Dari Kereta Api Ranggajati: Masih Manusia Kah Kita?

“ …. Bagi manusia yang penting bukan kemanusianya, tapi status sosial, harta benda, dan kekuasaanya. di semua peta sosial, yang primer bukan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan – melainkan kemenangan, kegagahan, dan keunggulan “ – Mbah Nun

kereta_api

Ilustrasi: Kereta Api Indonesia

Untuk kesekian kalinya, aku menulis cerita ini ketika berada di dalam gerbong kereta api. Kali ini kereta api Ranggajati, jurusan Jember-Purwokerto. Aku duduk di Gerbong Bisnis 3 Kursi Nomor 2B dengan laptop tua Lenovo hitam pinjaman kantor, yang nafasnya sudah sering tersengal-sengal alias nge hang, jika diberi pekerjaan sedikit berat saja. Tak apalah, setidaknya aku masih bisa mengetik tulisan ini.

Hari ini lagi-lagi, aku merasa beruntung sekali. Tiket kereta yang kubeli satu jam sebelum keberangkatan itu hanya seharga Rp.65.000 lebih murah dari harga tiket kereta ekonomi. Seorang bapak yang naik bersama dan duduk disebelah kanan ku pas harganya Rp. 400.000. Pasalnya, si bapak memesan tiket itu semalam sebelumnya.

Haha lucu sekali. Rupanya teori revenue management system tidak berlaku di negara ini. Di luar negeri, kalau mau harga tiket murah, belilah jauh-jauh hari dan pesan secara online. Jika membeli tiket beberapa jam sebelum keberangkatan, sudah bisa dipastikan harganya bisa beratus-ratus persen lebih mahal. Dan hal sebaliknya malah terjadi pada penjualan tiket kereta api di Indonesia ini.

Aku sekarang sudah tahu triknya. Beberapa kali aku iseng melihat harga tiket kereta secara online. Seperti semalam aku juga mengecek harga tiket kereta api yang sedang aku naiki ini. Benar seperti Bapak di sebelahku ini, harga tiketnya Rp. 400.000. Untung jika masih ada, sering kali tiket sudah tidak tersedia.

Tetapi ternyata, anehnya jika kita membeli tiket yang sama langsung di loket pembelian di stasiun, dua jam sebelum keberangkatan, harganya jauh lebih murah, seperti tiket ku ini yang hanya Rp. 65.000. Pun demikian jika secara online tiket sudah tidak tersedia. Aku sudah membuktikan, ternyata kalau membeli tiket beberapa jam sebelum keberangkatan malah ada. Sistem ini begitu menguntungkan orang-orang yang menyukai spontanitas, tidak suka perencanaan alias grusa-grusu seperti diriku.

Di sepanjang perjalanan, alam pikiran ku masih tercenung pada poin-poin menggigit dari artikel tulisan Mbah Nun yang aku baca tadi malam. Seperti biasa, Mbah Nun sangat jenius membaca tanda-tanda zaman. Betapa, keresahan-keresahan yang selama ini hanya terbatin menjadi kegelisahan senyap didalam hati melihat kenyataan hidup di rumah, di kampung, di tempat kerja begitu ter well-articulated oleh artikel itu. Mbah Nun mendeskripsikan kondisi manusia-manusia indonesia saat ini seperti begini petikanya:

Bagi manusia yang penting bukan kemanusianya, tapi status sosial, harta benda, dan kekuasaanya. Bagi sekolah dan Universitas, bukan ilmu yang penting, tapi gelar kesarjanaanya. Bukan tujuan hidup yang penting, tapi jumlah pemilikan kedunianya. Dalam beragama yang terpenting bukan ridla Allah, tetapi gaya kealimanya, branding keulamaan, gengsi kecendiakawanan, serta keuntungan materi di dunia maupun pahala materiil di Sorga. Di semua peta sosial, yang primer bukan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan – melainkan kemenangan, kegagahan, dan keunggulan.

Pendek kata, kondisi kejiawaan manusia-manusia modern jaman sekarang itu membuat aku bertanya-tanya: masihkah kita manusia?

Di rumah, di kampung halaman, aku mulai merasa ada hal yang mengganjal dan berbeda. Hubungan antar manusia yang dulu ada begitu tulus dan apa adanya sebagai manusia, kini perlahan-lahan telah sirna. Hanya kepentingan sendiri belaka yang menyatukan mereka itu. Orang-orang secara tidak sadar melekatkan harga dirinya pada harta benda dan jabatan yang digenggamnya. Yang berharta dan berkedudukan merasa dirinya besar luar biasa. Sebaliknya yang miskin papa merasa kecil tak berguna.

Di kantor pun demikian. Entahlah belakangan aku merasa kurang nyaman. Dunia akademik yang dulu kubayangkan nyaman rupanya tak seindah yang kubayangkan. Setiap individu, setiap klan, merasa harus unggul dan harus mengungguli. Kenapa kita tidak unggul bersama-sama saja? Pun demikian dengan proses pendidikan, rasanya seperti proses di pabrik yang dituntut untuk menghasilkan produk sebanyak-banyaknya. Tetapi kehilangan ruh kearifan dalam pendidikan dan pengajaran. Kegiatan penelitian pun demikian, kehilangan ruh semangat mengembangkan dan mengabdikan ilmu pengetahuan, berubah menjadi mesin untuk mendapatkan penghasilan jabatan.

Argh, Entahlah. Sepertinya aku yang salah. Sepertinya ini hanya perasaanku saja. Entahlah! Semoga kita tetap manusia. Bukan mur baut mesin peradaban yang memuja materi belaka. Semoga kita tetap manusia, yang memiliki ruh dan keindahan didalam hatinya. Semoga!

Di stasiun Jombang kereta berhenti agak lama. Seorang pramugari kereta api cantik berbaju dan berkerudung biru menawarkan bantal untuk disewa. Hanya tujuh ribu rupiah saja katanya. Aku tiba-tiba mengantuk, meski tak berniat menyewa bantal itu. Dan segera ku akhiri catatatn ini.

Dalam Gerbong Kereta Api Rangga Jati
Antara Jember – Purwokerto
08/07/2017 – 14 Syawal 1438 H

Advertisements

Di Area Tunggu Keberangkatan Kereta Api

… tulisan untuk membunuh waktu menunggu – a random thought

blog_st_gubeng

Area Tunggu : St. Gubeng

Aku menulis cerita ini sambil duduk di salah satu kursi deret pojok paling belakang, di area tunggu keberangkatan kereta api, Stasiun Gubeng Surabaya. Dengan Di pagi hari yang cerah dan sudah menghangat ini, kereta ku dijadwalkan baru akan datang dan berangkat 1 jam lagi.

Seorang perempuan berjilbab kain bermotif kotak-kotak hitam-putih, seperti papan catur atau motif kain yang biasa dijumpai di Pulau Bali untuk membungkus pohon atau pura tempat persembahyangan, sedang menggelar konser organ tunggal. Aduhai suaranya amat merdu sekali. Menembangkan lagu-lagu kenangan tempo dulu, lagu religi, lagu jawa, pun lagu kekinian.

“ …. ternyata aku makin cinta, cinta sama kamu, hanya kamu seorang” suara si mbak itu begitu menyentuh hati dan menggetarkan relung-relung jiwa. Aku yakin banyak orang yang terhanyut terbawa nostalgia cerita masa lalu yang mengiringi lagu-lagu yang dibawakan si mbak. Apalagi kulihat banyak calon penumpang senior alias sepuh di area tunggu ini.

Yang kutahu, di stasiun gubeng baru ini memang tempat mangkalnya pengamen-pengamen berkelas. Salah satunya si mbak ini. Tidak hanya menghibur para calon penumpang, si mbak yang manis dan murah senyum ini tak pernah absen menginformasikan nama kereta yang datang dan berangkat dari stasiun, menggantikan tugas petugas stasiun.

Hari ini di stasiun masih terasa suasana riuh euforia lebaran. Area tunggu penuh sesak dengan calon penumpang dengan koper-koper besar. Bahkan banyak calon penumpang yang tidak kebagian tempat duduk di area tunggu, duduk ndlosor di lantai. Calon penumpang didominasi rombongan keluarga. Maklum, masa libuan sekolah baru akan berakhir satu minggu lagi.

Disamping kiri ku duduk seorang bapak-bapak yang sudah lumayan sepuh, sedang khusuk merapal bacaan ayat-ayat suci dan doa dari buku saku kecil berjudul “Majmuk Syarif”. Aku langsung teringat nostalgia di pesantren dulu, buku saku kecil ini setia menemani ku sepanjang hari. Setidaknya setiap pagi dan petang ku rapal bahkan kuhapal ayat-ayat suci dan doa-doa dari buku saku ini. Di depanku seorang perempuan dengan pakain sosialita syar’i yang terlihat berkelas terlihat sibuk dengan handphonenya. Seorang porter membawakan dan menjaga koper si ibu ini.

Stasiun Gubeng Surabaya
Sabtu 09:00, 08-Juli-2017 / 14 Syawal 1438 H

Satu Hari di Kota Pekanbaru

… setiap kota yang baru pertama kali aku kunjungi selalu menyimpan kenangan sendiri, tak terkecuali kota Pekanbaru ini – a random thought

blog_rumah_panggung

Rumah Panggung Di Pinggir Sungai Siak, Pekanbaru Riau

Akhirnya sampai juga di kota ini. Kota Pekanbaru, salah satu pusat bangsa Melayu di bumi nusantara. Aku begitu ingin segera berkunjung di kota ini. Waktu di Inggris, banyak sekali teman-teman ku yang sedang mengambil program doktor di berbagai kota di Inggris berasal dari Universitas Riau Pekanbaru ini. Disamping teman-teman dari Universitas Muhammadiyah Solo.

Yang aku tahu rektor dari dua universitas ini begitu giat mengirimkam dosen-dosen nya untuk segera mengambil program doktor di luar negeri.  Karenanya, aku sangat yakin dua kampus ini akan menjadi salah satu kampus yang terbaik di Indonesia.

Aku datang ke kota ini niatnya jalan-jalan, yang dibalut presentasi makalah di seminar nasional teknologi informasi, komunikasi, dan industri yang diselenggarakan oleh fakultas sains dan teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru, Riau. Judul seminarnya sekilas seperti menarik: integrasi teknologi informasi  dan Islam. Realitanya? Ah sudahlah, orang-orang sekolahan ini suka ada-ada saja. Dan akupun tak pernah tertarik untuk membahasnya. Lebih baik kita bahas jalan-jalanya saja ya. Yang penting, dengan ikut seminar ini, aku bisa jalan-jalan gratis saja.

Aku berangkat dari bandara Juanda Surabaya pukul  enam pagi, dengan pesawat Garuda kelas ekonomi, transit ganti pesawat di Bandara Sukarno Hatta Jakarta, dan tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, sekitar pukul 10 pagi. Langsung menuju hotel Pangeran, tempat seminar dan tempat ku menginap. Seminar usai di sore hari, sehingga aku bisa menghabiskan sore itu untuk jalan-jalan keliling kota.

Sekilas, kota ini tak ada bedanya dengan kota-kota lain di Indonesia. Isinya kurang lebih hampir sama. Maklum di negeri ini, kemajuan di negeri disama artikan dengan kemajuan ala kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi perkantoran, pusat perbelanjaan, kemacetan, apalagi? tidak ada yang lebih menarik bukan?

blog_nasi_lemang

Pennjual Nasi Lemang, Menunggu Pembeli

Tetapi setidaknya ada suasana yang berbeda. Sore itu, aku berjalan menyusuri trotoar kota yang kondisinya sungguh memprihatinkan. Bukan saja tidak nyaman, tetapi penuh jebakan. Jika tidak awas, bisa terperosok ke dalam selokan lebar saluran air yang penutupnya telah hancur entah kemana tak pernah diganti. Di sepanjang jalan itu terlihat banyak sekali penjual nasi lemang. Itu lowh, nasi yang dimasak dengan cara dibakar di dalam ruas bambu. Sebatang nasi lemang hangat itu harganya Rp. 35.000.

Maksud hati, jalan-jalan sore keliling hati. Tapi rupanya sungguh sangat menyiksa. Aku lupa ini bukan kota-kota di Eropa Bung. Trotoar yang sempit dan mengundang bahaya belumlah seberapa. Yang lebih menyeramkan adalah ketika harus menyeberang jalan. Alamak, sungguh seperti mempertaruhkan nyawa saja rasanya.  Tidak ada jembatan penyeberangan, apalagi setopan penyebarangan jalan seperti kota-kota di Eropa. Sungguh, seperti kota-kota lain, kota ini sangat tidak manusiawi dengan pejalan kaki.

Akhirnya, aku menyerah saja, kembali ke hotel, setelah rasanya kehilangan separuh nyawa ketika terpaksa memberanikan menyeberang jalan di tengah-tengah padatnya kendaraan yang jalanya kencang-kencang. Sesampai di hotel, seorang teman yang asli pekanbaru, telah menunggu di lobi hotel. Membawakanku satu keresek besar oleh-oleh khas kota Pekanbaru, dan siap mengajak ku menghabiskan sore dan malam dengan mobilnya.

blog_masjid_agung_pkb

Masjid Agung, Pekanbaru

Jadilah aku akhirnya keliling kota, menikmati suasana kota dari atas mobil. Tujuan pertama adalah masjid Agung, untuk sholat maghrib jamaah. Luar biasa besar, luas, dan megah masjidnya. Kebetulan, sang teman yang seorang doktor dalam bidang struktur bangunan lulusan Universitas Birmingham, Inggris ini adalah salah satu insinyur pembangunan masjid ini.

Aku begitu terkesima dengan luas dan megahnya interior masjid ini. Tapi sayang, masjid ini jauh dari perkampungan sehingga jamaahnya hanya sedikit saja. Yang menarik lagi, rupanya ekspresi keberagamaan di masjid ini, seperti halnya masjid-masjid di tanah melayu di Malaysia, sama persis dengan ekspresi keberagamaan di masjid-masjid di Jawa Timur. Tradisi keberagamaan ala NU nya sangat kental. Setelah sholat ada wiridan berjamaah yang dibaca nyarinng. Kabarnya ini bidah lo, menurut  teman-teman yang mengklaim dirinya ahali sunah.

Setelah sholah, kami berkeliling, menyusuri sudut-sudut kota Pekanbaru. Kebetulan saat itu sepuluh hari menjelang puasa ramadlan. Ternyata di kota ini ada tradisi tahlilan giliran di rumah-rumah penduduk, yang dilanjutkan acara makan-makan bersama, selama sepuluh hari menjelang puasa. Di jalanan terlihat orang-orang pria, wanita, berduyun-duyun keluar masuk rumah habis tahlilan. Indah sekali melihatnya.

blog_sate_padang

Sate Padang Pekanbaru

Setelah puas menikmati suasana kota, kami beralih ke wisata kuliner. Aku diajak oleh sang teman ke warung martabak mesir lalu ke warung sate padang yang legendaris. Martabaknya sih biasa-biasa saja, tetapi sate padangnya yang benar-benar legendaris. Uenake rek tenanan. Apalagi disajikan dengan daun pisang dan teh anget manis. Bumbu dan dagingnya menyatu padu enak sekali.

Ada yang menarik dari deretan warung sate padang di kota Pekanbaru ini. Hampir semua penjualnya adalah orang padang atau orang Jawa, tetapi pemiliknya yang sekaligus kasirnya hampir bisa dipastikan adalah orang Cina. Tidak ada salahnya bukan? Tidak takut dagingnya tidak halal? Kalau aku sih haqul yakin saja pasti halal, kalau tidak halal pastilah warung ini tidak laku di tengah komunitas kota yang mayoritas muslim ini. Jalan-jalan malam itu ditutup dengan silaturahmi ke rumah sang kawan. Berjam-jam aku singgah hingga larut malam. Entahlah sedang ada setan apa yang menempel ditubuhku, si anak lanang sang teman begitu luengket dan akrab sekali denganku malam itu. Lalu sang teman mengantarkan ku kembali ke hotel.

blog_miesayur_pkb

Mie Sayur Pekanbaru

Ohya, ada lagi makanan super enak di Pekanbaru ini. Aku menemukanya saat sarapan pagi di hotel. Aku sampai sarapan dua kali. Ceritanya, waktu sarapan pertama vouchernya tidak diminta. Jadilah, dipakai lagi untuk sarapan kedua. Makanan itu hanya mie sayur sebenarnya. Tapi sayur dan kuahnya yang luar biasa lezat. Sayurnya adalah sayur pakis muda. Sudah lama sekali rasanya tidak makan sayur pakis muda ini. Kalau tidak salah ingat, aku terakhir kali makan sayur ini sekitar hampir 20 tahun yang lalu, waktu nyantri di pondok pesantren Blokagung, Banyuwangi. Pesantrenku dekat dengan hutan, jadi pakis muda ini dijual murah di pasar pesantren. Dulu aku memasaknya sendiri. Selain sayurnya yang istimewa, kuahnya juga istimewa. Gurihnya juara satu.

blog_teh_tarik

Teh Tarik Malaysia

Pagi, keesokan harinya aku jalan-jalan ke Pasar besar untuk membeli oleh-oleh dan jalan-jalan sebentar di Jembatan dan Pinggiran Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru. Berangkatnya dengan naik taksi bayar 30 ribuan. Ternyata pasar besar tidak seindah yang aku bayangkan dimana akan banyak kutemukan oleh-oleh khas Pekanbaru. Selain keripik Balado, sebagian besar oleh-oleh yang dijual adalah produk Cina dan Malaysia. Salah satu yang jadi andalan adalah Teh Tarik. Teh khas Malaysia ini adalah minuman favoritku waktu aku tinggal di negeri itu.

blog_jembatan_sungai_siak

Jembatan Sungai Siak, Pekanbaru

Kemudian aku keliling kota sebentar di sekitar salah satu jembatan sungai siak. Not bad lah. Sungainya sangat luas, meskipun tidak jernih, tetapi airnya tidak terlalu tercemar pula. Ada sebuah kapal tak bertuan bersandar di pinggir sungai. Dalam hati aku hanya bisa mbatin, sungai sebesar ini sepatutnya bisa dioptimalkan fungsinya menjadi something. Aku tiba-tiba jadi teringat kota Rotterdam, dimana sungai benar-benar dioptimalkan kemanfaatanya sebagi moda transportasi yang bisa dihandalkan. Atau kota Amsterdam, yang sungainya penuh dengan kapal wisata yang begitu diminati para turis.

Setelah beberapa jenak, aku memutuskan kembali ke hotel dengan naik Angkot. Niatnya seru-seruan naik angkot, eh ternyata dipalaki sama sopir angkot. Harganya dua kali lipat dari ongkos taksi. Haha!

 

Sego Berkat

…. tidak sekedar bumbu-bumbu desa yang alami yang menjadikan istimewa, tetapi bumbu kesabaran, ketulusan dan keikhlasan yang  yang menjadikanya lezat tak terkira – a random thought

blog_sego_berkat

Sego Berkat

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan selalu menjadi hari-hari istimewa di kampung halaman istriku di Madiun. Bukan saja karena wasiat langit yang mengistimewakan hari-hari iu untuk khusuk khusuk mendekatkan diri ke sang pemberi kehidupan, tetapi kearifan sosial orang-orang di kampung itu.

Di hari-hari inilah, orang-orang di kampung ku sejak dahulu kala saling berbagi makanan. Weweh dan gendurean namanya. Weweh itu mengantarkan serantang makanan ke tetangga atau saudara, yang kemudian dibalas dengan memberikan selembar dua lembar uang di rantang yang telah kosong. Gendurenan itu mengundang beberapa tetangga terdekat dan pak modin, berdoa bersama untuk kebaikan yang dipimpin pak modin, lalu ditutup dengan membagi makanan, setelah dibagi, nasi bagian kita dibungkus dengan daun pisang untuk dibawa pulang. Sebungkus nasi itulah sego berkat namanya.

Buatku sego berkat inilah makanan paling enak sedunia.  Sego gureh atau nasi kuning yang punel, sayurnya urap-urap, serondeng, rempeyek, dan ayam kampung panggung, subhanallah rasanya begitu istimewa dan melegenda. Sebenarnya, makanan ala-ala ndeso seperti ini sudah gampang dipesan secara instan di kota-kota, seperti Surabaya. Tapi entahlah, meski serupa tapi tak pernah sama. Rasanya ada yang lain.

Aku pikir karena di sego berkat dikampung ini ada proses panjang yang mengiringinya. Ada kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan yang menyertainya. Bayangkan, sego berkat itu dimasak sendiri oleh sohibul hajat, dari pagi hingga petang hari. Nasinya dari padi yang ditanam, dirawat, dan dipanen dengan tangan mereka sendiri, berbulan-bulan lamanya dari mulai menyemai benih, menuai hingga diselep jadi beras. Sayurnya, dari sayur-sayuran yang ditanam, dirawat, dan dipetik dari sawah-ladang sendiri. Pun demikian dengankelapa dan bumbu-bumbunya, hampir semuanya dari sawah-ladang sendiri. Ayamnya pun disembelih sendiri dari ayam super bahagia, yang dipelihara sendiri, hidup bebas berkeliaran di kebun, memakan apa saja dari cacing, jagung, serangga, padi, bungkil kelapa, dan sebagainya. Bukan ayam-ayam terpenjara dalam kerangkeng kawat di industri ternak ayam.

Jadi amat maklum jika sego berkat ini nikmatnya luar biasa. Apalagi sego berkat ini habis dirapal dengan bacaan doa-doa dan nasi bungkus daun pisang itu dimakan keroyokan bersama-sama. Dan yang paling penting, gratis lagi. Ada bumbu keikhlasan dan ketulusan dari sohibul hajat yang membuat nya teramat istimewa. Sementara, di kota, sego ala ndeso, meski serupa tapi tak pernah sama. Karena sudah nyampur dengan proses industri dan ada transaksi bisnis yang meliputinya. Dan apalagi harganya cukup mahal.

Semoga kearifan sosial di kampung halaman ini akan terus bertahan di tengah arus ekspansi dajjal globalisasi, dimana semunya ada ukuran uangnya. Bahkan harga diri pun sudah dititipkan pada materi dan uang. Salam dari kampung!

Dari Sancaka Lebaran: Festival Pulang Kampung

Hidup kadang seperti sebuah festival, menghentikan kesibukan beberapa jenak untuk merayakan kehidupan – a random thought

mudik_lebaran

Suasana Mudik Lebaran 2017 di St. Gubeng Surabaya

Kembali, lagi-lagi aku menulis catatan ini dari dalam gerbong kereta api. Kali ini dari gerbong eksekutif 2, nomor tempat duduk 1C, kereta api Sancaka Lebaran jurusan Surabaya-Yogyakarta. Seperti namanya, mungkin ini kereta api tambahan khusus menjelang lebaran. Kereta berangkat dari stasiun Gubeng Surabaya pukul 09.40 dan akan tiba di stasiun tugu Yogyakarta 5 jam kemudian.

Sebenarnya tadi aku ingin naik kereta ekonomi saja, seperti biasanya, agar lebih berasa suasananya. Tetapi sayang semua tiket kereta ekonomi sudah habis terjual. Dan tiketku ini adalah benar-benar tiket terakhir yang tersisa. Yah, bagaimana tidak aku membeli tiket go show, hanya beberapa jenak sebelum kereta berangkat, di hari minus tiga sebelum lebaran. Saat orang-orang normal sudah merencanakan perjalanan mudik jauh-jauh hari bahkan bulan sebelumnya, aku yang tidak suka merencanakan dan suka spontanitas dalam hidup, tentu tidak merencanakan sama sekali. Beruntung, kok nya ndelalah masih dapat tiket kereta api.

Begitulah, perjalanan hidupku mengajari ku. Meski nyaris tidak pernah merencanakan, sering kepepet, tetapi alhamdulilah aku selalu merasa beruntung. Buat apa terlalu merencanakan hidup, jika hidup kita bukan sebenar-benar milik kita. Bukankah ada Dia disana Yang Maha merencanakan. Bukankah rencanaNya selalu yang terbaik dan terindah.

Di dalam gerbong kereta, aku duduk sendirian di kursi paling depan berhadapan langsung dengan sebuah layar LCD. Dibanding kereta ekonomi, tempat duduknya lebih empuk ditambah ada bantal mungil yang aku gunakan untuk mengganjal MacBook ku. Kereta berjalan sangat kencang sehingga dari balik jendela pemandangan luar hanya terlihat seperti bayang-bayang. Tak seperti hari-hari biasanya, hari ini hari terasa sangat sendu. Dari semalam hujan turun sangat deras dan lama. Langit masih saja terlihat kelabu, menyembunyikan matahari yang entah dimana letaknya.

Sepanjang perjalanan pun demikian, langit masih saja kelabu kehitam-hitaman. Sesekali rintik hujan membasahi kaca jendela kereta. Benar-benar mengingatkan suasana typical di kota Nottingham dulu. Gloomy sepanjang hari-hari. Saat yang tepat untuk menidurkan sejenak hati dan fikiran yang lelah.

Di stasiun Gubeng tadi suasana riuh mudik lebaran sudah sangat terasa. Suasana yang sudah lama tidak kunikmati sejak empat tahun belakangan. Semua tempat duduk di ruang tunggu terisi penuh oleh calon penumpang. Bahkan beberapa diantara mereka rela ndelosor di lantai dengan tas-tas besar yang mengiringi. Antrian memasuki ruang boarding dan gerbong pun terlihat mengular. Di Jalan raya yang terlihat sepanjang perjalanan kereta pun demikian, mobil-mobil pribadi terlihat berderet-deret mengantri ruas jalan, tak ketinggalan barisan sepeda motor. Di facebook dan instagram apalagi, banyak sudah yang memamerkan peristiwa yang sama: mudik lebaran.

Aku tertegun sejenak dengan peristiwa budaya mudik lebaran ini. Bagaimana kita semua pada hakikatnya merindukan jalan pulang ke kampung halaman. Menengok kembali, tempat kita lahir dan tumbuh, sebelum akhirnya mendewasa dan memutuskan untuk meninggalkanya. Menengok kembali, bapak, ibu, dan saudara-saudara tempat bermuara segala kebahagiaan hidup, namun sering terlupan diantara kesibukan-kesibukan. Berjumpa kembali dengan teman sepermainan di masa kecil kita yang sudah tak terdengar kabar beritanya, dengan suasana yang jelas berbeda. Dulu masih anak-kanak, kini sudah pada punya anak-anak. Yang dulu dekil dan miskin, kini cantik dan berkelimpahan harta benda. Yang dulu muda dan gagah, kini sudah tua dan renta. Yang dulu ada dan berada, kini tinggal teringat nama dan telah tiada untuk selamanya. Yang semunya membuat kita tersadar, betapa cepat waktu terbang berlalu, mengganti peran dan peristiwa. Betapa perjalanan hidup kita hanya sementara dan sebentar saja. Sebelum akhirnya kita semua kembali pulang ke tempat asal muasal kita. Kepada siapa lagi, kalau bukan ke Tuhan Sang Maha Pencipta.

Di kampung halaman, kita kembali berjumpa dan bermaaf-maafan. Melepas rindu dan saling memberi kebaikan. Di kampung halaman kita menebar cinta kasih yang tak pernah memilih. Di kampung halaman, kita melebur-redam segala iri hati dan dendam. Di kampun halaman, kita belajar berhenti membanding-bandingkan. Di kampung halaman, kita kembali bukan untuk saling pamer kesuksesan. Bukankah, setiap kita adalah pemenang di jalan hidup kita masing-masing. Di kampung halaman, kita belajar kefanaan. Di kampung halaman, kita belajar merindukan jalan pulang. Pulang kembali kehadapan Tuhan. Selamat mudik di kampung halaman kawan! Mari saling memaafkan.

Kereta Sancaka Lebaran, Antara Surabaya-Yogyakarta
Kamis, 22 Juni 2017, 27 Ramadlan 1438 H.