Haruskah Berganti Hati?

Apa jadinya ya….. Jika dua anak manusia dewasa berlainan jenis saling mencintai saling menyayangi. Cinta itu tidak datang secara tiba-tiba. Tetapi sedikit demi sedikit, pelan namun pasti cinta itu tumbuh dan bersemi  dalam dada mereka. Hingga sampailah pada suatu titik puncak indahnya cinta diantara keduanya. Saat itu dunia menunjukkan puncak tertinggi keindahannyya di mata dan hati mereka.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu. Cinta yang dulu pernah mencapai titik puncak keindahanya itu. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit terkikis oleh kejamnya sang waktu. Hingga sampailah pada titik terendah. Saat itu dunia seolah menunjukkan puncak terendah keindahanya di mata dan hati mereka. Entah kemana perginya cinta itu, dan entah kepada siapa mereka harus bertanya. Kemanakah engkau pergi wahai cinta.

Andai saja Aku adalah salah satu diantara mereka. Haruskah Aku setia menunggu dan menunggu hingga cinta itu datang kembali. Atau, haruskah Aku terus dan terus berpura-pura dan bersandiwara seolah Cinta itu masih ada. Dan jika hati ini mulai lelah untuk berpura-pura tersenyum dan bersandiwara, haruskah Aku berganti hati?

Satu persatu telah kuhapus
Cerita lalu di antara engkau dan aku
Dua hati ini pernah percaya
Seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga

Ku tak ingin lagi
Menunggu, menanti
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati
Ku tak ingin coba
Hanya tuk kecewa (Ku telah kecewa)
Lelah ku bersenyum lelah ku bersandiwara
Aku ingin pergi
Dan berganti hati

Satu persatu telah kuhapus
Nada dan lagu yang dulu kucipta untukmu
Rasa yang dulu pernah ada
Kini berdebu terbelenggu dusta dan noda

Kini ku sadari diri ini
Ingin berganti hati
Cinta yang tlah pergi
Harus berganti hati

Harus ku ganti hatiku kini
Ini harus ku ganti
Tak perlu ini lagi harus berganti…

(Anggun, Berganti Hati)

Tuhan, Aku tahu Engkaulah yang menguasai hati ini. Tetapi aku tidak tahu apakah setiap yang terbesit dalam hati  ini adalah bisikan Mu. Tuhan….. tuntunlah hati ini, karena hanya kepada Mu lah, patut kuserahkan cinta dan hati ini sepenuhnya.

**
Jika memang “menunggu” itu berarti menggantung hidupmu, maka pastikanlah dan yakinkanlah langkah mu untuk meninggalkan Aku sendiri, disini. Jangan pernah kau menoleh ku kembali, dan Aku pun tidak akan pernah memanggil mu kembali. Biarlah terus kutatap awan dan kutemani bunga-bunga dan rumput-rumput kering di taman ini. Dan aku akan tetap menunggu hingga hujan turun kembali. Hujan yang akan menghapus semua jejak-jejak langkah kaki kita, Hujan yang akan menumbuh semikan bunga-bunga dan rumput-rumput di taman ini kembali…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s