mimpi kecil tentang sebuah negeri yang bangsanya rajin belajar

hallward library

Inggris adalah negara yang sangat humanis. Itulah alasan yang saya “buat-buat” sendiri kenapa saya memilih Inggris sebagai satu-satunya negara pilihan saya untuk melanjutkan sekolah S3. Padahal saya belum pernah tahu, bahkan membaca tentang budaya orang Inggris saja belum pernah. Hanya saja, tidak tahu kenapa, hati saya selalu mengatakan begitu.

Kenapa harus humanis? Karena, menurut saya sekolah itu tidak sekedar belajar di Universitas tempat kita belajar, tetapi yang lebih penting dari pada itu adalah belajar dari kehidupan dari tempat dimana kita belajar. Buat saya, sekolah kehidupan lebih banyak memberi kita pelajaran berharga  tentang hidup daripada Sekolah bergedung bernama  Universitas.

*

” People are People” itu kata-kata yang selalu saya ingat dari dosen pembimbing saya. Dosen pembimbing saya yang selalu saya kagumi. Kegeniusan nya tetapi juga kemanusianya.  Guru yang tidak hanya membuka diri untuk berdiskusi tentang masalah sempit dalam penelitian kita, tapi juga membuka diri dalam diskusi panjang tentang manusia dan kompleksitasnya. Beliau yang selalu antusias mendengarkan dan aktif bertanya ketika saya bercerita tentang Islam, agama yang dia bilang sangat menyiksa umatnya. Bagaimana tidak, saya harus sholat lima kali dalam sehari, harus puasa tidak makan dan minum selama 18 jam di musim panas nanti. Beliau bilang ” You will die then, if you are living in the north pole. ” Dan saya selalu berkelit bahwa justru, ritual agama saya yang rumit dan terlihat memberatkan itu yang membuat saya sangat menikmati menjadi seorang Muslim.

Dan yang paling saya senang adalah beliau sangat memahami bahwa saya tumbuh di negara dengan budaya pendidikan “disuapin” yang tidak mendidik muridnya untuk berfikir kritis bahkan kekritisan dianggap tabu. Satu hal yang sangat berbeda dengan budaya pendidikan di Inggris, dimana mampu berfikir kritis adalah esensi dari sebuah proses pendidikan. ” That’s why there is not scientist from your country” kata dosen pembimbing saya. Dan beliau sangat membantu saya untuk belajar berfikir kritis. Beliau seringkali bilang kepada saya: ” Ask a question that never asked by other people before is much better than correctly answer a question that no body can answer before”. Untuk bisa berfikir kritis memang bukan urusan mudah, butuh proses pendidikan yang panjang. Tetapi, selalu tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai belajar.

**

Hari itu, selepas sholat Jumat di tempat sembahyang di Portland Building – salah satu landmark building di University Park,  Universitas Nottingham- saya mengunjungi salah satu perpustakaan paling sibuk di Universitas Nottingham, yaitu Hallward Library. Ada setidaknya 8 perpustakaan besar yang ada di Universitas Nottingham ini, yaitu Hallward library untuk ilmu-ilmu sosial dan humaniora; George Green Library untuk bidang teknik , matematika dan pengetahuan alam; Greenfield Library untuk ilmu kedokteran dan kesehatan; Denis Arnold Music Library, untuk bidang ilmu seni dan musik. James Cameron-Gifford Library untuk  bidang ilmu hayati, pangan, dan kedokteran hewan; Business School library, untuk bidang ilmu bisnis, Djanogly Learning Resource Centre untuk bidang ilmu komputer dan pendidikan, dan King’s Meadow Campus library, untuk koleksi dokumen dan buku-buku langka. Di Universitas Nottingham, perpustakaan-perpustakaan itu ibarat taman-taman syurga yang selalu ramai dikerumuni para mahasiswanya yang sangat rajin belajar.

hallward_lib

Perpustakaan di Universitas Nottingham, sebagaimana perpustakaan di kampus di negara-negara maju lainya, buka tiap hari, tujuh hari dalam seminggu.  Bahkan pada bulan-bulan menjelang, pada saat, dan setelah ujian akhir, semua perpustakaan buka 24/7 i.e. buka 24 jam tujuh hari seminggu. Seperti hari itu, seminggu menjelang minggu-minggu ujian, saya harus berdiri berjam-jam tanpa tempat duduk di Hallward, karena semua tempat duduk sudah penuh terisi oleh mahasiswa yang sedang belajar.  Saya berputar-putar diantara rak buku-buku sekali-kali menyandarkan punggung ku di dinding perpustakaan 5 lantai itu.

rak buku perpustakaan

Berada di antara ribuan koleksi buku itu menghadirkan kebahagian tersendiri. Jauh lebih membahagiakan daripada berada di antara koleksi baju-baju mewah di mall. Sudah jelas alasanya, koleksi buku itu bisa saya jamah dan merengguk ilmu yang tertulis di dalamnya tanpa perlu keluar duit. Sementara, koleksi baju-baju mewah itu, hanya bikin hati sedih saja, karena saya tak mampu membelinya.  Di perpustakaan hallward ini, saya senang sekali dengan koleksi buku-buku filsafat dan buku ekonomi. Meskipun, saya sedang belajar ilmu komputer, kedua bidang ilmu itu sering kali menggoda otak saya untuk mempelajarinya. Meskipun hanya belajar kulit-kulitnya saja, tetapi mempelajari sesuatu yang baru itu selalu terasa sangat menyenangkan.  Rasanya seperti menikmati masa-masa bulan madu pasangan pengantin baru.

20130517_143610

Selain koleksi buku, perpustakaan ini juga dilengkapi dengan ruang komputer, ruang diskusi, dan zona belajar  yang sunyi senyap, serta fasilitas printing dan fotocopy. Selain bisa menggunakan PC yang disediakan cukup banyak jumlahnya, pengunjung juga boleh meminjam laptop and ipad gratis. Ruang diskusi adalah ruangan-ruangan kecil yang dilengkapi dengan white board dan LCD projector. Sementara zona belajar adalah kubikal-kubikal kecil yang diperuntukkan untuk belajar sendirian dengan suasana yang sangat tenang.

leraning zone

Hari itu seperti hari-hari biasa menjelang ujian, semua fasilitas yang ada di hallward 100 persen terpakai oleh mahasiswa. Tak satupun kursi di ruang zona belajar, ruang diskusi, maupun di ruang komputer yang tersisa. Yang menarik adalah meskipun penuh dengan mahasiswa tetapi suasana perpustakaan tetap sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah suara-suara kertas yang dibolak-balik. Semua mahasiswa terlihat sibuk dan serius dengan bahan belajarnya masing-masing. Kalaupun mereka harus berkomunikasi, mereka hanya berbicara berbisik-bisik tanpa mengganggu konsentrasi belajar mahasiswa lainya. Mereka bagaikan kerumunan semut, yang ramai jumlahnya tapi sunyi senyap.

belajar

Di perpustakaan ini, mahasiswa diperbolehkan membawa makanan dan minuman yang tidak mengganggu orang lain. Biskuit, pisang, coklat adalah makanan yang biasa dibawa oleh mahasiswa. Perpustakaan ini akan tetap ramai, bahkan sampai larut malam, dan menjelang pagi hari lagi. Tidak hanya di hari kerja, tetapi juga di hari sabtu dan minggu. Dalam hati saya hanya bisa membatin, gila ya mahasiswa disini gila belajar semua.

20130517_144048

Buat saya pribadi, melihat ribuan mahasiswa sedang sibuk dan serius belajar di dalam perpustakaan adalah pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Sebagai akademisi, dari dahulu saya sangat merindukan suasana akademik seperti ini terjadi di kampus-kampus di Indonesia. Sayangnya susana akademik di kampus-kampus di Indonesia, bahkan di kampus saya yang merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia, masih jauh dari yang saya impikan. Jangankan perpustakaan buka 24/7, buka 12 jam saja, perpustakaan masih sering merana.  Perpustakaan sepi dari pengunjung. Bahkan, banyak sekali mahasiswa yang saya tanya mengaku belum pernah sekalipun meminjam buku di perpustakaan.

Jangankan melihat perpustakaan penuh mahasiswa sedang serius belajar, paling-paling kebanyakan mahasiswa ke perpustakaan hanya untuk numpang WiFi gratis untuk membuka Facebook, email dan media jejaring sosial lainya. Memang sih, saat ini yang namanya sumber belajar itu tidak hanya dari perpustakaan. Sumber belajar bisa didapatkan secara mudah dari internet. Tetapi, saya lebih percaya bahwa perpustakaan dalam sebuah kampus adalah cerminan bagaimana semangat belajar mahasiswa nya. Suasana akademik sebuah kampus bisa diukur dari tingkat kunjungan mahasiswanya di perpustakaan. Kalau di kampus luar negeri, perpustakaan adalah syurganya mahasiswa, di Indonesia bisa jadi sebaliknya. Mahasiswa yang rajin ke perpustakaan, bisa jadi dicap mahasiswa tidak gaul, udik, study-oriented, kampungan, tidak bisa berorganisasi dan stereotipe buruk lainya.

self learning

Saya percaya bahwa, bangsa yang akan jadi pemenang di masa depan adalah adalah bangsa yang generasi mudanya saat ini mau belajar keras. Cina adalah contoh bangsa yang saya yakin akan menjadi bangsa besar di dunia. Saat ini pun beberapa ahli ekonomi sudah memprediksi bahwa Cina akan menjadi macan ekonomi di dunia. Itu ternyata tidak terjadi secara kebetulan, tetapi karena sebuah proses panjang dari generasi-generasi mudanya yang sangat-sangat keras dan ulet dalam belajar dan bekerja. Lihat saja kampus-kampus terbaik di seluruh dunia, mahasiswa internasionalnya didominasi oleh mahasiswa dari bangsa Cina. Semua mengakui mahasiswa Cina adalah mahasiswa yang sangat-sangat keras dan ulet dalam belajar. Pun, di Universitas Nottingham, mahasiswa-mahasiswa cina lah yang mendominasi para penghuni perpustakaan hingga larut malam.

Yah, masa depan memang tidak mudah untuk diprediksi. Tetapi masa depan bisa “diciptakan” oleh orang-orang  yang berusaha keras untuk menciptakanya. Semoga saja Indonesia dianugerahi generas-generasi muda yang giat belajar, generasi muda yang tidak mudah cepat puas, tetapi selalu merasa bodoh dan terus giat mau belajar. Jihad, atau perjuangan itu tidak harus dengan mengangkat senjata, tetapi Jihad itu bisa jadi dengan jihad belajar ! Selamat Belajar Indonesia !!

Advertisements

11 comments

  1. saya sangat tersentuh sekali, Cak! Jihad di zaman postmodern ini memang dengan belajar dan meraih ilmu sebanyak2nya. Negara2 adidaya sudah lama sadar tentang resep jitu itu. Kita baru sadar, tapi belum terlambat. Salut dan terimakasih atas tulisannya! Semoga semakin banyak yang membaca dan memetik hikmahnya. Selamat!

  2. nasehat pembimbingnya sangat berguna, I like it….terkadang malu bertanya dan kurang bersikap kritis…budaya yang lama kita geluti adalah “menurut apa kata guru”…Jadilah kita pembelajar seperti gelas, menampung sahaja…Saya lagi berusaha menguras habis rasa itu sekarang Cak…

  3. Postinganyg keren dan inspiratif, faktual juga. Indonesia memang jauuuuh dari nottingham yak. Aku dlu malah gapunya buku satupun, semua pinjem di perpustakaan. Kalopun punya paling ya fotokopian. Wehehehe…

    Orang yg suka baca itu pikirannya akan kritis tapi tenang. Suka protes tapi terkontrol. Sama kayak sedang membaca buku, harus pelan, gak terburu buru biar bisa terserap dan mengendap dg sempurna.

    Ahamdulillah aku masih suka baca sampe sekarang, walaupun medianya beda, internet. Jehehehehe…

  4. Kalau dibandingkan dgn inggris, indonesia mungkin mmg kalah jauh. Tapi ada bagian2 dimana kita justru lebih unggul dibandingkan mereka. Hanya saja terkandang bangsa ini tidak sadar bahkan malu untuk mengakuinya. Sehingga byk falsafah hidup yg justru sangat giat diterapkan oleh orang barat ketimbang org negeri ini sendiri. Misalnya falsafah berikut ini “Ngelmu iku, kalakone kanthi laku”. Tapi sak pinter2e org inggris, smpe skrg mereka msh blm bs bedain antara padi, gabah, beras, dan nasi. Semuanya ttp aja diaggap rice :D.

    Ulasannya keren mas. Kalo sempat cb baca2 ini http://www.caknun.com/2011/ngelmu-iku-kelakone-kanthi-laku/
    mungkin bs jadi acuan untuk tulisan2 selanjutnya. Khususnya ttg kaitannya ilmu dalam Alquran.

  5. Subhanallaaah,, terima kasih kang,, bermutu, inspiratip nan menggugah semangat tulisannya,,btw anak lanang wes lancar kah bahasa indonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s