Silaturahim Dengan IPMI

Ini adalah yang sekalian kalinya saya bersilaturrahim dengan teman-teman sebangsa dan setanah air di Negeri Jiran Malaysia yang Indah ini [tapi masih Indah Indonesiah lah yau…hehe..]. Sebelum-sebelumnya, saya bersama teman-teman di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Universiti Teknologi PETRONAS [dikomandani Mas Agung Dewandaru] sering kali silaturrahim ke teman-teman Pekerja di Wilayah Negeri Perak Darul Ridzuan, Sebuah Negeri dimana kampus kami berada. Tepatnya di daerah Cilipin. Disini ada ribuan jumlahnya pekerja dari Indonesia. Dari sekedar sharing pengalaman, pengajian bareng, ikutan acaranya mereka, atau sekedar nyarik Bakso dan Pecel Indonesia yang dijual di bilangan Asrama Pakerja Indonesia situ. Mereka juga beberapa kali pernah kita undang datang ke kampus kami, di UTP. Pernah suatu hari, para pekerja Indonesia ini datang ke kampus dengan satu Bus Besar Penuh. Kita pengajian bareng, setelah itu Sepak Bola Bareng. He he… Seru Sekali. Kami anak-anak PPI UTP dilibas habis 10-0 oleh teman-teman Pekerja ini. Memalukan……. Kita juga pernah ngadain Buka Puasa Bersama di Mushola kampus kami. Sebaliknya kami pernah datang di acara Peringatan Maulid Nabi, Peringatan Hari Buruh. Yang berkesan adalah pas kami datang di acara Peringatan Hari Buruh. Seru dan rame sekali. Mereka ngadain acara Peringatan Hari Buruh ini kerja sama dengan Pekerja dari Vietnam yang disponsori Western Union. Berbagai perlombaan diadakan di acara peringatan hari buruh ini, yang paling seru adalah lomba joget dangdut dan jaipongan. Lomba joget ala kuis dangdut nya TPI jaman dulu ini tidak hanya diikuti Pekerja Indonesia, tapi juga Pekerja dari Vietnam.

Berbeda dengan yang sudah-sudah. Kali ini saya datang sendirian silaturrahim dengan teman-teman pekerja Indonesia yang menghimpunkan diri dalam Organisasi bernama Ikatan Pekerja Muslim Indonesia (IPMI) Cabang Bangi di Negeri Selangor Darul Ehsan, Sebuah Negeri dimana kampus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) berada. Acaranya Ilmiah banget, Seminar Pengurusan Jenasah. Sesuai judulnya, seminar seharian penuh ini mengulas Fiqhiyah sekaligus praktek tata cara pengurusan jenasah. Mulai dari Memandikan, Mengkafani, sampai menguburkan Si Mayit. Seminar ini mengingatkan saya, suatu saat kematian adalah sebuah keniscayaan. Lumayan, saya dibayarin gratis sama salah satu kawan saya, dapet Sijil [baca sertifikat], dapet snack dan makan gratis [huah…], dan yang paling membahagiakan adalah dapat teman-teman baru banyak sekali.

Dari silaturrahim dengan teman-teman Pekerja Indonesia ini, mind set saya jadi berubah. Dulu saya [dan most of teman-teman pelajar Indonesia di Malaysia] mengira yang namanya TKI/TKW itu identik dengan yang udah bapak-bapak, emak-emak, ndeso katrok, mudah dibodohin, dan norak. Sebuah stereotip negatif yang ternyata tidak benar. Karena stereotip yang ndak bener ini, banyak teman-teman pelajar yang gengsi berjumpa apalagi bergaul dengan TKI/TKW yang tidak lain dan tidak bukan adalah rekan sebangsa dan setanah air. TKI/TKW ini ternyata masih muda-muda, kebanyakan adalah baru lulusan SMA, banyak yang cerdas, cantik dan ganteng.

Dari silaturrahim ini saya jadi tahu banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi teman-teman Pekerja. Baik permasalahan yang disebabkan oleh teman-teman Pekerja Sendiri, Maupun permasalahan karena kedzaliman orang lain. Banyak lowh ternyata Pekerja Indonesia di Malaysia itu yang [maaf] melacurkan diri, yang hamil bahkan melahirkan di luar nikah, itu sudah menjadi rahasia umum. Ada juga pekerja yang berbulan-bulan tidak digaji oleh Majikanya. Ada juga yang Asuransi dari Kilang [baca: pabrik] tempat mereka bekerja tidak diberikan. Pernah ada kasus, seorang pekerja kehilangan telapak tanganya karena kecelakaan kerja, tetapi perusahaan tidak mau memberikan asuransi. Dan 1001 permasalahan lainya. Dimana seharusnya kami para Pelajar Indonesia disini mau membuka mata dan hati untuk peduli dengan permasalahan mereka.

Dari silaturrahim ini saya juga belajar banyak dari mereka. Terutama tentang arti kedisiplinanan. Luar biasa, mereka kalau mengadakan acara benar-benar Ontime. Mungkin karena terbiasa kedisiplinan yang diterpakan di kilang nya masing-masing. Pernah suatu saat kita mengundang mereka datang di acara kami, pukul 16.00. Mereka semua datang tepat waktu jam 16.00 kurang 15 menit, sementara kami teman PPI UTP, yang punya acara belum satu biji pun yang datang. Teman-teman PPI bahkan baru datang sekitaran jam 18.00. Saya yang juga pengurus PPI UTP ini malu banget setengah mati. Gimana ndak malu, seseorang yang mengaku kaum intelektual, kaum terpelajar. Tapi tidak menghargai arti kedisiplinan. Huh……..

*IPMI (Ikatan Pekerja Muslim Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s