Pemimpin Baru JATIM : Harapan Baru Kah?

“Kullukum roin wakulu roin masulun ‘an ra’yatihi
(setiap dari kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dipertanyakan [dimintai pertanggung jawaban atas] kepemimpinanya)”

Dua belas februari dua ribu sembilan, pasangan KARSA: Soekarwo ‘pak de karwo’ dan Syaifullah ‘gus ipul’ yusuf akhirnya resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur baru propinsi Jawa Timur. Setelah melalui proses pemilihan yang melelahkan dan harus dibayar dengan sangat mahal oleh masyarakat Jawa Timur. Bayangkan sampai empat kali putaran, yang berarti sebagian masyarakat JaTim harus mencoblos ebanyak empat kali.

Tentunya akhir PILKADA Jatim ini banyak menyisakan kebahagiaan, tetapi sekaligus menyisakan kekecewaan yang sangat mendalam. Bagi pasangan KARSA dan pendukung nya, tentu saja akhir PILKADA ini adalah akhir sebuah perjuangan yang sangat indah. Sebaliknya, bagi pasangan KAJI dan pendukung nya tentu ini merupakan akhir penggalan perjuangan yang menyesakkan dada. Apalagi, kemenangan KARSA atas KAJI adalah kemenangan dengan selisih suara yang sangat tipis. Andai saja TKW asal Jatim di Malaysia dan Hongkong diberikan hak untuk memilih, bisa jadi keadaan jadi terbalik.

Selamat kepada KARSA, dan apresiasi yang sangat luar biasa buat KAJI. Meskipun hasil akhir lebih berpihak kepada KARSA bukan berarti KAJI ‘kalah’, karena kemenangan itu bagi saya adalah sebuah proses bukan sebuah hasil akhir. Sebuah proses yang mengajarkan nilai-nilai yang sangat luar biasa sebagai kado untuk demokrasi di Indonesia. “Lanjutkan perjuangan, Mbak Khofifah !!”

Lantas, bagaimana kah dan seperti apakah pemimpin baru JATIM itu? Pemimpin yang baik atau 1/2 baik atau tidak baik kah?

Sejak diumumkan sebagai pemenang, berbagai ‘syukuran’ atas kemenangan karsa oleh pendukung-pendukung nya digelar dimana-dimana. Suatu malam ketika saya mampir di rumah seorang teman, kebetulan sekali, tepat di depan rumah teman saya itu sedang digelar ‘syukuran’ di rumah seorang salah seorang fungsionaris PDIP [jelas banget di rumah nya itu merangkap sebagai posko PDIP dan ada lambang Banteng Moncong putih besar sekali], seorang tokoh kristen yang sangat disegani dan berpengaruh di Surabaya kata teman saya. Malam itu adalah kali pertama saya melihat langsung wajah Pak De Karwo yang sedang dielu-elukan oleh pendukung nya di depan mata saya. Tetapi akhirnya saya jadi bertanya-bertanya, lowh kok syukuran di posko nya PDIP? padahal yang saya tahu dari Media, PDIP melalui Megawati dan Puan Maharani langsung adalah partai yang mendukung Pasangan KAJI setelah PILKADA putaran pertama.

Hari pertama kerja pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur menjadi sorotan beberapa media nasional. Salah satu nya adalah koran nasional terbesar nomor dua, Jawa Pos. Bahkan, di koran masyarakat Jawa Timur itu hari pertama kerja Gubernur Dr. H. Soekarwo dan Wakil Gubernur Drs. H. Syaifullah Yusuf menjadi tajuk berita. Foto keduanya terpampang besar di halaman pertama. Pak De Karwo sedang tertawa lebar, Gus Ipul lebih parah lagi sudah tertawa lebar pakek ‘melet’ pula [lihat gambar]. Seolah-olah mereka ingin meluapkan kemenangan mereka. Seolah mereka ingin mengatakan: “Ini lowh.. saya the real gubernur dan wakil gubernur pilihan sebenarnya masyarakat jatim huaha haha……”. Saya tidak bisa membayangkan apa ekspresi Mbak Khofifah, atau pendukung nya KAJI melihat
foto mereka berdua ini.

Saya jadi teringat cerita di sirah sahabat [baca: sejarah sahabat nabi Muhammad S.A.W]. Bagaimana para khulafaur rasyidin dulu ketika diberikan tampuk kepemimpinan di atas pundak mereka. Syukuran kah? Tertawakah?
Wew… sangat tidak kawan!

Para Sahabat Khulafaur rasyidin dulu, memandang jabatan pemimpin adalah sebuah amanah yang sangat luar biasa berat tanggung jawabnya. Boro-boro tasyakuran, para sahabat dulu memandang amanah pemimpin adalah sebagai sebuah bencana, andai kata orang lain ada yang bersedia, dia akan serahkan jabatan kepemimpinan itu.

Dan di malam-malam panjang mereka menangis berurai mata, karena mereka takut kepada Allah, mereka takut tidak bisa menjalankan amanah itu dengan benar, dan mereka takut tidak bisa mempertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari kiamat kelak.

Alkisah, Seorang sahabat nabi, di suatu malam, ketika seorang sahabat itu sedang mengerjakan asyiklah pekerjaan negara, datanglah seorang anak nya meminta waktu sebentar untuk ngobrol dengan sahabat tadi. Tiba-tiba sahabat tadi mematikan lampu penerangan. Jadilah mereka ngobrol dalam gelap-gelapan.

Sang anak bertanya : “Wahai Abi……. kenapa engkau matikan lampunya?”.
Sahabat           : “Duhai anak ku sayang, minyak bahan bakar lampu ini adalah
harta negara, kita tidak berhak menggunakan harta negara
ini untuk kepentingan pribadi”.

Subhanallah, luar biasa sekali akhlak pemimpin jaman sahabat dulu.
Akankah gubernur baru Jawa Timur yang baru ini seperti pemimpin era sahabat nabi dulu?
Wallahua’lam.

Pesimis, itu manusiawai. Tetapi bersuudzon [perasangka buruk] itu juga tidak baik. Sebagai warga ‘cilik’ Jawa Timur yang baik, kita hanya bisa berharap dan mendokan para pemimpin kita. Mendoakan Pemimpin? yah satu hal yang mungkin sering kita lupakan sebagai seorang muslim di Indonesia. Di Malaysia mendoakan pemimpin (raja-raja mereka) itu seolah-seolah merupakan do’a wajib seorang khatib di akhir khutbah nya, sejajar dengan membaca sholawat Nabi S.A.W.

Marilah kita doakan pemimpin-pemimpin kita, semoga dibuka hati-hati nurani mereka, dituntun kebijakan mereka, di jalan yang lurus. Ammin.

“Wallahu Muwafiq Ila aqwamit Thariq”
[dan semoga Allah memberi taufiq ke jalan yang kokoh, lurus, dan benar]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s