when the students are : Less Motivated and Mark Oriented

I am dreaming someday education in Indonesia is like education in developed country. A campus is fully occupied by highly motivated and hard studying students,  In each single place of campus is fully by student discussing their learning. Campus library is fulled by student learning until late in the night.

I am very sure the future of Indonesia as a nation is strongly depended on how the education in this country. Knowing the education in Indonesia nowadays,  I am afraid and worried about the future of this nation. Regardless how the facilities of  education in Indonesia,  while knowing how the condition of the student really make me sad. As a lecturer in one of leading University in Indonesia, I know well how the condition of student in Indonesia. Frankly speaking, I can say that the student in Indonesia is less motivated and mark oriented.

A case example, when I deliver lecture material in front of class, I frequently wonder to my students: is there any question? It is rarely there will be question. But, when I change the rule by promising them to give extra mark, many student will raise their hand up and ask me “silly” question. They will not study if there is no quiz, no assignment, or test. They will do something, only if they are given reward that is Grade. They are not interested with what their lecturer given, but Grade.  They will hardly complaint if their mark is not like their expectation, many student will come to their lecturer office to try their very best to get better mark. But, they do not care whether they understand or do not what their lecturer delivered in Class. So far, every day I always get student come to my office, but there is no student come to discuss about lecture material in Class. They come to say sorry because of late submission of assignment or test.

“Sir, please do not deduct my mark, please please give me Full Mark Sir”.

No one come to my office and says:

“I am sorry Sir, I do not really understand with this thing, would you like to explain me again?” or

“I am sorry Sir, I do not agree with your opinion that…., in my opinion……”

Lecturer that is generous in giving mark, will be the most favorite lecturer, although he/she is not expert in his/her area. Lecturer that is very strict in giving mark will be “Monster” that is the most unwanted lecturer, although he/she is professor that is very very expert in his/her area.

Sometime, I wonder what are they looking for in this University? Just a piece of bachelor degree certificate with CGPA = 4? what is it for, if they know and can do nothing ! It is even getting worse, when it is known that there is barely student that like Programming, in Information System department. I think it is embarrassing, they will graduate with Sarjana Komputer (Bachelor of Computer Science), but they do not like Programming and can not develop program. It  sounds  weird, but it is truly happen. They graduated from Information System Department, but do not know much about Information System.

In my opinion, university students nowadays are highly affected by “POP Culture”. They only want to be happy, happy in all days. Hang out with their friends just to make happy. They are less hard working, less motivated students. It is rarely view, you can see student in Campus bringing thick text book, read and  discus it with their friend. But, in each single of campus you can easily see student facing their laptop updating their facebook, plurk, or twitter. They use Internet for accessing social network website.  What about library? the backbound of campus Life. I think you know the answer, no student come in this damned place. Library is the most silent place from student.

Knowing this matter, How is the future of this nation?  God knows the answer. As a lecturer, I just have an audacity of hope someday everything will be getting better and better. It is big homework for me, how to make a campus to be real campus. I just want Campus is  not just like a market in which money and bachelor degree certificate is exchanged. I just do hope a campus will be an agent of change, changing for better Indonesia, better life and better humanity.

Advertisements

34 comments

  1. pak maw comment pake bahasa indonesia aja tapi…
    Menurut saya pak kebanyakan mereka (mungkin termasuk saya juga) adalah tipe orang yang pengen secara instan mendapatkan ilmu tanpa harus mempelajari apa yang telah diajarkan. Mungkin karena kita terlalu sering berbuat yang sangat2pragmatis d kehidupan sehari2 sehingga terbawa juga
    D perkuliahan. Terkadang saya merasa perlu memberikan reward atau suatu trigger untuk memacu mahasiswa menjadi aktif.
    Masalah berikutnya adalah pendidikan di Indonesia sekarang sangatlah mahal,mengakibatkan ppara orang tua orang tua yang beruang lah yang mampu menyekolahkan anaknya. Padahal jika dilihat lebih lagi, mungkin anak2yang kurang mampu tersebut justru memiliki fighting spirit lebih kuat dibandingkan dengan mereka yang “membayar lebih banyak”.
    Saya ingat sekali dengan orang tua sya yang mengakatakn kuliah dijaman dulu itu masih susah mendpat ip 3, untuk mencapai 2,5 saja sudah harus bersusah payah.
    Mungkin saran saya,pendidikan tidak boleh menjadi barang ekslusif,karena dalam UUD 1945 djlaskan bahwa setiap wargaa negara berhak mendapakna pendidikan yang layak.

  2. Memang memprihatinkan Sir. Tapi sebagai mahasiswa boleh dong komentar dikit, membela diri gitu deh :). Perilaku mahasiswa yang mengejar nilai saja, itu tak lepas dari perlakuan (sebagian) dosen juga, yang menilai kemampuan mahasiswa hanya dari hasil tes/quiz. Sepertinya dosen mengalami kesulitan dalam menentukan kualitas seorang mahasiswa selain dengan menggunakan tes/quiz.
    Dalam proses pembelajaran di kelas, tak dipungkiri ada mahasiswa2 yang menonjol, aktif, kompeten, bahkan kritis. Tapi mahasiswa seperti itu tak akan mendapat grade bagus jika hasil tesnya jelek. Sebagian besar tes hanya menguji sebagian kecil dari materi sebuah pelajaran. Boleh jadi dia lemah dalam hal yang diteskan, tapi dia memahami bagian besar yang tidak diteskan. Darimana kita tahu? Ya dari proses sehari-hari di kelas, bukan hanya dari sejam dua jam quiz.
    Sebaliknya seorang mahasiswa yang diam saja di kelas, pasif, tidak kelihatan kompetensinya, asal waktu tes/quiz bisa mengerjakan ya grade nya pasti lebih baik dari tipe pertama tadi.
    Kebanyakan dosen tidak memberi nilai tinggi untuk keaktifan mahasiswa, paling 5%, bahkan 0%. Coba jika kondisi ini dibalik, keaktifan dalam kelas dinilai 60% misalnya, saya optimis kelas akan sangat hidup, mahasiswa akan berlomba untuk bicara dan sharing. Cobalah kita menilai seseorang dari usahanya, bukan hasil akhirnya saja tanpa tahu proses dia mencapai akhir itu.
    Saya ingat, ada mahasiswa yang mengerjakan sebuah soal dengan sekian panjang jawaban, dia kelihatan memahami permasalahan, tetapi dia membuat setitik noda kesalahan, yang kesalahan itu bukan karena dia tidak mengerti tetapi karena kurang teliti, dia tidak mendapat nilai sedikitpun atas usahanya itu. Ironisnya nilai diberikan kepada temannya yang menyumbang setitik koreksi dari sederet panjang jawaban itu. Jika memang nilai diukur dari kompetensi, kenapa dia tidak mendapat nilai sama sekali padahal dia sudah kelihatan kompetensinya? Mungkin dia tidak berhak mendapat 100%, tapi juga kasihan jika diberi 0%.
    Jadi salah siapa mahasiswa hanya mengejar nilai dari quiz/tes? Jika dosen menilai proses, mahasiswa akan berproses, jika dosen menilai usaha, mahasiswa akan berusaha, jika dosen menilai keaktifan, mahasiswa akan aktif. Jika dosen menilai quiz saja, mahasiswa hanya belajar saat akan quiz. Mahasiswa mencari dari apa yang diberi dosen.
    Memang susah mencari model penilaian yang ideal dan seobjektif mungkin. Dosen harus rajin mencatat atau mengingat peran serta mahasiswanya dalam seluruh proses pembelajaran. Bukan tidak perlu tes/quiz, tapi mungkin perlu dicari model penilain yang lebih ideal agar mahasiswa juga tidak fokus ke quiz saja.
    Saya salut pada integritas Mister, Indonesia butuh banyak Dosen saperti Mister. Maju terus, Sir!

  3. komentarku diawali dgn cerita,,,
    jadi inget2 dulu waktu diajar pak rully s, siapa yang tidak mengenal cara beliau mengajar? setelah beberapa kali aq ikut kelas beliau yang dapat aq simpulkan :
    1. Aq sering keruangannya untuk menanyakan materi yang tidak aq kuasai waktu dikelas atau jika ada tugas yang nggak dimengerti, dan itu TIDAK SAYA SAJA tapi teman2 juga,, keren khan!? kalau bagi aq daripada aq google nggak jelas atau tanya temen2 yang juga pada kagak ngerti mending tanya bapaknya yang jelas2 cara ngajarnya enak dan sampai mahasiswanya ngerti. Apalagi kalo diruangannya wuuihh walau deg2an tapi ada kebanggaan tersendiri setidaknya aq jadi ‘lebih’ tahu materi itu daripada temen2.
    2. Bapaknya kan juga sering ngasih kuis cuma persentase kuis, aktif dikelas, uts, uas nggak didetailkan cuma gambaran besar persen yg didapat. Jadi mahasiswa tetap aktif dan walaupun tesnya jelek2 nggak seberapa menjatuhkan juga…
    3. Kenali mahasiswanya,, beliau apal banget ma mahasiswa aktif dgn pertanyaan baik atau ‘silly’. Mahasiswa yang suka memberi solusi kelas, yang sering maju untuk menjawab dll. Bapak nya klo ngajar kan gitu,,, tiba2 ngerjain tugas di kelas yang bisa jawab maju,, ada/tidaknya tambahan nilai nggak seberapa dipikirin yang penting bapaknya nggak marah :D. Tapi bukan marah2nya yang dibahas tapi perasaan bangga kalo bisa nyelesaikan tugas yang diberikan bapaknya,,, kharisma nya kali ya??
    4. Tanyain ajah mahasiswa dikelas, dirandom gitu n bergantian tiap pertemuannya to the point!! tanya ke dia : ini ngerjain sendiri atau mbacem? Klo bilang ngerjain dewe tapi temen2nya tahu dia mbacem bisa2 dia nggak dipercaya lagi ma temenya biar kapok atau kalo dia njawab mbacem kan malu. Kalo mbacem sama siapa? Toh ntar keliatan mana servernya, bisa jadi servernya itu anak yang aktif dikelas / tidak. Jadi yang pinter tapi diem “keliatan” dan aktif sekaligus bagi2 ilmu jadi malah “keliatan”.
    Moga2 empat point diatas bisa diambil kesimpulannya ?
    oh ya mengutip komen diatas….
    “Sebaliknya seorang mahasiswa yang diam saja di kelas, pasif, tidak kelihatan kompetensinya, asal waktu tes/quiz bisa mengerjakan ya grade nya pasti lebih baik dari tipe pertama tadi.”
    bisa dikatakan aq termasuk tipe pertama,,, sebab beberapa anak ‘pendiam’ nilainya ternyata lebih baik daripada saya cuma walaupun nilaiku nggak sebaik anak itu tapi aq kan aktif dikelas, sering tanya (tanya yang nggak ngerti beneran loh), sering menjawab, aktif pas praktikum, jadi bapaknya tahu kemampuanq. Kalo nilaiq jelek beliau tahu klo materi itu memang aq nggak bisa In the End nilaiku bagus2 ajah 😀
    oh yaaa soal ‘silly’ question,,, kalo kelas bapaknya ada yang buat pertanyaan kyak gitu bisa dibantai!! jadi nggak bakal ada yang berani tanya pertanyaan ‘dudul’, kalo nanya yang sesuai materi,,, klo nggak ngerti ya nggak ngertinya dimana.. gituu.

    So,,,, aq juga heran apa karena “sifatnya” yang jadi pembicaraan secara turun menurun, kharismanya, cara mengajarnya???
    klo menurutku,, kembali ke METODE PENGAJARANNYA setidaknya itu yang bisa dirubahkan!?? kalo ngerubah motivasi/mindset mahasiswa mah lebih sulit, lagian mahasiswa loh udah pada gede, tau mana yang baik untuk masa depannya mana yang nggak. Semoga cuap cuap ini bermanfaat bagi semua ?

    1. the brain of students is accidentally being brilliant when under pressure. I have experience about it, when I am pressing my students, i realize and know the answer why Mr. RS frequently angry in the Class. But, I have no enough energy to be angry in the Class. :D. Solute to him, very much! I want to be like him, but without angry and press the student, and I did not find it already.
      thank your for your comment.

  4. ada sedikit oleh2 dari Guest Lecture barusan oleh Dr. Alison Owen dari Central Quensland University dalam topik ‘Quality Improvement of Higher Education Sector – Lessons Learnt from Australian Universities’ :

    A teacher is considered success if at the end, students don’t need that teacher anymore to do things..

    That is mean by creating independent learners..

    And a quote from the book E-Business Intelligence : Turning Information Into Knowledge Into Profit, in first part The Quest for Intelligence and first chapter The New e-Business Intelligence:

    Imagine a school with children who can read and write, but with teachers who cannot, and you have a metaphor of the Information Age in which we live. –Peter Cochrane, Chief Technologist, BT Research

    🙂

  5. “the brain of students is accidentally being brilliant when under pressure”
    setubuh pak… wkwkwkwwkwk

    btw bener juga kata anggi, kita bisa taw mahasiswa itu bisa jika kita lebih aktif menanyakan kepada yang random dan dirasa tidak bisa (seperti saya itu -_-“)…

    jadi kira2 ada tambahan nilai ngga pak buat BC berikutnya,,, xixixixi

  6. Okay, I shall admit it, I am a student, a student who get a bad-sided, I am lazy,hard and rarely study and it I’m hard to understand a new thing which come when I’m studying. How could, even to remember a name of someone I just met it still hard .. Many factors include paradigm and teachings method from the parents to the child before starting the study is how the child got the best value, regardless of how the child got the process. Not like bagamana the child is able to apply the theory that he can from his education to be an optimal practice.
    NB. today on march 13th 2010, the server of Ilerning is down AGAIN!

  7. Posting yang bagus..
    Saya setuju dgn yang tengah2 menuju terakhir. Byk mahasiswa SI yang hedonisme. Mereka suka bersenang2. Sehingga mengesampingkan tugas mereka,apalagi kuliah mereka.. Mereka menyalahkan kurikulum,tapi tidak ‘NGACA’. Banyak mahasiswa lain yang tidak hedon tapi bisa,bahkan ada juga lho segelintir yang hedo juga tapi mereka tetap bertanggungjawab akan kuliah mereka. Bahkan kasiannya lagi,tugas kelompok yang diharuskan untuk dikerjakan bersama pun dikesampingkan.. WOW,kasian juga anggota kelompoknya..

    Tapi pak, di Developed Country yg anda maksud itu mungkin berbeda keadaan dan fasilitasnya dgn di SI. Intinya jika bapak menginginkan kampus ramai akan mahasiswa yang penuh motivasi tinggi dalam belajar,mungkin harus diperbaiki dulu WIFI kampusnya agar bisa dikonsumsi banyak mahasiswa sekaligus (kayak asrama itu lho,masa jurusan ga ada duit sih untuk yg ini?).
    Juga ttg koneksi E-learning yang sering down (seperti tadi pagi) dan kesulitan mahasiswa untuk mengakses E-learning di luar kampus (akses aja kadang susah,apalagi upload itu bikin gregetan). Dosen juga harus punya empati untuk mahasiswa yg memiliki kesulitan tersendiri soal itu (mahasiswa juga punya keluarga,dosen juga kan).
    Soal keinginan bapak melihat Perpustakaan Kampus penuh dgn mahasiswa yang blajar sampai ‘late night’. Ini menarik! Mengingat jurusan kita hanya ditutup sampai jam 11 saja(lha perpusnya apa sampe jam 11 juga??). Selain itu perpus SI nantinya kalau sudah jadi juga akan full mahasiswa kok pak,asalkan PENJAGA PERPUS nya ramah juga dan mengizinkan mahasiswa memakai listrik untuk charger laptopnya. Nggak semua laptop batre nya kuat juga kan pak?

    Hal2 kecil mcm itu juga membutuhkan perhatian. Jika menginginkan hal yg besar,maka kita tidak harus tidak berbuat apa-apa (unmodal,hehe)..

    1. great comment 🙂
      thank you very much for your comment, i highly appreciate it.
      untuk Wifi yang bagus, masak c Jurusan ndak mampu beli?
      tanya saja pada kajurnya :D.
      Saya rasa Jurusan ini sangat mampu untuk membeli, bayangkan hampir seratus mhs. baru tiap barunya menyumbang duit Rp. 40 Juta.
      hehe….PR buat kita semua

  8. Saya setuju dengan Ali nasrun
    Andaikan 60% keaktifan di kelas atau 30% lah… 😀
    Kalau tes/quiz besar kan Mark Oriented juga… gag peduli dapat darimana jawabannya pokokny dapat jawaban betul… Dan keaktifan di kelas kemungkinan kecil terjadi kecurangan…

    Dan mungkin jg faktor kekecewaan karena beberapa hasil matkul yang membuat mahasiswa berfikir Mark Oriented,

    Ini ada contoh komentar teman yang saya kutip terhadap matkul semester lalu yang saat itu memang tugas dari awal sampai akhir merupakan tugas kelompok..
    “Si itu gag ngapa2in dpet B.. saya yg jungkir balik dapet B jg… trus apa bedany…”

    Tak bisa dipungkiri komentar teman saya td pernah trjadi diri saya.. dan mungkin jg tdak sedikit mahasiswa SI yg merasakan itu atau bahkan bisa lebih parah… Mau tidak mau itu dapat secara tidak langsung itu dapat mempengaruhi motivasi terhadap matkul2 lain…

    Saya tidak mau mencari kambinghitam karena inilah atau karena itulah… Ada baiknya kita “berjalan bersama-sama” tp bagaimana caranya?? hmm untuk jawaban ini saya kira… “pemimpin” dari SI yang mempunyai peranan besar…

  9. semangat pak…mahasiswa yg bener banyak pak apalagi yang g bener…terus berjuang pak..pareto 20/80 semoga aj berubah jadi 80/20 klo ad 1000 orang lagi kaya bapak…

  10. Well, I used 2 be that kind of student until I recognized Gembul, Didit, Purnama, Muha, Kecap, and other phoenicers (but not all of ’em).

    Pada suatu titik saya merasa sebal yang mencapai puncaknya saat mengetahui saya kerja mati2an d suatu tugas dan presentasi bwt final project, sdg temen satu kelompok saya yg dg jelas2 TIDAK MELAKUKAN APAPUN dpt nilai akhir final project yg tepat sama dg saya.

    Kapok minta ampun waktu itu. Ok, saya hny bs mengelus dada dan say 2 myself deeply, “God gonna reward me for this. There’s no use blaming that suck guys”. Dan Insya Allah sejak itu saya cari temen2 yg memang berjuang buat cari ilmu, bukan cari nilai. That’s one of my reason 2 delay my graduate’s for a half year (actually, beside other reasons). Dan saya temukan kenyamanan kuliah saat saya bersama org yg “biasa2 saja” dlm nilai, tp punya nilai yg jauh lbh tinggi d mata saya dlm hal “struggling, curiousity, friendships”.

    Karena itu, jujur saya sangat bangga jadi anak bimbing Pak Rully dan merasa dapet berkah pernah diajar Beliau. Ga ada usaha saya yg menuurt saya g ada d dalam nilai akhir saya buat mata pelajaran Pak Rully. Beliau meniali org dg sangat subjektif. Tai beliau jg tau sapa yg menjilat dan tidak. Ketika saya mulai tdk serius atas mata pelajaran beliau, nilai saya turun. Nmu saya semangat saya kembali dan saya kerja keras, bagaimana pun nilai saya kembali naik, dan krasa banget ilmu saya nambah scr drastis. Feelin’ that u know much than others making u smiling, huh?

    Sorry klo bahasanya campur2. Tp dah lama bgt g ad tempat buat cerita soal ini, apalagi dr pihak yg berhubungan erat dg manajemen kampus. Harusnya ada perubahan d sana, seriously!

  11. setuju ma @hatta….and i am really upset knowing why mr rully have to go…we lost someone with brain and heart…T_____T

  12. Noo…!! Why do I being accused for doing plagiarsm by copasing another “Bendits” Essay for Online Quiz?
    I don’t copied his work from Bahasa to English, I just sharing my answer with him, unfortunately maybe he used all of my English Essay being translated into Bahasa Indonesia?
    why do I have to get bad marks for the things I didnt do..

  13. Bagus tidaknya pekerjaan suatu kelompok bergantung dari kerja sama tim. Apakah mereka mempunyai visi yang sama atau tidak? Sama-sama ingin memberikan yang terbaik. Tidak asal-asal’an. Dan di SI, hampir 70-90% nilai adalah hasil dari tugas kelompok. Sangat disayangkan sekali. Bagi mereka yang ingin maksimal terhambat dengan teman-temannya yang malas & asal-asalan dalam mengerjakan bagian tugasnya.

  14. Bagi yang mendapat teman kelompok yang tidak menyenangkan, positive thinking aja. 🙂 Kamu lebih tahu dan paham akan ilmunya, sedangkan mereka tidak tahu.

  15. Artikel si mas tdk 100% salah, tp kl boleh saya berbagi: dr awal sy plg anti dg pel.ekonomi-bagi sy ga menarik blaas…SS, tp pas sma kls 1 di kls dpt guru ekonomi yg ok punya (ngejelasinnya dg bhs yg sederhana n mudah dimengerti plus contoh2 kasus, dr situ sy jadi tertarik utk mengetahui lbh dalam shg saat istirahat/pulang sekolah sy sering mencegat guru tsb utk sekedar bertanya2 agar dpt lbh paham materi yg dia ajarkan, alhasil yg dulunya waktu smp nilai ekonomi saya hanya ‘lolos’ waktu kls 1 ini nilai sy bisa ‘lulus’ plus kepuasan batin krn sy tdk saja dptnilai bagus tp jg paham bener materinya —> jd pengajar menurut saya jg berperan besar utk dpt memotivasi pelajar/mahasiswa dlm proses belajarnya

    1. Betul sekali mbak Tina. Gimanapun sebenarnya yg masalah adalah Dosen nya, yg belum cakap membaca mahasiswanya :D. Maklum, ini ditulis oleh dosen kemaren sore yang sudah berkokok sebelum bertaji. Maafkeun…

  16. Ha, ha, ha, gpp mas, ini jg bukannya menyalahkan, bgmn pun membaca komen2 mahasiswa yg mau ajar, sy yakin si mas sdh berusaha utk mengajar dg baik, cm kadang mahasiswanya aja yg kurang ‘tungteng’, spt dulu sy pernah diajar oleh p.Joseph Prijotomo (dosen ITS), cara ngajar Belitung menurut sy bagus tp dasar otak sy yg ga mampu jd nya ya cuma ‘lolos’ bukan ‘lulus’, 🙂

      1. Mboten mas, kulo alumni petra, tp p.Joseph kan pernah jg ngajar di sono, ngasih tugasnya bhs inggris thok, kl sdh suruh nganggur n cari gbr studi kasus, tp toh tetap ga mudeng teori yg diajarkan, he, he, he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s