Mbah Kakung dan Majalah Jadoelnya

… sungguh semangat baca mbah kakung yang luar biasa itu adalah sesuatu yang patut diteladani – a random thought

majalan_pembela_islam

Majalah Pembela Islam (wikipedia)

Di kereta memang banyak cerita. Cerita-cerita kehidupan yang kadang seperti drama. Seperti pagi ini, di kereta api ekonomi penataran jurusan Malang-Surabaya aku ketemu sama seorang yang langka.

Seorang kakek, sebut saja mbah kakung. Sedang dalam perjalanan ke Surabaya sendirian. Sepatunya Pantofel tinggi berwarna putih, celana dan bajunya juga putih. Bedanya ada motif garis-garis putih bold. Serasi dengan yangan kumis, jenggot, alis dan rambut tebalnya yang sudah memutih sempurna.

Bawaanya satu tas tangan berwarna coklat yang lazim  dibawa ibu-ibu muda, dan satu buah kardus bekas air mineral kemasan Queen yang terikat dengan tali rafia warna hitam.

Sungguh dia seorang penumpang yang istimewa. Pasalnya, saat hampir semua penumpang melakukan aktivitas seragam: tidur-tidur ayam atau khusuk bermain dengan handphoneya. Si Mbah kakung sedang khusuk membaca buku. Yah di negara ini, membaca buku di dalam kereta adalah aktivitas langka.

Yang hebat, Di usia senjanya, si Mbah kakung membaca tanpa bantuan kaca mata. Hanya sebuah handpone nokia jadul dengan feature lampu senter di ujungnya yang membantunya mengeja huruf, kata-demi kata.

Yang dibacanya pun istimewa, majalah jadoel dengan warna kertas coklat ke kuning-kuningan. Kuintip judulnya: Pembela Islam. Berdasarkan penulusuran dari wikipedia:

Pembela Islam adalah media cetak yang pernah terbit dalam khasanah media massa dan persuratkabaran Indonesia di awal abad ke-20, sekitar tahun 1933, di Lengkong Besar No. 90, Bandoeng, Tanah Pasundan.

Waw, majalah sebelum Indonesia merdeka kawan! Tidak ada yang istimewa sebenarnya, hanya saja aku begitu tersepona dengan semangat budaya bacanya yang terlihat sangat luar biasa itu.  Maklum di negeri ini tidak seperti trajektori negara-negara maju yang pernah mengalami budaya baca tulis yang begitu matang, eh sudah  terjebak pada budaya menonton. Kecuali budaya membaca pesan singkat dari media sosial.

Tak heran, jika cara berfikir orang-orang di negara ini aneh-aneh. Harap maklum, kami tak terbiasa membaca tulisan buah hasil olah fikir yang mendalam. Apalagi, hasil olah rasa yang halus? Kami hanya mampu menangkap bungkus yang remeh-temeh dan sering menipu. Kami tak mampu menangkap isi yang lebih bermakna.

Sayang, kami harus berpisah di Stasiun Gubeng, sebelum sempat bertukar sapa. Mungkin itu pertemuan kami yang pertama dan terakhir untuk selama-lamanya.  Terima kasih mbah kakung atas pertemuan kita pagi ini. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan di sisa-sisa hidup mu.

Advertisements

Belajar Sains Data: Mulai Dari Mana?

… kalau saintist data adalah pekerjaan paling seksi, so what? – a random thought

data_scientist_hbr

Harvard Business Review

Belakangan ini terlalu banyak buzzword, jargon yang aneh-aneh yang kadang terdengar menakutkan sekaligus menantang. Tetapi semuanya menjurus ke satu kata kunci: disruptive technologies.  Munculnya teknologi baru yang diklaim secara masif akan menggantikan teknologi sebelumnya. Bak teknologi kamera digital yang menggantikan kamera film yang melegenda itu.

Mulai dari Revolusi Industri 4.0 dan teknologi-teknologi yang mengiringinya. Mulai dari artificial intelligence, machine learning, deep learning, data science, big data, Virtual dan Augmented Reality, 3D printing, Cloud Computing, Internet of Things, Blokchain, Cryptocurrency, waakhowatuhaa.

Dan banyak yang latah ikut-ikutan denganya. Di kampus saya misalnya, dibuka fakultas baru yaitu Fakultas Matematika, Komputasi, dan Sains Data (FMKSD) yang ditandai dengan dibukanya Program Studi Sarjana Sains Aktuaria.  Institusi pendidikan pun ditakut-takuti akan hadirnya institusi pendidikan online yang akan menggantikan institusi pendidikan tradisional.

Kemaren, setelah kuliah pengantar Manajemen Data dan Informasi untuk mahasiswa program pascasarjana yang mendiskusikan perkembangan sains data terkini, ada seorang mahasiswa yang nyamperin saya dan bertanya:

Pak, saya tertarik dengan kajian sains data. Kalau saya mau mendalami sains data harus mulai dari mana?

Saya jawab: statistik dan coding skill khususnya bahasa pemrograman yang di desain memudahkan untuk komputasi statistik, e.g. Python dan R.

Kok, ndilalah, entah kebetulan atau tidak pas saya buka email, saya dapat beberapa email yang menawarkan list kuliah online gratis untuk belajar sains data untuk new bie. Diantara rekomendasi list kuliah belajar sains data online tadi adalah:

Dataquest

data_quest

Dataquest

Bisa diakses di alamat www.dataquest.ioPlatform ini menekankan belajar data saintis yang lebih praktikal. Tidak banyak teori, langsung praktik coding. Sangat mirip dengan platform codeacademy. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Python. Platform ini kan mengajari sampean mulai belajar bahasa pemrogram Python sangat sederhana sekali.

Alison

Berbeda dengan dataquest yang menekankan hands-on experience (praktikal), pada platform ini menyediakan pengalaman kuliah online standard  Massive Open Online Course (MOOC)., yang menawarkan materi berupa file presentasi dan video. Platform ini menawarkan paket belajar yang cukup lengkap. Berbeda dengan Dataquest, pada Alison ini sampean akan belajar data sains menggunakan bahasa pemrograman R.

  1. Introduction To Data Science
  2. Working with Data
  3. Visualising Data and Exploring Models.
  4. Regression and Clusters Models
  5. Introduction to Machine Learning
  6. Mining and Analysis of Big Data
  7. Introduction to R for Data Science
  8. R for Data Analysis
  9. Google Analytics
  10. Understanding Data Analysis and Report in Data Analytics

Dan tentu saja banyak sekali online courses lainya. Mudah sekali kan belajar di jaman digital seperti sekarang? Asal bahasa Inggrisnya bagus dan punya koneksi internet dicampur dengan ketekunan dan komitmen untuk belajar, semuanya bisa kita capai.

Selamat belajar dan Good luck!

Mengenal Lebih Dekat Teknik Geofisika ITS

… mau kerja di Industri minyak? kuliah di Teknik Geofisika saja! – a random thought

geofisika_its

Mahasiswa Teknik Geofisika ITS

Sobat muda, salah satu faktor utama yang akan ‘membentuk’ masa depan kalian adalah Jurusan atau Program Studi saat kuliah. Jangan sampai salah Jurusan, bisa menyesal seumur hidup loh. Nah, buat sobat muda yang ingin berkarir di Industri Perminyakan (yang konon kabarnya gajinya Guede banget) selepas kuliah nanti, Jurusan Teknik Geofisika mungkin salah satu pilihan yang terbaik.

Salah satu Jurusan Teknik Geofisika terbaik di Indonesia itu ada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Mengapa? yuk kita mengenal lebih dekat dengan jurusan ini.

Bagaimana sih sekilas organisasi jurusan Teknik Geofisika di ITS?

Di ITS, Program studi Sarjana (S1) Teknik Geofisika ITS, berada di Departemen Teknik Geofisika (DTG), Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian (FTSLK)

Mengapa harus memilih Teknik Geofisika ITS?

Berada di ITS, Teknik Geofisika adalah salah satu jurusan Teknik Geofisika terbaik di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan Akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). [Bisa Di cek disini]

teknik_geofisik_akreditasi

Akreditas Teknik Geofisika ITS

Lulus Teknik Geofisika ITS Jadi Apa?

Gampanganya, lulusan Teknik Geofisika ITS kalian akan memiliki keahlian: 1). Mencari Lokasi dan Menentukan potensi SDA di dalam Bumi. 2). Memetakan Struktur perlapisan di bawah permukaan bumi.

Lebih detailnya Capaian Pembelajaran Lulusan Teknik Geofisika ITS adalah sebagai berikut:

Penguasaan Pengetahuan:

  1. Menguasai konsep teoretis sains alam dan prinsip dalam mengaplikasikan matematika rekayasa sebagai dasar metodologi pendekatan eksplorasi geofisika terhadap sebuah fenomena alam yang spesifik secara umum.
  2. Menguasai pengetahuan geologi untuk memahami proses geologi yang merupakan karakteristik dari sebuah fenomena alam tertentu secara umum.
  3. Menguasai konsep teoritis statistika untuk menentukan kebolehjadian proses dari sebuah fenomena alam secara umum.
  4. Menguasai konsep teoritis sains rekayasa (engineering sciences), prinsip-prinsip rekayasa (engineering principles) dan metode perancangan rekayasa yang diperlukan untuk analisis dan perancangan sistem, proses, produk atau komponen dalam bidang rekayasa geofisika secara mendalam.
  5. Menguasai konsep, prinsip dan teknik perancangan sistem, proses atau komponen aplikasi rekayasa geofisika secara prosedural dimulai dari pengambilan data, pengolahan, interprestasi dan pemodelan untuk menyelesaikan masalah rekayasa geofisika secara mendalam.
  6. Menguasai pengetahuan operasional lengkap terkait dengan bidang teknologi rekayasa geofisika.
  7. Menguasai pengetahuan faktual dan metode aplikasi teknologi; referensi teknis (kode dan standart) nasional dan internasional serta peraturan yang berlaku di wilayah kerjanya untuk melakukan pekerjaan teknologi rekayasa geofisika secara mendalam.
  8. Menguasai prinsip dan metode aplikasi perpetaan yang dibutuhkan dalam pekerjaan rekayasa geofisika secara umum.
  9. Menguasai prinsip-prinsip penjaminan mutu secara umum dalam pekerjaan rekayasa geofisika.
  10. Menguasai konsep dan prinsip pelestarian lingkungan secara umum dalam kegiatan rekayasa geofisika.
  11. Menguasai pengetahuan faktual prinsip dan isu terkini dalam masalah ekonomi, sosial budaya dan ekologi secara umum yang mempunyai pengaruh pada bidang rekayasa geofisika.
  12. Menguasai konsep, prinsip, tata cara bengkel, studio dan kegiatan laboratorium serta pelaksanaan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) secara umum.
  13. Menguasai wawasan pembangunan berkelanjutan secara umum dalam penerapan metodologi eksplorasi geofisika serta pengelolaan sumber daya alam.
  14. Menguasai konsep umum, prinsip, dan teknik komunikasi efektif secara lisan dan tulisan untuk tujuan spesifik secara umum.
  15. Menguasai pengetahuan faktual tentang perkembangan teknologi mutakhir dan material maju di bidang rekayasa geofisika secara mendalam.

Keterampilan Khusus

  1. Mampu menerapkan prinsip-prinsip matematika, sains, dan prinsip rekayasa (engineering principles) ke dalam prosedur, proses, sistem, atau metodologi rekayasa geofisika untuk membuat atau memodifikasi model dalam menyelesaikan masalah rekayasa kompleks (complex engineering problem) di bidang lingkungan, pemukiman, kelautan dan energi dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
  2. Mampu menemukan sumber masalah rekayasa melalui proses penyelidikan, analisis, interpretasi data dan informasi berdasarkan prinsip-prinsip rekayasa geofisika.
    c. Mampu melakukan riset yang mencakup identifikasi, formulasi, dan analisis masalah rekayasa geofisika.
  3. Mampu merumuskan alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah rekayasa geofisika kompleks dengan memperhatikan faktor-faktor ekonomi, kesehatan, keselamatan publik, kultural, sosial dan lingkungan.
  4. Mampu merancang sistem, proses dan komponen dengan pendekatan analitis dan mempertimbangkan standar teknis, aspek kinerja, keandalan, kemudahan penerapan, keberlanjutan serta memperhatikan faktor ekonomi, kesehatan dan keselamatan publik, kultural, sosial dan lingkungan.
  5. Mampu memilih sumber daya dan memanfaatkan perangkat perancangan dan analisis rekayasa geofisika berbasis teknologi informasi dan komputasi yang sesuai untuk melakukan aktivitas rekayasa geofisika.
  6. Mampu meningkatkan kinerja, kualitas atau mutu suatu proses melalui pengujian, pengukuran obyek, kerja, analisis, interpretasi data sesuai prosedur dan standar kegiatan eksplorasi geofisika dengan memeperhatikan kaidah geologi dan tujuan eksplorasi.
  7. Mampu menggunakan teknologi mutakhir dalam melaksanakan pekerjaan rekayasa geofisika di bidang lingkungan, pemukiman, kelautan dan energy.
  8. Mampu mengenali perbedaan karakteristik medan eksplorasi darat dan laut yang dapat berpengaruh terhadap kualitas data hasil pengukuran.
  9. Mampu mengorganisasi data dan menyajikannya kembali dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
  10. Mampu membaca peta dan citra satelit serta menentukan orientasi peta di lapangan menggunakan GPS, kompas dan data satelit.
  11. Mampu mengkritisi prosedur operasional lengkap dalam penyelesaian masalah teknologi rekayasa geofisika yang telah dan/atau sedang diterapkan, dan dituangkan dalam bentuk kertas kerja ilmiah.

Apa yang akan dipelajari di Teknik Geofisika ITS?

Berikut adalah Mata Kuliah yang akan kalian pelajari di Teknik Geofisika ITS:

kurikulum_geofisika_ITS

kurikulum_geofisika_ITS_2

Informasi Lebih Lanjut Tentang Teknik Geofisika ITS?

  1. Website Departemen Geofisika ITS: http://geofisika.its.ac.id
  2. Website Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian (FTSLK) ITS: http://ftslk.its.ac.id

 

Semoga Berhasil ya! Sampai ketemu sebagai mahasiswa baru Teknik Geofisika ITS, vivat!!

Kalibaru – Benculuk Lewat Glenmore

“… diam-diam aku telah merindukan percakapan sederhana itu.” – a random thought

kalibaru_cottage_02

Kalibaru Cottage

Singkat cerita, akhirnya aku berhasil melakukan konspirasi, membujuk para pemegang kuasa di departemenku untuk mengadakan rapat di Kota ini. Kalibaru, yah begitulah nama kota kecil di pojok Selatan kabupaten Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jember ini.

Sejak dua puluh tahun lalu, aku sering sekedar lewat kota ini. Tapi tak pernah singgah satu malam pun di kota ini. Dari dulu hanya bisa membayangkan alangkah indahnya, singgah sejenak di kota ini, satu atau dua malam saja sudah cukup. Sekedar untuk mengusir kejenuhan berjipaku tanpa jeda dengan riuh kehidupan yang semakin bising.

Tidak ada yang istimewa dari kota ini, selain lokasinya yang berada tepat di kaki gunung Gumitir. Gunung yang telah dibedah oleh jalan aspal berkelok-kelok yang menghubungkan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Kebayangkan kan sejuk dan segarnya setiap jumput udara yang kita hirup di tempat ini? Kamu bisa bernafas sebebas-bebasnya, tanpa terbesit sedikitpun ketakutan akan bahaya polutan yang sudah mengepung kita dari segala penjuru arah. Pun, kamu tak perlu keluar uang ribuan rupiah untuk membeli cadar kw, alias masker warna hijau itu.

Aku sedikit tercenung ketika memasuki Kalibaru Cottage, tempat kami akan menginap itu. Pasalnya sebagian besar penginap hotel ini adalah para bule. Serasa menjadi orang asing di kampung sendiri. Suasana perkebunan yang tenang, bersih, rapi nan asri dengan pemandangan pegunungan yang menghijau di tempat ini, sungguh memanjakan setiap bola mata yang memandang, menenangkan jiwa-jiwa yang tengah dirundung lelah.

Hanya saja, guratan wajah sendu para perempuan sepuh, para buruh sapu yang kelelearn di sudut-sudut taman di hotel ini sedikit mengusik benakku ku. Mereka datang  ketempat ini, bekerja keras untuk sekedar menyelenggarakan hidup. Sementara diriku, bersenang-senang untuk merayakan hidup? Jalan hidup memang kadang terasa tak adil bukan, tetapi siapakah yang benar-benar memahami kemahaadilan Sang Pemberi hidup?

Alangkah eloknya, tenguk-tenguk sejenak di tempat ini. Melepas sebentar segenap beban kepala dan hati yang gusar. Di pangkal pagi hari yang perawan, bersama burung-burung yang berorkestra menyenandungkan puja puji untuk Tuhan, dengan secangkir teh wangi hangat yang menenangkan. Atau, di penghujung senja yang temaram, bersama tonggeret yang bernyanyi malu-malu di balik pohon-pohon hutan.

Selain susana dan pemandangan yang memanjakan mata dan jiwa, untuk urusan perut di tempat ini ada juga masakan yang istimewa.  Sayur pakis namanya. Rasa tetumbuhan paku khas pegunungan ini luar biasa nikmatnya. Apalagi disayur dengan kuah santan kental yang gurih. Sudah bertahun-tahun lamanya tak bersua makanan ini. Di tempat ini ku mendapatinya kembali. Menikmati sayur pakis ini, menerbangkan ingatanku pada masa perihatin, makan seadanya tapi nikmat luar biasa, waktu jadi santri di pondok pesantren Blokagung, banyuwangi.

Agenda hari ketiga persinggahan kami di kota ini adalah jalan-jalan. Kami menyewa sebuah bus yang akan mengantar kami jalan-jalan di wilayah Banyuwangi Selatan. Satu diantaranya adalah pantai pulau merah. Tetapi, aku harus berpisah dengan rombongan. Ada tempat wisata yang paling indah yang harus kutuju, emak. Adakah peristiwa yang lebih bermakna dari pertemuan anak dan biyung nya?

Hampir 30 menit aku menunggu bus antar kota, Jember-Banyuwangi, di pinggir, seberang jalan di depan hotel. Tetapi yang  ditunggu tak datang-datang. Kata Pak satpam, jumlah bus saat ini memang sangat jarang. Orang-orang lebih senang naik mobil atau sepeda motor.

Akhirnya, akupun ikut rombongan. Ku turun di Glenmore. Di sebuah pertigaan, di pinggir jalan, di depan sebuah kios bensin eceran, aku  kembali menunggu bus yang sama.  Rupanya menunggu bus benar-benar menguras kesabaran. Untungnya aku punya hobi memerhatikan orang. Ku amat-amati saja setiap orang yang berlalu lalang.

Hampir satu jam, akhirnya yang ditunggu pun datang. Bus lusuh yang penumpang nya lengang itu betapa beruntungnya mendapati penumpang satu-satunya dari Glenmore. Di dalam bus hanya ada beberapa orang saja, yang tentu saja masih dihitung dengan jari-jari tangan.

Dua diantaranya, sepasang muda-mudi, bule dengan ransel bakpacker besar. Keduanya terlihat sedang asyik mengobrol dengan seorang ibu berjilbab yang begitu percaya diri dengan kosalata bahasa Inggrisnya yang pas-pasan. Sang ibu bercerita kalau suaminya pernah bekerja di hotel tempat dua bule itu menginap di Kalibaru, sebelum akhirnya sang suami beralih profesi sebagai driver. Sang bule sedang dalam perjalanan ke Denpasar, Bali.

Aku senyum-senyum sendiri, saat topik pembicaraan beralih ke Gempa yang baru saja melanda Lombok dan sekitarnya. Si ibu sepertinya tidak paham earth quake yang dilafalkan si bule. Sampai bahasa tubuh ala tarsan yang lucu dari dua bule berhasil memahamkan si Ibu.

Selama perjalanan tak henti-hentinya pedagang asongan dan pengamen bergantian. Ada yang jualan minuman, kerupuk rambak, kopiah, sampai nasi bungkus. Tak ketinggalan, para penjual itu menawarkan dengan ramah barang daganganya ke si bule.

This is Rice Cat. Five thousands rupiah !

Tawar si penjual nasi bungkus ke si bule, dengan logat jawanya yang sangat kuat.  Aku ketawa dalam hati, karena terdengar lucu. Si bule entah pelit, entah kere, tak bergeming dengan tawaran para penjual itu. Aku saja dalam beberapa menit, sudah dapat satu keresek kerupuk rambak dan satu buah kopiah warna putih.

Masih seperti dulu, bus ekonomi satu-satunya moda transportasi umum yang masih begitu merakyat. Menjadi salah satu gigi roda penggerak ekonomi kawan-kawan kami di akar rumput. Penumpangnya pun sama: masih ramah, jujur, dan apa adanya.

Penumpang di sampingku pun sepanjang perjalan tak henti-hentinya bercerita. Keluh kesah susahnya hidup menjadi rakyat pinggiran, yang tak pernah mendapatkan sorot kamera media. Betapapun mereka menjerit. Kecuali jika bencana datang, dan para penguasa mencuri kesan.

Diam-diam aku telah merindukan percakapan sederhana apa adanya itu. Pun di kereta ekonomi yang dulu pernah merakyat itu. Betapa rasanya sekarang ruang sosial di perkotaan dipenuhi oleh suasana penuh gimmic, kepura-puraan, basa-basi, dan individualisme. Mudah-mudahan aku yang salah.

Hai ‘Riset’ ! Apa kabar?

…. terkadang masa-masa sulit, masa perjuangan adalah hal terindah dari kenangan perjalanan hidup manusia – a random thought

research_diary

Research Diary

Kemaren, kiriman 1 box sisa-sisa barang kami di Inggris, setelah melalui perjalanan yang panjang dan berliku, sampai juga di rumah. Satu setengah tahun sudah kami kembali di Indonesia. Dan barang-barang itu kami berhasil membuka kenangan kami kembali. Terperangkap dalam nostalgia. Eaa…

Dan diantara yang paling membuat saya tercenung adalah, beberapa buku tulis tebal, yang tidak lain adalah buku diary riset PhD saya. Sebagai mahasiswa S3 yang kadang-kadang rajin, saya terbiasa menulis apa yang akan saya lakukan dan apa yang telah saya lakukan di buku diary itu.  Memang mengelola proyek riset selama 4 tahun sendirian tentu bukan pekerjaan mudah. Apalagi kalau tidak well-documented bisa kacau balau dan acak adut, ketika harus menuliskan kembali apa yang telah kita lakukan.

Lembar demi lembar saya buka kembali buku itu sepenuh perasaan, beratus-ratus halaman jumlahnya.  Dan semuanya tulisan tangan. Dulu saya menulisnya penuh duka dan air mata. Sekarang, saat membacanya kembali rasanya pengen menertawakan diri sendiri.

Selain catatan riset, banyak curhatan, keluhan, kata-kata penyemangat, bahkan pisuan kepada diri sendiri. Membacanya kembali, membuat saya bersyukur bahwa saya telah melewati hari-hari sulit itu. Sungguh, perjalanan studi S3 adalah perjalanan yang tidak saja menguras fikiran, tapi juga menguras perasaan. Berkali-kali sudah rasanya saya pernah berfikir tidak akan bisa menyelesaikan. Berkali-kali sudah rasanya saya menemui jalan buntu. Berkali-kali sudah rasanya saya pernah merasa mengambang di antara ketidakpastian.

Tetapi, alhamdulilah setiap cerita pasti ada akhirnya. Dan kebetulan, pada akhirnya saya bisa mengakhiri dengan baik. Buat saya, dari pengalaman sekolah dari TK sampai S3, sekolah S3 inilah yang paling menantang. Kalau boleh saya simpulkan top tips bisa menyelesaikan PhD adalah:

  1. Jaga hubungan baik dengan Supervisor. Rendah hati dan mengalah sajalah sama supervisor tidak perlu banyak bertentangan. Termasuk bisa menahan diri untuk bersabar terhadap hal-hal yang kurang baik dari supervisor. Layaknya manusia pada umumnya, supervisor macam-macam bentuknya. Ada yang ‘baik’ tetapi juga tidak sedikit yang ‘jahat’. Berhusnudzon selalu saja.
  2. Perseverance. Sabar dan ulet. Namanya riset, which is aiming at creating new knowledge, sudah pasti penuh ketidakpastian, kadang salah, kadang gagal. Mental juga sama, kadang semangat, kadang down sampai pada titik nadzir. Semuanya normal. Jatuh adalah hal yang biasa. Tetapi harus bangkit lagi setelah jatuh.
  3. Banyak berdoa. Pengalaman saya banyak teman-teman PhD yang stres, depresi, bahkan sampai masuk klinik kesehatan jiwa. Berdo’a akan sangat membantu menenangkan jiwa kita kawan.

Buat saya, dan mungkin banyak teman-teman juga setuju faktor kepintaran dalam menyelesaikan PhD tidaklah penting, itu nomor dua puluh satu mungkin. Banyak teman-taman yang sangat pintar, tapi gagal baik di tengah maupun akhir perjalanan.

Buat teman-teman yang sedang berjuang menyelesaikan PhD, terus berjalan saja. Meski titik akhir perjalanan kadang terlihat masih sangat gelap. Buat teman-teman yang berencan Ph.D. be mentally well-prepared ! Siapkan mental saja kawan! mental yang kuat jatuh bangun selama perjalanan studi yang kadang dirundung ketidakpastian.

Dan ketika membuka catatan-catatan itu kembali, tiba-tiba terbesit kerinduan pada kerja-kerja ilmiah seperti dulu lagi. Saya jadi teringat kata-kata salah seorang profesor di Indonesia begini:

PhD adalah puncak karir akademik tertinggi dosen-dosen di Indonesia.

Seharusnya selesai PhD adalah awal karir ilmiah seseorang, karena PhD memang tidak lain adalah research training. Tetapi, sayangnya setelah kembali ke Indonesia kebanyakan kalau tidak semua, pada akhirnya memilih bahkan tidak bisa memilih untuk menjadi pejabat dan terjebak dengan kerja-kerja administratif. Bahkan yang sudah bergelar Profesor atau Guru Besar. Sehingga ada guyonan di Indonesia itu GBHN, Guru Besar Hanya Nama. Gelar administratif belaka.

Gelar nya profesor, tetapi nyaris tidak pernah melakukan kerja-kerja ilmiah. Tidak percaya? Cek saja di google scholar. Perhatikan, biasanya karya ilmiah berkualitas tertingginya (i.e. terbit di Jurnal Q1) adalah diperoleh setelah S3. Setelahnya? biasanya publikasi ecek-ecek saja.

Yah, yang saya alami dan rasakan memang kehidupan akademik kampus-kampus di Indonesia masih jauh dari kondisi ideal untuk melakukan kerja-kerja ilmiah, i.e. melakukan penelitian. Waktu habis tercurahkan untuk kerja-kerja administratif dan mengajar.

Kecuali mungkin sebagian orang-orang yang punya ‘kekuatan’ luar biasa untuk fokus pada akademik termasuk berani untuk memilih sedikit egois menolak kerja-kerja administratif. Tetapi tentu kalau semuanya egois, yang lainya pasti ada yang berantakan.

Saya yang termasuk terjebak dengan timpukan pekerjaan administratif, hehehe. Dan sayangnya, saya tidak memiliki ‘kekuatan’ luar biasa itu. Dan jadilah ngenes begini.

Sebenarnya, kalau salary dosen dan peneliti di Indonesia sudah sebaik di negara maju Dan pekerjaan-pekerjaan administratif diserahkan ke tenaga-tenaga profesional di bidangnya dan para dosen bisa fokus pada meneliti dan mengajar, perguruan tinggi akan kembali menemukan marwahnya sebagai tempat munculnya ilmu-ilmu baru. Bukan sekedar broker ilmu pengetahuan belaka.

Salary yang pas-pasan, mendorong dosen-dosen lebih senang mencari proyekan di luar. Pekerjaan administratif mendorong orang-orang lebih mementingkan tugas jabatan administratifnya.  Tugas ilmiahnya jadi tak tersentuh. Akibatnya diskusi dosen nyaris semuanya adalah tentang hal-hal administratif dan hal remeh temeh lainya. Diskusi ilmu? senyap-senyap saja. rasanya tak pernah aku mendengarnya.

Jadi jangan tanya kenapa kampus-kampus Indonesia peringkatnya jauh di bawah. Tidak usah jauh-jauh membangdingkan dengan kampus di Inggris. Dari kampus-kampus di Malaysia dan Thailand saja kita sudah sangat ketinggalan jauh (lihat datanya disini). Padahal, usia kampus-kampus kita jauh lebih tua dari kampus-kampus mereka.

Welcome to the reality dude! Kalau mau benar-benar berkarir akademik dan peneliti ndak usah pulang ke Indonesia. Saya tahu tidak sedikit teman-teman saya yang akhirnya memilih hidup di negara lain, bahkan negara tetangga. Dan saya tahu karir akademiknya luar biasa. Beginilah hidup di negeri ini. Orang-orang masih sibuk pada bungkus, tetapi melupakan esensi. Hem entahlah, entahlah.  Kadang ingin berputus asa mencintai negeri ini. Tetapi hidup harus dinikmati bukan digerutui bukan?

Ya Tuhan, ajari aku darimana dan bagaimana harus memulai. Mungkin saya harus mulai dengan membaca paper jurnal kembali (Kapan ya terakhir baca? hehe).