MQ,WH dan ESQ = ‘Thoriqah’ Modern Yang Dikomersialkan : ‘Industrialisasi’ Spiritual Islam?

“… waduh, mo belajar agama dan membersihkan hati kok muahal, seharga 2 rombong bakso bo..”.

Beberapa tahun silam, kita sangat di ‘euforia’ kan oleh da’i sangat popular: KH. Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal dengan Aa Gym. Beliau sangat dikenal, dielu2kan, dirindukan oleh masyarakat. Dengan gaya penyampainya yang kalem, sejuk, ditambah wajahnya yang ganteng ‘TV-Genic’ dan kata-kata nya yang sederhana tapi mengena, membuat kyai ini begitu kondang dan dikagumi, terutama oleh jamaah kaum hawa. Manajemen Qalbu (MQ) [baca: Manajemen Hati], begitulah nama metode sederhana yang dipopulerkan kyai geger kalong, Bandung, Jawa Barat ini.

Kita juga mengenal, dan akrab di depan layar kaca kita dengan sosok KH. Yusuf Mansyur.Tidak kalah dengan AA Gym, kyai muda ini juga ganteng dan sangat ‘TV-Genic’.Kyai muda yang mengaku mantan narapidana dari kasus narkoba ini memperkenalkan metode penyampaiannya ke masyarakat dengan nama yang ‘nyerempet-nyrempet’ punya Aa Gym, yaitu: Wisata Hati (WH).

Ada lagi yang cukup fenomenal yaitu metode yang diklaim ‘ditemukan’ oleh Ary Ginanjar yang dikenal dengan Emotional and Spiritual Quotion (ESQ). Bahkan nama, dan logo ESQ ini sudah dipatenkan, sehingga ‘haram’ hukumnya orang lain menggunakan nama dan logo yang sama. ESQ ini tidak hanya dikenal di Indonesia (hanya kalangan menengah keatas tentunya) tetapi juga di belahan dunia yang lain: Malaysia, Singapura, dll. bahkan sampai ke USA). Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan mungkin di beberapa kampus lainya, ESQ Training ini diwajibkan untuk semua mahasiswa baru sejak 5 tahun terakhir.

Selain MQ, WH dan ESQ kita juga tidak asing dengan sosok Ust. Bukhori dan Ust. Arifin Ilham. Majelis dzikir ‘Adzikra’, begitu nama pergumulan para ‘sufi’ kota yang di ‘founding father’ i oleh Ust. Arifin Ilham. Ustadz berjenggot yang ceramahnya suka mendayu-dayu ini, seolah-olah ‘wajib’ hukumnya membawa peserta majelis sampai menangis-menangis, berderai-derai air mata terhanyut dalam kekhusyukan dzikir.
Fenomena Aa Gym, Yusuf Mansyur, Ari Ginanjar, Bukhori, dan Arifin Ilham seolah adalah potret munculnya komunitas ‘sufi’ kota. Yang instant kemudian sekejap berlalu ataukah yang benar-benar menjiwai setiap jiwa-jiwa mereka?

Sejak awal-awal bergemingnya kemunculan ESQ, ketika itu saya masih menjadi mahasiswa semester awal di ITS, saya begitu penasaranya dengan ESQ. Sayang penasaran, tinggal penasaran, karena untuk bisa ikutan ESQ saat itu harus ngeluarin duit diatas 1 juta. waw… angka yang sangat besar di mata seorang mahasiswa seperti saya. SPP kuliah saya 1 semester saja cuman 600 000, ini cuman tiga hari 1 juta. “… waduh, mo belajar agama dan membersihkan hati kok muahal, seharga 2 rombong bakso bo..”. pikir saya saat itu. Tetapi akhirnya kepenasaran saya itu terbayar pada akhir tahun 2008 kemaren. Ketika ESQ sedang menjadi euforia di Malaysia. Dengan tiket masuk cuman RM 150 [sekitar Rp. 450.000] (seharusnya RM 600 tanpa subsidi PETRONAS) saya dapet training ESQ ini selama 2 hari, sebagai angkatan pertama di kampus Universiti Teknologi PETRONAS.

Hemm.. ada dua, kesan saya selama mengikuti ESQ. Yang pertama adalah kita dibimbing untuk mengenal siapakah diri kita sebenarnya, untuk apakah kita ada di dunia ini, sampai akhirnya kita ‘dipaksa’ paham dan sadar kalau kita ini begitu kecilnya di hadapan Tuhan. Kedua kita diajak untuk mengenal Tuhan, dan bagaimanakah caranya kita mendekat kepada Tuhan. Diantaranya adalah dengan mengutip beberapa ayat alquran yang dibuktikan kebenaranya dengan temuan-temuan ilmiah modern. Kita juga diajak mengenal Tuhan dengan mengenal nama-nama nya yang bagus dan terpuji yaitu: 99 asmaul husna. Tidak hanya di ‘brain stroming’ oleh sang Trainer saja, di taining ESQ ini juga diiringin teknologi multimedia yang sangat bagus, dan dilakukan di ruangan tertutup yang memungkinkan ruangan dijadikan gelap gulita. Kondisi seperti ini memudahkan trainer menjadikan trainee mudah menangis dan berderai-derai air mati. Tapi ya terkadang aneh dan pardoksial juga. Di pelatihan yg terbagi beberapa episode ini, dalam setiap episodenya di awal episode kita di ajak bergembira, menggerakkan anggota tubuh, bersenam-senam kecil dengan iringan musik yang sangat rancak, tetapi kemudian di akhir episode kita diajak menangis. Kemudian habis berisak tangis, eh tertawa-tawa lagi.

Memang seh, setalah mengikuti training 2 hari itu. Hati ini menjadi tenang dan damai. Sholat rasanya terasa sangat nikmat. Namun seiring perjalanan waktu, sama hal nya dengan pelatihan-pelatihan instant lainya. Setelah dalam bilangan bulan, training itu seolah tidak berbekas.

ESQ = Thariqah.

Di khasanah Islam, sejak jaman dulu ada cabang ilmu Islam selain syariat yang berangkat dari kalangan Ulama Sufi yang dikenal dengan Thariqat. Gampangannya, dalam Thariqat ini adalah kita tidak hanya diajak bagaimana ibadah yang benar (syariat) tetapi juga belajar bagaimana merasakan indahnya ibadah itu. Dengan bimbingan seorang Mursyid sang murid thariqah di ajak untuk mengenal dan mendekat kepada Tuhan, hingga akhirnya tidak ada yang lebih kita cintai, selain Tuhan itu sendiri. Sampai detik ini Thariqah ini masih eksis di dunia. Di Indonesia Thariqah ini juga masih tumbuh subur, terutama di kantong-kantong basis ORMAS Nahdlatul Ulama (NU) khusunya di daerah Jawa Timur. Di antara thariqah yang terkenal adalah: Thariqah Qadiriyah (‘named after’ Syaikh Abdul Qadir Jaelani), Thariqah Naqsabandy, dan Thariqah Saadziliyah. Kota pusat thariqah yang terkenal sampai saat ini adalah di Jombang, diantaranya adalah Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang merupakan pusat Thariqah qadiriyah wan naqsabandiyah dengan Mursyid saat ini KH. Dimyati Romly. Kemudian Thariqah Sadziliyah di Ploso Jombang. Di kota Surabaya juga ada Qadiriyah wa Naqsabandiyah Alusmaniah, dengan mursyid KH. Ahmad Asrory di Pesantren Alfithrah Kedinding Surabaya. Dan tentunya masih banyak lagi cabang-cabang nya di Seluruh nusantara ini.

Benarkah ESQ ini sama dengan Thariqah ini?
Menuruh hemat saya, dari esensi nya ‘sangat iya’ sekali.  Di ESQ dikenal istilah 156way, yang merupakan cara kita mengenal Tuhan. Lihat disini Pak Ary menggunakan istilah ‘way’ yang artinya adalah jalan. Ini sama persis dengan istilah bahasa Arab ‘Thariqah’ yang artinya juga jalan. Keduanya me ‘refer to’ ke hal yang sama yaitu jalan menuju Tuhan. Amalan dari ESQ adalah Asmaul Husna, dimana ini juga ndak jauh beda dengan amalan ‘Istigotsah’ yang sebenarnya di dalamnya juga lafadz2 Asmaul husna.
Di Thariqah, tidak semua orang bisa menjadi ‘Mursyid’ (trainer), mursyid baru harus mendapatkan ‘ijasah’ atau license dari mursyid sebelumnya. Dan sang mursyid ini punya rantai muryid dari siapa ke siapa yang akhirnya sampek ke Rasulullullah S.A.W. sebagai ‘grand mursyid’. Di ESQ nampaknya juga sama, Trainer harus memiliki License dari pak Ary Ginanjar. Cuman yang jadi pertanyaan saya adalah: Pak Ary itu guru nya siapa ya? Apakah dia punya Guru ESQ yang sambung-menyambung kayak mursyid Thariqah yang akhirnya ketemu Rasululloh S.A.W. Ataukah Inovasi Pak Ari Ginanjar? Bukankah dia yang mematenkan ESQ dan segala label2 nya. Kalau begitu, bolehkah Inovasi dalam hal spiritual? saya jadi teringat hadist yang bunyinya semua ibadah itu pada asalnya adalah haram, kecuali yang diperintahkan atau dicontohkan tata caranya.
Wallahu a’lam.

‘Industrialisasi’ Spiritual Islam?

Untuk mengikuti training ESQ, tentunya tidak gratis, bahkan sangat mahal. Harga yang saya tahu terkahir di Malaysia dipatok paling murah RM. 600 ( atau sekitar Rp. 1. 800.000) untuk pelatihan 2 atau 3 hari, itu ternyata masih sangat basic training.  Masih ada 4 Level lagi yang ditawarkan yang merupakan training lanjutan, tentunya dengan harga yang jauh lebih mahal lagi. ESQ juga menawarkan paket training lainya seperti training ‘menghapal asmaul husna’ yang juga dipatok harga yang tidak murah.

Setahu saya juga, MQ dan WH juga menawarkan paket-paket wisata rohani yang ternyata terkesan dikomersialkan. Seorang kawan pernah cerita, kalau berkunjung ke Darut Tauhid nya Aa Gym. Pelayananya memang bagus. Tetapi yaitu semua dikenakan charge dengan sangat professional. Mulai penginapan, makan, dan ikutan ceramah semua ada charge nya masing-masing.

Saya jadi bertanya-tanya, bukan kah hal seperti ini sama saja dengan ‘industrialisasi’ atau ‘komersialisasi’ sipritual Islam. Menjadikan Pengajaran ilmu spiritual Islam sebagai industri mesin pencipta uang. Menjadikan ilmu spiritual Islam sebagai komoditas dagangan para pengusaha spiritual Islam. Bolehkah industrialisasi spiritual ini dalam Islam? seingat saya Islam sangat mengancam hal-hal komersialisasi Spritual agama seperti ini. Apa jadi nya kalau seperti itu? Hak pengajaran spiritual Islam hanya untuk mereka yang berduit, orang miskin ndak pantas dapat pengajaran spiritual Islam.

Hal ini sangat berbeda dengan Thariqah. Di Thariqah tidak dipungut biaya sepersen pun. Semuanya dari kaum papa sampai konglomerat kaya raya ‘are welcomed’. Tidak hanya sehari, dua hari saja. Tetapi sang muryid dengan tulus akan membimbing para muridnya satu-dua kali dalam seminggu, selamanya hingga ujung usia sang muryid. Tidak ada satu pun orang yang menggaji sang mursyid ini, kecuali tentunya gaji dari Allah swt. Di Darul Ulum Jombang bahkan disediakan pemondokan gratis bagi para murid thariqah yang ingin menetap di pesantren. Di Banyuwangi, bahkan para murid yang jumlahnya ribuan itu dikasih makan gratis setiap acara istigotsahan yang diselenggarakan sebulan sekali. Dapet duit dari mana ya sang kyai ‘mursyid’ ini. Begitulah rahasia Tuhan, meskipun mereka tidak pernah mengaharap dari Makhluk, Tapi Tuhan Maha Kaya, Hanya IA lah satu-satunya tempat bergantung. Dan mungkin sebaliknya, jika kita berharap kepada Makhluk, bukan berharapa kepada Tuhan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari Tuhan.

Wallahua’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s