Nasi liwet Pincuk samsat, Kertajaya Surabaya

“…mas ngapunten teng mriki mie pangsite, wonten daging babine”.


“Jazz..Jazzz” Mobil ‘mewah’ honda jazz warna item bernopol B XXXX itu berhenti
di kawasan pusat makanan di bilangan kertajaya Surabaya. Sekitar 3 km dari
kampus ITS Sukolilo. Anda pasti mengira mobil tadi sedang berhenti di depan
salah satu restoran elit di kota pahlawan ini. Tetapi, ternyata anda salah
kawan, Mobil tadi hanya berhenti di depan sebuah warung sederhana kelas ‘pedagang kaki lima’ .

Sejenak kemudian, dua biji manusia keluar dari jok depan mobil itu. Ssst… Anda
mengira pasangan sejoli? eit… jangan salah. ternyata hanya 2 orang manusia
dari kaum adam. Dan salah satu dari dua manusia itu adalah saiaa. Anda pasti
sudah sangat mafhum jikalau pemilik mobil tadi bukanlah saiaa. [Ya eyalah…
masak dirimu secepat itu mendadak jadi OKB (Orang Kaya Baru) Cak Shon… plis
dech agh…:p ]

iyuuk..! ceritanya kami sedang kelaparan, dan mencari mangsa untuk dijadikan santapan lezat kami malam itu. Dan…diantara ribuan tempat penjaja makanan di kota ‘bajol’, malam itu yang sangat beruntung, laksana dapat ‘durian ranum runtuh’ adalah warung sego liwet dan gudeg di bilangan kertajaya Surabaya. Yah begitulah, rejeki itu memang benar-benar rahasia Tuhan dan Tuhan malam itu menakdirkan rejeki untuk si penjual sego liwet dan gudeg dari dompet kami berdua.

tempat nya sangat sederhana, hanya ada satu meja dimana si penjual (rupanya, pasangan suami istri) meletakkan semua daganganya, di meja itu pula pembeli makan, dan beberapa kursi plastik berwarna merah yang tidak lebih dari 10 biji. sederhana, tapi bersih itu kesan pertama yang saia tangkap. Ibu penjualnya sangat ramah, sopan dan halus sekali tutur katanya, senyum manis selalu tersungging indah di wajahnya yang lumayan ayu itu.

Anda dan saia tentu sudah  ‘haqul yakin’ pasti Ibu itu bukan asli orang Surabaya. Tentunya ini adalah pemandangan yang langka di kota Surabaya ini, yang terkenal dengan logat jawanya yang kuasar poll, dan sangat popular dengan pisuhanya “Jiancuk”. Sabar kawan,
meski begitu orang surabaya hatinya baik2 lowh.

Sementara Si Ibu menyiapkan sego liwet yang kami pesan, Si Bapak nyiapin teh manis hangat. Sesaat kemudian, sego liwet itu sudah siap kami santap. Khas banget kesan nya. Pertama, makanya tidak pakek piring. Tapi sego liwetnya ‘dipincuk’ [apa ya Bahasa Indonesia? dibungkus terbuka kali yak?] pakek daun pisang. Kedua sederhana sekali, sayurnya lodeh ato ‘jangan’ kates alias pepaya, ikanya hanya telor rebus separo, dan suwar suwir daging ayam. Ada satu lagi yang ketinggalan dua biji cabe awit warna merah. That’s All. Plus kerupuk puli [kerupuk dari hahan nasi] yang harus dibeli secara terpisah.

Mmm… mantapz! meskipun sederhana tapi rasanya daahsyat bro. Nasi nya punel banget, sayur nya manis dan lezzat sekali, khas masakan yogyakarta, telor rebus dan suwar-suwir daging ayamnya juga tak kalah nikmat nya. Ditambah kerupuk puli yang renyah membuat lidah ini bergoyang terus, sampai titik nasi penghabisan.

Teh manis hangat nya juga bener-bener manis, wangi, dan hangat. Sempurna sudah nikmat Tuhan malam itu. Berkali-kali saya ‘glegeken’ dan dari mulut saya terucap syukur : “Alhamdulillahirabbil ‘alamin” [baca: Segala Puji bagi Tuhan].

Selain nikmat, harganya juga murah bener. Sego liwet 1 harganya cuman Rp. 5000 ;dan Teh manis nya cuman Rp. 1000 ; Mungkin karena keenakan jadi rasanya perut kami masih laper. Kebetulan tepat di sebelah kiri Warung sego liwet dan Gudeg tadi ada Mie Pangsit Makassar. Keluar dari sarang liwet kami masuk ke mulut pangsit Makassar. Berbeda dengan di sarang liwet, di sarang pangsit makasar ini ada banyak meja dan kursi. Kami dengan PD nya memilih meja dan kursi yang paling tengah. Ketika kami sudah siap-siap mau order, elahdalah Si penjual nya Bilang:

“…mas ngapunten teng mriki mie pangsite, wonten daging babine”
[baca: Maaf mas disini mi pangsitnya ada daging babi nya]

Glodak, kami pun langsung terperanjat dan pergi. Ya Allah.. Untung sekali Si Penjualnya Jujur. Coba kalau tidak, daging haram dan najis itu masuk ke dalam tubuh kami, Bukanya sok suci, tetapi begitulah Ajaran Agama kami, The Way Of My Life. Mendengar kata-kata babi, mendadak perut kami jadi kekenyangan. Dan wurung mau makan lagi.Terima kasih Mas Penjual Mie Pangsit Makasar Daging Babi yang jujur kepada kami.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s