Balada anak kost [Bagian 1]: awal-awal yang menyesakkan dada

…………..nasib anak kost, ya nasib-nasib” .

Masih ingat penggalan lirik lagu yang pernah jadi hits di era khir 90an ini Kan? Waktu lagu ini lagi hit, saya cuman bisa membayangkan: “sebegitu.. Mengenaskankah jadi anak kost itu: tiap hari makan mie, badan bau terasi karena ndak pernah mandi”.

Sampai suatu saat saya benar-benar merasakan jadi anak kos-kosan, dalam artian terpisah jauh dari orang tua. Saya masih ingat, gimana rasanya pertama kali terpisah begitu jauh dari orang tua, orang tua yang yang biasanya selalu berada di sekitar kita. Begitu tamat SMP, saya langsung dikirim ke negeri antah berantah, sebuah tempat dengan lingkungan baru, yang belum pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya pada waktu itu. Saya tiap hari nangis, bahkan terkadang nangis berjamaah dengan teman-teman. Hue he…. Betapa menyedihkan ternyata berpisah dengan orang tua.  Hingga akhirnya saya pun terbiasa, bahkan lebih senang jauh dari orang tua, ketimbang bersama mereka.

Yah… begitulah hidup. Memberi kesulitan bukan karena hendak menghukum kita, tetapi hidup hendak mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang kuat, bukan orang yang cengeng, diatas lika-liku hidup yang memang terkadang terjal nan berliku.

Pertama kali kos adalah di daerah Sawojajar Malang. Tidak lama seh cuman 1 minggu, numpang tes sekolah saja waktu itu. Tapi ini adalah kos yang paling menyesakkan dada, sudah pertama kali ngekost, ditinggal sendirian lagi. Untungnya seisi rumah kosku pertama ini orangnya baik-baik semua. Ada mbak-mbak yang tiap hari bikinin ice cream buat saya. Apa kabar ya mbak itu sekarang?

Kemudian, kehidupan lebih memperihatinkan ketika saya harus nyantri di pesantren Darussalam, Blok Agung, Banyuwangi. Hidup di kamar dengan ukuran 3×3 m yang dihuni oleh 10 orang, nyaris maksimum hanya muat 4 orang untuk tidur. Jadi 6 orang lainya biasa tertidur di depan pintu kamar atau tidur di masjid. Tidurnya pun ndak pakek bantal dan alas tidur, langsung melantai, kayak rentengan pindang. Penderitaan tidak sampai disitu saja, kamar mandinya lowh.. pakek blumbang. Blumbang adalah kolam besar yang airnya dari air sungai yang dipakai mandi bersama. Ribuan santri tumplek blek jadi satu di blumbang itu, kalau pas mandi bareng begitu berasa kayak es cendol. Mandi di blumbang seperti itu bukan tanpa resiko, penyakit kulit yaitu kudis dan gatal-gatal adalah penyakit wajib buat yang pernah mandi disitu. Bagaimana tidak, sering kali air Blumbang itu berubah warna dan bau. Tetapi lambat laun, seiirng perjalanan waktu kulit kita akan kebal dengan sendirinya.

Awal-awal hidup di pesantren itu benar-benar menyesakkan dada. Hanya ada dua kata yang membuat hati ini tegar ketika itu. Dua kata itu adalah Tirakat dan Barokah. Kata senior saya, kalau kepengen ilmu saya bermanfaat di kemudian hari, selama belajar saya harus memperbanyak Tirakat: Kurangi makan (puasa) [Banyak lowh diantara teman2 yang puasa 3 tahun berturut2, kecualai di hari-hari yang diharamkan puasa], kurangi tidur (sholat malam), dan kurangi bersenang-senang (perbanyak memprihatinkan diri, makan nya ndak boleh enak2 [banyak lowh teman2 yang makanya cuman pakek nasi doang, nasi jagung, dll]). Kedua adalah barokah. Ketika saya bertanya apa itu Barakah, senior saya bilang Barokah adalah Ziyadatul khair (Bertambahnya kebaikan). Tetapi saya bingung, katanya senior saya kudisan itu adalah salah satu barakahnya pondok, disamping sholat jamaah dan roan (kerja bakti di pondok) . Sampek sekarang saya tidak paham betul apa itu barakah.

Susah dan menderita memang, tetapi saya bersyukur, sketsa hidup yang memprihatinkan itu membuat saya tahan uji dan tidak cengeng di kemudian hari.

Advertisements

One comment

  1. Cak Shon, aku baru nemu artikel lawas sampeyan ini.

    Dengan gemblengan yang luar biasa di pesantren, sampeyan ya bisa juga nglokro waktu S3 di Inggris. Berarti memang perjuangan sekolah lagi di sana itu berat sekali ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s