yang telah lekang dimakan jaman: KETAPEL dan YOYO

Sabtu [090509], saya jalan-jalan ke pasar beringharjo, Yogyakarta. Di pasar tradisional yang sangat terkenal di bilangan jantung kota yogyakarta ini, saya benar-benar dibuat terkesan dengan kehangatan orang-orang di pasar ini. Orang-orang nya ramah dan sopan sekali itu kesan pertama kali saya. Begitu menginjakan di pasar ini, banyak sekali paratukang becak dan tukang delman yang dengan senang hati, sopan, dan tidak memaksa [tidak seperti calo bus di terminal bungurasih, Surabaya]:p]menawarkan diri untuk menemani jalan-jalan ke beberapa pusat jujukan. Diantara pusat jujukan itu adalah pusat bapia patok dan kaos dagadu. Tarif yang ditawarkan pun sangat murah cuman 2000 sampek 3000 rupiah saja, bahkan mereka siap menunggu kita berbelanja dan mengantarkan kembali ke tempat semula.

Sangat berbeda dengan pasar-pasar tradisional di Kota Surabaya yang semakin sedikit jumlahnya¬† karena digusur oleh pemerintah kota dan diganti dengan mall-mall ‘elitis’, Pasar beringharjo ini justru sengaja dipertahankan ketradisionalannya. Justru karena ketradisonalanya inilah, menjadikan pasar beringharjo ini jujukan para turis. Bule-bule itu kan kalo mall-mall mah dah biasa, tapi kalau pasar tradisional mana ada di negara mereka. Walaupun tradisional, pasar beringharjo berusaha menciptakan citra ‘bersih dan aman’. Mungkin pemkot Surabaya perlu studi banding ke pasar beringharjo ini, biar ndak asal gusur saja dengan beberapa alasan. Kasihan kan, pasar tradisional ini kan sentra ekonomi dan sumber penghidupan ribuan wong cilik. Saya jadi heran, ‘lah wong’ wali kota Surabaya ini katanya dari partai yang mengklaim sebagai partainya ‘wong cilik’.

Akhirnya saya masuk ke salah satu pusat batik dan kerajinan tangan yang masih berada di kawasan pasar Beringharjo ini. Kalau tidak salah ingat, namanya “Mirota Batik”. Di pintu masuk toko itu disambut ramah oleh perempuan tua tapi masih langsing dan cantik. Mengenakan kebaya batik, pakaian wanita jawa jaman dulu [ dulu sering dipakai almarhumah nenek saya], dan sanggul membuat perempuan tua yang berdiri di pintu masuk itu masih sedap dipandang hehe. Di lantai pertama saya menemukan berbagai jenis pakaian batik yang jumlahnya banyak ‘abis’. Harganya murah sekali antara 30.000 sampai 200.000 dan kualitasnya lumayan bagus lah. Sangat ‘worthy it’ istilah nya anak jaman sekarang.

Di lantai dua, terdapat banyak sekali kerjinan tangan (handy craft) yang unik-unik bentuknya. Segala macam bentuk gantungan kunci ada disini. Ada juga yang agak jorok gantungan kunci yang bandulnya miniatur [maap] penis. Hua ha… Tapi di Yogyakarta ini masih sopan, cuman miniatur ujung nya saja dan ukuranya kecil. Kalau di Bali itu malah miniatur keseluruhan dari pangkal sampai ujung, dan ukuranya besar dan panjang. Huaha….. memang terkadang kita susah membedakan antara pornography dan artgraphy.

Ada dua benda yang sangat menarik perhatian saya, yaitu Ketapel dan Yoyo. Kalau anda pernah jadi anak ‘ndeso’ seperti saya, pasti tahu apa itu ketapel. Ketapel adalah apa ya susah neranginya, he he….. Pokonya sebuah alat ya, terbuat dari batang bercabang dua, kedua ujung nya diikat sama pentil [upps…jangan salah ucap dengan yang berbau porno itu lo…hehe]. Pentil itu tali yang berlubang tengahnya yang bahan nya dari karet. Kemudian kedua ujung yang lain dari pentil tadi dihubungkan ke lembaran kecil kaleb [lembaran kulit]. lebih jelasnya lihat gambar deh! Nah, fungsi dari ketapel ini adalah untuk melempar batu kecil sejauh-jauhnya. Jaman kecil saya dulu, sehabis sekolah, bersama teman-teman, salah satu kegiatan kami adalah berburu burung di belakang rumah atau di sawah. Nah, ketapel inilah senjata kami dulu. Sekarang ini, ketapel ini sudah punah di desa kami. Anak-anak desa sekarang sudah ndak jaman nya kali ya mainan kayak gitu hehe. Karena sudah punah, mungkin ketapel ini perlu dimusiumkan hehe.

Benda yang kedua adalah YOYO. Belakangan kemaren nama YOYO ini sempat sangat populer, karena digunakan mbak MEGAWATI untuk mengkritik pemerintahan mas SBY yang katanya kayak permainanan anak kecil YOYO tadi. Naik Turun, Turun Naik, Naik Turun, dan seterusnya. Haha… ada-ada saja mbak-mbak dan mas-mas ini. Terlepas dari itu, Yoyo tetap istimewa di hati saya. Bagaimanapun juga YOYO adalah mainan kenangan saya di masa kecil dulu. Kami dulu rela nyarik rongsokan sehabis sekolah untuk ditukar dengan YOYO ke Pengepul rongsokan yang jumlah banyak sekali jaman dulu. Setelah dapet, kami pun main yoyo ramai-ramai.

KETAPEL dan YOYO adalah hanya dua dari ribuan kenangan masa kecil saya dulu yang indah sekali. Dimana KETAPEL dan YOYO ini ternyata telah lekang dan Punah dimakan waktu dan Jaman. Anak-anak desa pun sekarang sudah tidak mengenal mainan itu. Terkadang saya merasa kasihan terhadap anak-anak jaman sekarang. Permainan dan mainanya ndak seru dan ndak variatif seperti jaman dulu. Permianan nya virtual lagi, semacam Play Station dan sejenisnya. Sayang nya permainan dan mainan jaman dulu yang jumlahnya buanyak… itu kini telah punah benar-benar punah. Mungkinkah di belahan Indonesia yang lain sana, permainan dan mainan tradisional jaman kecil saya dulu itu sekarang masih ada? Saya pun tak tahu. Parahnya permainan dan mainan itu tidak dimuseumkan. Kayaknya saya perlu mencari neh semua mainan jaman dulu untuk dimuseumkan, dan mendokumentasikan (memvideokan) semua permaianan jaman dulu dan disimpan di museum. Apa ya kira-kira nama museum nya? Museum anak DESA kali ya?, yang isinya adalah mainan dan permainan tradisional anak-anak di Indonesia sejak jaman dahulu kala. Sejak jaman Kerajaan, jaman LONDO, jaman Jepang, dan Jaman awal-awal kemerdekaan. Biar anak-anak cucu-cucu
masa depan tahu, bagaimana anak-anak jama dahulu kala. Biar semua kenangan itu tak terlupakan……..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s