ketika KEBO harus nyusu pada GUDEL

” Wes…. Mas, sing penting sampean kei nilai Apik, Beres”.

Ndak pernah terfikirkan sebelumnya di benak saya, bahwa suatu saat saya harus menempati posisi sebagai seorang Guru, di sebuah kelas yang unik sekali. Unik karena yang menjadi murid  adalah orang-orang yang jauh lebih senior dari sang guru, unik karena yang menjadi murid adalah orang-orang yang jauh lebih pantas jadi Guru.

Hal ini terjadi ketika saat ini saya mendapatkan tugas mengajar di Universitas Terbuka (UT) di daerah Kabupaten Jombang Jawa Timur. Setiap hari minggu saya harus meninggalkan kota Surabaya untuk menemui murid-murid istimewa saya di kota nya Ryan dan Ponari ini.

Bertempat di SMA Negeri 3 Jombang, UT di kabupaten Jombang ini dilaksanakan seminggu sekali. Hanya ada dua Jurusan yang dibuka di UT Jombang ini, yaitu S1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Jumlah mahasiswa nya luar biasa banyaknya untuk ukuran sebuah UT. Untuk Program S1 PGSD saja terdapat 10 kelas pararel, masing2 kelas terdiri dari 30-40 mahasiswa. Yang sangat unik adalah semua mahasiswa di UT Jombang ini semua-muanya adalah Guru Sekolah Dasar.

Hari Ahad itu [260709] adalah hari pertama saya datang di UT Jombang. Berangkat dari Surabaya pukul setengah 6 pagi diantar seorang kawan sampai terminal bus Bungurasih. Sesampai di Bungurasih saya benar-benar berkejaran dengan waktu gimana caranya agar nyampek di Jombang sebelum pukul 08.00. Saya harus mencari bus yang langsung berangkat secepatnya, tidak pakek ngetemp diterminal. Sangking terburu-burunya, dari bus satu saya berpindah ke bus lainya. Saat itulah musibah terjadi, Camera Digital merk Benq dan Sisir warna Pink saya hilang. Entah jatuh dimana, atau dijambret oleh siapa, yang jelas tas saya terbuka dan barang tersebut sudah lenyap. Sedih sebentar, karena didalamnya ada rekaman video acara houl kyai asrori malam sebelumnya.Akhirnya saya benar-benar tepat pukul 8.00 pagi sampai di SMA 3 Jombang, tempat UT diselenggarakan.

Hari itu saya mendapat tugas mengajar Mata Kuliah IDIK4010: Komputer dan Media Pembelajaran. Di tiga kelas yang masing-masing kelas selama 2 Jam.

Tibalah saya memasuki ruangan kelas itu. Ho ho….ternyata benar yang menjadi mahasiswa saya adalah Ibuk-Ibuk dan Bapak-bapak seusia Ibu dan Bapak saya. Ketika saya memperkenalkan diri, ada yang nyeletuk :

“Ealah… lah kok sak umuran anak ku…. :D”.

Di kelas yang didominasi Ibuk-ibuk itu saya cepat merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Rasanya seperti berada di tengah-tengah Ibuk-Ibuk saya sendiri. Mereka adalah guru-guru SD di desa-desa, di pinggiran kabupaten Jombang. Gayeng, Guyub, dan Guyon. Seingkali mahasiswa saya saling ejek mengejek satu sama lain dalam koridor guyonan.

Di kelas yang hanya ada Kapur, Spidol, dan Papan Tulis itu saya harus mengajari mereka menggunakan komputer dan Internet sebagai media pembelajaran. Ketika saya bertanya kepada mahasiswa saya. Sudahkah mereka menggunakan komputer? tak satu pun mereka yang angkat tangan. Mereka benar-benar awam dengan benda satu itu. Dan ketika saya bertanya apakah di sekolah mereka sudah ada komputer? mereka menjawab ada 1 biji di kantor. Bahkan ada beberapa sekolah yang sama sekali tidak memiliki komputer.

Dan sekrang mereka mengambil mata kuliah Komputer di UT yang tidak ada fasilitas komputer nya sama sekali. Tambah parah……. So? Gimana ini Bapak Ibuk? saya bertanya kepada mereka. Seorang bapak-bapak tetua diantara mereka bilang:

“Gini aja mas, yang perlu sampean tahu. Disini yang paling penting buat kami adalah Nilai Bagus”

yang kemudian diamini seluruh isi kelas.

Mendapat jawaban itu, saya ganti bertanya.

“Masak seh Bapak-Ibu disini, sebagai seorang pendidik generasi bangsa ini, berada disini hanya berorientasi pada nilai? saya sangat yakin Bapak/Ibu tidak seperti itu?”

dan mereka pun akhirnya terdiam.

Hari pertama itu saya isi dengan banyak menyemangati semangat mereka, untuk semangat dan terus semangat belajar, meskipun usia mereka tidak lagi muda. Saya mencontohkan nenek-nenek di Jepang yang di usianya yang sudah senja yang sudah tinggal mati saja mereka masih begitu semangat untuk belajar. Nenek-nenk jepang itu terus belajar karena tidak mau kalah dengan cucu-cucu mereka.

Kelas hari pertama itu saya tutup dengan mendemonstrasikan menggunakan Handphone saya, menggunakan fasilitas internet di HP saya untuk mencari informasi dan mencari Gambar dengan begitu mudahnya. Kemudian saya juga mendemonstrasikan menggambar dengan menggunakan Laptop saya.

Luar biasa, mereka yang diawal begitu tidak semangatnya, akhirnya mereka begitu semangat nya untuk tahu. Mereka pada melototin Laptop saya kayak melihat barang ajaib saja. Huehe….

Itulah potret pendidikan di Indonesia Sebenarnya, bahkan mungkin di ujung negeri sana keadaaanya Jauh lebih buram. Tentu saja kita tidak bisa memotret Pendidikan di Indonesia dengan pendidikan di jakarta, surabaya, dan kota-kota besar lainya.

^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s