Mengapa saya harus kecewa? : satu rasa yang tertinggal dari PILKADAL JATIM.

Sebelas Nopember Dua Ribu Delapan.
tepat sehari setelah hari pahlawan di kota pahlawan yang sedang berawan.
hari itu terjawab sudah teka teki hasil Hingar Bingar sebuah PESTA demokrasi / menghamburkan MILYARAN duit.. rakyat Jawa Timur yang pertama kali dipilih langsung oleh rakyat aka biasa disebut PILKADAL (kadal kalee…) dengan pasangan KARSA (Soekarwo + Syaifullah Yusuf) keluar sebagai ‘pemenang’.

” Ich… Karwo? muales banget dech… ” hati kecil saya berkelit.

lowh kenapa saya mesti kecewa?

seorang teman pernah bilang kepada saya,
” Ach saya mach ndak peduli, siapa yang mo jadi gubernur JATIM mo KAJI ato KARWO ndak ngefek ke hidup saya, saya ndak bakalan tambah kaya / sejahtera jika salah jika KAJI ato KARWO ato sapapun yang menggantikan sebagai gubernur jatim yang baru”.

seorang teman yang lain juga pernah bilang kepada saya,
” Wuich.. ojo sampek KAJI menang rek, Iso rusak jawa Timur”.

Jadi, rasanya sangat wajar jika saya mengungkapkan rasa kekecewaan, yang tertinggal dari PILKADAL JATIM.

terlepas dari segala macam bentuk kecurangan sebelum, saat, dan sesudah pencoblosan. yah.. begitulah hasil dari ikhtiar mencari pemimpin Jatim terbaik ini.
yang jelas memupuskan harapan besar saya untuk membuka lembaran baru yang progresif dari sejarah Jawa Timur, melayangkan impian saya Jawa Timur dipimpin oleh seorang Figur yang selama ini sangat saya kagumi: kepribadian, kiprah, perjuangan, dan pengabdianya.
Seorang yang memiliki singgungan sangat besar secara kultural, ideologis, dan idealisme nya terhadap saya.
dengan Gubernur baru yang terpilih ini, terus terang secara pribadi saya sangat pesimistis untuk tidak mengatakan hopeless.


KHOFIFAH INDAR PARAWANSA
saya biasa memanggilnya dengan sebutan ‘Mbak Fifa’. beliau adalah salah satu dari dua orang Figur kekinian (Setelah eranya Gus Dur dan Cak Nur) Jawa Timur yang saya kagumi . Satunya adalah Pak Nuh (Muhammad Nuh DEA). Saya kagum kepada beliau berdua ini, tidak sekedar sebagai secret admirer , but I wanna To Be and I wanna Follow their foot steps in my future time.

awal saya mengagumi beliau berdua pada tahun 1999, saat awal-awal kelas satu saya sekolah dan nyantri di STM Telkom Darul Ulum, Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang Jawa Timur. Ketika teman-teman sekelas saya sedang gandrung dengan Krisdayanti dan Ahmad Dhani, saya sangat menggandrungi Mbak Fifa – yang saat itu baru saja diangkat sebagai Menteri Pemberdayaan Wanita nya Gus Dur- dan Pak Nuh – yang saat itu sebagai direkturPoliteknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang heboh karena baru saja berhasil memenangkan juara I kontes robot se-asia pasifik.

walaupun sudah lama kiprah mengikuti beliau melalui pers media, tapi baru
pertama kali ketemu langsung dengan P Nuh ketika suatu saat sekolah kami mengadakan kunjungan Studi Kunjungan ke PENS – ITS. Sangat berkesan, karena kami diterima langsung oleh P Nuh di tearter PENS dengan sambutanya yang khas. Inspiring words nya mengalir begitu mudah diterima dalam kemasan khas guyonan ke- Jawa Timuran – NU – an.

sedangkan pertama kali bertemu langsung mbak fifa, baru tahun 2004. Saat kampanye legeslatif di Surabaya dalam kapasitas beliau sebagai Ketua BAPPILU PKB (Badan Pemenangan Pemilihan Umum- Partai Kebangkitan Bangsa). saya rela berangkat sendirian, bolos kuliah (masih kuliah di ITS), dan berpanas-panas ria, berdesak-desakan dengan para Tukang Becak hanya untuk bertemu dengan sang Idola. but, really-really excited. Kepiawaianya berorasi diatas panggung sangat luar biasa, gagasan-gagasan cerdas dan kritis beliau kemas dalam bahasa yang sangat mudah dipahami oleh audience yang most of them adalah para konstituent PKB: nahdliyin yang ter-marginal-kan, dengan gaya khas beliau, gaya khas Ibu-ibu ‘Muslimat’ NU.

” Mosok to Pak Buk Sampean gelem dipimpim maneh, karo pemimpin sing senengane meneng?”
“Rakyate sing dadi TKW nang Malaysia diplekoto……., meneng”.
“Rakyate omahe digusur………,meneng”.
“Wong Tani njerit mergo harga pupuk melangit………,yo isone cuman meneng”.

[cuplikan gaya orasi beliau, mengkritik kebijakan MEGAWATI saat itu]

Ada beberapa hal yang saya kagumi dari beliau berdua ini, sehingga beliau ini begitu istimewa di mata saya:
1.Figur Kebersahajaan.
Dalam kapasitas beliau berdua yang jika mau semua kemewahan hidup dapat direngkuh.
tetapi kebersahajaan adalah pilihan gaya hidup mereka. Pak Nuh dimanapun selalu nampak humble dengan senyumnya yang dijual murah [baca: murah senyum] wajah dan penampilanya yang kalem. Dengan pakaian batik kesayanaganya yang jauh dari kesan mewah, apalagi glamour.
12 13 dengan Pak Nuh, Mbak Fifa juga jauh dari kesan mewah, apalagi glamour gaya hidup. Pakaian muslim sederhana dengan Jilbab khas Ibu2 muslimat dan senyumnya yang manis menjadi perhiasan kebershajaanya dalam memilih gaya hidup.
keduanya jauh dari kesan Elitis yang Angkuh dan Royal. Tetapi sorot tajam matanya tidak menafikan kalau beliau berdua adalah sosok yang cerdas.

2.Jiwa Pengabdian.
Untuk ukuran orang secerdas beliau berdua, bukanlah hal sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang wah dengan gaji yang berlimpah ruah, apalagi keduanya lulusan PTN yang sangat diperhitungkan di Nusantara ini. Tetapi sama sekali bukan ambisi beliau berdua hidup hanya untuk memperkaya diri dan keluarga mereka sendiri. Keduanya memilih mengawali karir dengan mengabdikan dirinya sebagai dosen, yang saat itu sangat sedikit untuk mengatakan tidak ada yang tertarik menjadi dosen.

3.Kepedulian dengan orang-orang disekitarnya: Aktivis Islam, Sosial, Pendidikan, Kemasyarakatan.
Ditengah kota yang materialistis, dimana INDIVIDUALISME sangat dijunjung tinggi. tetapi beliau berdua bukanlah sosok yang merasa nyaman dengan dunia nya sendiri. Spirit untuk berkontribusi buat orang-orang di sekitar beliau mendorong beliau tidak hanya peduli, tetapi juga terjun langsung membangun masyarakatnya. Masalah agama, pendidikan, dan socio-economics masyarakat: masyarakat ‘kaum mustadhafiin’ yang termarginalkan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Karena itulah Mbak Fifa sangat aktif berjuang lewat MUSLIMAT NU, lewat DPR, yayasan pendidikan ‘Khadijah’ nya, dll.
Pak Nuh pun aktif di PCNU Surabaya, di yayasan dana sosial Alfalah, ICMI, yayasan-yayasan pendidikan Islam : Al-Azhar, dsb.


Setelah gagal ikhtiar berjuang lewat Gubernur:
Saya yakin Tuhan Yang Maha Merencanakan. saya dulu sempat kecewa, ketika Pak Nuh gagal terpilih kembali sebagai Rektor ITS. tetapi rupanya amanah baru sedang menunggu beliau karena kapasitas beliau yang lebih besar dari sekedar menjadi Rektor ITS.
Saya juga yakin, Tuhan memiliki rencana lain untuk Mbak Fifa karena kapasitas beliau yang lebih besar dari sekedar menjadi Gubernur Jawa Timur. RI-1 atau RI-2 mungkin?
Wallahua a’lam ….

TERUSKAN PERJUANGAN !! Mbak FIFA!!
JANGAN PERNAH LELAH….
SEMAKIN MANTAPKANLAH KAKIMU MELANGKAH !!

^_^

Cak Shon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s