what I called it : “The Romanticism Of Brotherhood”.

“………., mungkin Sampeyan akan mengatakan saya terlalu romantis, tapi sungguh, saya sangat merindukan keakraban seperti dulu, di mana masing-masing kita masih hanya manusia-manusia yang tak terkalungi atribut-atribut. Sampeyan bebas menegur saya dan saya tak merasa sungkan menegur Sampeyan. Karena keikhlasan lebih kuat dari pada rasa rikuh dan sungkan. Dan ternyata keikhlasan persahabat pun dapat dikalahkan oleh keperkasaan waktu. Sejak Sampeyan dikhianati oleh orang-orang yang dulu Sampeyan percayai mendukung Sampeyan (bahkan waktu saya peringatkan, Sampeyan malah menasehati agar saya jangan su-uddzan kepada orang) dan akhirnya melalui mereka, Allah membebaskan Sampeyan dari beban berat yang Sampeyan pikul sendirian, saya sebenarnya sudah berharap masa keakraban itu akan kembali.

Namun ternyata harapan itu justru terasa semakin jauh. Kini saya bahkan seperti tak mengenali Sampeyan lagi…………………………………………”

bait diatas adalah penggalan surat dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang sangat dirindukanya. yang karena kesibukan nya masing-masing mereka sudah lama sekali tidak bisa saling ketemu.

surat itu ditulis oleh Gus Mus  aka KH Mustofa Bisri kepada sahabat lamanya Gus Dur
aka KH Abdurahman Wahid. dengan maksud merindukan sosok yang dianggap selalu demokrat, egalitarian, dan romantis yang dibangun sejak kuliah dimesir, berubah legal-formal lantaran jarak kekuasan, yang menurutnya mengurangi keakraban antara keduanya. Dengan sangat indah ia menulis kata-kata, layak orang kasmaran dan tak lupa diselah-selah kalimat romantisnya menyelipkan pesan agar orang disayangi itu tidak terjebak pada bithanaah lantaran ia berpandangan tokoh sebesar Gus Dur pasti akan dikerumuni banyak orang yang mempunyai kepentingan untuk diri sendiri.

surat tersebut dibukukan dalam salah satu bukunya Gus Mus: GUSDUR GARIS MIRING PKB. yang sempet saya baca dari halaman awal sampek terakhir di toko buku gramedia MATOS Malang bareng my brother tanpa harus membeli, …yang karena males keluar duit juga karena bukunya ndak tebel -cuman seratus halaman ++ – beberapa bulan yang lalu.

Dulu saya merasa aneh, kenapa yach.. saya terkadang kangen banget dengan beberapa sahabat saya, dan kalau ketemu itu kayak saudara sendiri. sangat akrab bahkan terkadang lebih dari saudara sendiri. Saudara yang akan mengingatkan jika saudaranya lupa… Saudara yang akan meluruskan kembali jika saudaranya salah…. Saudara yang tetap mesra dan romantis meski sering berbeda pandangan dan pendapat.

“Mesra dan Romantis” antara sahabat dengan sahabat. antara lelaki dengan lekaki.
mungkin bagi beberapa orang adalah sesuatu yang “WEIRD”.

Tapi ternyata seorang tokoh sekaliber Gus Mus pun pernah merasakan what i called it :
“The Romantism Of Brotherhood”.

^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s