Ternyata…Gue NU banget lowh : Sebuah Cerita ‘Perjalanan’ mencoba untuk memahami Islam ku, Islam anda, dan Islam kita.

“…..akhirnya saya pun kembali mantap Tahlilan, Istigotsah, dan ziarah kubur”.[tulisan ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengkotak2 kan Islam, tetapi saya tahu dan yakin perbedaan (khilafiyah) itu sebuah keniscayaan. Walaupun, perbedaan hanya pada masalah-masalah furu’iyah , bukan masalah ushuliyah [pokok] dalam Islam. Jadi kalau ada yang bilang Islam itu satu dan seragam dari A-z, menurut hemat saya itu sangat mengingkari fakta. Tulisan ini juga tdak bermaksud untuk mengunggulkan atau memojokkan, apalagi menyalahkan kelompok tertentu. Saya bukanlah Tuhan yang memiliki kapasitas untuk itu.Ini murni cerita perjalanan pemahaman saya, Islam itu seperti apa sih.]

Saya terlahir di lingkungan Islam tradisionalis. Biasalah, sebagaimana kehidupan pedesaan pada umumnya. Apalagi di daerah Banyuwangi, cultural Islam NU nya sangat kental banget. Bahkan cenderung sangat fanatik. Saya masih ingat suatu saat salah satu kyai ‘kampung’ di tempat kami pernah berkhutbah di masjid [kurang lebih] begini:

“..Kito niki sampun ngantos salah memilih pendidikan yogo kito. Sampun ngantos, yogo kito, jalaran salah memilih pendidikan, akhire dadi wong muhammadiyah lan sapinunggale”.
[artinya: Kita ini jangan sampai salah memilih pendidikan untuk anak-anak kita. Jangan sampai, anak-anak kita, hanya karena salah memilih pendidikan, akhirnya jadi orang Muhammadiyah dsb. (bukan orang NU lagi maksudnya) ].

Sampek sebegitunya. Memang di kampung saya, pendidikan PESANTREN adalah pendidikan yang sangat wajib. Sangking kolotnya seolah pendidikan non-pesantren, non-madrasah itu ‘haram’. Saya pun berfikiran seperti itu pada saat itu. Mungkin saya adalah satu-satu nya orang yang sangat kontroversi saat itu. Ketika guru SD saya, setelah berhasil meyakinkan saya dan kedua orang tua saya, mendaftarkan saya di salah satu SMP Negeri terbaik di kabupaten Banyuwangi.

“Sayang DANEM nya kan sangat, kalau di pesantren ntar kamu jadi tukang narik sumbangan” kata wali kelas saya.
“Mukhlason, sebagai orang Islam kamu harus jadi orang pintar. Tidak hanya pintar dalam masalah agama. Apakah kamu mau nanti suatu saat Menteri Agamanya orang Kristen?” kata guru agama saya meyakinkan.

Akhirnya saya benar-benar sekolah di SMP. Walau sebenarnya dengan sangat berat hati dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Yang kebayang saat itu adalah mondok dan mondok di pesantren.Keputusan itu pun jadi gunjingan orang sekampung. Bahkan, salah seorang paman saya melabrak, marah-marah, datang kerumah. “Gimana to, kok disekolah kan di SMP. Itu sama aja kayak meletakkan Alquran diatas air kencing”.
Wah dunia ku ‘kiamat’ saat itu. Orang-orang kampung berfikir yang pasti saya jadi orang rusak. Bagaimanapun, ‘wes kadung’ [sudah terlanjur] itu yang ada dalam benak saya. Satu tekad saya, ingin saya buktikan saya bisa menjadi yang terbaik dan tak seburuk yang mereka fikirkan.

Begitulah gambaran kekolotan kampung saya. Selepas SMP, saya benar-benar masuk pesantren. Keputusan yang kontroversi juga di SMP saat itu. Saya hijrah ke sebuah pesantren [Pesantren Darul Ulum Rejoso] di Jombang, setelah sebelumnya pernah nyantri di pesantren [Pesantren Darussalam Blokagung] di Banyuwangi. Seperti pesantren-pesantren pada umumnya adalah basis NU yang sangat kuat dan kental. Saya belajar Islam. Islam yang Ahlisunah wajamaah (Aswaja) nya NU. Yang akhirnya membentuk pemahaman Islam seperti apa pada diri saya ini. Islam itu ya “seperti itu dan hanya sperti itu” pada saat itu.

Keadaan benar-benar berbeda, ketika saya jadi Mahasiswa di ITS. Masjid kampus nya saja ndak ada ‘puji-pujian’, dan ndak pakek ‘wiridan’. Itu saja sebenarnya hal yang agak aneh di mata saya. Atas dasar pemikiran Islam itu yaitu dan hanya itu saya mau saja ikutan orang-orang yang membawa nama Islam. Mulai dari ikutan mentoring Islam, ikutan Kajian Islam Jurusan, ikutan di Jamaah Masjid Kampung, ikutan Forum Silaturrahim Lembaga dakwah Kampus, ikutan Jaulah nya Jamaah Tabligh, ikutan Hizbut Tahrir, ikutan mabit kelompok tarbiyah nya PKS, ikutan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), bahkan kajian ‘Assunahnya’ teman-teman salafi.

Wah begitu beragamnya Islam sebenarnya saat itu, tetapi saya pikir saat itu yaitulah Islam yang satu itu. Saya dulu sempat sok “Ikhwan” “Akhwat”, pakek antum-antum kalau ngomong. Haha… Sempat Juga Ikut Long march di jalanan, pakek kain warna hitam bertuliskan putih “laailaa..haillallah”. Sempat pakek celana cingkrang, kayak orang kebanjiran. Sempat juga menelurusi gang-gang sempit di pinggiran kota, ikutan jaulahnya Jamaah Tabligh (JT). Bahkan berkali-kali pergi ke Markas nya JT di Temboro Magetan. Pernah juga mabit bermalam dari masjid kampus ke kampus lain. Pernah juga diskusi tentang ‘feminisme’ ‘Marxisme’ dan pembelaan terhadap kaum Mustad’afin bareng shabat-sahabat PMII.

Suatu saat saya pernah bertanya-tanya tentang keabsahan Ibadah orang-orang di kampung saya, dan ibadah orang-orang di pesantren. Kata salah satu ustadz di kampus, itu adalah pekerjaan ahli-ahli bidah. Dan semuah bidah itu sesat. Dan setiap yang sesat itu di Neraka tempatnya. Dakwah wali songo dulu itu belum sempurna, kwajiban kita lah untuk menyempurnakan nya dengan memerangi bidah-bidah itu. Oh mai god…. haruskah aku berdakwah membidah2kan amalan orang-orang sekampung, kyai-kyai di pesantren-pesantren. Akhirnya aku pun sedikit demi sedikit menjaga jarak..

Suatu saat pernah terjadi kontraproduktif pada diri saja. Di satu sisi teman2 di JT  bilang membicarakan politik dan khilafiyah itu Haram, membicarakan saja haram apalagi terlibat di dalamnya. Belum lagi ada doktrin-doktrin lainya yang harus dihapal dan harus diamalkan. Aneh sekali Islam kok pakek didiktrin-doktrin dan sangat kaku dan sempit sekali pemikiranya. Di satu sisi yang lain teman-teman di PKS bilang kita harus berjuang lewat politik, lebih ekstrim  lagi teman-teman di HTI harus memperjuangkan Khilafah Islamiah. Tidak ada kemuliaan Selain Islam, dan Tidak ada Islam tanpa Syariah. Dan tiada Syariah tanpa Khilafah Islamiyah. Jadi Pemerintahan Islam itu harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.
Wah ekstrim banget padahal NU bilang syariat wajib dilaksanakan tanpa harus dengan negara Islam.

Begitulah perjalanan bagaimana saya memahami Islam, penuh dengan kontraproduktif. Lebih-lebih kontradiktif dengan hati nurani saya sendiri.

Sampai suatu saat saya berada di Malaysia. Di Malaysia Islam begitu seragam. Yaitu Islam yang ‘NU’ banget. Betapa kaget saya pertama kali berada di Masjid kampus, Universiti Teknologi PETRONAS, terdapat banyak sekali buku tahlil dan yasin. Akhirnya juga saya mengerti Islam NU tidak hanya di pedesaan di Indonesia, tapi juga di Kuala Lumpur, Singapore, Tokyo, Mesir, Maroko dan sebagainya. Ketika di Malaysia dan sampai sekarang saya begitu getol membaca literatur-literatur tentang NU. Yang membuat saya kembali mantap dengan NU saya. Akhirnya saya kembali ke ‘NU’ banget. Akhirnya saya pun kembali mantap Tahlilan, Istigotsah, dan ziarah kubur.

Diantara buku-buku yang mengantar pemahaman saya adalah:
1. Islam saya, Islam anda, Islam kita; KH Abdurrahman Wahid.
2. Antologi NU, sejarh istilah amaliah dan Uswah; KH. Abdul Mucith Muzadi
3. Membongkar kebohongan buku Mantan kiai NU menggugat sholawat dan dzikir syirik;Tim Bahtsul Matsail PC NU Jember.
4. Fiqh Tradisionalis, KH Muhyiddin Abdussomad.
5. Ternyata aku orang NU, kupas tuntas tradisi dan amiliyah NU; Drs. Muhamad Ma’sum Zaein, MA.
6. Sekitar masalah thariqat; Drs. H. Imron Abu Amar.
7. Landasan Amaliyah NU; LTNNU Jombang.
8. Berjuang sampai akhir Kisah seorang mbah Muchith, Muhammad Subhan.
9. Membongkar kedok jaulah (Jamaah Tabligh); Lirboyo kediri Jatim.
10. Ilusi Negara Islam; KH. Abdurrahman Wahid.

Dimana buku-buku ini sangat sulit ditemui di Toko Buku Umum.

Ya Allah tunjukilah kami jalan yang benar, dan tunjukilah kami beristiqomah di jalan itu. Amiin….

Tags: ,
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s