Melihat sisi lain negeri ini : Grobogan dan Kudus Jawa Tengah [Part 2]

Setelah puas menikmati damai dan teduh nya suasana di bawah rimbunan pohon bambu, di pinggir sungai itu kami mencoba mengabadikan momen langka itu dengan foto-foto pakai kamera digital dan kamera handphone saya. Kemudian kami meninggalkan tempat itu. Kupandangi sekali lagi tempat itu, ingin sekali rasanya saya berlama-lama di tempat itu, memandangi air sungai yang mengalir mengikuti kehendak alam. Mengalir dan terus mengalir menuju tempat yang lebih rendah, hingga akhirnya sampai lah ia di samudera luas sana. Dalam hati saya berbisik: entah sampai kapan ya tempat ini akan terjaga kedamaian nya. Tetapi seperti air sungai itu yang harus terus mengalir, langkah saya pun harus segera dilanjutkan.

Perjalanan selanjutnya adalah menyusuri persawahan sampai di ujung desa. Dengan dibonceng motor kang Amin, kami menyusuri jalan sempit dusun itu. sampai akhirnya tiba di penghujung jalan desa itu, dimana hanya pemandangan sawah dengan tanaman padi yang menghijau dan sungai yang mengalir tenang. Kami berhenti di penghujung jalan desa itu. Mata saya memandang jauh hamparan padi yang “ijo royo-royo” itu. Di ujung penglihatan saya nan jauh disana nampak lukisan alami berupa gunung yang berwarna biru. Gunung itu namapak begitu kokoh berdiri. Sungguh indah nian bak sebuah lukisan. Sesekali terlihat segerombolan pak tani dan bu tani menyusuri pematang sawah itu, sambil membawa gundukan rumput dalam keranjang bambu yang saya yakin itu pasti untuk binatang ternak peliharaan mereka. Entah kambing, kerbau, maupun sapi.  Di sebelah agak jauh diantara hamparan sawah itu terdengar riuh suara bebek dan mentok, kurang jelas entah meraka hendak kawin atau berebut makanan.

Di penghujung jalan itu terbentang sungai yang membatasi desa terkesi dengan desa-desa lainya. Tidak ada jembatan penghubung antar desa yang terpisahkan oleh aliran sungai itu. Satu-satunya penghubung adalah dua perahu getek sederhana yang menghubungkan desa Terkesi dengan dua desa lainya. Tidak hanya mengangkut manusia, kedua perahu getek itu juga mengankut sepeda, dan motor. Untuk setiap sepeda motor yang diangkut, si empunya motor harus membayar tarif Rp. 1000. Pernah suatu saat, kata kawan saya, perahu getek yang mengangkut penuh orang, sepeda pancal dan motor itu terbalik di sungai ketika volume airnya tinggi dan arus nya deras sekali. Puluhan orang meninggal dalam insiden memilukan itu. Melihat pemandangan itu saya bercanda ke kawan saya:

” Kang, andai saja posisi saya saat ini adalah seorang menteri PDT. Tak lama lagi desa sampean ini akan memiliki jembatan permanen “.

sebelum meninggalkan penghujung jalan desa di batas sungai itu, kupandangi bocah-bocah kampung yang bertelanjang dada, bahkan ada yang bertelanjang sepenuhnya, bermain-main dan berenang di pinggiran sungai yang airnya kotor berwarna kuning kecoklat-kecoklatan. Tak hanya berenang, mereka juga membawa jaring-jaring ikan, mungkin di sungai yang airnya keruh itu masih ada beberapa ikan sungai yang masih bertahan hidup. Mereka terus dan terus bercanda dan tertawa. Senang sekali melihat kebahagiaan di antara mereka. kebahagian yang mereka definisikan sendiri. kebahagian diantara kesederhanaan dan keterbatasan. Tidak hanya itu, mereka juga mengingatkan saya akan masa kecil di masa lalu. ketika saya seuisia mereka, saya pernah seperti mereka. masa kecil yang sangat indah, diantara teman-teman yang luar biasa banyak jumlahnya. Entah dimana kawan-kawan kecil saya itu kini berada, saya benar-benar tak pernah tahu. saya jadi tiba-tiba sangat merindukan masa kecil yang indah itu. kumpulan bocah-bocah bermain bersama kini pun tak pernah lagi ku lihat di kampung saya.

Matahari sudang lingsir ke arah barat ketika kami kembali ke rumah kang Amin. Setelah ambil air wudlu di ‘padasan’ [padasan adalah gentong air yang dilubangi kecil bagian bawahnya untuk wudlu], kami sholat jamaah di kamar kang Amin. Kamar kang Amin yang sederhana tapi bersih dan rapi itu mengingatkan saya akan kamar kami dulu di pesantren, kamar tanpa tempat tidur yang di setiap sisi tembok tertempel tulisan-tulisan berisi petuah-petuang sang kyai.Pesan untuk senantiasa sholat malam, sholat berjamaah, istigotsah dan sebagainya atau petuah-petuah mendalam tentang arti kehidupan. Petuah-petuah itulah yang secara tidak langsung memberikan energi yang membuat kami tetap survive bahkan ketika berada pada titik tersulit.

Selepas sholat dhuhur, kang Amin beranjak ke dapur. Dia hendak memenuhi janjinya ke saya untuk memasakkan makanan khas dusun Brakas. Makanan khas dusun Brakas itu adalah Intip Tahu. Itu lowh lembaran-lembaran tipis tahu yang menempel di cetakan pabrik tahu. Intip tahunya dimasak dengan sayur kangkung, hemm…. luar biasa nikmat. Intip tahu itu rasanya lebih nikmat dari suwar-suwir daging ayam. Apalagi ditambah dengan sambal super pedas dan kerupuk. Wah.. membuat makan siang kami hari itu luar biasa nikmatnya. lagi-lagi kenikmatan dalam kesederhanaan. Hue he…

***

Kini kami berada di atas bukit yang rimbun. Di bawah bukit itu mengalir sebuah sungai besar yang dibendung oleh sebuah bendungan irigasi. Bendungan irigasi yang dibangun pada masa jajahan Belanda itu membagi aliran air sungai besar menjadi beberapa anak sungai kecil. Anak-anak sungai kecil itulah yang akan mengairi seluruh sawah di kabupaten Grobogan ini. Berada di atas bukit itu sambil memandang ke bawah yang terbentang luas hamparan sawah dengan tanaman padi yang menghiju adalah keindahan tersendiri. Ditambah angin bukit yang semilir dan melihat awan yang berak di bawah langit biru semakin membuat indah suasana. Saya yakin kalau di Malaysia tempat ini sudah pasti menjadi tempat wisata yang sangat indah, yang mampu menyedot perhatian para turis manca negara, terutama turis dari Timur Tengah. Saking indahnya, sehingga tak heran jika di tempat itu dijadikan tempat pacaran pasangan muda-mudi yang asyik masyuk di balik rerimbunana pohon dan rumput yang rimbun. Tetapi mereka tak berhasil mencuri perhatian saya. Awan yang berarak di bawah langit yang membiru, perempuan tua sebatang kara yang sedang berjuang mencari kayu bakar , dan anak-anak gembala yang menggembalakan kambing, kerbau, dan sapi mereka di bukit itu jauh lebih menarik perhatian saya. Semakin sore suasana semakin indah, matahari yang perlahan tenggelam di balik bukit itu terlihat begitu mempesona. Kami bergulung-gulung di atas rerumputan di pinggiran sungai itu. Sambil kami abadikan dengan kamera digital di saku saya.

***
[bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s