arti sebuah natal yang berbeda dari yang saya pahami sebelumnya


Bulan ini adalah kali pertama saya berjumpa bulan Desember di belahan benua lain. Apalah arti sebuah bulan Desember? buat saya, bulan Desember adalah perwujudan mimpi saya yang sangat sederhana yaitu : merasakan dingin nya benua Eropa. Sebelum menginjakkan kaki di benua ini, di tengah sumuk nya hawa kota Surabaya, saya sering setengah bercanda ke teman-teman saya, ” aduh… jadi merindukan dingin nya  benua eropa”. sebuah mimpi yang sangat sederhana bukan?

Dan ternyata sensasinya luar biasa, merasakan suhu udara -6 derajat, memakai jaket tebal, hood, sarung tangan scarf sambil merasakan sensasi beceknya bekas-bekas salju di bawah sepatu. Benar-benar sesuatu kenyataan dari yang dahulu cuman dapat saya bayangkan dan lamunkan.

Buat orang UK, dan penduduk di belahan dunia lain di benua eropa Desember identik dengan perayaan Natal dan Liburan panjang menjelang tahun baru. Umumnya kampus-kampus dan sekolah libur selama satu bulan penuh, dari pertengahan Desember sampai dengan pertengan bulan Januari  tahun depan. Akan tetapi nuansa Natal sudah sangat terasa sejak awal bulan Desember.

Seperti apa sih arti Natal nya orang Eropa itu?

Dulu saya sempat berfikir bahwa Natal itu adalah ritual keagamaan umat Nashrani (umat kristen dan Katolik) untuk mengagungkan Yesus atau Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai Tuhan. Akan tetapi, berjalan seiring berjalan nya waktu, dan ketika mata saya mulai terbuka untuk dunia nan luas disana, rupanya membuat saya berfikir ulang arti perayaan Natal.

Intinya, Natal yang dulu saya pahami sebuah ritual agama, sekarang bergeser menjadi Natal yang saya pahami hanyalah ritual budaya belaka. Kurang lebih, seperti masyarakat Cina yang merayakan Tahun baru Cina. Seperti Muslim di Indonesia yang merayakan Lebaran dan halal bihalal. dan saya sangat yakin, di tengah masyarakat manapun yang berbudaya pasti memiliki hari-hari tertentu yang istimewa yang patut untuk dirayakan dengan penuh suka cita.

Yah, begitulah kebenaran. Kebenaran hari ini, bukanlah sebuah kebenaran untuk esok hari. Begitulah kata para filsup yang dipopulerkan oleh Mas Ahmad Dani lewat tembang-tembang nya di album Dewa 19. Hehe…

Sejak awal Desember, euforia Natal sudah terasa  sekali. Di radio, koran, berita online hampir semua orang membicarakan Natal. Di antara yang mereka bicarakan tentang natal adalah: Pohon Natal, Dekorasi Natal, Hadiah Natal, Christmas Meal, Christmas Dinner, Christmas Lunch, Christmas Dinner, Christmas Market, Boxing Day, dan tentunya Christmas holidays. Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya. Kenapa tidak ada satu orang pun yang membicarakan Yesus Kristus? Saya yang hampir tiap hari mendengarkan radio, yang mereka bicarakan adalah hal-hal di atas.

Buat saya, ini satu fenomena sosial yang sangat menarik hati saya untuk diamati. Dalam hati saya, ada sebuah tanda tanya besar sekali. Benarkah orang-orang UK dan kebanyakan orang Eropa pada umumnya telah meninggalkan agama mereka?

Beberapa hari lalu, saya menyempatkan pergi ke salah satu Christmas Market namanya Lincoln Christmat Market yang konon katanya adalah salah satu christmas market terbesar di benua Eropa. Ternyata benar, luar biasa adanya. Ada mungkin ratusan orang berbondong bondong menyemut menuju  ke sebuah tempat yang berada di atas sebuah bukit dari pagi hingga tengah malam. Ini adalah interaksi sosial manusia terbesar yang pernah saya lihat di tengah-tengah kehidupan sosial orang UK yang menurut saya sangat mengerikan, sebuah kehidupan sosial yang mengagungkan individualisme.

Ternyata di atas bukit itu ada sebuah, ada kastil, gereja katedral, dan bazar. Orang-orang pada belanja di stall-stall yang jumlah nya banyak sekali. Buat saya, bazar ini tidak menarik sekali buat saya. Sama persis kayak pasar malam di kampung-kampung di Indonesia. Lagian, harganya di atas normal. Apalagi untuk ukuran kantong mahasiswa dengan sponsor dari pajak rakyat Indonesia, hehe.

Yang menarik buat saya adalah kastil tua yang merupakan saksi bisu sebuah kejayaan masa lalu, yang kini mungkin tinggalah goresan-goresan dalam sejarah. betapa tak abadinya sebuah kejayaan. Yang lebih menarik lagi buat saya adalah sebuah gereja katedral yang sangat megah nan luas. Gereja ini mengingatkan saya akan latar filem harry potter. Sebuah bangunan dengan aristektur kuno yang rumit dan Indah.

Sebagaimana semua gereja-geraja lainya di UK yang pernah saya lihat sebelumnya, satu kesan saya yaitu kuno dan angker. Bak rumah tua yang sudah lama ditinggalkan oleh tuan nya. Bahkan, ada sebuah gereja terdekat dengan rumah tempat saya tinggal yang sudah dipenuhi sarang laba-laba, padahal di depan gereja itu tertulis sebuah papan yang menginformasikan bahwa gereja ini masih dipakai untuk kebaktian. Gereja-gereja ini seolah membenarkan cerita dari teman-teman saya bahwa orang eropa itu sudah pada meninggalkan gereja. Mereka mengaku kristen, tapi tidak pernah pergi ke Gereja. Bahkan katanya banyak gereja yang dijual dan beralih fungsi menjadi diskotik, dan sebagian berubah menjadi masjid dimana Islam adalah agama dengan pertumbuhan tercepat di Eropa.

Setiap melihat gereja dalam hati saya selalu bertanya-tanya, akankah masjid-masjid di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak suatu saat akan ditinggalkan oleh jamaahnya sebagaimana nasib gereja-gereja disini? Banyak sekali masjid yang Indah, tetapi sedikit sekali jamaahnya. Ketika manusia semakin sibuk dengan kehidupan dunianya, ketika manusia merasa tidak lagi membutuhkan lagi sesuatu yang dianggap luar biasa bernama Tuhan.

Saya bersyukur sekali hari itu, gereja dibuka untuk umum. Senang rasanya saya bisa memasuki gereja yang sangat megah itu. Seumur hidup saya, inilah kali pertama masuk ke dalam sebuah gereja. Luar biasa indah nan megah desain interior gereja berasitektur romawi kuno ini. Rupanya gereja ini sudah beralih fungsi, dari tempat ibadah menjadi tempat wisata. Di dalam gereja itu ada koleksi buku layaknya sebuah perpustakaan kuno, ada kafe , prasasti, patung dan diorama-diorama layaknya di dalam sebuah museum. Ada sebuh altar di ruang utama gereja itu. Saya duduk di salah satu kursi-kursi tempat jamaah melakukan kebaktian. Ada banyak sekali kitab disitu, yang telah saya buka ternyata kumpulan syair-syair lagu pujian untuk Tuhan.

Satu kesan yang tertinggal dalam hati saya ketika meninggalkan gereja itu, dulu gereja ini pernah sangat berkuasa dan berpengaruh dalam menata kehidupan manusia. Tetapi kini lagi-lagi tinggalah saksi bisu akan sebuah kejayaan dan kedigjayaan di masa lalu.

Kembali ke perayaan Natal, menjelang Natal di UK sama persis dengan orang-orang menyambut datangnya Lebaran. Mereka sangat konsumtif untuk bersuka cita pada hari yang istimewa itu. Satu hal yang perlu digarisbawahi, natal disini adalah ritual budaya, tak ubah layaknya perayaan tahun baru di Cina.

Satu hal yang saya pribadi belajar disini bahwa saya Agama itu memang selalu berdialektika dengan budaya. Sebuah agama hadir bukan di dalam sebuah ruang hampa, akan tetapi agama hadir di tengah-tengah masyarakat yang sudah memiliki budaya. Seperti halnya ketika Islam yang hadir di tengah-tengah masyarakat Arab, dan ketika Islam hadir di tengah-tengah masyarakat Jawa. Dua bangsa yang memiliki budaya yang sangat berbeda. Tentunya tidak bisa dipaksakan bahwa Islam di Jawa harus sama persis dengan Islam di Arab.

Kita harus cerdas membedakan mana yang ruh, spirit dari agama itu sendiri dengan mana yang merupakan budaya tempat dimana agama itu hadir. Sholat dengan memakai jubah dan jenggot seperti orang Arab tidaklah lebih sempurna dibanding dengan sholat menggunakan sarung dan kopiah tidak pakai jenggot panjang. Yang terpenting adalah penghambaan, penyerahan kita seutuhnya di hadapan Dzat yang Maha di atas segalanya.

Buat saya, mengucapkan Selamat Natal hanyalah pemanis pola interaksi sosial antar  sesama manusia, agar kehidupan bersama ini terasa lebih Indah nan harmonis. Tentunya kita akan sangat senang, jika kita sedang bersuka cita dan orang-orang di sekitar kita mengucapkan selamat atas suka cita kita. Mengucapkan natal bukan berarti saya membenarkan keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mengucapkan Natal tak sedikit pun merubah keimanan saya bahwa Nabi Isa, seperti Ibarahim, Musa dan Muhammad adalah orang-orang yang terpilih dan diberkati untuk menunjukan satu Tuhan pada masanya masing. Salam sejahtera semoga senantiasa dicurahkan untuk Muhammad, Isa, Ibrahim dan Musa dan utusan Nya lainya baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

“Bukanlah kebenaran itu kebenaran yang hakiki, tetapi keyakinan lah kebenaran yang sejati”

Advertisements

8 comments

  1. aku barusan posting tentang mengucapkan Selamat Natal, dan ternyata kayak pendapat sampeyan. Yup setujuuu..

    wow, keren! Aku nggak pernha bermimpi ke luar negeri, keinginanku pingin keliling Indonesia dulu baru ke luar negeri hehehe..

  2. pas kecil kita hanya ketemu di acara lomba matematika SD. ketemu di SMP, eh gak pernah bermimpi ketemu di jakarta, apakah saya mungkin ketemu lagi di tempat yang berbeda di dunia ini cak…:) semoga tempat itu adalah yang dirindukan umat amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s