Remarks On : 4 sahabat ‘dekat’ yang tersisa di Surabaya

“…You just call out my name, and you know whereever I am
Ill come running, oh yeah friend, to see you again.Winter, spring, summer, or fall,All you have to do is call.And Ill be there.You’ve got a friend”.

Kembali, setelah 2.5 Tahun meninggalkan kota ‘bajul’, kota ‘pahlawan’ Surabaya. Ternyata telah banyak perubahan, yah.. perubahan yang kata adagium:

“Di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya past berubah, kecuali perubahan itu sendiri”

Dan diantara perubahan-perubahan itu adalah perubahan pada teman-teman,kawan-kawan, dan sahabat-sahabat dengan siapa saya bergaul 2.5-6.5 tahun silam di kota, yang kata orang adalah kota terhangat di negeri endonesiah tercintah [ndak pakek mendesah, :p] ini.

Tidak banyak teman-teman yang masih tinggal di kota ini, 90 persen diantara teman-teman saya, setelah lulus kuliah di kampus perjuangan dari kota ini, pada berhijrah ke berbagai belahan dunia yang lain. “Jakarta”, tetep saja belum kehilangan pamornya sebagai kota simbol kesuksesan, kejayaan, dan impian semua orang. Di ibukota itulah sebagian besar teman saya mencoba menggapai mimpi-mimpi karir nya. Bahkan, saya sendiri pernah terjebak di kota itu, sebagai ‘buruh’ orang korea di sebuah perusahaan elektronik besar yang menguasai sebagian besar pasar di dunia. Namanya sih keren sebagai ‘R and D Engineer’ tapi rasanya itu hanya kamuflase jabatan sebenarnya bernama ‘buruh’ hue he…

Dan diantara sedikit teman-teman yang masih tinggal, atau terpaksa tertinggal di kota ini, tidak semuanya ‘sama’ seperti dahulu. tidak semuanya bersedia, tidak semuanya berani meluangkan waktu,  untuk sekedar diajak ngobrol ngalur ngidul berjam-jam tidak jelas  seperti dahulu. Sebagian besar dari mereka merasa terjepit oleh kesibukan masing-masing. Sedikit teman yang bersedia dan berani itulah yang saya sebut sebagai ‘sahabat dekat’.

Mungkin quote lirik sebuah lagu, di awal tulisan ini, tepat sekali melukiskan apa yang saya maksud dengan “sahabat dekat”. Sahabat yang membuat saya merasa ‘plong’ berada di dekatnya, sahabat yang mungkin kata psikolog, wilayah hitam dan abu2 diantara kami nyaris tidak ada. Dan jumlahnya hanya ada 4. Dan tak satu pun diantara mereka yang pernah kuliah satu jurusan dengan saya. Saya jadi bertanya-tanya kepada keempat sahabat dekat saya, yang sangat luar biasa di mata saya ini, tidak banyak yang seperti mereka. Tiga minggu di kota ini, serasa banyak waktu telah saya habiskan bersama mereka.

Setelah kuamat-amati dan renungkan, ternyata ada beberapa kesamaan diantara 4 sahabat dekat saya yang tersisa itu:

1. NU banget.
Tau NU kan? Merk minuman kemasan berwarna hijau itu to? Iya benar, tetapi bukan itu yang sedang saya maksudkan, hue he… yang saya maksudkan adalah ‘Nahdlatul Ulama’ ormas Islam terbesar di dunia yang didirikan oleh KH. Hasyim As’ary itu lowh. Seakan tidak ada habisnya kami ngomongin masalah NU, ya tentang komoderatanya, suka ziarah kubur-tahlil-yasin-istigotsahnya, thariqah nya, ulama-ulama dan kyai-kyai nya, pesantren-pesantren nya, pemikiran-pemikiran nya, keterbelakanga konstituen nya, dan sebagainya dan sebagainya. Pokoknya sumber obrolan yang tidak pernah kering buat kita.

2. Mengaku punya nasab yang nyambung dengan kanjeng nabi Muhammad S.A.W.
Entah kenapa, tidak pernah saya sengaja, tapi keempat sahabat dekat saya itu pernah keceplosan ngomong kalau mereka punya nasab orang-orang shaleh,  yang nyambung sampek Nabi Muhammad SAW. [punya darah biru negh ceritanya, kalo saya mungkin nyambung sampek Abu Jahal kalee ye…hua ha…Upss].

3. Aneh bin ‘nyentrik’ banget.
Pokoknya mereka itu ndak seperti orang kebanyakan dech, mereka bukanlah ‘mass production’ ciptaan Tuhan pada umumnya. Tapi mereka adalah produk ‘limited edition’ dari Tuhan [hue he… ayak2 wae].  Pola fikir dan “way of life” mereka tidaklah seperti orang2 kebanyakan. Punya hobi yang aneh dan nyentrik. Adayang hobinya kemana-mana pakek sepeda ontel. Tiga diantaranya 14 semester belum lulus kuliah S1, bukan karena mereka bodoh lowh, IP nya saja diatas 3. Tapi ya karena orang nya aneh jadi ya… karena “ada dech”…alasan yang tidak bisa diterima oleh orang kebanyakan. Terus, 3 diantara mereka mengaku sampek usia hampir 1/4 abad ini belum pernah ‘in relationship’ dengan lawan jenis. Mereka bukanlah homo/lesbi, tapi ya karena alasan yang ‘ada dech….’ namanya juga makhluk ‘limited edition’ susah kali yak, nyarik pasangan yang cocok untuk mereka. Ha ha ha…

To All My Friend, many thanks you very much ! You Make My Life More Life 🙂
I Learn Much Manything from you, Fren! May Allah keep our brotherhood now, and for ever, Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s