tapi alhamdulillah masih— telepon-teleponan. Kemudian telepon-teleponan pun menjadi kian jarang.

Untunglah Sampeyan termasuk figure publik yang gerak-gerik dan ucapan-ucapannya selalu diberitakan, sehingga saya pun selalu dapat mengikuti kegiatan Sampeyan. Seingat saya sejak Sampeyan menjadi ketua umum jam’iyah NU, hubungan kita sudah berubah menjadi agak “formal”. Sampeyan yang biasa memanggil saya njangkar, “Mus” saja, sudah berubah memanggil dengan “Gus Mus”. Sementara itu saya sendiri semula masih mempertahankan panggilan “Mas Dur” terhadap Sampeyan; tapi akhirnya, entah mengapa, merasa tak enak sendiri dan —mengikuti orang-orang— memanggil Sampeyan “Gus Dur”.

Pembicaraan antara kita pun sudah berubah, tidak pernah lagi fokus dan tuntas. Sejak itu saya sudah merasa mulai “ada jarak” antara kita. Kemudian Sampeyan menjadi semakin penting di negeri ini. Sampeyan menjadi pusat perhatian dan tumpuan banyak orang. Di mana-mana dielu-elukan. Saya ikut bangga, meski diam-diam saya merasa semakin kehilangan Sampeyan. Apalagi saat Sampeyan menjadi orang paling penting, menjadi presiden republik ini, saya benar-benar harus menerima “kepergian” Sampeyan. Sampeyan mestinya masih ingat, ketika para kiai –orang-orang pertama yang Sampeyan undang ke istana—menyampaikan selamat, saya sendiri menyampaikan “belasungkawa”. Waktu itu —masih ingat?— saya membisiki Sampeyan agar berhati-hati terhadap bithaanah, orang-orang yang pasti akan ngrubung Sampeyan untuk dijadikan “orang-orang dekat” Sampeyan (Menjadi ketua NU saja banyak yang ngrubung, apalagi presiden). Bukan saya tidak percaya kepada Sampeyan, tapi saya melihat rata-rata mulai Firaun, Heraclius, hingga Soeharto, bithaanah-lah yang menjadi biang keladi kejatuhannya.

Gus Dur, mungkin Sampeyan akan mengatakan saya terlalu romantis, tapi sungguh, saya sangat merindukan keakraban seperti dulu, di mana masing-masing kita masih hanya manusia-manusia yang tak terkalungi atribut-atribut. Sampeyan bebas menegur saya dan saya tak merasa sungkan menegur Sampeyan. Karena keikhlasan lebih kuat dari pada rasa rikuh dan sungkan. Dan ternyata keikhlasan persahabat pun dapat dikalahkan oleh keperkasaan waktu. Sejak Sampeyan dikhianati oleh orang-orang yang dulu Sampeyan percayai mendukung Sampeyan (bahkan waktu saya peringatkan, Sampeyan malah menasehati agar saya jangan su-uddzan kepada orang) dan akhirnya melalui mereka, Allah membebaskan Sampeyan dari beban berat yang Sampeyan pikul sendirian, saya sebenarnya sudah berharap masa keakraban itu akan kembali.

Namun ternyata harapan itu justru terasa semakin jauh. Kini saya bahkan seperti tak mengenali Sampeyan lagi. Mas Dur yang demokrat sejati, Mas Dur yang berpikiran jauh ke depan, Mas Dur yang tak peduli terhadap jabatan, Mas Dur yang mencintai sesama, Mas Dur yang begitu perhatian terhadap umat, Mas Dur yang terbuka, Mas Dur yang penuh pengertian, Mas Dur yang ngayomi, Mas Dur yang akrab dengan semua orang, Mas Dur yang menebarkan kasih-sayang, Mas Dur yang … Ke manakah gerangan sosok itu kini? Saya kini kok malah hanya melihat Gus Dur yang menguasai partai yang kacau. Gus Dur yang mengurusi urusan-urusan tetek-bengek yang tak ada sangkut pautnya dengan kepentingan umat secara langsung. Gus Dur yang terus membuat sensasi politik yang tak jelas maksud tujuannya. Gus Dur yang membuat kubu-kubu dalam tubuh partainya sendiri. Gus Dur yang alergi terhadap kritik. Gus Dur yang dikelilingi pakturut-pakturut yang tak takut kepada Allah dan tak mempunyai belas kasihan kepada umat, Gus Dur yang tak lagi memperlakukan para kiai sebagai kawan-kawan bermusyawarah tapi membiarkan pakturut-pakturutnya memperlakukan mereka sekedar alat meraih kepentingan sepele, Gus Dur yang …

Maaf Gus Dur, mungkin saya memang sudah terjebak dalam romantisme kampungan. Tapi sungguh saya tidak mengerti. Kecuali pemikiran dan kegiatan-kegiatan luhur berskala makro Sampeyan, saya tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang Sampeyan lakukan sekarang dengan atau bagi partai Sampeyan, PKB, dan jam’iyah Sampeyan Nahdlatul Ulama. Apakah dalam hal ini, Sampeyan –seperti biasa—mempunyai maksud-maksud tersembunyi di balik langkah-langkah Sampeyan yang membingungkan umat? Misalnya apakah Sampeyan sedang melakukan semacam shock therapy untuk secara ekstrem menggiring warga menjauhi sikap kultus individu dan kehidupan politik. Artinya Sampeyan ingin mengatakan dengan bukti kasat mata kepada mereka bahwa kultus individu itu tidak sehat dan bahwa orang NU memang tak becus berpolitik?
Bagaimana pun, Gus Dur, kalau boleh, saya masih ingin kembali memanggil Sampeyan “Mas Dur”. Semoga Allah melindungi dan melimpahkan taufiq-hidayah-Nya kepada Sampeyan. Amin. **)

***
Mengenai tentang sahabat, saya merasa sangat bersyukur, di tengah jalan sunyi perjalanan panjang studi S3 saya di negeri antah berantah ini, selain keluarga, saya masih dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang senantiasa mendukung dan mendokan saya. Sahabat-sahabat lama di Indonesia dan di belahan dunia lain pun masih sering berkirim email, message di FB, Whatsapp, Blog, dll. sekedar untuk menanyakan kabar, memberi dukungan, dan mendoakan. Buat saya, mahasiswa bodoh dengan otak pas-pasan yang hanya mengandalkan pada kekuatan doa-doa ini, doa-doa itu adalah sumber semangat dan kekuatan tersendiri untuk terus melangkah. Ibarat baterai-baterai baru, ketika cahaya semangat saya semakin redup di antara hari-hari yang begitu jengah dan melelahkan. Ada yang mendoakan kelancaran studi saya, ada yang mendoakan saya jadi Profesor, ada yang mendokan saya jadi Penulis Novel terkenal, bahkan ada yang mendoakan saya jadi menteri akhir-akhir ini. Hanya hanya bisa berteriak dalam hati, “Ammiin…. ya Rab!!” Semoga do’a-do’a kebaikan itu kembali juga pada orang-orang yang mendokan.

Bersahabat dan saling mendokan dalam kebaikan selalu menjadi di antara momen-momen terindah dalam hidup ini. Terima kasih sahabat!. Terima kasih ya Allah karena disana masih ada hati-hati yang tulus mendoakan untuk kesuksesan saya.

Saya,
YangSeringKaliRapuhDanInginBerputusAsa

*) pictures are courtesy of :

**) Reference :  http://www.gusmus.net

Advertisements

4 comments

  1. saya masuk sahabat yang di fb dan blog ni Cak? Dulu di Salemba kita tak sekelas jadi jarang bertegur sapa. Mudahan menjadi sahabat di dunia nyata. Teruslah menulis, menurut saya tulisan sampeyan selalu terselip pesan baik dan unsur yang menjadikan orang lain termotivasi untuk melakukan kebaikan, yad’u ilal khair..

  2. Aku tuh yg bilang muklason bakalan jadi penulis novel terkenal. Hihihi.. Aamiin… Tulisane sampean iki jujur soale, walhasil aku seneng mocone.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s