Orang-Orang berkepribadian “Extravert” [Bagian 1]

Pernah ndak ketemu orang, ketika pertama kali ketemu langsung sak jek sak nyek [baca: sekonyong-konyong] sok uakrab buanget, bahkan seolah2 soulmate anda. Saya bukanlah orang yang pernah belajar psikologi, jadi saya kurang tahu apa istilah untuk orang dengan kepribadian extrovert yang berlebih-lebihan ini. Okelah, biar Saya menamakan dengan istilah saya sendiri, “Ekstravert”  [ hue he… istilah yang sangat ngawur……:p].

Dengan sedikit orang-orang yang berkepribadian ektravert ini, saya pernah punya dua pengalaman menarik. Pengalaman yang sangat Istimewa tentunya bagi saya, seseorang yang ambivert – bukan Introvert dan Juga Ekstrovert-. Saya pikir, hanya sedikit sekali [kalau digambar dengan kurva distribusi normal ye, ini adalah bagian sedikit banget disisi paling kanan kurva].

Pengalaman Pertama : Perjalanan Malam Kereta Bandung-Surabaya.

Pengalaman ini terjadi di penghujung Tahun 2006, ketika saya masih bekerja di PT SEIN Jakarta. Ceritanya Liburan panjang akhir tahun, dalam perjalananJakarta-Bandung-Surabaya-Banyuwangi. Saya yang lagi SoloTrip itu kebetulan dapat tempat duduk dengan seorang Tante-tante. Dia begitu welcome dengan saya, dia langsung mengajak kenalan. Kemudian dia bercerita tentang perjalanan hidup nya yang berliku, dia terus dan terus bercerita sepanjang perjalanan Bandung-Surabaya. Si Tante juga menawarkan makanan kepada saya, dan yang agak kurang ajar dia menyandarkan kepalanya di Punggung saya. Saya pun lebih banyak diam, dan menjadi Pendengar Baik mendengarkan Tante Bercerita.

Ceritanya Si Tante yang lumayan cantik dan berkulit putih bersih itu, mengaku berasal dari keluarga Santri. Bapak dan Ibuknya adalah tokoh agama [Islam], yang juga pengusaha keramik di kampungnya di Tulung Agung. Sampai suatu saat dia mendapatkan ujian terberat dalam hidupnya, Suami Tercintanya kecantol  dengan adik kandung nya sendiri. Adiknya, yang Muslimah Berjilbab itu ternyata mampu membuat keputusan Suami Tante untuk menceraikan Si Tante dan menikah dengan Adik kandung Si Tante.

Ujian sangat berat buat Tante tentunya, Suami tercintanya direbut oleh adek kandung nya sendiri. Rupanya ujian itu mampu menjebol benteng kesabaran Si Tante. Si Tante hatinya sangat marah sekali, hingga akhirnya dia membuat keputusan untuk memutus Tali Silaturrahim dengan semua keluarga nya di Tulung Agung. Si Tante minggat ke Surabaya tanpa tentu arah. Dia ngekost di salah satu tempat di Bilangan Bratang Surabaya.

Sampai suatu saat, Si Tante ketemu dengan seseorang yang sangat Inspiring bagi Dia. Dimana di saat tak seorang pun, bahkan keluarganya sendiri, tidak ada yang peduli dengan keadaanya. Muncul seseorang, bak dewi penyelamat, yang sangat baik dan perhatian dengan Si Tante. Rupa-rupanya seseorang yang Inspiring itu adalah seorang perempuan aktivis Gereja Britani di Surabaya. Hingga akhirnya pada suatu saat Si Tante melakukan keputusan yang kontroversial, Berpindah Agama. Satu hal yang paling mendorong keputusan nya ini adalah bayang-bayang adik kandung nya sendiri, yang sok muslimah alim berjilbab, tetapi tega-teganya merebut suami tercintanya.

Dan hidup Si Tante pun terus berjalan, dia bekerja apa saja di Surabaya sekedar hanya untuk menyambung hidup. Dia merasakan hidupnya lebih tenang dan bermakna sebagai seorang kristiani. Hingga suatu saat Si Tante mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di Keluarga Kristen sangat kaya raya di Kota Bandung. Si Tante bercerita betapa baiknya Keluarga itu. Bagaimana dia diperlakukan seperti layaknya keluarga nya sendiri. Si tante merasa menjadi sebagai bagian dari keluarga itu, bukan sebagai pembantu dari keluarga itu. Ketika dia pulang itu pun Keluarga baru tante itu menyempatkan diri mengantar sampai di Stasiun Bandung.

Desember tahun itu, menjadi Natal yang berbeda buat tante. Si Tante tak lagi mendapatkan kedamaian Natal seperti tahun-tahun sebelumnya. Natal tahun itu tak mampu menyejukkan hati tante yang gersang dan tandus. Di Perjalanan Bandung-Surabaya itu si Tante menceritakan kegersangan hatinya kepada saya. Dia berada dalam kebimbangan yang sangat luar biasa. Di Idul Adha yang akan datang itu Si Tante berencana mau kembali ke Islam, dan meminta maaf kepada Bapak/Ibu dan keluarganya di Tulung Agung.

Cerita yang menarik sekali buat saya. Sampai di Surabaya kami pun akhirnya berpisah. Si Tante meninggalkan alamat, no telpon, no. hp baik di Surabaya maupun di Tulung Agung [Bahkan nama kedua orang tuanya] untuk saya. Begitu Sebaliknya. Si Tante begitu mengharapkan saya bisa main ke tempatnya baik di Surabaya maupun Di Tulung Agung.

Entahlah, apa kabar Si Tante itu Sekarang. Saya belum sempat main ke rumahnya. Dan kehilangan kontak dengan Si Tante. Mudah2an si Tante kembali ke Jalan yang benar.

[Bersambung ke Bagian 2 ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s