Balada anak kost [Bagian 2] : Pondok Sederhana Sarat Makna.

” disini…. di pondok ini, telah terukir sejuta kenangan, yang dihempas keras gelombang dan tertimbun batu karang yang tak mungkin dapat terulang”.

…….dan hidup pun terus berlanjut, menghantar saya dari satu tempat ke tempat lain. dari kehidupan satu ke kehidupan yang lain. Salah satu catatan hidup yang menurut saya sangat mengesankan, oh begitu mengesankan adalah ketika saya nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum , Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Jombang, sebuah kota kecil yang sering menghebohkan, berjarak 3 jam perjalanan darat dari kota Surabaya. Di pesantren nya KH Romly Tamim dan KH Dr Mustain Romly ( Allahu yarham huma)  ini benar-benar telah menggoreskan kesan yang dalam di hati saya. Bukan goresan luka tentunya, tetapi goresan arti hidup yang oh sungguh sangat mengesankan.

Saya masih inget, Cordova adalah nama pondokan (asrama) yang saya tinggali selama 3 tahun nyantri di pesantren itu. Memang sih di pesantren ini ada beberapa asrama eksklusif yang disediakan khusus untuk santri-santri manja [menurut hemat saya], sebuah asrama yang tidak wajar sebagaimana layaknya di pondok pesantren pada umumnya. Di asrama eksklusif ini disediakan spring bed guede dan almari eksklusif untuk setiap santri dalam gedung yang terkesan megah dan jauh dari kesan kumuh. Karena saya memang bukan orang yang special, apalagi eksklusif, tentu saja saya wegah dan tidak layak tinggal di asrama yang ekslusif di pesantren ini.

Di asrama cordova ini, seperti laiknya pondokan di pesantren-pesantren pada umumnya hanyalah  tak lebih dari sebuah bilik yang sangat sederhana. Ukuranya kira-kira hanya 8 kali 8 meter persegi, lantainya dari kayu, dan dihuni oleh 20 santri. Jangan pernah membayangkan ada kasur, apalagi spring bed empuk di asrama ini. Yang ada hanyalah lemari susun kecil yang jumlahnya tepat 20 biji dan satu rak buku umum yang sangat sederhana . Lah terus tidurnya gimana dunn? Ya.. ndelosor di lantai lah, untung nya lantai nya dari kayu dibalut karpet sederhana yang sudah sobek-sobek, jadi ndak kedinginan kalau pas musim dingin datang. Kamar mandi nya semi terbuka, tidak ada pintu kamar mandi nya soalnya, bentuknya seperti kubikal di perkantoran-perkantoran, dengan bak mandi puanjang, di sepanjang kubikal tadi. Yang unik adalah WC nya, WC menggantung di atas sungai. Huaha…..jadi itu nya langsung jatuh ke sungai yang aliran airnya membelah kompleks pondok pesantren.

Dua puluh orang santri tinggal bersama di ruangan seluas 8×8 meter persegi. Hehm… benar-benar susah membayangkan. Tapi nyatanya itu benar-benar terjadi. Dan dua puluh orang yang tinggal di asrama itu orang nya pun bener-bener beraneka ragam. Ada yang masih kelas 1 SMP, ada juga yang hampir lulus SMA, bahkan ada yang sedang kuliah. Tutur bahasa nya pun bermacam-macam. Ada yang ngomong nya bahasa jawa kuasar dan ndak bisa dikecilin volumenya [seperti orang berteriak dan marah-marah], mereka adalah teman-teman yang berasal dari pesisir utara pulau jawa seperti Tuban, Lamongan, Rembang, dan sekitarnya. Ada yang ngomongnya halus sekali, mereka adalah teman-teman dari tanah sunda: Bandung, Majalengka, Cianjur dan sekitarnya. Ada juga yang nada bicaranya agak sengak, mereka adalah teman-teman dari Medan dan sekitarnya, dan masih banyak lagi teman-teman dari Kalimantan, Sulawesi, Madura, Nusa Tenggara, dan Papua. Mereka semuanya memberikan warna yang berbeda di asrama kami.

Dan tidak semuanya diantara teman-teman itu bersikap manis pada kita. Ada yang sok jagoan, ada yang suka main tangan, ada yang suka ngiri, ada yang suka ngambekan, ada pula yang suka mencuri barang teman nya sendiri , tetapi ada juga yang baiknya ndak ketulungan. Ada teman yang sangat rajin, ada yang yang sangat mualas sekali. Ada teman yang peduli banget dengan kebersihan, tetapi ada juga teman yang kemprohnya amit-amit. Di antara mereka ada yang biasa-biasa saja seperti saya, haha…..

Memang kita tidak pernah sama dalam segala hal, setiap dari kami memiliki warna yang berbeda. Akan tetapi, justru perbedaan tersebutlah yang membuat kita menjadi kuat bersama. Dari bilik kecil itu saya belajar banyak tentang memahami arti seribu perbedaan dan memaknai arti kesetiakawanan, tidak mudah memang hidup bersama dengan 20 orang dengan karakter dan budaya yang berbeda. Tetapi bila kita sadar dan memahami perbedaan itu, kita akan bisa melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang indah, bagaikan taman bunga dengan seribu satu warna.

Ada satu hal lagi, yang saya dapatkan dari bilik sederhana itu yaitu belajar tentang arti kesederhanaan. Kesederhanaan hidup yang benar-benar kami jalani, bukan sekedar kita lihat dan baca, lalu kita renungkan. Hidup dengan tidak berlebih-lebihan, apa adanya, bahkan terkadang berada diantara keterbatasan terkadang justru terasa sangat indah. Sederhana itu indah begitu kata orang.

Apakabarmu kini kawan? Betapa terkadang saya merindukan saat-saat itu kembali. Baarakallahu untuk mu kawan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s