Melihat sisi lain negeri ini : Grobogan dan Kudus Jawa Tengah [Part 1]

“Di bawah rumpun bambu yang teduh, menghadap sungai yang terbentang panjang indah itu, kami duduk bertiga. Subhanallah… damai… sekali.”

Beberapa minggu yang lalu, ndak ada angin ndak ada hujan. Saya sendiri sampek heran, saya tiba-tiba berada di pedalaman ujung utara propinsi Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Grobogan dan Kudus. sama sekali tidak ada rencana sebelumnya. Ceritanya tiba-tiba teman lama, teman nyantri saya dulu di Pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi sekitar 10 tahun yang lalu, yang baru-baru aja ini kontak kembali, sms ke saya.

“Kang pripun kabare? kapan main ke gubug saya, ke desa saya? katane sampean mo main?”

aku pun balas.

” Alhamdulilah sehat, pengen kang main ke tempat sampean, Insya Allah. kapan-kapan kalau liburan dan ada kesempatan, saya main”.

tetapi sejenak kemudian saya berfikir, bertanya-tanya terhadap diri sendiri. Kenapa sih untuk silaturrahim saja selalu harus menunggu kalau ada kepentingan, dan kenapa sih kita selalu merasa sok sibuk? Emangnya, ndak ada ya silaturrahim yang bener-bener tulus, tidak ada kepentingan sama sekali? dan pernahkah kita merasa tidak sibuk? bukankah kita selalu merasa sok sibuk? dan mungkin kita baru merasa tidak sibuk, ketika kita sudah dikubur di alam baka?

maka sejenak kemudian, pikiran saya berubah. Saya langsung kirim sms lagi ke kawan lama saya itu.
“Oh kang, gimana kalau saya besok ke rumah sampean?”.
Sejenak kemudian dapet balesan:
“yang bener? wah saya seneng sekali sampean mau datang, pintu gubug saya selalu terbuka untuk kedatangan sampean. tapi sepurane lowh kang, gubugku ndeso banget, takut sampean kurang berkenan”.
Saya Bales:
“Ealah kang, podo wong ndesone ora usah isin. besok saya berangkat dari Surabaya jam 1 tengah malam, biar nyampek di tempat sampean pagi”.

Haha… Begitulah. Akhirnya saya benar-benar berangkat malam itu, dari terminal Bungur rasih diantar teman saya. yah… skenario sandiwara langit terkadang memang “unpredictable”. Saya yang hari itu rencana belajar, dan nyiapin materi ngajar yang susah dan banyak banget itu, berani ambil resiko jalan-jalan keluar kota.

***

Tepat pukul 1.00, Bus Jaya Utama Jurusan Surabaya-Semarang lewat pesisir utara atau pantai utara (pantura) itu berangkat dari Terminal Bungur Rasih Surabaya. Bus nya yang adem dan nyaman, plus badan rasanya capek setelah beraktivitas seharian dan habis kursus TOEFL sampek jam 10.00 malem, membuat aku langsung “blek sek” tertidur di kursi bus. Terbangun sejenak, ketika bus mampir di rumah makan sederhana gratis. Naik bus ini ternyata dapat makan malam gratis. Ntah di daerah mana tepatnya saya tidak tahu. yang saya tau, saya dapat makan rawon plus teh anget gratis, di warung makan yang sangat sederhana dan sepi.

habis makan, saya pun tertidur kembali di kursi bus. Dan baru bangun ketika hari sudah pagi, dan bus sudah hampir sampai kota Kudus. Sekitar pukul 6.00 pagi saya nyampek Terminal Kudus. Saya terheran-heran dengan kondisi terminal Bus kabupaten Kudus ini, ini Terminal Bus apa kubangan Kerbau ya? Pertama benar-benar sepi, kedua terminal itu tidak lebih seperti tanah lapang tanpa rumput yang di banyak tempat ada genangan air nya, dikelilingi tempat-tempat jualan kumuh yang masih tutup. Untung nya ada tempat WC dan Mushola kecil sederhana, sehingga saya bisa mengqodlok sholat subuh saya yang ketinggalan.

sehabis sholat subuh, saya bengong di emperan mushola kecil itu, menatap kosong lapangan berkubang terminal bus yang mati itu. Kawan saya bilang, saya harus naik bus Jurusan Kudus-Purwodadi. Memang sih saya melihat ada beberapa bus mini bertuliskan Kudus-Purwodadi, tapi saya tidak melihat ada sopir nya, apalagi calon penumpang yang mau naik bus itu. Saya pun bertanya ke penjaga Mushola itu, dan dia mengiyakan kalau saya harus naik bus mini itu kalau mau ke Purwodadi. Mungkin karena memang masih terlalu pagi, pikir saya, sehingga belum ada penumpang nya. Dan saya kembali terbengong di emperan mushola kecil itu sambil membaca Novel yang baru saya beli di Gramedia Tunjungan Plasa Surabaya ” The Kite Runner” novel inspiring banget tentang, persahabatan 2 anak manusia laki-laki. Persahabatan antara seorang anak Tuan dan seorang anak Pembatu yang sejak kecil sama-sama belum pernah melihat Ibuknya. Kisah persahabatan dua orang anak manusia, yang akhirnya sang sahabat terpaksa menghianati persahabatanya.

Sekitar 1 jam saya terlarut dalam alur cerita “The Kite Runner”, ketika tersadar ternyata terminal itu masih juga sepi dari calon penumpang. Saya yang sendiri itu pun beranjak dari emperan mushola, berjalan ke arah lain dari Terminal mati itu. Saya berjalan menuju sebuah tempat yang saya yakin adalah pintu keluar terminal. Di pintu keluar terminal itu, ada sebuah kursi kayu panjang yang sederhana, disitu telah duduk seorang anak sekolahan, dan aku pun duduk disebelahnya sambil melanjutkan melarutkan diri dalam alur cerita “The Kite Runner”. Dua puluh menit kemudian ada sebuah bus mini Jurusan Kudus-Purwodadi keluar, saya pun menyetop dan masuk ke dalam bus itu. Jadilah saya penumpang pertama Bus itu. Bus melaju perlahan dari terminal, berputar-putar di kota Kudus, di bilangan pusat kota Kudus itu, bus yang semula kosong mlompong, berangsur-angsur menjadi penuh dengan penumpang.

Saya yang semula bisa konsentrasi, melarutkan diri dengan “The Kite Runner”, akhirnya benar-benar tidak bisa. Bus semakin ramai dengan Ibuk-Ibuk yang membawa barang dagangan. Ditambah VCD musik dangdut Indie produksi PANTURA (MONETA-like) yang diputer keras-keras di layar TV 14 Inch. dalam bus itu. Penyanyi nya yang erotis dan lagu nya yang ndak banget bikin saya mau muntah saja rasanya. Mungkin hanya sekitar 5 km bus itu melewati bilangan kota kudus. Selanjutnya bus melewati jalan beraspal sempit, dan nampak nya satu-satunya jalan yang menghubungkan kabupaten Kudus dan Kabupaten Grobogan. Di sepanjang jalan itu, sebelah kiri kanan jalan di dominasi oleh pemandangan sawah yang menghijau dan sungai yang mengalir damai sekali. Pemandangan yang menyejukkan mata tentunya, buat mata saya yang tiap hari hanya bisa menyaksikan gedung-gedung dan bangunan di Surabaya. Beberapa kali bus mini itu melewati pasar tradisional, pusat perekonomian masyarakat. Saya begitu surprise melihat begitu banyak nya jenis unggas diperdagankan di pasar tradisional itu, mulai ayam, bebek, merpati, mentok, dan sebangsanya. Mendadak bus kembali menjadi sangat penuh ketika melewati pasar-pasar tradisional itu. Tidak hanya penuh dengan manusia, tapi juga penuh dengan barang dagangan pasar.

Tujuan saya adalah Dusun Brakas, Desa Terkesi, Kecamatan Kelambu, Kabupaten Grobogan. Saya sudah pesan ke kondektur bus untuk memberitahu saya kalau sudah nyampek Dusun Brakas, ketika membayar tarif bus yang hanya Rp. 5000 saja itu. Begitu memasuki Kabupaten Grobogan, keadaan jalan tiba-tiba berubah. Yang semula di kabupaten Kudus kondisi jalanya meskipun sempit tapi mulus, tetapi begitu di Kabupaten Grobogan kondisi jalanya yang sudah sempit pakek berlubang-lubang pula. Tetapi saya begitu menikmati perjalanan itu. Saking menikmatinya, saya baru nyadar kalau saya sudah keblablasan, ketika saya bertanya ke Ibuk sebalah saya.

“Lowh Mbrakas wes keliwat mas…., sampean”. begitu kata Ibu itu.

Saya yang tersadar langsung turun di Bus, tepat di depan Polsek Kelambu. Kebetulan di depan Polsek itu ada Mini Market, saya masuk ke Mini market itu setelah menelpon kawan saya untuk saya minta menjemput saya. Sekitar 15 menit kemudian, seseorang dengan baju koko, sarung lengkap dengan peci putih, datang dengan sepeda motor menjemput saya.

“Assalamualaikum, pak yai. Sehat pak yai ?” sapa saya dengan senyum lebar.
“Waalaikumsalam wbt. argh .. kyai apa seh. Wah kang, ndak nyangka, seneng sekali, sampean akhirnya nyampek juga ke desa saya, haha…” kata kawan saya yang biasa saya panggil Kang Jaki itu.

kami pun tertawa renyah dan bahagia sekali, bak sahabat lama yang telah berpuluh-puluh tahun berpisah, dan saat itu bertemu kembali. Kemudian langsung “go to the spot”, kami balik arah dengan arah bus yang saya tumpangi sebelumnya. Dari polsek Kelambu, kira-kira sekitar 2-3 km. Ternyata dari jalur bus kudus-purwodadi itu, masih harus belok kearah barat, tepat ada papan nama sebuah pesantren bernama “Nashirul Ulum” , kita belok arah melewati jalan sangat sempit persawahan dan perkampungan yang tidak beraspal itu. Nah sepanjang jalan sempit itulah yang bernama Dusun Brakas. tempat kawan saya tinggal.

Damai dan akrab, begitulah kesan pertama saya di desa Brakas. Masyarakatnya terlihat begitu guyub rukun, ramah, menyapa kami di Dusun yang damai itu. Saya langsung dibawa ke rumah mertua kawan saya yang baru saja menikah sebulan sebelumnya itu. Rumahnya buesar banget, bentuknya khas joglo, ingatan saya langsung teringat rumah almarhum kakek nenek saya di Banyuwangi jaman dulu sekitar tahun 80an ketika saya masih usia anak-anak. Rumah itu kini sudah tiada, diganti dengan gaya bangunan rumah modern. Saya langsung masuk ke ruang tamu yang luas banget itu, disambut oleh seorang Ibu, Bapak, dan seorang perempuan muda, yang aku yakin dia pasti istri kang Jaki. Di ruang tamu yang luas itu tidak ada meja dan kursi sama sekali, hanya lesehan saja. Baru kali ini rasanya ada rumah yang tidak ada meja dan kursinya. Tapi justru sangat menarik buat saya, ruang tamu yang tanpa meja kursi itu menimbulkan kesan luas sekali, yang ternyata juga membuat hati ini menjadi merasa lapang. Mungkin itu kali ya alasan nya. Rumah besar yang halamanya juga luas itu, bahkan depan rumahnya dijadikan lapangan  bulu tangkis itu berdinding kayu, bukan tembok, dan lantainya keramik berwarna putih. Hanya ada TV di ruang tamu itu, sudah bisa ditebak channel kesayangan nya adalah TPI. Yang sering menampilkan life show dangdut, musik rakyat, musik kesayangan orang-orang kampung. Dan kebetulan saat saya disitu memang acaranya juga lagi Life Show dangdutan. Entah kenapa, waktu kecil di kampung. saya suka banget musik dangdut ini. Tapi seiring perjalan waktu saya jadi tidak suka, bahkan rasanya muak dengerin musik dangdut. Haha… ternyata perjalanan waktu mampu merubah selera musik seseorang.

Kita begitu gayeng ngobrol ngalur ngidul di ruang tamu itu. Oh ya di ruang tamu itu juga terdapat tumpukan bersak-sak beras. Kata kang Jaki, itu adalah beras GaKin (Keluarga Miskin) jadi rupanya semua penduduk di dusun ini adalah penerima bantuan beras Gakin. Yang katanya satu sak beras itu harganya cuman Rp. 50.000. Beberapa saat kemudian, seorang kawan saya satunya yang juga kawan saya di pesantren blokagung banyuwangi datang. Kang Amin, namanya. Dia barusan dateng dari undangan menjadi Qari’ (pembaca Alquran) di sebuah walimatul urush [baca: pesta pernikahan] di tetangga desa. Kang Amin dari dulu memang terkenal memiliki suara emas. Jadi setiap suara yang keluar dari dia adalah emas, hua haha.

Sesaat kemudian tibalah jamuan makan siang, wau… ini yang saya tunggu-tunggu dari tadi. Ada yang spesial di menu makan siang ini, yaitu ada kerupuuk [makanan kesukaan saya] yang buanyak dan air putih dalam kendi yang suejuk banget. Kami: Saya, kang Amin, Kang Jaki, dan Isteri nya menyantap makan siang itu dengan akrab. Setelah makan, kami bertiga, saya dan kedua kawan saya main ke rumah kang jaki, hanya 18 m dari rumah itu. Hampir sama dengan rumah mertua kang Jaki, rumahnya juga berdinding kayu. Bentuknya joglo, terdiri 3 bagian utama, yaitu ruang tamu, dapur, dan kandang ayam. Setelah ngobrol sebentar dengan Bapak kang Jaki, kami pindah tempat di belakang rumah kang jaki, dibelakang kandang ayam tepatnya. Di belakang rumah itu ada sungai yang airnya lumayan banyak, tetapi sayang nya air tidak lagi jernih, tetapi berwarna kuning kecoklat-coklatan.

Di bawah rumpun bambu yang teduh, menghadap sungai yang terbentang panjang indah itu, kami duduk bertiga. Subhanallah… damai… sekali. Ini adalah benar-benar suasana yang sudah lama sekali tidak pernah saya rasakan. Sehari-hari bergelut dengan kebisingan kota Surabaya, menjadikan tempat pinggir kali itu bak halaman syurga saja. Tidak hanya damai, suara desiran angin membelai rimbunan pohon bambu, dan kicauan burung emprit yang terbang bebas di rerimbunan pohon bambu itu, benar-benar membuat semakin indah suasana. Ayam jago ber kukuruyuk pun, setiap saat bisa saya dengar. Kami mengobrolkan kenangan masa lalu kami di pesantren, yang membuat sering kali kami tertawa terbahak bersama. Selain itu kami juga mengobrolkan kondisi masyarakat perkampungan dusun itu. Saya bilang bahwa kondisi dusun kang jaki, mungkin adalah kondisi desa saya 20 tahun yang lalu. Mungkin hanya sinyal IM3, satu-satu nya sinyal yang ada di dusun itu, yang membedakan desa saya 20 tahun yang lalu.

Sekilas memang dusun itu, sebagaimana sebagian besar di pedalaman daerah Jawa Tengah pada umumnya, menurut hemat saya secara fisik berada di bawah garis kemiskinan. Saya baru sadar bahwa rumah mertua kang jaki adalah rumah paling mewah diantara rumah-rumah yang lain di dusun itu. Belum ada satu pun rumah yang berdinding tembok permanen, apalagi yang ditemboknya dicat. Sebagian besar rumah di dusun itu masih berdinding kayu kusam, atau dinding batu bata yang dibiarkan apa adanya [tidak dicor, apalagi dicat]. Kamar mandi berada terpisah dari rumah, dan belum ada yang punya mesin pompa air. Kalau mau mandi harus menimba air terlebih dahulu. Keadaan sangat kontras dengan perumahan galaxy, perumahan rumah ‘istana’ mewah, yang hampir tiap hari saya lewati. Sudah bisa ditebak 99% pekerjaan penduduk dusun itu adalah bertani.

Itu kalau dilihat dari segi fisik materi, tetapi dari segi ruhani kami sepakat untuk tidak setuju kalau dikatakan dusun ini terbelakang. Di dusun kecil itu ada dua pesantren, beberapa Madrasah umum, maupun madrasah diniyah [khusus agama], dan tingkat kebahagiaan yang tinggi dari penduduk dusun ini. Memang benar rasanya meski secara fisik terbelakang, tetapi secara ruhani, dan mungkin kalau diukur dengan Indeks Kebahagiaan, kami yakin indeks Kebahagiaan dusun ini sangat tinggi. Nyaris tidak ada persaingan hidup, tidak ada kecemburuan sosial di kampung ini, semua warganya hidup damai, guyup, dan rukun. kebutuhan hidupnya pun ndak neko-neko, pokoknya bisa punya rumah untuk berteduh dan makan ala kadarnya itu sudah lebih dari cukup. Mereka tidak butuh meubel mewah, mereka tidak butuh hiburan mahal, mereka pun tidak pernah berangan-angan bisa jalan-jalan keliling dunia seperti saya. Haha…. “Pandai bersyukur dan Nerimo Ing Pandum [baca: terima apa adanya]” mungkin adalah kata-kata yang tepat menggambarkan kondisi kejiwaan penduduk dusun ini. Tetapi kami sepakat, mungkin saking karena terlalu Pandai bersyukur dan Nerimo Ing Pandum tadilah secara fisik dusun ini tidak maju-maju. kondisi 10 tahun yang lalu, nyaris tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang akan datang.

Yah… begitulah potret lain, sisi lain, penduduk negeri ini. Yang bahkan mungkin justru sebagian besar penduduk negeri ini seperti itu. Karena memang faktanya mayoritas rakyat negeri ini adalah rakyat agraris, rakyat petani, yang tinggal di desa-desa di seluruh pelosok negeri ini. Indonesia sangat tidak pas jika dipotret hanya dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makasar, Denpasar, Semarang, dan kota besar lainya. Sangat mengingkari fakta jika hanya memotret Indonesia dari kota-kota besar itu saja. Yang menjadi pertanyaan adalah pernahkah negeri ini dipotret dari balik pelosok-pelosok dusun ini? rasanya kok tidak sama sekali. Padahal seharusnya potret nyata Negeri ini lah, bukan potret kota besar saja dari negeri ini, yang harus dijadikan arah dan bahan kebijakan pembangunan negeri ini. Bisa saja dengan bangganya menteri ekonomi, bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia naik sekian persen, sekian persen setiap tahunya. Tapi faktanya? Dusun Brakas adalah bukti nyata perekonomian negeri ini, tidak ada yang berubah. Hanya hamparan sawah ladang yang kesuburan alaminya  tiap tahun semakin berkurang, sehingga hasil pertanianya bukanya semakin naik, tetapi semakin menurun. Tetapi yang jelas harga pupuk anorganik dan insektisida  (yang lambat laut menghilangkan kesuburan alami tanah) tiap tahun selalu naik.

[bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s