… datang tak diundang, pulang ngacir sendiri, itu jailangkung bukan teman – a random thought

tanjung_aan_3
a random illustration

Pola interaksi sosial antar manusia kadang memang lucu, salah satunya adalah dalam interaksi pertemanan. Ada teman dekat, yah teman karena secara fisik berdekatan dengan kita. Ada teman say hello, teman yang sekedar kenal nama dan tahu tempat tinggal/kerja doang tak pernah ngobrol heart to heart. Ada teman sejati, teman yang awet terus, tahan lama, meski sudah punya kehidupan sendiri-sendiri masih saja keep in touch. Yang ini berteman ya sekedar berteman saja tanpa ada niat yang lain. Ada teman bitonah, alias teman penjilat. Yang satu ini nih, berteman with purpose. Elu kudu ati-ati!

Belakangan ada lagi varian baru, namanya teman jailangkung.  Dia tidak masuk varian teman di atas. Tidak termasuk juga bitonah. Teman tipe ini suka muncul tiba-tiba dan menghilang tanpa jejak tiba-tiba juga. Eh, setelah jangka waktu yang lama kemudian muncul kembali secara tiba-tiba, dan menghilang lagi dan repeat! Jelas teman tipe ini tidak merugikan, tapi lucu sekali macam Jailangkung.

Jika sedang muncul, kita dibuat merasa orang paling penting banget buat dia. Eh, begitu kita sambut hangat, akan segera menghilang tanpa pesan, meninggalkan setumpuk tanda tanya. Membuat jengkel sih, eh tapi kok juga ngangenin haha. Benar-benar varian teman yang lucu.

Ada yang punya teman varian ini?

Advertisements

… ada orang yang ditakdirkan untuk mendapatkan uang sedikit saja, harus diiringi dengan susah payah, banting tulang, peras keringat. Tetapi, ada juga yang hanya dengan duduk manis di kursi empuk beberapa jenak, jutaan rupiah uang didapat setelah membubuhkan tanda tangan. Bahkan ada yang tidur ngorok pun, ajaib uangnya berlipat ganda sendiri – a random thought.

lombok_cabe_rawit
Lombok di Belakang Rumah

Minggu pagi kamu kemana? Aku, di rumah saja lah. Buatku, tidak ada tempat di dunia ini yang lebih nyaman di hati dari what we called Home. Enak sekali ya jadi anak rumahan seperti diriku, tidak perlu panik gegara kurang piknik.

Dari pada ke tempat hiburan buatan yang penuh sesak manusia-manusia pencari kebahagian semu, berjibaku dengan kemacetan dan kebisingan kota, buatku jauh lebih membahagiakan duduk manis di depan rumah di bawah pohon kelapa, sambil menikmati kelapa muda yang kupetik sendiri dari depan rumah; sambil membaca buku-buku sastra klasik yang baru saja aku beli dari pasar turi; sambil memandangi bunga-bunga beraneka warna yang sedang bermekaran ditingkahi kupu-kupu, lebah, dan capung. Diringi suara cici ruit burung kelangenan milik para tetangga dan burung-burung liar di ‘hutan belantara’ belakang rumah.

Pagi ini, si kakak dan bundanya sepulang dari sepedaan membawa sebungkus gorengan. Weci namanya kata orang Banyuwangi, Ote-ote kata orang Jombang, dan Bala-bala kata orang Bandung.

Aku ambil weci hangat sebuah, lalu kupetik sebiji lombok langsung dari pohonya, di belakang rumah, masih segar, masih putih belum memerah. Nyam, kumakan weci sepotong, kukunyah tiga kali. Lalu, kres ku kremus lombok langsung separuh. Ku kunyah-kunyah berkali-kali, sebelum kutelan perlahan.

Waw…., sensasi gurih-pedasnya luar biasa Broh! Sudah tak terhitung jumlahnya, berapa kali aku makan weci dan lombok, tapi tidak pernah senikmat ini. Pedasnya lombok segar yang masih muda berpadu dengan gurihnya gorengan campuran terigu, gubis, dan wortel itu sungguh menyuguhkan orkestra rasa yang luar biasa, yang bahkan kata-kata pun tak sanggup membahasakanya.

Alam fikiranku pun terbawa kenangan jaman SD, momentum aku terakhir merasakan sensasi weci paling nikmat di dunia. Beli weci di warung belakang sekolah, dimakan rame-rame di samping sekolah, yang ditutup dengan ritual mengelap tangan penuh minyak di tembok sekolah, mencipta lukisan abstrak terabsurd di dunia.

Aku pun jadi bertanya-tanya, ada apakah gerangan yang membuat sensasi makan weci terenak dunia itu terulang kembali? bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.

Aku pun menemukan jawabnya. Yang bikin enak adalah lomboknya. Aku yang membedeng sendiri dari lombok merah yang sudah membusuk. Lalu memindahkanya ke polibag, setelah tumbuh lumayan besar. Lalu, merawatnya, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Menyirami air, memberi pupuk organik, dan membersihkan hama yang sering menempel pada daun-daunya. Butuh ketelatenan dan kesabaran, tapi aku sangat menikmatinya. Melihatnya tumbuh satu milimeter demi milimeter adalah kebahagiaan yang mengagumkan.

Hingga akhirnya, pohon lombok itu tumbu subur, berbunga, lalu berbuah. Meski buahnya tidak banyak, tetapi buahnya sehat dan besar-besar. Dan pagi tadi aku memetiknya, mencipta sensasi makan weci terlezat di dunia. Kebahagiaan berbanding lurus dengan usaha/ikhtiar yang kita berikan.

Aku jadi tahu, kenapa para petani di dusun-dusun itu, meski kerja keras, literally banting tulang, peras keringat di bawah terik matahari yang menyengat, dan hanya menghasilkan uang yang tak seberapa itu. Tetapi mereka mudah sekali tersenyum, tertawa dan bahagia. Dan sebaliknya, di kantor-kantor gedung bergengsi, dimana peredaran uang berpusat, mudah sekali menemukan orang mengeluh, setres, dan tidak bahagia.

Aku pun jadi paham, mengapa makanan paling nikmat di dunia adalah makanan seadanya yang di makan di gubuk tengah sawah, yang dimakan bersama setelah lelah bekerja. Bukan makanan di restoran paling mahal di pusat keramaian kota.

Ada orang yang ditakdirkan untuk mendapatkan uang sedikit saja, harus diiringi dengan susah payah, banting tulang, peras keringat. Tetapi, ada juga yang hanya dengan duduk manis di kursi empuk beberapa jenak, jutaan rupiah uang didapat setelah membubuhkan tanda tangan. Bahkan ada yang tidur ngorok pun, uangnya secara ajaib berlipat ganda sendiri. Tetapi uang hanyalah uang, dan rejeki bukanlah sekedar uang. Dan sebaik-baiknya rejeki adalah kemudahan untuk tersenyum, tertawa, dan berbahagia. Dan semua kita tahu, kita punya jatah rejeki sendiri-sendiri, yang tak akan pernah tertukar.

 

… masihkah manusia modern bersedia menjadi full-time mother? – a random thought

inayah_wahid
a random illustration

Ada beberapa peristiwa dalam hidup yang tak mudah luntur dari ingatan, bahkan menjadi ingatan abadi sepanjang usia.  Seperti peristiwa pagi itu.

Aku pagi-pagi datang ke city centre, sesuai jam janjian datang ke city council, untuk mengambil akte kelahiran anak kedua saya.  Setelah menunggu beberapa jenak, seorang pria baya berpakaian sangat rapai lengkap dengan jas dan dasi, menjemput saya di ruang tunggu.

Dengan senyum yang bersahabat, bapak itu menjabat erat tangan saya, dan mengajaknya masuk kedalam ruang kerjanya. Sang Bapak memperkenalkan diri. Beliau mengaku sudah lama pensiun dari profesi sebelumnya sebagai guru komputer di sekolah, dan saat ini mengabdikan sisa hidupnya di city council sebagai pelayan masyarakat.

Di depan monitor komputernya, bapak itu mencoba mengkonfirmasi data-data kelahiran anak saya yang sebenarnya sudah terintegrasi dengan data di rumah sakit tempat anak saya lahir.  Saat Dia menanyakan apa pekerjaan istri saya. Aku pun menjawab housewife, ibu rumah tangga maksud ku.

Hemm, i don’t like that word, i think it should full-time mother.

Yeah, ibu penuh waktu, bukan ibu rumah tangga. Rasanya memang lebih mulia full-time mother ketimbang Ibu rumah tangga. Relasi suami-istri yang sangat sejajar di budaya barat, pekerjaan full-time mother sepertinya menjadi semakin langka. Tidak sedikit perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Dan mereka baik-baik saja. Tetapi kabarnya, negara maju mengalami permasalahan baru: aging population. Prosentase terbesar demografi penduduknya adalah generasi tua yang tak lagi produktif.

Nah loh, betapa mulianya kalian wahai para ibu penuh waktu! Manusia apa yang kamu cari?

… hanya menulis pikiran yang sepintas lalu hadir di fikiran – a random thought

snow_nott
a random illustration

Sepasang lelaki dan perempuan memutuskan untuk menikah tanpa proses pacaran. Lewat ta’aruf saja, alias persengkokolan perjodohan, lebih syar’i katanya. Lagian, usia sudah tak lagi muda. Toh, ikhtiar penjajakan bernama ‘pacaran’ tak menjamin langgengnya usia pernikahan. Pun sebaliknya, banyak cinta tumbuh mewujud dalam pernikahan yang langgeng, meski lewat perjodohan semata.

Tetapi pernikahan memang tak melulu tentang cinta-cinta. Nyatanya tak pernah mudah menyatukan isi dua kepala yang berbeda, meski rambut boleh sama hitamnya. Imajinasi suami akan istri solehah yang selalu menurut apa kata suami, mengabdi sepenuh hati dengan merawat suami dan buah hati di rumah rasanya hanyalah ilusi. Suami dan istri pun kekeuh meniti karir sendiri-sendiri. Meski, berpisah kota adalah konsekuensinya.

Sang suamipun mengalah, ritual PJKA: Pulang Jumat Kembali Ahad, pun ditempuhinya. Sepanjang hari kerja hidup sendiri di ibu kota. Jumat malam pulang untuk kembali lagi hari minggu petang. Hidup bersama pun nyaris hanya sabtu-minggu saja.

Rupanya, berjauhan tidak selalu mudah. Terlebih, ketika Tuhan karuniakan malaikat kecil untuk keduanya. Rasanya cinta pada si kecil melebihi cinta pada ibunya. Jadilah hari-hari merajut rindu. Jadilah sabtu-minggu hari yang selalu ditunggu-tunggu. Hari pelampiasan rindu yang mengharu biru.

Apakah kamu sepasang lelaki dan perempuan itu? Argh, manusia modern apa yang engkau cari?

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

… tahun 2019 ini, ITS kembali membuka program studi baru, yaitu S1 (Sarjana) Studi Pembangunan – sekilat infor

research_centre_its
Kampus ITS, Sukolilo Surabaya

Kabar gembira nih, tahun 2019 ini, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, kembali membuka program studi baru, yaitu: Program Studi Sarjana (S1) Studi Pembangunan (SP). Program studi SP ITS ini berada di bawah Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi (FBMT), satu fakultas dengan program studi Manajemen Bisnis yang sudah berdiri sejak tahun 2011.

Nah, sebagai program studi baru, apa sih yang unik dari program studi ini? check it out!

#Q1: Program Studi S1 Studi Pembangunan masuk rumpun saintek/IPA apa soshum/IPS?

Untuk jalur SNMPTN, pendaftar bisa dari kelas XII Jurusan IPA atau IPS, bisa juga dari SMK jurusan yang relevan. Sedangkan untuk jalur SBMPTN, masuk rumpun program studi Sosial Humaniora (Soshum).

#Q2: Apa saja profil lulusan SP ITS?

Lulusan program studi SP diharapakan memiliki kemampuan sebagai berikut:

cpl_sp_1

cpl_sp_2

#Q3: Apa yang dipelajari di SP ITS?

Adapun mata kuliah yang dikaji di SP ITS adalah sebagai berikut:

mk_sp_1mk_sp_2mk_sp_3

#Q4: Bagaimana Cara Mendaftar di SP ITS?

Tahun 2019 ini SP ITS dibuka melalui tiga jalur, yaitu: SNMPTN, SBMPTN, dan Program Kemitraan Mandiri (PKM) ITS.

Baca juga: Berita Pembukaan Studi Pembangunan ITS

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube