Mentas dari Kejenuhan Sehari-hari

Entah, berapa ratus juta ummat menusia saat ini yang mengalami kepenatan hidup, kebosanan dan kejenuhan di tengah rutinitas sehari-hari. Lenguhan-lenguhan mereka, terdengar parau, menyembul antara batas kekecewaan, ketakutan, harapan, dan hasrat-hasrat tersembunyi yang tak tergapai.

Sebegitu membosankankah dunia ini? Apakah watak dunia memang sedemikian rupa, sedemikian rumit dan sedemikian bermasalah? Atau yang terjadi sebaliknya, masyarakat mulai tumpul hatinya, mulai mencari sisi-sisi lain yang di luar zaman dan ruang wilayah yang selama ini digeluti?
Coba kita tengok sejenak, ketika seorang pembantu rumah tangga kita begitu setia. Ia bangun pagi, sholat subuh sebelum kita sholat subuh, membersihkan rumah, lantai, dapur dan menyiapkan sarapan pagi kita. Sebegitu setia mereka berbuat, sebegitu tulus mereka bekerja.Tiba-tiba mulai muncul kejenuhan sebagai pembantu, karena mereka sedang berangan-angan, entah kapan menjadi juragan seperti tuannya. Padahal Allah memberi nilai bagus kepada pembantu itu, pada kesetiaan dan ketulusannya.

Seorang guru di sekolah, setiap hari mengajar para murid di sekolah, tiba-tiba berangan-angan, kenapa bertahun-tahun jadi guru nasibnya juga tidak berubah? Apakah ia tidak ingat ketika berjuang agar diterima menjadi guru ketika awal perjalanan karirnya dimulai? Padahal Allah sedang menilai keikhlasannya menularkan ilmu pengetahuan kepada ummat manusia.
Seorang professional sedang giat-giatnya bekerja keras, lalu karirnya mencapai puncak yang diimpikan. Begitu sampai pada tahap puncak, ia mempertanyakan diri sendiri, apa yang sebenarnya saya cari selama ini? Kenapa kebahagiaan sejati tak kunjung tiba, dan kepuasan memburu materi dan karir juga tak henti-henti menggodanya? Ia kesepian, lalu diam-diam ia terlempar dalam kejenuhan sehari-harinya. Lalu dimana penilaian Allah terhadap perjalanan hidupnya selama ini? Pada kerja kerasnya? Ambisinya? Atau suksesnya selama ini?

Seorang ibu rumah tangga mulai jenuh sebagai ibu bagi anak-anaknya dan isteri bagi suaminya. Ironis sekali! Kerumitan dan problema, nafas dan keringat bertahun-tahun yang keluar dari dalam tubuhnya, diingatnya sebagai “nasib” yang belum menguntungkan. Lalu muncul alas an-alasan, “Kalau bukan karena anak-anak…Kalau bukan karena ini dan itu….Kalau bukan karena takut dosa… Kenapa bertahun-tahun begini dan begitu saja….? dll….” Kejenuhan yang muncul ketika mereka mulai kehilangan rasa syukur kepada Allah. Nikmat-nikmat Allah tertutup oleh sekadar kekecewaan atas sandungan masalah, problem besar dan kecil saat itu, lalu dinilai telah menghapus seluruh nikmat Ilahi.

Lalu seorang janda dan seorang duda, seorang lajang mengejar impian kehangatan berumah tangga. Begitu berumah tangga, ingatan masa lalu muncul, lalu kejengkelan, trauma, luka demi luka muncul kembali, sampai di titik jenuh ia mengeluh, “Alangkah nikmatnya dulu, ketika aku masih sendiri…begitu bebas terbang kesana kemari….”

Seorang politisi, tiba-tiba frustrasi. Ia diganjal teman sendiri, lalu menghela nafas dalam-dalam, sambil mengungkit-ungkit prestasi perjuangannya selama ini. Politisi lain yang menanjak mulai meraup kemakmuran uang rakyat, tapi di hati kecilnya ada panggilan nurani, bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah dosa. Ia jenuh pula jadi politisi, yang hidup tanpa makna, tanpa rasa juang yang benar-benar berurai keringat, darah dan airmata….Benar-benar memikul amanah penderitaan rakyat. Kadang ia bermimpi menjadi rakyat biasa..Tapi tak siap juga…

Seorang aktivis gerakan Islam ikut-ikutan jenuh. Karena pandangan ideology ke-Islamannya selama ini bukan malah membuat dirinya bercahaya dan damai, tetapi telah melemparkan kegersangan spiritual. Semula ia bangga menjadi aktivis, merasa menjadi pejuang, merasa menjadi hero Islam, kenayataan jiwanya kerontang bagai nyaringnya tong yang bertalu-talu. Kemanakah jiwa mereka selama ini? Kemanakah Allah yang selama ini mereka bela dan mereka sebut-sebut? Kesalahan besar macam apakah yang menimpa mereka?

Kini bertanyalah pada sejumlah Kyai atau Ulama, sebagaian pun, amboi mulai muncul kebosanan dirinya. Bertahun-tahun mereka mengajar santri, masyarakat, ummat, toh bibir-bibir mereka jika ditimbang dengan kiloan berat, sudah menebal dan melebar berkilo-kilo, toh perilaku yang diajar belum juga berubah. Lalu iming-iming politis mencoba jadi hiburannhya. Para Ulama dan Kyai ikut terlibat politik Pilkada, ikut ramai-ramai bikin partai, dan yang ditemukan malah sejumlah tumpukan sampah dalam jiwanya. Sangat-sangat memuakkan dan membosankan. Godaan, ujian, harapan duniawi, dan kerinduan dekat kepada Allah bercampur baur dalam remang-remang spiritualnya. Ini bukan sekadar kejenuhan, tetapi tumpukan buku dan kitab yang telah menjadi sampah busuk digotong kemana-mana sebagai fatwa. Entahlah…..

Apalagi pesantrennya sudah kehilangan barokah. Alumninya tidak lagi menelorkan para Ulama, para santrinya juga sudah mulai kehilangan induk ruhani dan bapak spiritual. Wallahu A’lam, apa yang terjadi, kenapa sebegitu degradatifnya dunia Ulama ini, hingga bukan sekadar Ulama dan Kyainya yang mengamami kebosanan dan kejenuhan, ummat pun terkadang mulai muak memandang dan mengikutinya.
Seorang Kyai Khowas, diam-diam menertawai diri sendiri. Ia malu di depan cermin, karena sempat protes kepada Allah, “Ya Allah, enaknya jadi orang biasa saja, tidak terbebani tanggungjawab ruhani seberat ini… Enaknya jadi orang biasa saja…..”. Ia jenuh, bosan, tapi juga tertawa….
Anda juga mengalami kejenuhan? Apakah anda juga masuk dalam sebuah konser musik yang dipenuhi dengan keluhan demi keluhan? Berapa kali sehari ini tadi anda menhela nafas dalam-dalam untuk mengeluarkan kejenuhan anda? Berapa kali anda berdecak untuk sekadar kontra terhadap takdir Allah kepada anda hari ini?

“Betapa sedikit kalian bersyukur….” Begitu Allah menjawab semua keluhan dari berjuta-juta hambaNya.
Ilustrasi tersebut akan semakin berderet panjang, bergumul satu dengan lainnya, bersinggungan antara masa lalu, masa kini dan impian masa depan.

Lihatlah Ke Depan….

Manusia modern, pada umumnya mengandalkan diri sendiri, mengandalkan prestasi dan kemampuan diri, mengandalkan amaliyahnya dalam soal ruhani dan spiritualnya, mengandalkan nama besar dan masa lalunya. Begitu berbuat salah, ia terpuruk dalam pesimisme terhadap rahmat Allah, dan bahkan harapannya kepada Allah surut seketika, karena kesalahan dan dosa dianggapnya sebagai ancaman terbesar atas kecelakaan dunia akhiratnya.
Ia seperti terancam masa depannya, rizkinya, pengkabulan doanya, bahkan merasa terancam ketika kesalahan dan dosanya diketahui oleh sesama. Inil semua gara-gara mereka lebih suka mengatur Tuhannya dibanding diatur oleh Allah. Ia lebih memilih seleranya dibanding Kehendak Allah. Mereka lebih bergembira jika sukses itu sebagai bentuk keridloan Allah, dan gagal itu sebagai takdir ketidak relaan Allah padanya. Mereka bahkan menganggap ambisinya sama dengan kehendak Allah.

Kepenatan dan kejenuhan sebenarnya sekadar jedah psikhologis dari masa lampau ke masa kini, lalu harapan di depan terasa hambar. Jika manusia mengenal masa depannya yang hakiki, kejenuhan itu akan berubah menjadi gairah yang luar biasa. Jika anda tidak mampu memandang secara hakiki tentang masa depan yang abadi, Allah Robbul Izzah, maka pandanglah janji-janjiNya di akhirat. Jika janji-janjiNya di akhirat belum meyakinkan dirimu, renungkanlah nikmat-nikmat di kubur kelak. Jika itu masih belum membuka hati anda, maka lihatlah sisa usia anda saat ini, optimislah karena anda masih ditakdirkan sebagai orang yang beriman kepadaNya.
Seorang guru di sekolah akan semakin penat jiwanya, manakala hanya memandang kepentingan profesinya, dalam batas waktu sampai pensiun. Mestinya ia mulai melihat betapa tanggungjawab membawa anak didik mereka ke masa depan, bukan hanya di dunia ini, tapi masa depan anak-anak itu sampai ke akhirat, bahkan sampai di hadapan Allah Ta’ala.

Kaum professional akan semakin terseret dalam mimpi buruknya manakala yang tercetak di otaknya hanya sukses, sukses, sukses dengan ambisinya yang maniak. Impian dan ambisi itu toh ditimbang sama dengan rasa kecewa, frustrasi dan kegagalan. Semestinya ia mulai mengembangkan senyum dari bibir hatinya bahwa bekerja sesuai dengan keahliannya itu merupakan amanah Ilahi, dan Allah menilainya dalam rasa yakin, rasa ikhlas, rasa syukur dibalik gairah kerjanya itu. Allah sama sekali tidak menilai sukses dan gagalnya pekerjaan itu. Ambisi dan nafsu akan semakin membuat seseorang menjadi egois, sementara, semangat dengan rasa yakin pada Allah akan melahirkan rasa syukur dan keindahan kerja.

Seorang ibu rumah tangga akan terbebas dari kebosanan dan kepenatan kalau ia melihat bahwa kemuliaannya justru terletak pada kasih sayangnya kepada anak-anak dan suaminya, kesabaran dan kerelaannya menjadi induk dari sebuah generasi yang bercahaya di akhirat kelak.”Ibunda yang mulia,” adalah kalimat paling indah yang tak bisa dinilai oleh kesenangan-kesenangan sejenak atau harapan-harapan semu lainnya. Ibunda adalah pelabuhan sekaligus menghantar ke samudera.

Kaum politisi akan terbebas dari penjara siasat liciknya di dunia politik, manakala ia memiliki keberanian moral merubah dirinya sebagai pejuang, bukan sebagai politisi. Sebagai mujahid, bukan sebagai penguasa wilayah, pemegang kekuatan apa pun. Apakah anda pernah mimpi sebagai syuhada’ selama menjadi politisi?

Seorang Kyai, Ulama dan Ustadz, akan merobohkan dinding penghalang jiwanya dengan Allah, manakala hatinya paling dalam digali, dan disana ada mutiara terpendam, bahwa dirinya ternyata harus menjadi Ulama Billah (Ulamanya Allah, Ulama yang mengenal Allah, Ulama yang menghayati pengethauan tentang Allah), bukan ulama dunia, bukan pula ulama penguasa, ulama massa, ulama publik, ulama pop, ulama seleb, atau ulama yang memanfaatkan nafsu keulamaannya.

Orang jenuh karena ingin bebas dari belenggu. Kebebasan itu akan diraihnya manakala ia merasa sama sekali tidak bebas. Karena Allah tidak menzolimi hambaNya, juga tidak menginginkan hambaNya terbelenggu di dunia. Raihlah kebebasan yang hakiki.

Syeikh Ad-Daqqaq pernah mengatakan “Kebebasan berarti bahwa si hamba bebas dari belenggu sesama makhluk; kekuasaan makhluk tidak berlaku atas dirinya. Tanda absahnya kebebasan adalah, bahwa tersingkirnya pembedaan tentang segala hal dalam hatinya, sehingga semua gejala duniawi sama di hadapannya.”

“Orang yang datang ke dunia ini dalam keadaan bebas darinya, akan berangkat ke akhirat dalam keadaan bebas Pula.” Dalam sebuah ucapannya Pula, “Orang yang hidup di dunia dalam keadaan bebas dari dunia, akan bebas pula dari akhirat.”

“Ketahuilah bahwa hakikat kebebasan diperoleh dari kesempurnaan ubudiyah, sebab jika ubudiyahnya benar, maka kebebasannya dari belenggu akan sempurna. Mengenai mereka yang mengkhayalkan bahwa ada waktu dimana seseorang boleh melepaskan ibadat dan berpaling dari hukum yang tersirat dalam perintah dan larangan Allah swt, sementara dirinya dalam keadaan mukallaf, maka tindakan itu keluar dari agama.
Haritsah r.a. mengatakan kepada Rasulullah saw, “Saya telah menjauhi dunia. Batu dan emas yang ada di bumi tidak ada bedanya bagi saya.”
Allah swt. berfirman kepada Rasulullah saw.: “Beribadatlah kepada Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan.” (Q.s. Al-Hijr: 99).

Para ahli tafsir sepakat bahwa “keyakinan” di sini berarti “saat kematian”.
Manakala Para Sufi berbicara tentang kebebasan, yang mereka maksud adalah, bahwa si hamba tidak berada di bawah perbudakan oleh sesama makhluk ataupun diperbudak oleh perubahan keadaan kehidupan duniawi ataupun ukhrawi; ia akan menunggalkan diri kepada Allah Yang Esa. Tidak sesuatu pun yang memperbudaknya, baik perkara duniawi yang bersifat sementara, pencarian kepuasan hawa nafsu, keinginan, permintaan, niat, kebutuhan ataupun ambisi.

Asy-Syibly pernah ditanya, “Tidak tahukah Anda bahwa Allah Maha Penyayang?” Beliau menjawab, “Tentu. Tapi, karena aku telah tahu bahwa Dia Maha Penyayang, maka aku tidak pernah meminta kepada-Nya agar menyayangiku. Dan maqam kebebasan sungguhlah mulia.”

Rasanya hanya ada dua kata yang bisa merubah kejenuhan, ketakutan, krisis psikhologis menjadi sebuah harapan agung: Harapan bertemu Allah, dan berharap Allah. Harapan bertemu Allah melalui amaliyah, ibadah, baik syariah maupun haqiaah, dzohid dan batin, dengan cara yang saleh dan keikhlasan hanya bagi Allah. Keikhlasan sejati, tanpa berhala di sekitar Ka’bah hati kita.
Sedangkan harapan kepada Allah, adalah wujud dari perjalanan kita menapaki jejak-jejak Rasulullah SAW, meneladani lahir dan batinnya dalam wilayah Uswatun Hasanahnya.

Dua kalimat ini juga mengakumulasi seluruh pembebasan kita. Disebutkan oleh Ibbnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam:
“Janganlah engkau berjuang memaksa diri terhadap hal-hal yang sudah dijamin Allah. Dan janganlah engkau meremehkan hal-hal yang diwajibkan Allah kepadamu….”
Anda masih jenuh?

—(ooo)—
(by M. Luqman Hakim cited from sufinews.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s