Ronggeng Dukuh Paruh

Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Ahmad Tohari
[start of kutipan]
***
Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang. Sepasang burung bangau itu takkan menemukan genangan air meski hanya selebar telapak kaki. Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya.

Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah-payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong
ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.”

Tiga ujung kulup terarah pada titik yang sama. Currrr. Kemudian Rasus, Warta dan Darsun berpandangan. Ketiganya mengusap telapak tangan masing-masing. Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan di punggung menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.

Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang, ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang
merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kekanak-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
***
[end of kutipan]

Subhanallah….Novel ini buagus banget. Novel terindah yang pernah saya baca.
meski baru beberapa halaman saya baca, saya langsung FALL IN LOVE.

Novel ini begitu indah mendeskripsikan latar Dukuh Paruh, yang seolah membuka kembali lembar demi lembar ingatanku akan masa kecil saya yang Indah di kampung saya 20 tahun yang lalu. Meskipun dukuh saya bukan Dukuh Paruh yang dibicarakan Novel karya Ahmad Tohari ini. Akan tetapi saya pernah melihat, mengalami, dan merasakan hal-hal yang sama yang dideskripsikan dengan sangat Indah.

“Kerokot”
mungkin hanya anak yang bener-bener pernah tinggal di kampung yang tau jenis tanaman rumput satu ini. Saya dulu bersama teman-teman di kampung abis sekolah (baca: SD) suka pergi ke batu-batuan deket sungai nyarik jangkrik. terus kita pelihara di rumah, supaya kalo malam besi “ngerik”. nah makanan satu-satu nya jangkrik itu ya “kerokot” tadi.

“gembala kambing”
istilah jawanya “Angon Wedus”. meskipun saya ndak pernah punya kambing. tapi saya sering nemenin teman2 saya “angon wedus” di sawah bareng teman2 sehabis sekolah. Saya pernah pengen banget punya kambing kayak teman2 yang lain, tapi Bapak tidak pernah mengabulkan keinginan itu.

“Bikin Mahkota dari Daun Nangka”
hua ha… ini yang paling lucu dari masa kecil saya. dulu jaman saya kecil kita sesama anak-anak kecil seusia SD suka ngumpul bareng, cowok cewek, tumplek blek jadi satu. kalo lagi ngumpul gitu jumlahnya bisa hampir seratusan orang. Bisa kebayangkan ramaenya. Terus biasanya kita suka maen teater2an. Nah salah satu aksessoris untuk teater2an tadi adalah… Mahkota dari daun nangka yang disambung2in pakek lidi.

Membaca Novel ini saya jadi kangen dengan masa kecil saya Indah, kangen dengan teman2 sepermainan dulu yang sekarang ndak tau entah kemana rimbanya. Meski masa kecil kita selalu bersama, ternyata kita memiliki garis takdir yang berbeda. Saya rindu suasana kampung saya seperti dulu.

Kampungku kini benar2 berbeda, saya sudah tidak menemukan suasana masa kecilku itu sama sekali. mungkin karena pengaruh Televisi keadaanya bener2 berubah. saat ini di kampung saya, sudah ndak ada ceritanya anak-anak kecil pada ngumpul, main permainan tradisional bareng, apalagi “angon wedus”. Wes bener2 sudah lenyap. Anak-anak di kampung saya sekarang sudah hidup nafsi-nafsi, pulang sekolah pada nongkrong di depan TV rumahnya masing2.

Cerita2 indah masa kecil saya itu sekarang tinggal kenangan, yang tidak mungkin aku lihat kembali, kampungku dah berubah. Rumah-rumah di kampung saya pun sekarang pagar rumahnya sudah tinggi-tinggi. Pakek di gembok lagi. Sebuah simbol “INDIVIDUALISM” dan “MATEARIALISM” sudah menggeroti kekayaan budaya local di kampung-kampung. ” So Sorry To Hear That”.

Novel ini seolah2.. mendokumentasikan dengan cantik dan baik masa2 kecil saya. Buat sampean2 yang pernah mengalami masa kecil di desa, di kampung. Tak jamin 100% pasti senang sekali baca Novel Ini.

Untuk yang belum baca, ada versi PDF nya lowh. Silahkan diunduh di:
http://prabu.files.wordpress.com/2008/02/trilogi-1-ahmad-tohari-ronggeng-dukuh-paruk.pdf

Selamat Membaca !!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s