Ketika Guru , Dosen, Gus dan Kyai Tidak Keramat Lagi di Pesantren

“Pak… pak ! pak Yusuf Ganteng deh” teriak seorang siswi SMA di sebuah pesantren di Jawa TImur, dari lantai dua, kearah Gurunya bernama Pak Yusuf yang sedang berjalan menuju kantor sekolah.

“Pak, besok saya tidak bisa ikut kelasnya bapak, karena ada keperluan mendadak” .

“Makasih ya pak… bye…”

itu adalah suara salah seorang Siswi SMA dari henpon seorang kawan saya yang berprofesi sebagai guru. Saya kirain pacarnya kawan saya tadi, eh ternyata Siswi nya di kelas.

Guru termasuk, dahulu adalah sosok yang sangat dihormati, ditaati, bahkan “dikeramatkan” .

Akan tetapi, lain dulu lain sekarang. Saya begitu kaget, pada satu saat, ketika saya berada di sebuah Sekolah Menengah Atas di sebuah pesantren ada Siswi nya yang dengan santainya menelpon Gurunya di tengah larut malam. Kayak teman nya saja.

Saya bertambah kaget, ketika akhirnya saya tahu bahwa anak-anak SMA sekarang sudah berani meng “godai” guru-guru nya.

Inikah potret anak muda jaman sekarang di negeri Indonesia yang terkenal sangat santun itu?

Saya jadi bertanya-beranya. Di pesantren yang setiap malam belajar kitab “Taklim Mutaalim” aja seperti kayak itu, apalagi sekolah di luar sana yang tidak pernah makan kitab kuning?

Kitab Taklim Mutaalim adalah kitab yang dikaji hampir di seluruh pesantren di Indonesia. Isinya adalah tuntunan bagaimana seorang murid harus bersikap ketika belajar. Di dalam nya menurut saya lebih banyak mengajarkan tentang Akhlak. Akhlak tentang bagaimana seorang murid bersikap hormat dan “tawaduk” terhadap Gurunya. Bahkan kita pun disuruh sangat hormat terhadap putra-putri Guru kita.

Itulah mengapa, di budaya pesantren Kyai, Guru, Ustadz adalah sosok yang sangat dihormati. Jika bertemu sang kyai, santripun dengan “tawaduk” akan merundukkan badan nya, kemudian mencium telapak tangan sang Kyai, Ustadz, dan Guru.

Sekarang : Guru = Teman ?

Mungkin karena saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya budaya lokal, semua berubah menjadi budaya global yang di dominasi orang barat. Sementara orang timur, khusunya orang Indonesia menjadi korban dari budaya global tersebut, sehingga orang-orang timur khususnya Indonesia mengidap penyakit yang sangat kronis, yaitu: merasa malu dengan budaya nya sendiri.

Di barat, mungkin seharusnya posisi Guru dan Siswa adalah sejajar. Guru dan Siswa, Dosen dan Mahasiswa berada pada posisi yang sejajar. Hubungan yang terjadi antara Guru dan Siswa, dan Dosen dan Mahasiswa adalah tidak lebih dari hubungan teman.

Saya jadi ngeri membayangkan jika budaya ini menggeogoti budaya Tawaduk di Pesantren. Apa jadinya jika Budaya Tawaduk, “Merendahkan” diri di hadapan Guru, Ustad, kyai itu hilang? Saya takut suatu saat ada Guru, kyai, an ustadz yang dilecehkan oleh muridnya. Saya jadi teringat kasus beberapa siswa yang dikeluarkan dari sekolah karena menghina, melecehkan gurunya.

Masihkah kita, publik akan membela Siswa Tersebut?

Hah, mengerikan sekali. Profesi yang dulu sangat dihormati, di alu-alukan, di “pahlawankan” itu kini jadi Profesi yang sering dilecehkan. Apalagi ketika segala sesuatu dinilai dengan materi, bahkan kehormatan pun dinilai dengan materi, Apa kabar nasibmu duhai Engkau Si Oemar Bakri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s