Siluet Ilusi : kala senyum tak selalu terlukis indah

20130507_082018

Aku termenung, saat aku perhatikan wajahku sendiri di cermin itu. Oh Tuhan wajah ku sudah mulai berkeriput. Kulihat kerutan-kerutan di wajahku semakin nyata. Gurat-gurat pertanda jumlah usia itu semakin tak dapat menyembunyikan sebuah kenyataan bahwa aku sudah tua. Ya, saya memang sudah tidak muda lagi.

Rasanya baru kemaren pagi, saya berada di sebuah podium di aula pesantren menyampaikan pidato perpisahan di hadapan para kyai, ustadz, teman-teman, dan di hadapan seseorang yang sangat spesial dalam hati saya. Bangga rasanya, aku dipilih untuk mewakili teman-teman sebagai lulusan terbaik saat itu menyampaikan kata-kata terakhir untuk orang-orang yang aku cintai yang akan kami tinggalkan untuk jangka waktu yang lama, bahkan mungkin untuk selamanya.  Sungguh, akhir lembaran kisah cerita masa SMA di Pesantren yang sangat indah yang ku tutup dengan kado istimewa aku diterima di Jurusan impianku, di kampus teknik idamanku di kota Surabaya.

Rasanya baru kemaren siang  aku menerima map bersampul batik, jabatan tangan dan ucapan selamat dari rektor ITS, yang sekarang adalah menteri pendidikan Nasional. Map batik itu adalah tanda kebanggan dari wisudawan ITS yang berhasil lulus dengan pujian, cum laude. Dan aku menjadi satu-satunya wisudawan dari Jurusanku yang menerima map batik coklat itu. Bahagia sekali rasanya, melihat kedua orang tua tersenyum bangga dengan itu. Akhirnya, kutulis lembaran terakhirku dari perjalanan penuh keringat dan airmata selama 4 tahun di kampus perjuangan di kota pahlawan itu dengan diterimanya diriku sebagai Research and Development engineer di  sebuah perusahaan asing dari Korea Selatan yang membuat ku harus hijrah ke Ibu kota Jakarta, kota impian banyak orang yang memimpikan kesuksesan hidup.

Rasanya baru kemaren sore aku mengambil keputusan besar itu dalam hidupku. Keputusan yang merubah total arah kehidupan ku selanjutnya. Aku yang memutuskan menjadi dosen di almamaterku. Profesi yang sebelumnya sangat tidak saya sukai dan tidak pernah terpikirkan dalam benak ku. Padahal, dengan bekal gelar S2 ku dari kampus negara tetangga telah menghantarkan ku di gerbang perusahaan minyak nasional setelah bersaing dengan ratusan ribu pelamar lainya. Aku telah memilih menjadi pendidik dengan gaji yang kecil. Tetapi, saat itu aku telah berjanji tidak akan pernah menyesali keputusan ku sendiri di kemudian hari.

Dan dunia pun terus berputar, waktu pun terus pergi berlalu,  tak pernah menunggu siapa pun, hidup terus berlanjut menurut sabda sang alam, dan aku kini sedang terpuruk dalam kesedihan di antara persimpangan waktu yang terus berdenyut. Hidup telah mengajarkan banyak hal kepada ku. Bahwa ternyata hidup itu tidak indah-indah amat seperti yang aku bayangkan di masa remaja ku dahulu. Hidup ternyata tidak selalu diisi dengan kebahagiaan dan cinta. Ada kekecewaan, kegetiran, kepahitan dan kebencian di dalamnya.

Tuhan, diam-diam aku telah merindukan diriku di masa lalu. Aku yang selalu di kelilingi ribuan mimpi dan asa yang selalu membangkitkan gairah hidup. Yang membuat hidup ku menjadi lebih hidup dan teras begitu indah.

Seribu asa hadir di sekililingku
Bangkitkan gairah hidup
Sejuta harapan di dalam jiwaku
Walau semua masih di dalam angan

Rasanya kini semua itu hanya siluet ilusi. Yang seolah dekat tapi tak pernah bisa aku tangkap dan aku kejar. Maafkan aku Tuhan, jika aku mengeluh. Tuhan maafkan, Jiwaku yang  lelah, yang telah terpuruk dalam lorong gelisah, dalam luka beradah yang teramat parah. Aku yang rapuh dalam melangkah. Bak kehilangan arah dalam kesendirian di malam yang kelam dan tak tau kemana hati ini harus berlabuh.

Keraguan kini menjelma di dada

Musnahkan segala asa
Semua harapan yang dulu pernah ada
Tiada tersisa…

20130503_120400

Tuhan, maafkan lah aku atas segala kecurangan hati ini. Maafkan aku yang telah menduakan Mu. Wahai Tuhan penguasa hati ini. Hanya Engkaulah yang mampu menghapus segala duka ini. Basuhlah rindu dendam hati ini dengan cinta Mu. Wahai Tuhan Penguasa siang dan malam, lipurlah segala lara dalam dada ini. Karena aku yakin Engkau selalu memiliki cara sendiri untuk menghibur hati hamba Mu. Tuntun dan bimbinglah langkah kaki ini selalu.

*) Bib. Bayang Ilusi, Anggun.

Advertisements

4 comments

  1. huwow… aku sekarang pun masih belajar hidup kok kang walaupun sudah tua juga haha.. walopun aku kelihatannya suka tertawa tapi saat sedih melanda aku biasanya menangis dan entahlah dikala tangis melanda yang paling aku ingat adalah Yang Maha Kuasa yg menciptakanku dengan sempurna.. biasanya aku menangis karena minder sih.. minder itu dosa menurutku karena sama aja meremehkan ciptaanNya..

    1. wah ndop bisa nangis?
      tak pikir sampean bahagia terus ndop, hehe….
      logika yang cukup bisa diterima ndop.
      “minder sama saja meremehkan ciptaan Nya”.
      sound great and inspiring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s