“Urip Mong Mampir Ngombe”* : kampanye u/ Kembali ke Budaya Hidup Sederhana By Gus Mus

*Hidup Cuman Mampir Minum

Musibah Berebut Berkah

Oleh A. Mustofa Bisri *

Ramadan mestinya merupakan bulan berkah. Tapi, kita dikejutkan oleh
suatu peristiwa yang memilukan sekaligus luar biasa aneh: 21 nyawa
melayang saat pembagian zakat. Musibah apa ini, ya Allah! Seorang
kaya di Pasuruan, yang agaknya tidak percaya dengan amil zakat mana
pun, mengundang para mustahiq zakat untuk diberi zakat. Melebihi BLT
(bantuan langsung tunai), orang-orang pun berbondong-bondong datang
dan berdesak-desakan mengambil zakat. Dan berakibat jatuhnya banyak
korban terinjak-injak.

Seperti biasa, beberapa tokoh agama langsung memberikan komentar. Ada
yang menyalahkan si orang kaya pemberi zakat. Bahkan, ada yang terang-
terangan menyatakan bahwa kejadian yang mengenaskan itu akibat si
orang kaya pamer kekayaan. Ada yang mengatakan bahwa kejadian
tersebut akibat orang tidak percaya dengan badan amil zakat yang ada.

Bagi kita yang terbiasa menyalahkan orang, sangatlah mudah mencari
kambing hitam. Kambing hitam dalam peristiwa tragis itu bisa si
orang kaya yang berzakat yang (niatnya mungkin tidak pamer, tapi agar
orang-orang kaya lainnya mau juga berzakat) tidak memperhitungkan
caranya; bisa mereka yang berebut zakat yang tidak sabaran; bisa para
tokoh agama yang seharusnya memberikan taushiyah kepada masyarakat
dalam soal keagamaan; dan sangat bisa pemerintah yang berkewajiban
dan berhak mengangkat amil zakat untuk menyejahterakan dan melindungi
rakyat.

***

Tapi marilah, mumpung masih berada di bulan Ramadan, setelah
menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada mereka yang
terkena musibah, mari kita merenung sejenak mencari akar masalah
mengapa terjadi musibah seperti di Pasuruan itu? Saling menyalahkan
atau hanya mencari kambing hitam terbukti tidak memecahkan masalah
dan sering justru hanya menambah permasalahan.

Siapakah mereka yang begitu bersemangat memenuhi undangan si orang
kaya itu? Mereka rata-rata adalah perempuan. Kaum ibu yang sehari-
hari dipusingkan oleh masalah dapur dan belanja kebutuhan keluarga.
Anak-anak di bulan puasa ini minta menu bukanya lebih enak daripada
biasanya.

Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok di pasar semakin tidak
terjangkau dan hari raya akan datang pula. Maka, anehkah bila
mereka begitu.

bersemangat menyambut undangan si dermawan sehingga
dibela-belain berdesakan untuk mendapatkan “berkah” zakat?

Kalau kita perhatikan, peristiwa seperti yang terjadi di Pasuruan –
atau peristiwa-peristiwa¬†berdesakan berebut “berkah” lainnya di
tempat-tempat lain- itu tampaknya mengiringi zaman di
mana “ketergantungan” masyarakat pada materi sudah sedemikian
mengerikan.

Kepentingan duniawi sudah menjadi “Tuhan” yang dapat menggiring orang
yang berakal melakukan hal-hal yang tidak masuk akal; membuat orang
terhormat mencampakkan kehormatannya; membuat orang beragama menjual
agamanya; membuat saudara tega terhadap saudaranya; dan sebagainya.

Peristiwa-peristiwa menyedihkan seperti itu tidak terbayangkan bisa
terjadi di zaman dulu di saat masyarakat masih menganggap hidup di
dunia ini hanya mampir ngombe, singgah minum sebentar. Di saat hidup
sederhana masih menjadi budaya yang dipujikan. Di saat pasar rakyat
masih belum dijuluki pasar tradisional yang harus mengalah dengan mal-
mal dan supermarket-supermarket. Di saat masyarakat belum dijejali
setiap hari oleh iming-iming TV agar menjadi konsumtif dan hedonis.

Mumpung masih di bulan suci Ramadan, yang kata para kiai dan ustad
bulan pelatihan mengendalikan diri, apabila kita setuju bahwa akar
masalah -hampir semua masalah-dalam masyarakat adalah akibat
kecintaan yang berlebihan terhadap materi dan pemanjaan yang
kelewatan terhadap jasmani sehingga melupakan ruhani, usul yang
paling masuk akal saya ialah: marilah kita kampanyekan untuk kembali
kepada budaya hidup sederhana. Memandang dunia dan materi secara pas,
hanya sebagai sarana dan alat dan bukan tujuan hidup.

Atau Anda punya pendapat lain dan usul yang lebih masuk akal?

* H A. Mustofa Bisri , pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin,
Rembang, Jawa Tengah. Dikenal pula sebagai kolumnis di banyak media.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s