Laskar Kempyeng: sebuah romansa masa lalu yang meneguhkan.

foto_SMP

…terkadang kita perlu menoleh ke belakang, untuk meneguhkan kembali langkah kita ke depan. terkadang kita juga perlu mundur satu, dua langkah untuk meloncat jauh lebih tinggi ke depan.

01 Januari 2013

Akhirnya, kita ditakdirkan untuk tetap melanjutkan cerita  hidup, merajut mimpi-mimpi, dan menggerakkan roda-roda kehidupan kembali di awal tahun 2013. Ternyata ramalan suku Maya akan kiamat di penghujung akhir tahun 2012 tidaklah benar. Yah, begitulah ternyata ramalan itu  hanyalah tinggallah ramalan. sebuah ramalan yang memang seharusnya tidak selalu benar.  Di pagi hari di pembuka tahun 2013 itu, sinar matahari pagi menerobos jendela kaca kamar ku di lantai dua. Tak seperti biasanya, matahari yang biasanya malas-malasan menampakkan diri di musim dingin ini, hari ini dia terlihat begitu sangat cerah. Sinarnya menantang ranting-ranting pepohonan yang sudah kehilangan semua daun-daun nya pada saat musim gugur sebulan sebelumnya. Matahari pagi itu, seolah memancarkan semangat, harapan, dan mimpi-mimpi baru untuk para penghuni bumi Nottingham.

Tetapi, tidak demikian pula adanya dengan ku. Ketika orang-orang dengan semangat  menulis resolusi-resolusinya di tahun 2013 ini, aku hanya datar-datar saja. Dalam hati kecilku, aku berkata yah yang akan terjadi ya terjadilah. Entah kenapa, hari itu yang aku jadwalkan untuk pergi “ngelab” di kampus, berubah menjadi acara “leyeh-leyeh” di kamar. Aku tahu, ini hari adalah hari libur, tapi aku tak pernah merasa semalas ini. Berlindung di balik duve-selimut tebal dalam kondisi masih sarungan, bersandarkan bantal, ditemani tumpukan buku, tumpukan thesis, sebuah netbook, dan sebuah mainan baru i.e Kindle. di dalam kamar sendirian, oh itu adalah sebuah kondisi untuk bermalas-malasan yang sempurna. Aku coba sesekali untuk membaca sebuah paper: “Variable Neigborhood Search”  di kindle baru ku, nyaman sekali memang seperti membaca sebuah tulisan dalam kertas, membuat aktivitas membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tetapi  begitu ketemu formula, simbol matematis,  dan grafik mataku segera beralih ke netbook. Yah, apalagi kalau bukan mantengin facebook. Ngeliat resolusi teman-teman di tahun 2013, status pemujaan pesta malam tahun baru, bahkan status hujatan kegiatan sia-sia dari sebuah perayaan tahun baru.

Sampai suatu saat mata ku tertahan lama pada sebuah foto yang di posting oleh seorang kawan saya, Bima Indrawan di group teman SMP N 1 Cluring. Sebuah foto jadul sekitar tahun 1996 pada saat kami duduk di kelas 2, kelas 2 F tepatnya. Aku benar-benar tertegun dengan foto itu, tak bosan-bosan nya ku pandangi foto lama itu. Foto bocah-bocah SMP yang lugu  nan bersahaja sedang bermain “kempyeng” i.e. tutup botol di dalam sebuah kelas yang sangat sederhana. Kempyeng adalah permainan tradisional sederhana yang menggunakan 5 tutup botol. Saya tidak yakin, apakah jaman sekarang masih ada yang melestarikan permainan sangat sederhana itu. Itulah kondisi kelas kami, 16 tahun yang lalu. Kelas F adalah kelas Unggulan di sekolah kami pada saat itu. Setiap catur wulan selalu ada perubahan komposisi siswanya, tergantung peringkat nilai raport yang di rangking satu sekolah. Hanya 40 siswa dengan nilai raport tertinggi setiap catur wulan lah yang akan menghuni kelas “panas” F. Begitulah, cara kepala sekolah kami pada saat itu, Bapak Asmui Hardiadmodjo, S.H. untuk memacu semangat belajar siswa siswinya, di sekolah pinggiran selatan kabupaten Banyuwangi. Yang konon pada saat itu, meskipun sekolah pinggiran, tetapi merupakan salah satu sekolah SMP terbaik di kabupaten Banyuwangi. Hampir setiap tahun nya, Nilai Ebtanas Murni (NEM) nya selalu terbaik seantero kabupaten Banyuwangi.

Ingatan masa lalu

Foto itu, membawa anganku kedalam pusaran romansa kenangan masa lalu. Foto itu mengingatkanku, masa kecilku yang harus mengayuh sepeda ontel bersama kawan-kawan, sejauah 12 kilo meter dari desa kami tinggal, Plampangrejo,  menuju sekolah yang terletak di kecamatan Cluring itu. Menembuh dingin nya pagi, menyusuri pinggiran sungai, dan menerobos hamparan sawah yang begitu luas di lereng gunung raung. Masih teringat jelas, gagahnya gunung raung yang terlihat begitu memesona di setiap pagi-pagi kami. Foto itu juga mengingatkan ku bahwa kami pernah kehujanan, basah kuyup, di kala musim hujan tiba. Foto itu juga mengingatkan kami akan sosok guru-guru kami yang luar biasa. Ada Pak Imron, wali kelas kami, guru matematika yang terkenal kalau membuat soal ulangan, susahnya minta ampun. Saya bahkan pernah dapat nilai NOL, benar-benar memalukan. Tidak hanya itu saja, Pak Imron punya tradisi untuk memanggil muridnya satu persatu maju kedepan. Di kasih satu pertanyaan, di luar materi yang pernah beliau sampaikan. Jikalau tidak bisa menjawab dengan tepat pertanyaan itu, maka penggaris kayu panjang warna coklat itu akan menyabet dengan ganasnya di kedua kaki kami.

Saya masih ingat betul, saya disuruh maju dan di kasih sebuah pertnyaan i.e. Apakah diagonal itu? dan akupun menjawab: sebuah garis yang menghubungkan antara 2 sudut yang berhadapan. Tetapi jawaban itu sama sekali tidak menyelamatkanku dari sabetan penggaris bertuah itu. Nyaris hampir semua teman-teman pernah merasakan sabetan penggaris bertuah itu. Begitulah cara Pak Imron mengajari kami untuk belajar sangat-sangat keras tidak hanya sebatas materi dari yang disampaikan oleh guru saja. Begitu juga dengan Guru Fisika kami, Pak Sur, yang selalu mengadakan tes lisan selain tes tulis. Dan tidak hanya Pak Imron dan Pak Sur saja, kami memiliki guru-guru lain  yang luar biasa.

Dan kini,

Kini sudah 16 tahun berlalu, kami para laskar kempyeng (sebutan yang diberikan oleh kawan saya, Bima Indrawan) sudah memiliki kehidupan masing-masing. Satu hal yang aku rasakan kini adalah kebanggan yang luar biasa atas teman-teman ku. Meskipun dari sekolah pinggiran di pelosok kabupaten paling ujung di propinsi Jawa Timur, tetapi teman-teman ku sudah membuktikan bahwa mereka bisa meraih mimpi nya masing-masing. Sedikitnya 6 orang dari kelas kami yang saat ini berprofesi sebagai dokter, banyak juga yang bekerja di perusahaan mentereng di ibu kota jakarta, ada yang jadi Polisi, Pegawai Negeri, bahkan wirausahawan yang sukses, intinya mereka sudah membuktikan bahwa, kesederhanaan dan keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih mimpi setingi-tingginya.

Refleksi Diri,

Mengingat masa SMP yang penuh dengan keterbatasan tetapi dengan semangat luar biasa itu kini aku jadi malu. Aku yang saat ini diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar di salah satu 75 kampus terbaik di dunia, di salah satu 10 kampus terbaik di Inggris dengan fasilitas belajar dan kesempatan yang sungguh luar biasa. Sebuah kampus yang konon adalah syurganya bagi para penuntut ilmu. Sebuah kampus, yang diantara dosen-dosen nya adalah penerima Nobel di dunia.

foto_kampus

Tetapi Oh kenapa, semangat ku tak menggebu seperti dulu?

Trent Building

Tuhan, maafkanlah aku. Terima kasih kawan atas foto itu, yang meneguhkan ku kembali untuk bersemangat menuntut ilmu. Terima kasih, guru-guru SMP ku, ingatan akan diri mu, menggugah kembali semangat belajar ku seperti dulu.

foto_kampus2

Nottingham. 02-01-2013; 21:49, Automated Scheduling Optimization and Planning  Lab., School of Computer Science, University of Nottingham, UK.

Acknowledgement:

(1) Bima Indrawan for the valuable photo.
(2) Kempyeng, http://ohperantau.blogspot.co.uk/

Advertisements

6 comments

  1. Huwaaa.. masnya yg paling kiri, ginuk-ginuk. Pingin punya badan segitu ah.. hahahah… #salahFokus

    Wah tidak menyangka ternyata dirimu juga ngontel kayak saya. Bahkan lebih jauh lagi yah, 12 kilo meter! Whatta destination!

    Tapi melihat hasilnya sampeyan sekarang, yah memang worth it lah sama perjuangannya. Memang sih, perjuangan sekecil apapun tidak akan luput dari balasan-Nya.

  2. Semangat…semangat…mas bro 🙂 Bermalas-malasan sejenak itu halal kok, asalkan GPL (ga pake lama), langsung melenting menyambar kanan & kiri karena dikejar setoran. Take your time, bro, but remember that time flies very fast!!!

  3. Semangat memang naik dan turun. Ayo dicas lagi cak. Benar, bahwa tulabi ilmu dianjurkan dan untuk ditambahkan ilmu hanya kepada Dialah yang tepat dan tempat untuk meminta. Btw, its very nice posting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s