Opini : Menjaga Nilai Budaya

Oleh Khofifah Indar Parawansa
[taken from dutamasyarakat.com, 20-12-2008]

Setiap tanggal 22 Desember, kita memperingati Hari Ibu. Terkait dengan itu, dalam gambaran kita adalah peran-peran penting yang harus diyahati seorang perempuan. Sesungguhnya menjadi akar dari persoalan bersama tentang kondisi masyarakat kita, adalah peran keibuan perempuan. Perempuan mempunyai peran penting dalam menjaga nilai-nilai budaya. Sebab, pada umumnya perempuan mengajarkan nilai luhur budaya dan kearifan lokal kepada anak dan cucunya. Namun, untuk menurunkan nilai luhur budaya itu, perempuan harus mempunyai kualitas hidup yang optimal, yaitu perempuan dengan pengetahuan, kesehatan, dan kemampuan ekonomi yang optimal.

Tanpa kualitas yang optimal, maka perempuan tak akan mampu mempertahankan nilai budaya dan kearifan lokal yang baik. Kualitas perempuan saat ini masih harus ditingkatkan. Ketertinggalan perempuan terjadi karena antara lain, konstruksi sosial budaya patriaki, penafsiran ajaran agama yang masih bias jender, peraturan perundangan, dan kebijakan belum berpihak kepada perempuan, serta masih terjadinya praktik diskriminasi terhadap perempuan yang merugikan tidak hanya perempuan, namun dalam konteks yang lebih luas, yaitu segi ekonomi dan pembangunan nasional.

Untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan, Muslimat NU, misalnya, telah melakukan usaha-usaha antara lain, penyetaraan jender dalam semua tahap pembangunan, meningkatkan kualitas hidup dan melaksanakan perlindungan perempuan serta kesejahteraan anak, menggalang masyarakat agar mendukung kesetaraan dan keadilan jender dalam masyarakat, serta meningkatkan keterlibatan perempuan dalam politik praktis.

Seperti pernah menjadi cita-cita kita ketika menangangi Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, ada harapan ke depan perempuan Indonesia lebih berdaya dan meningkatkan kemandiriannya sehingga perempuan akan menjadi aset dan potensi, serta agen perubahan dalam pembangunan nasional, bukan menjadi beban dan hambatan bagi pembangunan nasional. Sayangnya, perempuan masih menghadapi berbagai tindakan dan sikap diskriminasi dan marginalisasi di masyarakat.

Diskriminasi jender merupakan bentuk perbedaan perlakuan berdasar alasan jender, seperti pembatasan peran, penyingkiran atau pilih kasih yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas pengakuan hak asasinya, persamaan laki-laki dan perempuan maupun hak dasar dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

Marilah kita cermati problem yang kita hadapi bersama ini, diskriminasi dapat berupa marginalisasi (peminggiran), subordinasi (penomorduaan), stereotipe (citra buruk), dan kekerasan. Menurut aktivis perempuan Sri Wahyuningsih SH MPd dalam sebuah seminar Diskriminasi Jender di Universitas Brawijaya, belum lama ini, terdapat dua aliran tentang seksualitas yaitu essensialism dan social constructionism. Kelompok essensialism menurutnya meyakini bahwa jenis kelamin, orientasi seksual, dan identitas seksual sebagai hal yang bersifat terberi dan natural sehingga tidak dapat mengalami perubahan.

Sedangkan pandangan social constructionism menyatakan, jenis kelamin, orientasi seksual dan identitas jender adalah hasil konstruksi sosial. Indonesia, menurut Sri Wahyuningsih, menganut pandangan essensialism, yang sejalan dengan ajaran agama dan budaya dimana kelompok Diskriminasi yang paling kentara adalah dalam hal mendapatkan pekerjaan, akses keadilan, serta pemilihan pasangan.

Di sinilah kita mengajak kalangan muda di Jawa Timur, sebagai bagian penting dalam membangun Indonesia, untuk terlibat aktif mengawal demokrasi yang jujur dan adil serta mencegah cara-cara kotor dan curang dalam meraih kekuasaan. Saya minta kalangan muda untuk turut aktif menegakkan demokrasi yang jujur dan adil. Kalau ada gerakan-gerakan yang diprakarsai kalangan muda, saya kira bangsa ini akan membaik.

Masa depan kita, berada di tangan para pemuda saat ini. Roda ini akan terus berputar. Pada saatnya, adik-adik dan sahabat-sahabat semua dari generasi muda, yang akan mengganti yang tua saat ini.

Untuk bisa menjadi pemimpin masa depan yang baik, kita perlu bertahan dengan kuat menjaga idialisme dan tak mudah terbeli oleh kepentingan sesaat yang merusak citra diri sendiri. Sayangnya, di antara kita saat ini banyak yang tak tahan miskin. Saya ini pernah jadi menteri, kepala BKKBN dan Wakil Ketua DPR. Karena itu, banyak yang tanya, Apakah benar rumah Khofifah seperti ini, mobil Khofifah itu ini . Dan, banyak yang tak percaya, kalau rumah saya ada di Jakarta ada di Gang Kecil.

Selama ini, saya tak pernah pernah mencari popularitas atau berangan-angan menjadi seorang pemimpin yang paling berpengaruh di negeri ini. Dalam melakukan sesuatu, saya tak bertujuan menjadi orang yang populer atau punya pengaruh kuat. Saya sendiri kaget ketika dengar saya masuk sebagai salah satu pemimpin muda yang punya pengaruh di Indonesia. Penyelenggaranya, Majalah Biografi Politik, memilih 15 pemimpin muda paling berpengaruh tahun 2008, pekan lalu. Tokoh yang dipilih berusia di bawah 50 tahun dan memimpin suatu organisasi.

Sejak muda muda saya memang aktif di berbagai organisasi. Namun, apa yang saya lakukan saat berkecimpung pada organisasi-organisasi tersebut didasarkan pada keinginan mengabdikan diri kepada masyarakat. Saya ingin apa yang saya bisa, bisa tersalurkan untuk masyarakat melalui organisasi.

Di Muslimat NU, bersama aktivis perempuan lainnya, kita banyak melakukan program-program kegiatan yang menyentuh langsung pada permasalahan umat, mulai dari penghapusan buta aksara, pendidikan ketrampilan hingga pengentasan kemiskinan. Namun, itu semua bukan karena ingin menjadi orang yang berpengaruh. Apa yang saya lakukan bersama teman-teman tentu orang lain yang menilai. Ya saya serahkan kepada publik, apa penilaian mereka tentang saya.

Semoga kita bisa menarik pelajaran dari banyaknya rintangan dan hambatan. Kerja keras dan tetap berikhtiar untuk memberdayakan diri dan masyarakat, menjadi tekad kita bersama dengan kemajuan bangsa kita. []

Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum (nonaktif) PP Muslimat NU, Calon Gubernur Jawa Timur 2008-2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s