Rekor: Udah Hujan, Malem-malem, Naik Becak sepanjang 12 KM

masih inget kata-kata ini: “Udah ujan, beceks, ndak ada ojeks”
ha ha… iya benar sekali itu kata-kata ‘cinca wowra’, yang konon katanya hanya dari kata-kata itu bisa menghasilkan duit beratus2 juta.

hari ahad awal februari tahun kosong sembilang menjadi pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. ‘balik kampoeng’ ceritanya. Setelah melalang buana dari kuala lumpur, jakarta, surabaya, dan Malang.akhirnya, tiba juga saat sambang orang tua di kampung halaman, sebuah kampung yang ‘ndueso’ buanget haha.., tepatnya dusun wringinpitu, desa plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi.

ketika nyampek jember, di sms sama ibuk saya: dah nyampek mana dan minta di jemput apa tidak. secara saya anak yang ‘shaleh’ haha.. yang tidak mau merepotkan orang tua, saya putuskan untuk tidak dijemput. dengan pertimbangan kasihan yang jemput lahwong sudah malam, hujan deras lagi.

“Banculuk, Benculuk!!”
kondektor bus ‘akas’ itu menginformasikan kalau bus sudah nyampek kota benculuk, kota terdekat dari kampung saya yang sudah dilalui bus antar kota. aku pun bangkit dari tempat duduk ku, menuju ke pintu keluar depan bus. Bus berhenti sejenak, dan saya meloncat, turun dari Bus.

“wagh…” lega rasanya. Perjalanan 8 jam dari kota Malang akhirnya berhasil aku akhiri dengan selamat ‘santoso’. Perjalanan yang tidak nyaman sekali, untuk ukuran orang yang biasa menikmati fasilitas transportasi publik yang bagus dan nyaman di Malaysia. Sudah bus nya ndak ber AC, kursinya sempit dan tidak empuk, sepanjang perjalanan tidak pernah sepi dari yang namanya: pengamen, peminta sumbangan, dan pedagang asongan. Berbeda sekali dengan publik transport di Malaysia, di negara tetangga kita ini Bus nya di desain sangat ergonomis sehingga menimbulkan rasa nyaman ketika kita berada didalam nya. Satu baris hanya ada 3 kursi (di Indonesia umumnya 5 kursi) yang empuk banget, bikin nyaman banget buat tidur, sudah tentu bus nya ber AC, dan anda tidak akan menemui yang namanya pengamen, peminta sumbangan, apalagi penjual asongan. Jalan rayanya pun sangat lebar-lebar nan ‘mulus’, dan selalu ‘two way’. Di beberapa titik sepanjang high way ini dibangun tempat-tempat khusus untuk persistirahatan yang ditata dengan sangat cantik, dilengkapi dengan toilet yang bersih dan gratis, mushola, tempat makan, tempat jual oleh-oleh, dan tentunya tempat parkir yang sangat luas. Mungkin, karena sudah disediakan tempat khusus tadi lah, di Malaysia tidak ada yang namanya pedagang asongan di bus-bus yang sering kali membuat penumpang merasa tidak nyaman.

Setelah turun dari Bus, saya ‘ceclinguan’ sendiri di pertigaan jalan Benculuk itu. Rumah saya masih 12 KM lagi, dan tidak ada ‘public tranport’ sama sekali dari Benculuk ke rumah saya. Satu-satunya pilihan adalah Becak atau Ojek. Saya sengaja tidak langsung menuju pangkalan tokeng ojek, atau ke pangkalan tukang becak. Jual Mahal hehe… biar mereka yang menawari saya pikirku.
Beberapa menit kemudian, akhirnya datang juga. Seorang tukang becak (TB).

TB  : ” Badhe teng pundi mase?”
Saya: ” Plampang, pak ”
TB  : ” Monggo, numpak becak mawon mas !”
Saya: ” Wah, tuebeh lowh pak “. [kasihan pikir saya, bapak nya dah tua,
mau mbecak, sepanjang 12 KM di jalan yang tidak mulus]
TB  : ” Mboten, nopo-nopo to numpak becak”.
Saya: ” pinten, pak? “.
TB  : ” lah, pinten…[diam sejenak] wes pokoke sampean sukane pinten ngono lo”.
Saya: ” loh, la biasane pinten lo.. hehe…..”
TB  : ” Tigang doso, inggih purun? [dengan ekspresi tidak PD]”
Saya: ” Inggih pun”. [saya langsung mengiyakan tanpa menawar lagi, karena teringat di salah satu tempat wisata di Malaysia, untuk naik becak hias sepanjang 1 km harus bayar RM 20 (Rp. 60.000), itu pun harus antri.

Dengan girang bapak Tukang Becak yang sudah tua tadi membawa becak nya di depan saya. Hujan yang masih sangat deras sekali tak mampu menyurutkan semangat Pak Tua mencari nafkah untuk keluarga nya. Becak nya ditambahin plastik di depan, dirancang sedemikian rupa sehingga penumpang tak terkena tetesan air hujan.
Saya menaiki becak nya, dan perlahan pak tua mengayuh becaknya.

Setelah mengayuh sekitar dua ratus meter, Pak Tua meminta maaf, berhenti sejenak untuk menyalakan lampu ‘ublik’, Lampu templok berbahan bakar minyak tanah dan sumbu kain. Setelah di sumut dengan korek api yang biasa dipakai untuk membkar rokok nya, Lampu itu pun menyala kelap-kelip . Pak Tua Kemudian, meletakkan lampu tadi di salah satu sudut becaknya, dan kemudian kembali mengayun becaknya perlahan.

Hujan semakin deras, ketika Pak Tua kembali mengayuh becaknya. Aku mengambil kain sarung dari tasku. kemudian saya pakai untuk selimut tubuh saya yang mengigil kedinginan, karena memang dingin banget, dan percik-percik air hujan itu juga masuk mengenai celana saya.
Sejenak aku merasakan sebuah kenyamanan, kenyamanan yang aku nikmati di atas peluh keringat dan ngos-ngosan nafas Pak Tua yang mengayuh becaknya dengan guyuran hujan deras di malam itu.

“Hoh hoh….”
Desah nafas pak tua itu benar-benar menahan rasa nyaman saya. Miris hati ini, bagaimana saya bisa bernyanyi-nyanyi dengan iringan desahan menahan derita pak tua itu. Saya yang masih muda dan dia yang sudah tua renta. Saya yang ria menaiki becaknya, Dia yang menahan derita mengayuh becaknya. Oh Tuhan… saya tidak bisa membayangkan jika saat itu engkau menukar posisi saya dengan posisi pak tua itu. Saya yang jadi tukang becak. Ya Allah… Syukurku untuk Mu !

Perjalanan 12 KM dimulai dengan perjalanan 0.5 KM di Jalanan yang lumayan mulus. Dilanjutkan dengan 10 km di jalanan beraspal rusak. Jalan dengan aspal yang lebih banyak lubang nya daripada mulus nya, becak pak Tua berguncang-guncang hebat sepanjang jalanan itu. Sesekali pak Tua meminta maaf kepada saya, karena sering kali guncangan itu menbuat saya nyaris jatuh. Mengerikan sekali, coba bayangkan 10 km, jalanan aspal berlubang, hujan deras, gelap karena memang tidak ada lampu jalanan dan kiri kanan jalan adalah sawah dan sungai, hanya ada beberapa rumah penduduk saja sepanjang jalan itu, ditemani kilat dan geledek yang membuat perjalanan ini semakin menakutkan. Saya hanya bisa bersholawat dan dzikir, semoga diberi keselamatan. Sebab, perjalanan ini sangatlah beresiko, dalam sekejap saya dan Pak Tua bersama becaknya bisa terperosok dan nyungsep kedalam sungai di kiri kanan jalan itu, dan tamat lah riwayat saya.

Setelah perjalanan 10 km di jalan aspal berlubang, perjalanan dilanjutkan dengan 1.5 km perjalanan di jalan tidak beraspal dan berlubang. Lebih parah dengan sebelumnya, karena hujan belum juga reda dan jalan yang dilewati adalah jalan makadam, jalan bebatuan dan tanah. Benar-benar gelap mencekam karena kiri kanan jalan 100% hamparan sawah yang sangat luas dengan tanaman padi yang masih menghijau yang sesekali terlihat ketika kilat dan geledek menggelegar. Dua kali becak Pak Tua terperosok lubang, dan dua kali pak Tua terpaksa menarik becaknya dari depan. Pak Tua itu pun akhirnya mengeluh.

TB   : ” Kapan yo mas, jalan sini di aspal? mosok ngenteni kiamat…”
Saya : ” Mungguhno kulo sing dadi ‘president’, jalan ini yang pertama saya                instruksikan untuk di Aspal hehe…..”.
TB   : ” Iyo mas tak dungakno sampean, dadi president”.
Saya : ” Aammin…” haha….

Akhirnya, Pak Tua berhasil menghantarkan saya dengan becaknya tepat di depan rumah saya. Saya menawari pak tua tadi mampir ke rumah saya sejenak, tapi dia menolaknya. Saya yang semula mau bayar 35 ribu, ndak tega akhirnya aku bayar 50 ribu. Pak tua itu sangat bahagia.

TB   : ” Matur nembah suwun sanget lo Mas….”.
Saya : ” inggih sami2″

Semoga Tuhan Membalas segala kebaikan mu, dan menyayangi mu selalu pak Tua !!

[picture grabbed from http://bulakamba.files.wordpress.com/2008/09/becak.jpg ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s