Posoan mriki raosipun ayem, Jeng. Padhang pikirane mirengaken tiyang maos

[yang tertinggal: kenangan 8 tahun silam bersama Mbah2 Thoriqoh]

Ada pemandangan yang berbeda jika kita menilik Masjid Induk Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.Meskipun masjid ini berada di dalam kompleks asrama santri putra, tetapi di masjid ini terdapat juga jamaah wanita. Iyah… mereka adalah santri putri usia udzur pesantren darul ulum. Kita biasa menyebut mereka “Mbah Thoriqah”.

Janda-janda tua ini menghabiskan hari-hari tua mereka dengan bermukim di serambi kiri [yg disekat khusus] masjid induk darul ulum. Tidak hanya melakukan ritual ibadah, tetapi mereka juga tidur, dan makan di tempat itu. Seminggu dua kali [selasa dan kamis] sang mursyid [guru thariqah] membimbing mereka melakukan amalan dzikir untuk mendekatkan diri kepada sang khaliq. Amalan dzikir itulah yang disebut dengan Thariqah Qadiriyah Wannaqsabandy.

Inti dari amalan thariqah qadiriyah wannaqsabandy ini adalah bagaimana berdzikir yang benar sesuai bimbingan sang mursyid melafadzkan asama : “Allahu-Allah” dan “Laailahaillalaah”.
yang unik dari bacaan dzikir thariqah ini adalah ada tambahan:
“Assyaikh Abdul Qadir Waliiyyullah” setelah mengucap: “Laa ilaaha illa Allah Muhammadurrasulullah”.
Siapakah Syekh Abdul Qadir Jaelani ini sebenarnya? sedemikian hebatnya hingga namanya disebut2 setelah Allah dan Muhammad?
dari embel2 namanya: “Walliyullah” mengandung makna “Kekasih\wakil nya Allah”
akan tetapi, darimana mereka tau jikalau Sang Syaikh Abdul Qadir Jaelani ini kekasihnya Allah.
Wallahu A’lam bis Showab.
——
Ramadan masih menyisakan dua minggu. Namun sejumlah masjid sudah dipenuhi umat bahkan sejak hari pertama
puasa. Mereka mengejar kekhusyukan dengan iktikaf, bertafakur di dalam masjid, sepanjang 29 hari, sebelum takbir fitri.

Bagi Sukarni, 70, melewatkan Ramadan rasanya tak lengkap tanpa beriktikaf di Masjid Darul Ulum Jombang. Sudah empat Ramadan, nenek 10 cucu dan satu buyut ini menjalani ibadah sunnah tersebut. Bersama rombongan dari Desa Banjarsari Nganjuk yang jumlahnya sekitar 10 orang dan rata-rata seusianya, Sukarni mengawali Ramadan dengan beriktikaf di Masjid Darul Ulum Jombang.

“Posoan mriki raosipun ayem, Jeng. Padhang pikirane mirengaken tiyang maos”
(Melewatkan puasa di masjid ini rasanya tenteram, Dik. Pikiran terang ketika mendengarkan orang-orang membaca Al-Quran, Red), tutur wanita yang beberapa puluh tahun menjanda ini, ketika ditemui Surya pekan lalu.

Setiap Ramadan ada ratusan wanita dan lelaki paro baya beriktikaf di Masjid Darul Ulum Jombang. Jemaah wanita yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan pria berada terpisah namun bersebelahan ruang. Jumlahnya mencapai 300 orang. Hampir semuanya janda dan duda.

Teng mriki rondho sedanten, sae tarekotan sami rondho (Semua wanita yang beriktikaf di sini adalah janda, nyaman rasanya bertarekat dengan sesama janda),” seloroh Sukarni yang dini hari itu tengah menyantap nasi bungkus sebagai menu sahur yang dibelinya dari pedagang di situ seharga Rp 1.000. Sukarni mengaku tak terlalu melek agama. Ia hanya paham doa salat lima waktu tanpa lancar membaca dan menulis huruf hijaiyah.

Ketika orang-orang tarawih, tahajud, dan mendaraskan ayat suci, Masruroh, 57, warga Mojosari, Mojokerto, mengikuti. Mengikuti ini berarti mendengarkan dengan takzim. Setelah itu dia melanjutkan tidur. Bagi Masruroh dan temantemannya, iktikaf bukan berarti melekan sebulan penuh melainkan tidur di masjid menanti Imsak sambil mengikuti saatsaat ibadah sepanjang hari.

Tak heran bila para nenek ini membawa serta perbekalan seadanya. Selain peralatan ibadah, selimut wajib dibawa. Maklum, hanya inilah tameng ketika tulang-tulang tua tersentuh angin dingin. Bantal dan baju ganti seadanya menjadi isi buntalan. Mereka mandi bergantian. Masjid ini layaknya rumah kedua karena setiap tahun dikunjungi.

Berpuasa di sini bisa khusyuk dan tidak berpikir macam-macam karena punya niat sama, mencari ilmu. Beda jika di rumah, sering menggunjing tetangga,” seloroh Parto, 74, pria asal Tarik, Mojokerto, usai salat Tahajud. Dia berangkat sendiri sejak awal Ramadan. Sudah lima Ramadan Parto melakukan kebiasaan ini. Malam ke-23 dia pulang.

Suasana di Masjid Darul Ulum Jombang memang penuh sesak oleh mereka yang berniat menghabiskan sebagian bulan di tempat ini. Di kawasan Gresik, masjid yang kerap didatangi biasanya yang di sekitarnya terdapat makam ulama.

“Paling banyak ada di masjid sekitar makam Sunan Giri dan Masjid Jami Gresik” kata Achmad Fakhri, warga Desa Manyar Kecamatan Manyar. Tak jarang, selain beriktikaf warga juga bisa berziarah dan berkirim doa. Karena itu, mereka juga berbuka puasa di masjid tersebut karena biasanya, saat Ramadan pengurus masjid selalu menyediakan takjil, buka, bahkan sahur.

Jika lazimnya iktikaf dilakukan pada 10 hari memungkasi Ramadan – dikenal malam likuran- Masruroh maupun Sukarni di Masjid Darul Ulum Jombang justru memilih pulang kampung di malam ke-21 nanti.

Berbekal pengetahuan agama yang minim, punya niat iktikaf sepanjang Ramadan, diharap dapat menuai keridhaan Allah. Berpuasa, salat lima waktu, salat sunnah, mendengarkan orang membaca Al-Quran, semuanya dilakukan di dalam masjid. Ini cara menjemput kekhusyukan yang lain meski diri-sendiri tak paham merangkai bacaan ayat suci. Apalagi memaknainya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s