Cara Cerdas Lestarikan Budaya Daerah : Presentasi Tugas Kuliah dengan Dress Code ‘Cak&Ning’ dan Bahasa Daerah

Disaat bumi yang kita tempati ini terasa semakin flat [baca: datar], karena transfer informasi dan knowledge [baca: pengetahuan :p] yang tanpa kelim dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang secara massive dan sporadis, mengakibatkan budaya umat manusia semakin menjadi ‘budaya global’, budaya one for all , satu untuk semua. Hal ini mengakibatkan keberadaan budaya dan ‘local heritage’ kearifan lokal  nyaris mati klepek-klepek , mengenaskan sekali.

Keadaan ini diperparah lagi dengan nalar salah kaprah dalam memaknai arti modernitas dan kemajuan [terjemahan dari : ‘advancement’] yang menghinggapi sebagian besar kepala bangsa kita [baca: Indonesiah :p] , terutama di kalangan anak muda. Dalam nalar salah kaprah ini, pokoknya segala yang berbau kebarat-baratan, keinggris-inggrisan, kebule-bulean itu dianggap Modern dan Maju. Sebaliknya, yang kedaerah-daerahan, kendeso-ndesoan itu dianggap KATROK dan ketinggalan jaman. Sehingga jangan heran kalo melihat mbak Tukiyem, ABG yang sukses jadi TKW di Malaysia itu, ketika balik kampung show off  dengan pakek hot pan, baby t-shirt, rambutnya dicat pirang -sangat kontras dengan warna kulitnya yang item mbulak :D, sambil sok sibuk facebookan dengan HP Nokia keluaran terbaru, berlenggak lenggok di sepanjang jalan kampung halamanya. Dan orang2 kampung pun hanya bisa memuji :

“Alhamdulilah nduk, sampean wes sugeh, wes sukses saiki . Tapi, Iku susu mu opo ndak loro to nggawe kaos koyok ngono kuwi” [baca: Alhamdulilah nak, kamu sudah kaya, sudas sukses sekarang. Tapi itu susu kamu apa ndak sakit pakek kaos seperti itu]

Permainan-permainan tradisional masa kecil saya seperti gedrik, gobak sodor, lot-lotan, mur-jamuran, dakon, pal-palan, cim-ciman, petak umpet, kelereng mungkin sekarang sudah tidak dikenal oleh anak-anak jaman sekarang bahkan di kampung sekalipun. Semua itu sekarang tinggal menjadi romantisme sejarah permainan anak-anak desa masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam oleh permainan-permainan baru ala PS (baca: Play Station).

Saya juga yakin sekali anak-anak sekarang banyak yang ndak ngerti, ndak pernah merasakan makanan macam botok sembukan, botok tawon, pelas teri, pepes, sambel korek, urap-urap, jenang sumsum, jenang grendul, jenang abang, dll. Semua makanan itu juga mengalami nasib yang sama, kini tinggal menjadi romantisme sejarah makanan tempoe doeloe mati ditindas oleh Pizza Hut, Burger, Spaghetti, Hoka-hoka Bento, dan makanan sejenis nya itu lah.

Lagu daerah juga, seperti ‘kodek ngorek’, ‘si kancil anak nakal’, ‘gotri ala gotri’, berikut dongeng-dongeng masa kecil kita seperti ‘Si Kabayan’, ‘Si Kancil’, ‘Dewi Sri’ , dll. Sekarang mungkin sudah di musiumkan di negeri antah berantah.

Bahasa juga mengalami nasib yang sama, bahasa indonesia saja dah keinggris-inggrisan, apalagi bahasa daerah. Jangan heran meskipun bapak nya asli Tulung Agung, Ibuk nya asli Wonogiri [terus ketemu di Jakarta] tetapi anak-anak nya ndak ada yang bisa bahasa Jawa. Jangankan Bahasa Jawa Kromo Inggil, Boso Jowo Ngoko kasar saja ndak bisa. Tidak hanya yang tinggal di kota saja, anak kampung di daerah pun saat ini sudah ndak PD dengan bahasa daerahnya. Suatu hari di satu kampung ndueso banget seorang nenek memuji kecantikan cucu nya yang ndak sekolah ke sekolah [SD,red].

“duh nduk… ayu tenan putu ku iki…!! [duh nak, cantik benar cucu ku yang satu ini] ” kata si nenek.
” Oh Mai Got…. si embah negh gimana sech. Ya eya lah mbah, plis deh…..secara anak abah dan umi gt, bukan anak si mbah, mbah ni dah jelek ndak gaul pisan…” kata si cucu.
” Oalah nduk sampean iki omong opo to, aku ora dong [oalah nak, kamu tu ngomong apa seh, aku ndak paham]” kata si Nenek.

[hua ha…..dasar anak jaman sekarang, ndak ngerti adat dan sopan santun].

Hoo ho…
kalo kita renungkan, bangsa ini memang sungguh keterlaluan. Lahwong, jelas-jelas budaya kita ini di jajah, mind set kita ini di jajah, makanan dan bahasa kita pun dijajah oleh budaya dan makanan asing,  tetapi  kita justru bangga dengan budaya dan segala yang datang dari asing. Kita jauh lebih bangga nongkrong di Star buck, Pizza Hut, Mc D, Hok. Ben, KFC, susi, dll. ketimbang di Warkop nya Mbok Darmi ato Ayam goreng nya Ny. Suharti.
Seharusnya kita baru merasa bangga, kalo ‘botok sembukan’ dan ‘pepes kadal’ kita mampu menembus pasar di Jepang, di Inggeris, Jerman, ato Amrik.

Nalar yang salah kaprah itulah yang semestinya harus kita ubah. Jangan sampai kita sebagai sebuah bangsa besar, akan tetapi kehilangan identitas dan jati dirinya. Sebuah bangsa yang bangga dan tetap berpegang teguh dengan budaya lokalnya pun terbukti mampu berjaya di pergaulan antar bangsa, Lihat saja Jepang !!

****
Ngomong-ngomong tentang budaya daerah, ada cara cerdas dan unik dari dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, agar mahasiswanya cinta, bangga, dan mau melestarikan daerah nya.

Adalah di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya. Di kampus teknik ini, untuk presentasi Tugas sebuah mata kuliah bernama Perancangan Kamar Mesin II (PKM II) semua mahasiswa nya diwajibkan memakai pakaian khas asli Surabaya ‘Cak dan Ning’. Dresscode ini harus dipakai lengkap saat presentasi,  yang cowok harus memakai  beskap, blangkon , dan aksesorisnya. Sedangkan yang cewek harus pakek pakain ‘neng’ surabaya lengkap dengan selendang nya. Tidak hanya memakai pakaian khas suroboyoan, Mahasiswa juga diminta mempresentasikan dalam bahasa daerah nya masing-masing seperti Bahasa Jawa dan Madura. Tetapi biar ndak terkesan anti-asing, sometime mahasiswa diminta presentasi dalam bahasa Inggeris. Lucunya, ternyata kebanyakan mahasiswa justru lebih lancar presentasi dalam bahasa Inggris ketimbang menggunakan Bahasa Daerah nya sendiri.
Ha ha……………….

Ayo Rek !! Kita Lestarikan Budaya Kita Sendiri, Kalau bukan kita siapa lagi?
“Monggo….. Tresno…. Budoyo……!!” [baca : Mari Cintai Budaya Kita]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s