‘Bad Culture’ Mahasiswa [di tempat saia] Jaman sekarang: Lebih mengejar NILAI Bagus bukan mengejar IlMU yang bagus.

Bahkan, ada kejadian yang sangat ‘lucu’. Satu hari, ada satu pasang Mahasiswa datang ke salah satu dosen. Yah, lagi-lagi masalah nilai. Seorang dari Mahasiswa tadi merengek-rengek supaya teman nya di LULUSin, karena kasihan sudah 2 kali ngulang, tapi masih saja belum lulus. Bahkan si Mahasiswa tadi rela dan bersedia nilainya dikurangin, untuk ditransfer ke temanya supaya lulus. haha.. ada-ada saja, emang duit bisa ditransfer.

Menanggapi rengekan para mahasiswanya, ada beberapa dosen yang strict tidak ada perubahan nilai. Tetapi ada juga beberapa Dosen yang memberi toleransi. Toleransi yang diberikan Dosen ini justru menjadi boomerang bagi Sang Dosen, karena memicu mahasiswa lain untuk ikut-ikutan merengek-rengek perbaikan nilai. Pusing deh, haha…. Karena capek dengan rengekan Mahasiswa, beberapa dosen sampek memasang tulisan di pintu ruangan nya dengan style nya masing-masing [lihat gambar].

Bad culture seperti ini, waktu jaman saya kuliah dulu, seingat saya tidak pernah terjadi. Karena kita sadar dengan kemampuan kita. Kalau tidak lulus berarti kita memang dirasa belum mampu oleh sang dosen, mengulang Mata Kuliah, adalah hal yang sangat wajar. Bahkan ada teman saya yang ngulang Pengantar IPTEK dan Agama Islam sampek tiga kali hehe…..

Seharusnya?
Mahasiswa protes ke Dosen adalah hal yang sangat positif menurut hemat saya. Tetapi kenapa mereka hanya protes masalah nilai. Emangnya, mereka Super Mahasiswa? yang tidak pantas kalau tidak lulus atau dapat nilai jelek? Kayaknya seh tidak juga, buktinya soal ujian pun paling banter 50 % terselesaikan oleh Mahasiswa. Itu buktinya, materi yang tersampaikan tidak terserap dengan sempurna.

Seharusnya Mahasiswa protes ke Dosen, jikalau Sang Dosen dirasa belum mampu membuat mahasiswa paham dengan materi yang disampaikan dosen, atau jikalau Sang Dosen dirasa belum mampu memuaskan rasa keinginantahuan lebih jauh atas materi yang disampaikan oleh Sang Dosen. Nah, kalo begitu, saya yakin para Dosen akan sangat bangga dengan Mahasiswa nya. Itu baru Mahasiswa Jempolan.

Rupanya memang Mahasiswa kebanyakan kurang peduli dengan sebarapa bagus atau seberapa banyak Ilmu yang mereka peroleh dari sang Dosen. Yang lebih penting buat mereka adalah, asal beban SKS mereka terpenuhi dan kalau bisa dapet nilai sebagus mungkin. Sehingga, tidak mengherankan hasil survey online saya mengenai “Dosen seperti apakah yang paling disukai mahasiswa” menunjukkan hanya 5% respondent yang memilih Dosen senior atau Professor yang bener-bener expert (ahli) di bidangnya. Dosen yang murah meriah dalam memberikan Nilai (mudah dapet nilai ‘A’) ternyata lebih disukai oleh mahasiswa ketimbang Dosen pakar di bidangnya.

Sebuah fakta yang menyedihkan sekali, budaya pragmatis dan ML2(Malas,Lemah, dan Latah) yang sering dituduhkan ke Generasi tua bangsa ini oleh Generasi muda (baca: Mahasiswa) nyatanya juga menjadi culture kebanyakan Mahasiswa, para generasi muda harapan bangsa ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s