“Indahnya sebuah Kesederhanaan” : Aini Wedding Party

Pernikahan saudari saya, Si Cantik nan Baik Hati, Nurul AINI binti Mohamad Nordan.
dengan belahan separuh jiwanya, Khairul AZMI bin Samiri.

AINI adalah kawan dekat saya. Selain karena course mate kita ngerjakan riset di area yang sama : Knowledge Managemet, dengan Supervisor, Co-Supervisor 1 dan Co-Supervisor 2 yang sama.

Ini adalah kali kedua saya menghadiri “walimatul ‘urs” pernikahan
coursemate selama di Malaysia. Ada satu hal yang menurut saya sangat penting untuk saya teladani dari resepsi pernikahan teman-teman Malay yang saya hadiri. yaitu : “KESEDERHANAAN” satu hal yang menurut saya semakin hilang dari budaya bangsa Indonesia, kecuali jika kesederhanaan itu sebuah keniscayaan bukan sebuah pilihan.

Seperti acara pernikahan ‘ala-Malay’ sebelum2nya yang pernah saya dan kawan-saya hadiri, ini juah dari kesan MEWAH apalagi GLAMOUR seperti lazimnya acara ‘wedding party’ kawan-kawan di Indonesia.

pun demikian, tak menghilangkan kesan ‘keindahan’ dan aura kebahagiaan yang terpancar dari ‘wedding-party’ kawan-kawan Malay. Justru saya melihat ke indahan yang sungguh sempurna dibalik kesederhanaan ini.

1. Tempat ‘Wedding Party’
biasanya kalo punya halaman rumah sendiri yang luas, mereka tak perlu susah payah menyewa gedung, apalagi sampai di hotel. Beberapa tenda biru saja sudah cukup.
2. Acara Pernikahan.
ndak perlu pakek acara siraman kembang segala. cukup setelah sehari sebelumnya akad nikah , hari itu diadakan acara resepsi pernikahan atau walimatul ‘urs atau Majelis Jamuan Makan dimana pada hari itu semua undangan hadir. Biasanya di Mulai pada waktu jam makan siang sampek waktu sholat ashar. Undangan, keluarga besar pengantin laki, keluarga besar pengantin perempuan, dan kedua mempelai makan bersama diiringi lagu-lagu Melayu.
3.Jamuan Makan
Berbeda dengan pesta pernikahan kawan2 di Indonesia dimana hampir semua makanan yang enak se Nusantara ada. disini, makanan yang disajikan benar-benar tidak ada yang spesial. sama dengan makanan sehari-hari. bak “Sego Jangan” nya wong Jowo. Daging, Ayam, Teri, Cs. Kita makan bareng di meja bundar dengan kursi-kursi yang disusun melingkar. dan sebagaimana adat orang Malay mereka lebih suka makan pakek tangan telanjang, ndak pakek sendok, garpu, apalagi pisau? setelah itu pulang.
4.Invitee Appearance
berbeda dengan kawan-kawan di Indonesia kalo datang ke acara nikahan banyak yang pakek ‘TOPENG’ . [terutama teman2 cewek] harus pakek pakaian paling “wah”, bahkan harus pesen baju baru spesial just for dipakek untuk acara nikahan itu. Kawan-kawan undangan di Malay cukup pakek Baju Kurung dan Baju Koko Melayu plus kain samping. Baju kurung lebar bermotif bunga-bunga lebar warna ngejreng, yang seingat saya di Indonesia itu baju era 80 an.
5. Tidak ada Pelaminan?
Pelaminan lazimnya pernikahan di Indonesia, adalah hal paling central di setiap acara nikahan bahkan simbol pernikahan itu sendiri. Anehnya di Malay pelaminan bukanlah sesuatu yang dipajang untuk undangan dan publik yang hadir. Pelaminan adalah ruangan private mempelai berdua dan keluarga. Pelaminan disembunyikan di dalam rumah, bahkan di dalam kamar.

SO WHAT?
mungkin, teman-teman ada yang berfikiran kalo teman-teman Malay itu KATROK, NDESO, ndak MODERN dan perasangka bernada sinis negatif lainya. Menurut saya TIDAK. menurut saya Kawan-kawan Malay itu memang memilih [bukan keniscayaan] “KESEDERHANAAN” as their Way Of Life dan Bangga serta sebisa mungkin mempertahankan budaya Melayu mereka sendiri.
Berbeda dengan Bangsa kita yang memilih “GENGSI GEDE-GEDEAN” sebagai way of Life. Segala yang “Kebarat-baratan” itu dianggap Modern dan Bergengsi. Bahkan tetangga saya di kampung pun rela ngutang berpuluh juta-juta rupiah untuk memaksakan diri mengadakan PESTA MEGAH pernikahan anaknya. Teman perempuan di kampung saya pun berani ngutang untuk beli baju dan Tas baru yang “whuah…” yang dipakek khusus untuk KONDANGAN. yang hidup susah aja pola hidupnya begitu, apalagi teman-teman di Kota Besar dengan ekonomi yang Mapan?

Padahal kalo kita lihat Pendapatan perkapita, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pertumbuhan ekonomi MALAYSIA itu jauh lebih tinggi dari INDONESIA. di banyak aspek kita juga ketinggalan jauh dengan MALAYSIA. tetapi kalo udah masalah GENGSI kita tidak pernah mau kalah…. mungkin itulah sebabnya kita menjadi Bangsa yang paling KONSUMTIF di dunia hi hi…..

Ayolah kawan, kita pilih KESEDERHANAAN sebagai Life Style kita.

Dewan Bandar Baru Salak Tinggi, Sepang, SELANGOR
MALAYSIA
13 Desember 2008 / 15 Dzulhijah 1429 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s