Tante Oh Tante…: saudaraku itu sekarang menjadi “GILA”

kelanjutan dari perjalan hidup ini siapa yang tahu…
semua mengalir …
tanpa sanggup kita mengendalikanya.
terkadang sesuatu terjadi itu JAUH dari apa yang kita bayangkan.
tak pernah kita berprasangka dan tak pernah kita menduga sebelumnya.
====
ini cerita tentang perjalanan hidup anak sulung saudara perempuan nenek saya.
tanteku itu bernama “Bidayah” . biasa dipanggil “Bek Bid”
mungkin karena dia anak pertama, karena bidayah dalam bahasa arab itu artinya “permulaan”.
yang aku tahu dia masih bersaudara dengan saya.
Aku masih ingat betul setiap lebaran tiba, aku sekeluarga selalu datang silaturrahim
bertandang ke rumahnya. Apalagi rumahnya emang dak jauh dari Nenek saya, walaupun JAUH dari rumah keluarga kami.
Dia pun senantiasa datang bertandang ke rumah kami.
Masih terekam Jelas Wajah ‘humble’ nan bersahaja tanteq yang satu ini.
Halus budi bahasanya, Sopan nian perangainya…
Betapa kaget aq ketika aku mendengar berita jikalau beliau
sekarang “GILA”.
Oh My GOD, What’s Up.
====
Kenangan yang aku Ingat tentang dia:
entah udah berapa lama aku tidak bertandang dirumahnya…
mungkin sudah 10 tahun silam yang lalu.
Di rumah Sederhana nan sungguh sederhana itu beliau tinggal bersama keluarganya.
di rumah tak seberapa besar, yang masih beralaskan tanah, jendela pun masih ditutup
seadanya dengan anyaman bambu (jawa: gedek).perabot rumah tangganyapun amat sederhana hanya meja dan bangku panjang dari kayu yang tidak dipelitur.
Sungguh betapa saya sangat bersyukur jika membandingkan apa yang keluarga saya miliki dengan keluarga tante ini.
Di rumah nan sederhana inilah tante menganyam cinta-cinta mereka, bersama suami dan anak-anak sang pelipur lara. diusia pernikahanya yg masih dini tante udah dikarunia 3 orang putra. Dengan profesi sebagai ‘buruh tani’ suami tante berusaha menopang ekonomi keluarga.
karena keluarga tante emang belum punya tanah garapn sendiri, sehingga hanya mengandalkan jadi buruh jika musim mengerjakan sawah, dan masa panen. selebih itu suami tante kerja serabutan.. apa saja. kuli bangunan dan sebgainya pun dilakoninya. tantepun sedikit sedikit dagangan di pasar. dengan penghasilan yang tidak pasti.
Sungguh Sebuah ketahanan ekonomi keluarga yang sangat rapuh….
Aku jadi ingat kata-kata emak saya: “salah satu Ciri2(kebanyakan) ne ahli  syurga iku wong fakir miskin tur anake akeh, tapi selaly taat di jalan Allah”.

Waktu pun berlanjut…
Sang anginpun berhembus kencang menghempas biduk rumah tangga tante.
saat biaya hidup semakin mahal…
saat mencari sesuap nasi pun terasa  sangat sulit…
saat tuntutan hidup semakin berat..
Dan anak-anakpun semakin tumbuh dewasa..
Mereka butu pendidikan, makanan, dan pakaian yang layak..
untuk melanjutkan hidup.
Mungkin karena tak tahan dengan himpitan ekonomi keluarga
Mungkin juga tak tahan dengan silaunya rumput tetangga yang semakin
hari semakin hijau..
suami tantepun berencana menjadi TKI ke Malaysia.
demi masa depan yang lebih baik semua kekayaan yang dimilikipun dijual
sapi, kambing, perhiasan pun semuanya terjual untuk biaya pengurusan
menjadi TKI legal ke negeri JIRAN.
semua uangpun sudah disetor ke PT yang akan membawa dia ke Malaysia.
tinggal menunggu masa dia berngakat ke negeri yang menjanjikan kemakmuran itu.
negeri yang dia impikan membawa ekonomi yang lebih baik. Rumah Bagus, kendaraan mewah,
bisa beli tanah, perhiasan dan sebagainya.
sebuah impian yg benar-benar dirindukan segera menjadi kenyataan.
Apalagi para tetangganya yang sudah bertahun2 menjadi TKI di negeri JIRAN,
terbukti sudah bisa menyulap gubuk deritanya menjadi rumah “magrong-magrong”.
sepeda motor dan sebagainya..
tetapi ternyata:
Mimpi itu tinggalah mimpi..
yang bahkan melahirkan kenyataan teramat pahit.
hari menunggu keberangkatan ke negeri impian itupun sia-sia.
sampai suatu saat terdengar kabar…
GAGAL berngakat tanpa alasan yang tanpa ia tau pasti.
yang dia tau: “Dia gagal berangkat menjadi TKI dan uang yang distore pun Hangus”
bak PETIR menyambar di tengah siang bolong.
uang yang dari hasil jerih payahnya bertahun-tahun itu lenyap dan hangus begitu saja.
dan dia pun hanya bisa PASRAH dan NERIMO Ing PANDUM,
dia hanya rakyat jelata, yang bodoh akan hukum dan mudah dibohongi oleh
para JAHANAM-JAHANAM itu.
tante yang hanya wanita biasa… yang lemah dan tak berdaya
paling terpukul dengan kenyataan teramat sangat pahit itu.
dia sangat shock dan tidak bisa menerima kenyataan yang sangat sangat menyesakkan
dada itu. bagaimana bisa harta ternak dan niaga serta perhiasan nya yg dia kumpulkan bertahun2 hilang sekejap mata.
Tante Oh tante… kutahu  betapa berat hempasan angin itu.
Dan akhirnya kejadian itu membuat tante depresi hebat, dan akhirnya dia pun menjadi GILA.
kesedian tante tidak sampai disitu…
Mungkin karena tak tahan dan tak bisa menerima kenyataan itu.
suami tante menceraikan TANTE.
duh… malang nian nasibmu TANTE.
Dan Suami tantepun kini sudah beristri lagi bersama 3 anak buah cinta tante dan suami.

Tante kini tinggal sebatang kara…
di gubung sederhana itu…
dia tertawa menangis, bernyanyi sendiri…
berteriak, tanpa seorang pun peduli.
kadang dia ngomel sendiri, adzan, sholawatan, yasinan, tibaan,
kadang dia mengumpat-mengumpat sendiri.
Diapun tidak mempedulikan kesehatan nya sendiri.
Hanya tetangga dan sauadara tante yang masih ‘mbeneh’ saja
yang kadang mengirim makanan di rumah tante.
Mungkin sebagian orang menganggap dia
Bak sampah yang sudah tiada arti…..
Tante…
Ku tak tahu apa yang kau rasakan kini….
aku hanya bisa mendoakan untuk kebaikanmu tante.
semoga Allah senantiasa menyayangi mu selalu…
—-
Mungkinkah itu jalan hidup terbaik yang telah ditulis TUHAN untukmu Tante

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s