ketika pendidikan melahirkan mental2 bangsa yang pragmatis : catatan pinggir SNMPTN

Di awal Agustus 2009, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) kembali diumumkan. Tidak banyak yang diterima, tidak lebih dari 10%, jumlah calon mahasiswa yang diterima lewat jalur seleksi nasional yang sempat berganti-ganti nama dari sipenmaru, umptn, spmb dan akhirnya dua tahun terakhir menjadi SNMPTN ini.

Tetapi aneh nya, meskipun tidak lebih dari 10% dari semua peserta SNMPTN ini diterima, terdapat banyak kekosongan di beberapa Jurusan di PTN. Artinya beberapa Jurusan di PTN tersebut kekurangan mahasiswa, bahkan ada yang separuh dari jumlah jatah kursi di Jurusan tersebut dibiarkan kosong melompong. Berdasarkan laporan dari panitia SNMPTN Jurusan di PTN yang bangkunya kosong tersebut adalah Jurusan-Jurusan di fakultas : Pertanian, Perikanan, Kelautan, dan Ilmu Budaya.

Nampaknya, dalam SNMPTN ini calon mahasiswa ber ramai-ramai berebut untuk masuk di Jurusan yang menjanjikan kemakmuran, kemudahan materi setelah lulus nantinya. Jurusan yang menjadi rebutan adalah Jurusan yang sekiranya lulus nantinya mudah MENDAPATKAN pekerjaan. Sebut saja Jurusan Sistem Informasi, Ilmu Komputer, Teknik Informatika, dan Teknik Industri di Jurusan ini hanya puluhan calon mahasiswa yang diterima dari ribuan pendaftar. Begitu juga Jurusan-Jurusan di fakultas Kedokteran.

Hemm.. iya seh logis sebenarnya, siapa yang tidak mau kaya dan siapa yang mau miskin? Namun yang membuat saya bertanya-tanya adalah begitukah hasil pendidikan di negeri ini? hanya menghasilkan mental-mental generasi bangsa yang sangat pragmatis.

Kita seharusnya sadar, bahwa negeri ini di anugerahi Tuhan sebuah negeri yang tidak hanya gemah ripah lowh jinawi, tetepi juga sebuah negeri yang cantik. Tanah yang subur, Air yang jernih dan berlimpah, belum lagi potensi kelautan yang luar biasa luasnya di negeri ini. Orang-orang nya pun juga santun, religius, dan berbudaya. Tetapi anehnya generasi bangsa saat ini tidak ada yang tertarik mempelajari ilmu-ilmu di bidang tersebut. Lah jikalau rakyatnya sendiri tidak tertarik dengan anugerah Tuhan tersebut, lalu siapa yang akan memakmurkan negeri ini? akan kah potensi tanah pertanian, air, kelautan, dan budaya bangsa ini akan tersia-siakan?

Bagi saya ini menyisakan tanda tanya besar di dalam hati ini. Saya berfikir ada yang salah dalam pendidikan negeri ini. Seharusnya pendidikan di negeri ini mampu menumbuhkan mental-mental bangsa yang indonesia, bukan mental-mental bangsa amerika maupun belanda. Mental-mental bangsa yang arif dan bijak, yang bangga dengan bangsa nya sendiri, bukan mental-mental bangsa yang pragmatis dan oportunis.

Masihkah ada secercah harapan, untuk mendidik anak-anak bangsa kami, bangsa kami sendiri?

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s