Akhirnya Allah Menghubungkan Kami Setelah Sepuluh Tahun Kami Terpisahkan Oleh Keperkasaan Sang Waktu

[this blog entry especially dedicated for my beloved old friends : Amin ‘kang Amin’ Syaifuddin Albarkasy Alterkesy dan Ahmad ‘kang Jaki’ Muzakki at Blok Agung, Banyuwangi, East Java Indonesia]

***
Sepuluh tahun yang lalu di sebuah tempat yang sederhana kami pernah merenda hari bersama. Menatap langit matahari dan bulan yang sama di saat dan tempat yang sama. Agh… rasanya kenangan-kenangan itu terlalu indah untuk dirindukan dan diceritakan kembali. Sebuah romantika persahabatan masa lalu yang terlukis begitu elok di hati-hati kami, yang mungkin tak akan mudah terhapus oleh derai hujan, tak mudah usang dimakan sang waktu.

“Blok Agung”, agung nian…. nama ini dalam ingatan kami. Sebuah desa dimana pesantren tempat kami mengahabiskan detik demi detik waktu, hari demi hari bersama itu berada. Sebuah desa yang damai, sedamai nama pesantren kami “Darussalam”, desa kelamatan, desa kedamaian, di Ujung Selatan Kabupaten Banyuwangi Kecamatan Tegalsari [dulu Kecamatan Gambiran], Jawa Timur Indonesia. Sebuah pesantren yang kokoh berdiri sebagai pusat peradaban umat manusia dengan Islam sebagai spirit di Kabupaten Banyuwangi, bahkan mungkin Indonesia. Di pusat ‘tamaddun’ , ‘civilization’, ‘peradaban’ inilah berdiri pusat-pusat pendidikan dan pelatihan madrasah dan sekolah dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dengan keberadaan seorang kyai sebagai figur sentral. Seorang kyai yang sangat dihormati, tanpa pernah minta dihormati, oleh ribuan ‘santri ‘ sebutan untuk para penuntut ilmu yang datang dari seantero bumi nusantara. Seorang kyai yang kata-kata nya bak ‘Sabda Pandita Ratu’. KH Mukhtar Syafat Abdul Ghafur [alm., Allahu yarham lahu], pendiri pesantren ini bersama KH Muallim Syarqawi [alm., Allahu yarham lahu], dan Ibu nyai Hajah Siti Maryam [almh., Allahu yarham laha] *biar ndak dibilang bias gender sama feminist aku sebutin :p* yang kemudian dilanjutkan oleh putra-putri mereka : KH A. Hisyam Syafaat, KH A. Hasyim Syafaat, KH Ahmad Qusyairi Syafaat, KH. Mudlofar Sulthan adalah figur-figur sentral (vocal point) dimana Transfer Pengetahuan itu terjadi secara terus menerus dari generasi ke generasi selama berpuluh-puluh tahun. Di pesantren ini telah terbentuk “knowledge society network” culture, budaya jaringan masyarakat pengetahuan, yang khas dan unik antara kyai, ustadz, santri senior, dan santri yunior.

“Kang…”, itulah panggilan khas di pesantren ini, yang tidak mengenal constraint [* susah nyarik terjemahan bahasa Indonesia nya] usia, panggilan ke santri yang lebih yunior, lebih senior, ataupun seusia, sama saja kita panggil dengan sapaan ‘Kang’ ini. Sapaan yang mengisyaratkan tidak ada senioritas di pesantren ini,semua sama kedudukanya sebagai santri. Kang Amin, Kang Jaki, Kang Ali, Kang Nur, Kang Wahid, Kang Bambang, Kang Taufiq, Kang Kafiluddin, Kang Wandoyo, Kang Tohir, Kang Kholiq, Kang Muad, Kang Roziqin, Kang Munib, Kang Mahsun, Kang Maksum, Kang Azis, Kang Hanif, Kang Manan, Kang Karim, Kang Andi adalah hanya beberapa nama ‘Kang’ yang masih terekam dalam ingatanku. Yah…. Begitulah: Nama Teman, Nama Tempat, Nama Kegiatan seiring dengan berjalanya waktu, suatu saat akan hilang dari ingatan kita. Tetapi, tidak dengan rasa, Rasa Senang, Rasa Gembira, Rasa Kebersamaan, Rasa Kasih Sayang, Rasa Sedih, Rasa Bangga, Rasa Disakiti tidak akan mudah hilang dari bagian hidup kita.

Terlalu banyak nama teman, nama tempat, nama kegiatan, dan rasa yang pernah tercipta bersama di antara kami di pesantren ini. Kamar F2, Asrama Khulussunajah, Masjid, Sawah, Pasar, Kantin Ausath, Kantin Wevi, Gedung Induk, Makam, Darul Aitam, Pesantren Anak2, Ndalem, Blumbang tempat kami renang bersama, Perpustakaan ‘al Irfan’ ,  dikkomda, Asyifak, Alas, Kali Gesing, dan Perkebunan kopi susu adalah sebagian nama tempat yang masih terekam di ingatan saya. Ngaji kitab, sekolah, ‘diniyah’, lalaran, setoran hafalan, taqrar, sorogan, bandongan, ronda malam keliling pondok, dibakan, tahlilan, manaqiban, roan, mayoran, ‘ngerik’ santri putri, dan muhafadan adalah sedikit dari kegiatan yang masih aku ingat. Rasa lezatnya ‘Selep Terong’, Rasa senang saat ‘mayoran’, rasa sedih saat roan [pernah ngangkut kayu dari alas ke pondok :D], rasa bahagia saat minggu legi, rasa malu saat ketahuan nyontek ujian, rasa bangga jadi juara kelas,  rasa bangga saat disebut nama yang hafal nadzoman, rasa jijay saat kolam renang kita ada kuning2 nya dan bau, Rasa kebersamaan saat lomba kamar kita, Rasa Minder saat digojlok waktu khitobah, Rasa Marah saat dijaili teaman, dan Rasa gayeng saat ngobrol ngalur ngidul bersama adalah sebaian rasa yang terekam kuat dalam hati saya.

Dan diantara semua rasa itu, rasa yang terbesar saya rasakan adalah rasa persahabatan dan persaudaraan di antara kami yang tulus, lillahi ta’ala. Bukan karena penampilan fisik, harta, kedudukan seorang teman. Hidup terasa lebih hidup dan sangat menyenangkan dikelilingi oleh teman-teman. Ada teman dekat, teman biasa, dan teman ‘say hello’ saja. Dan diantara nama-nama teman dekat saya itu, tanpa ada maksud untuk membeda-bedakan teman, adalah Amin Syaifuddin dan Ahmad Muzakki.

Amin Syaifuddin

Kang Amin, begitu biasa saya memanggil dia. Pertama kali liat dia, orang ini kesan nya dingin dan pura-pura ‘cuek’.  Tapi akhirnya kenal baik juga sama si rambut ‘kriwul’ ini he he….
Orang nya kalem dan damai banget, tidak suka konfrontatif, permusuhan apalagi pertengkaran. Tetapi dibalik sifat mengalah dan defensif nya itu, dia sering juga ‘nggrundel’  di belakangg. hua ha…. Saya selalu merasa nyaman berada di dekatnya, walaupun terkadang dia suka cuek, diam seribu kata, kalau lagi marah. Suaranya bagus banget, melengking, secara dia adalah qari’ papan atas dengan jam terbang sangat tinggi di pesantren saat itu. Secara dia mengaku dari kampung yang ‘ndeso’ banget, di Jawa Tengah Utara kota Semarang itu [tepatnya Brakas Terkesi Grobogan Purwodadi], dia belajar banyak dari saya, yang menjadi simbol kemodernan berfikir saat itu *wakakak….. Dia tidak sungkan-sungkan banyak belajar dari saya yang lebih yunior, terutama belajar bahasa inggris, saya masih ingat dulu setiap hari selalu menulis vocabulary baru di catatan kecil nya dan mencoba dihafalnya. Tradisi “hafalan”, sebuah metode belajar paling sering diterapkan di pesantren, yang menurut hemat saya tidak begitu bagus. Saya kira, metode pemahaman yang mendalam ‘insight’ dan berfikir kritis ‘critical thingking’ itu jauh lebih efektif dari sekedar ‘hafalan’. Itu yang kurang dikembangkan, dan nyaris mati di Pesantren saat itu. Kalo ingat kang Amin, saya selalu ingat Muslimah, bukan Bu Muslimah di Laskar Pelangi, tetapi kekasih pujaan hati kang Amin kampung nya, yang fotonya disimpan rapi di dompetnya, eh..  ndak taunya Kang Amin ditinggal kawin duluan sama Muslimah. Sudah punya anak dua, dan kang Amin sampai sekarang masih sendir. hue he……… [masih menunggu janda nya ndak yak?]

Pernah suatu saat Kang Amin aku ajak jalan-jalan ke kota Jember, hanya untuk pergi ke Toko Buku Gramedia. Secara di Banyuwangi ndak ada Toko Buku yang representatif dan Libido Baca Buku Baru saya sudah tidak tertahan lagi.  Kami naik angkutan desa ‘kijang’ warna biru yang bagus…. banget, sangking bagus nya sering kali macet di tengah jalan. Dari BlokAgung ke Genteng. Terus dari Genteng naik Bus Ke Jember. Dari Terminal Tawang Alun Jember naik Bus Kota jalan-jalan ke kota Jember. Hue he… Berbeda dengan saya yang hobi jalan dan sangat menikmati perjalanan, kang Amin Teler, Mabuk darat. Hue he… kasihan banget. Karena keasyikan jalan, tanpa mempedulikan kang  Amin ini, kita nyampek Genteng lagi dah larut Malam. Sudah tidak ada angkutan dari Genteng ke Blok Agung. Terpaksa dagh.. kami tidur di salah satu masjid di sekitaran Genteng. Sampek akhirnya dibangunin sama seseorang, nampaknya takmir masjid itu. Mulanya mereka mencurigai kami, karena saat itu di Banyuwangi sedang panas dengan isu dukun santet, dan pembunuhan kyai2. Tetapi, setalah kami menunjukkan Kartu Santri Pondok BlokAgung, akhirnya si orang tadi menawari untuk tidur di rumahnya. Orang nya baik banget, kita di kasih makan, dan di kasih sarapan di pagi harinya sebelum kami balik ke Blok Agung. He he…..

Ahmad Muzakki

Sebenarnya saya kurang menegenal orang satu ini. Tapi saya sudah mengenalnya sebelum dia datang di pesantren, dan dia juga sudah mengenal saya sebelum saya datang di pesantren pada kesempatan yang lain [hue he…. bingungkan]. Kang Amin sering cerita tentang orang satu ini, katanya kembaranya, padahal menurut hemat saya, ndak ada mirip-miripnya. Tetapi sebelum dia datang di Pesantren, saya sudah keburu kaburrr. Hingga suatu saat yang lain saya sempat main kembali di pesantren dan bertemu dengan Kang Jaki ini. Ternyata dia sudah kenal saya sebelumnya, walaupun baru pertama kali itu kami bertemu. Ceritanya ternyata kami sama-sama murid kesayangan [pada masa nya masing2] Pak Sadmoko, Guru Matematika, di Madrasah kami. Kata Kang Jaki, Pak Sadmoko sering cerita tentang saya di kelas. Soalnya dulu kalo sedang diajar Pak Sadmoko ini, saya sering kali PROTES. ” Menurut saya itu tidak begitu deh pak, tetapi seharusnya begini dan begini… bla bla…..”. Itu protes saya sering kali. Hua ha…. dan saya yang selalu benar ketika protes. Nampak nya ‘kekurangajaran’ saya ini meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati Pak Sadmoko. Jadilah saya legenda yang selalu diceritakan Pak Sadmoko ke generasi-generasi setelah saya. Salah satu diantaranya adalah generasi Kang Jaki.
Agak berbeda dengan Kang Amin, Kang Jaki di mata saya orang nya sangat energik, dan ‘stylish’ setidaknya untuk ukuran anak pesantren saat itu. Sangat Terbuka dan Ramah Sekali. Dia suka sekali belajar sesuatu yang baru.

**
Kemudian sang waktu pun memutuskan hubungan kami, saya yang tidak suka kejumudan dan sangat gandrung akan sebuah perubahan, akhirnya memutuskan untuk bayang jauh lebih awal dari teman-teman. Sementara kang Amin, dan Jaki yang lebih dianugerahi sifat ‘Istiqomah’, Kesabaran, dan Qanaah tetap bertahan di pesantren.

Hari demi hari pun berganti, tahun demi tahun pun berlalu. Mungkin kami terlalu asyik dengan dunia kami masing-masing, sehingga kita tidak pernah terpikirkan untuk menanyakan kabar satu sama lain. Samapai akhirnya Internet pun masuk di Pesantren Darussalam Blok Agung. Saat ini ada sebuah warnet yang dikelola oleh pesantren. Suatu saat saya iseng-iseng googling dengan keyword ‘Blok Agung’, padahal sudah lama sekali ndak iseng kayak gitu. Dulu pernah iseng search dengan key ‘Blok Agung’ tapi No Result hua ha. Tapi saat itu saya tiba-tiba bahagia sekali, karena saya menemukan website pesantren blokagung, blog guru saya di pesantren saya dulu, dan blog Gus dan Neng pesantren itu.

Pak Fauzan adalah nama guru saya saat di pesantren waktu saya masih mondok dulu. Ternyata beliau adalah admin sekaligus penjaga warnet di Pesantren. Kami akhirnya sering chatting bareng, Alhamdulilah Pak Fauzan masih inget saya, secara saya dulu kan terkenal banget hue he… Asytaghfirullah…… Dari Pak Fauzan akhirnya menyebar kemana-kemana, Pak Ikhsan salah satunya yang berhasil terhubung kembali. Sampek akhirnya merembet ke Kang Amin dan Kang Jaki. Kemudian sms-sms an, telpon-telponan, dan chating-chatingan hua ha….. dengan Kang Amin dan Kang Jaki.

Alhamdulilah, saya senang sekali, setelah sepuluh tahun lamanya kami terputus. Allah menghubungkan kami kembali, dengan suasana yang tentu saja berbeda. Kang Amin sudah matang sekali ilmu agamanya dengan gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi) di belakang nama nya, begitu Juga  Jaki sudah bergelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Ki) di belakang namanya. Dalam waktu dekat ini, akhirnya memutuskan untuk boyong dan siap terjun di tengah-tengah masyarakat mendarma baktikan ilmu keduanya. Secara kebetulan, dalam waktu dekat ini saya juga memutuskan untuk segera kembali dari Negeri Jiran Malaysia, Setalah selesai studi Master saya di bidang Sistem Informasi, untuk mengabdi ke Tanah Air.

Oh… Teman….Semoga ukhuwah ini senantiasa terjalin untuk selamanya, Sukses Selalu My Brothers !!: Buat Kang Amin dan Kang Jaki saya persembahkan sebuah Nasyid untuk kalian berdua :

Sahabat….

 

Ingin aku singkap kembali
Kenangan lama agar bersemi
Inginku ulangi kisah manis
Agar terus bersemadi

Ingatlah aku sebagai rakanmu
Kenanglah daku dalam doamu
Begitu indahnya kisah dahulu
Engkau sebagai temanku

Apabila engkau terjaga
Satukanlah harapanku denganmu
Kerana ianya bakal berpadu
Mimpi si penunggu yang setia
Layarkanlah impian doamu
Sesungguhnya aku masih mengingatimu
Sebagai kawan rakan dan teman
Semoga kita diberkati Allah

Kudoakan kepadamu agar bahagia
Di dunia dan akhirat

[Lagu: AMAR,Lirik: AMAR,Album : Kiasan Naluri]

[pict. is grabbed from a book entitled : ‘humor ngaji kaum santri’ by Ahmad Sahal]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s