Rindu alam desa ku yang dulu: Makanan “ndeso” yang Go Internasional

… sangat tidak disangka, makanan yang sangat bersahaja dan telah dilupakan itu saya temui kembali dengan harga yang sangat-sangat mahal.

Salah satu perbedaan budaya yang terkadang bisa menjadi kendala ketika kita hidup di negara lain adalah perbedaan selera makanan.  Bukanlah hal yang mudah memaksa lidah yang sudah terbiasa puluhan tahun dengan cita rasa lokal nusantara  dengan cita rasa makanan orang Bule. Kalau sudah begitu, apa boleh buat mau tidak mau harus masak sendiri. Walaupun, terkadang urusan masak ini buat orang seperti saya, yang terbiasa dilayani di rumah, terasa begitu menyiksa. Belum lagi, sebagai seorang muslim  yang hidup di negara mayoritas non-muslim, kita harus berhati-hati dalam mencari makanan yang halal.

Di kebanyakan supermarket di Inggris,  tidak dijual makanan khususnya daging yang berlabel Halal. Oleh karena itu, saya harus jeli mencari penjual daging muslim atau memilih tidak makan daging/ayam. Dan sedihnya, di Inggris label halal artinya lebih mahal :(.

Di Nottingham, untungnya ada sebuah  tempat yang  penduduknya mayoritas Muslim, namanya Hyson Green. Dari kampus bisa ditempuh sekitar 20 menit jalan kaki. Di Hyson green ini, mayoritas penduduknya adalah pendatang dari Timur Tengah : India, Pakistan, Bangladesh, Oman, Kazahtan, dll. Bila berada di tempat ini, saya berasa seperti di lingkungan makam sunan Ampel Surabaya. Banyak tulisan Arabnya, dan nama tokonya ke arab-araban juga seperti : Medina, Syarif, dll. Saya hampir tiap minggu ke tempat ini untuk membeli kebutuhan dapur.

Yang tidak habis pikir ternyata di perkampungan muslim ini,  saya menemukan makanan “ndeso” jaman mbah-mbah saya dulu. Makanan yang membuat saya, seolah memutar kembali kenangan 20 tahun lalu ketika masih SD, bersama balutan kasih sayang kakek dan nenek saya di kampung yang sangat bersahaja. Dulu, mbah-mbah saya makan nya ya makanan-makanan “ndeso” yang sekarang sudah terlupakan bahkan oleh orang desa itu sendiri. Saya jadi kangen almarhum mbah-mbah saya. Semoga mereka bahagia di alam kubur mereka, Ammiin.

Makanan “ndeso” tersebut di antaranya adalah:

(1) Beton

20130320_104255

Ini adalah biji buah nangka. Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya. Dahulu, beton ini cuman direbus terus dijadikan camilan favorit di malam hari. Di Inggris, makanan ini dilabeli dengan “Jack Fruit Seed”. Tetapi, yang bikin kaget adalah harganya. Satu kilo dijual dengan harga £ 5.49 atau sekitar Rp. 82. 500 (£1 = Rp. 15.000). Buat saya ini harga yang sangat mahal sekali, karena 1 pack bersisi 15 butir telur harganya cuman £1.5, dan 1 kg daging ayam hanya £1.5 – £2.0 .

20130320_104441

(2) Jambe (Buah Pinang), harga £3.99 / Kg.

20130320_104502

Saya tahunya ini namanya buah Jambe. Dahulu ini makanan favoutite mbah dok (mbah wedok) saya. Ini biasanya dimakan dengan Daun Sirih, Gambir dan Batu Gamping. Terus, dikunyah-kunyah yang akan menghasilkan “Du Bang” singkatan dari Idu Abang (Air Liur Berwarna Merah). Seingat saya dulu, mengunyah daun sirih dan kawan-kawan ini ini disebut dengan “nginang”. Biasanya, setelah aktivitas ini dilanjutkan dengan aktivitas “nyusur” yaitu aktivitas membersihkan gigi dengan tembakau dan mengulum tembakau tersebut sampai beberapa menit hingga jam.

Sekarang di desa saya, budaya nginang dan nyusur ini sudah hilang di telan jaman. Walaupun sebenarnya bisa jadi, kearifan lokal ini, memberi manfaat secara medis. Misalnya, membuat gigi dan gusi lebih kuat, yang sangat menarik jika  dilakukan penelitian dengan kaidah ilmiah modern. Tapi entahlah, bangsa ini sepertinya  sudah kadung merasa rendah diri dengan kearifan lokal yang dimiliki nenek moyang nya. Sehingga semuanya  dianggap kuno, ketinggalan jaman dan tidak ilmiah.

(3) Ontong (Harga £3 / Kg)

20130320_104356

Ini adalah bunga pohon pisang. Makanan bersahaja yang bisa diambil gratis di desa ini sangat cocok dimasak Lodeh. Dengan kuah santan yang kental dan bumbu udang ebi. Ontong ini juga pas dibuat sayur teman makan Pecel. Wah rasanya sangat luar biasa. Sayang beribu sayang disini harganya lebih mahal dari daging ayam dan daging sapi 😦

(4) Lompong dan Bothe

20130320_105549

Gambar di atas adalah Tebu, Hati  daun pisang, batang lompong (Keladi), dan Umbi nya.  Ini adalah makanan saat saya masih kecil di desa saya dulu. Tebu, saya biasa ambil dari halaman rumah. Lompong atau batang daun keladi, ini biasanya dibuat lodeh. Umbi keladi nya, saya dulu nyebutnya mbothe, biasanya dipakek sambal goreng atau cukup direbus saja.

(5)Pohong dan Polo Kependem Lainya

20130320_104309

Ini adalah umbi-umbian yang dulu sangat jamak saya temukan di desa. Orang desa di Jawa menyebutnya dengan Polo Kependem. Ada puluhan jumlahnya, yang dulu ini adalah makanan utama desa sebagai pengganti beras. Diantara yang masih saya ingat adalah ada singkong, suwek, gembili, gembolo, gadung, garut dan banyak lagi lainya.

20130320_104632

Saya yakin tanaman-tanaman dan makanan “ndeso” yang dulu sangat dilestarikan secari arif oleh orang-orang desa itu adalah sumber makanan yang sangat kaya gizinya. Gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Buktinya, orang-orang desa jaman dahulu badanya kuat-kuat, sehat-sehat dan jarang terserang penyakit.

Sayang seribu sayang, makanan-makanan “ndeso” itu sekarang tinggal kenangan. Karena kadung ada anggapan kalau ndak bisa makan nasi dari beras itu miskin dan terbelakang, sehingga tanaman polo kependem yang puluhan jumlahnya itu kini tinggal cerita. Para petani desa sekarang sudah tidak tertarik dengan makanan dari polo kependem tersebut, sehingga tanaman polo kependem itu sekarang nyaris punah.

Padahal, masih ingat betul dalam ingatan saya dahulu. Di belakang rumah mbah saya yang luas, yang ditakdirkan oleh Tuhan sebagai tanah yang subur, dengan mudahnya saya bisa menemukan berbagai jenis makanan baik yang terpendam dalam tanah (disebut dengan polo kependem) seperti singkong, ketela rambat, suwek, gembili, gembolo, gadung, garut, dan sebagianya yang saya lupa namanya. Begitu juga dengan makanan yang menggantung (disebut dengan polo gumantung) seperti nangka, keluwih, sukun, kopi, melinjo, mente, belum lagi buah-buahan seperti nanas, jambu air, jambu kelutuk, sawo, kelapa, mangga, jeruk. Semuanya disediakan secara gratis dan melimpah oleh alam.

Sekarang kalau saya pulang kampung, belakang rumah mbah saya itu tidak lebih dari lahan gersang. Hanya beberapa pohon kelapa, yang degan nya selalu menarik perhatian anak saya. Dalam hati saya selalu berbisik kepada anak saya; ” Sayang nak, tak pernah engkau saksikan, betapa melimpah ruah nya hasil alam  pas jaman ayah kecil dahulu”.

Begitu juga dengan sungai di belakang rumah mbah saya. Kali setail, nama sungai itu. Dahulu, sungai itu melimpah dengan berbagai jenis ikan air.  Ada Ikan tombro, ikan melem, ikan gabus, ikan tawes, ikan wader, ikan lele,  ikan uceng, ikan kocolon itu hanya sedikit nama ikan yang masih saya ingat namanya.  Ada juga udang, empet, remis yang jumlahnya melimpah diantara bebatuan sungai yang airnya jernih dan segar untuk mandi. Oh sayang, semuanya tinggal kenangan.

Sekarang, jika saya pulang ke kampung halaman. Sungai itu tinggalah hamparan sungai yang gersang. Airnya kuning tercemar, tidak ada kehidupan lain di sungai itu kecuali ikan kecil-kecil yang kulitnya keras dan tidak enak untuk dimakan.

Rupanya, pesona alam desaku yang melimpah ruah itu telah musnah oleh keserakahan anak manusia. Atas dalih untuk meningktakan pendapatan petani, bahan kimia digunakan secara berlebihan oleh para petani sehingga membuat sungai tercemar dan memusnahkan kehidupan biota alami sungai itu. Atas nama pembangunan, ribuan tetumbuhan sumber makanan dan vegetasi alami alam desaku itu telah dimusnahkan.

Andai saja saya boleh meminjam mesin waktu, ingin rasanya saya kembali ke masa itu. Akan saya turuti petuah leluhur nenek moyang saya, menjaga kelestarian alam desa ku dengan arif dan bijaksana. Bersikap santun dengan alam, bersahabat dengan baik dengan alam.

Ah sayang seribu sayang, Pesona alam desaku yang dahulu itu kini tinggallah kenangan. Semoga, anak cucuku kelak tahu, bahwa cerita negeri syurga itu pernah ada. Oh.. sungguh saya rindu pesona alam desa ku yang dulu.

Nottingham, 24-03-12; 23:54  , yang merindukan desa kecil di selatan Kabupaten Banyuwangi tahun 80-90 an.

 

Advertisements

8 comments

  1. Waaah sampean kok jik apal yak jeneng2e. awake dewe jik beruntung ya kang ngrasakne urip jaman biyen sing suwejuk.Btw gak masuk akal kui regone beton sampe 80 ewu sekilo. beuuuuh… *semaput

  2. Oh…dari Banyuwangi ternyata!
    Wah…harganya di sana mahal tingkat dewa. Mending saya milih beli Daging Ayam/telur. Hahahahaha….

    Hebat ya Indonesia polo pendem jadi mahal di Inggris. Jualan ke sana yuk!

  3. wah nama-nama polo2 itu masih bukan sekedar nama disini. di desa saya 😀
    bahkan terkadang kalo sedang musim, lauk pauk kami jadi seragam hehe. maklum rumah saya ndeso banget. kaki gunung semeru

  4. Cak Son belum nemu kue Putu di toko Sharif ‘kan? Dibuat dari tepung beras dan dikukus pakai “bumbung”. Kalo di Indonesia dimakan dengan parutan kelapa.
    Coba dicari, ada putu juga dan namanya juga “putu”..:-D, tinggal tambah parutan kelapa, sudah bisa dinikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s