“Turuti Nasihat Ibu, Cari Ilmu Bukan Buru Uang”: Umar dan Said Jenie, Si Kembar Peraih Bintang Jasa Utama

Umar Anggara Jenie dan Said Djauharsyah Jenie bukan kembar biasa. Keduanya dipercaya memimpin dua lembaga keilmuan terkemuka: LIPI dan BPPT. Atas pengabdiannya pada teknologi, Rabu lalu secara bersamaan masing-masing menerima tanda kehormatan bintang jasa utama dari presiden.


NOSTAL N., NAUFAL W., Jakarta

PUTRA kembar anak pasangan drg Nahar Jenie dan dr Isbandiyah Nahar Jenie SP itu setidaknya dua kali mencatat ’rekor nasional’. Rekor pertama pecah pada tahun lalu. Yakni, saat Prof Dr Said Djauharsyah Jenie mendapat kepercayaan untuk memimpin Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Tampilnya Said mengepalai badan yang pernah dipimpin oleh B.J. Habibie itu melengkapi prestasi saudara kembarnya, Prof Dr Umar Anggara Jenie, yang sejak 2002 menjabat sebagai kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Untuk kali pertama, baik BPPT maupun LIPI yang merupakan lembaga keilmuan yang disegani itu, dipimpin oleh dua saudara kembar.

Si kembar kelahiran Solo, Jawa Tengah, 57 tahun lalu itu, memecahkan “rekor” lagi menjelang peringatan HUT ke-62 kemerdekaan RI. Bertempat di Istana Presiden, keduanya menerima bintang jasa utama dari presiden. Untuk kali pertama dalam sejarah, tanda kehormatan itu diberikan kepada dua orang saudara kembar.

Apa kunci sukses hidup si kembar? Umar Anggara Jenie mengakui, sejak kecil prinsip yang ditanamkan sang ibu, Isbandiyah Nahar Jenie, agar terus mencari ilmu. Ibunya yang seorang dokter itu selalu menanamkan kepada anaknya bahwa ilmu itulah yang akan membawa keduanya jadi orang besar.

“Kami tidak pernah diajarkan bahwa akan besar dari uang,” kata Umar kepada Jawa Pos yang menemui di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Umar mengakui, dia dan Said Djauharsyah Jenie, memang sangat dekat dengan ibu. Maklum, sejak usia satu tahun keduanya ditinggal meninggal sang ayah: Nahar Jenie yang berprofesi sebagai dokter gigi itu.

Ditanya tentang visinya memimpin LIPI, doktor lulusan The Australian National University itu mengutip istilah mantan Rektor ITB Iskandar Alisyahbana. Yakni, para peneliti jangan hanya duduk di “menara gading” saja. Mereka tak boleh hanya berseminar atau berkonsultasi dengan sesama peneliti, tanpa dikenal oleh masyarakat. “Hasil-hasil penelitian harus bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata bapak tiga anak itu.

Umar tidak keberatan jika peneliti-peneliti Indonesia disebut belum maju. Suami Titiek Setyanti itu lagi-lagi meminjam filosofi dari Iskandar Alisyahbana. Dijelaskannya, jika seseorang sudah merasa maju, maka hal itu justru akan menjadi faktor yang menghambat. “Tapi, kalau kita merasa kita kurang, masih dalam stadium yang rendah, justru akan mendorong untuk bisa lebih baik,” katanya.

Dia mengibaratkan riset sebagai sebuah pohon. Periset adalah akarnya dan hasil riset adalah buah yang siap dipetik. “Pohon bisa berbuah dengan baik dan subur jika dirawat sampai ke akar-akarnya,” ungkap Umar yang memiliki hobi membaca itu.

Dengan konsep itu, periset membutuhkan dukungan, baik moril maupun material. “Jadi, kalau ada yang mau memetik tapi tidak pernah menyiraminya, ya itu kayak anak kecil,” jelasnya. Karena itu, dia mengingatkan untuk tidak hanya mengkritik tanpa memberikan dukungan. “Kritik boleh saja, tapi proporsional,” sambungnya.

Komitmen Umar terhadap dunia penelitian di Indonesia tidak pernah surut. Dia telah meminta kepada pemerintah untuk bisa menerima 500 rekrutan baru di LIPI yang fresh graduate. Alasannya, hal itu untuk mengimbangi beberapa peneliti yang memasuki masa pensiun. Jika hal itu tidak dilakukan, dia khawatir pada tahun 2019-2020 LIPI akan habis. “Padahal, sepanjang bangsa ini ada, LIPI juga harus ada,” urainya.

Mengenai perjalanannya dengan saudara kembarnya, Umar menyebutnya sebagai suatu kebetulan saja. Meski sejak SD mereka selalu bersama, mereka memiliki minat yang berbeda ketika menginjak bangku SMA. Umar kemudian memilih melanjutkan di Farmasi UGM, sedangkan Said di Teknik Kimia ITB.

Ditemui secara terpisah usai upacara peringatan HUT RI di kantor Kementerian Riset dan Teknologi/BPPT, wajah Said Jenie kemarin tampak berseri-seri. Dia didampingi istri tercintanya, Sadarijah Laksmi Saraswati.

Ditanya langkah apa yang akan dia lakukan setelah menerima penghargaan dari presiden, dengan rendah hati dia menjawab, “Teknologi kan tidak tergantung pada bintang jasa, ada ataupun tidak teknologi tetap harus dikembangkan,” tegasnya.

Menurutnya, program yang menjadi prioritas BPPT saat ini terkait energi, lingkungan, kebumian dan teknologi-teknologi transportasi, serta teknologi pertahanan.

Raut mukanya tak berubah ketika ditanya tentang kritik Wapres Jusuf Kalla tentang masih kurangnya kiprah peneliti dalam pembangunan bangsa. “Itu kritikan yang bagus karena kita harus ada yang mengkritik untuk refleksi diri,” ujarnya.

Saat disinggung tentang keluhan banyak peneliti tentang kurangnya dana penelitian dari pemerintah, lagi-lagi Said menjawab itu adalah sebuah tantangan yang lain. “Yang penting adalah dengan dana itu bagaimana kita memanfaatkannya seoptimal mungkin jangan hanya katakan kita kurang dana-kurang dana,” katanya dengan nada tinggi.

Said yang kemarin memakai tanda kehormatan bintang jasa utama di dada kirinya itu mengungkapkan, BPPT sedang mengembangkan enam prioritas teknologi secara bersama-sama. Antara lain teknologi pangan, obat-obatan, energi terutama energi alternatif, teknologi transportasi, dan teknologi pertahanan. “Kita sedang mengembangkan teknologi monorail untuk membantu bidang transportasi di beberapa kota besar di Indonesia,” katanya. (*)

[taken from jawapos.com 18-08-07]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s