Salam dari Desa Ku

… jika ada tempat yang nyaris tak pernah kita dengar atau lihat di media, tetapi senantiasa singgah menyebul gelembung rindu di hati, itulah desa, kampung halaman kita. Tempat yang senantiasa bercerita tanpa kata-kata di jalan sunyi – a random though

desa_penjual_jamu

Seorang Penjual Jamu Di Dusun

Jika ada tempat yang aku rindukan setiba di tanah air setelah lama pergi merantau, pastilah rindu itu tak sebesar rinduku pada kampung, desa, dusun halaman. Tempat orang-orang bersahaja menghidupi hidup dalam tarikan nafas kesederhanaan. Sesederhana angin yang berhembus saat hari menjamah malam. Tempat dimana kebahagian begitu melimpah ruah, dan senyum-senyum pun begitu murah terpancar dari wajah-wajah yang tulus.

desa_bebek

Pak Tani Menggiring Bebek Peliharaanya

Wajah dusun ku tak banyak yang berubah. Sedikit saja yang berubah. Dimana-mana semakin banyak warung atau toko menjual kebutuhan atau lebih tepatnya gaya hidup. Rupanya, racun konsumerisme mengganas sampai ke ujung-ujung dusun. Mobil-mobil mulus pun makin sering berseliweran menderu di jalan-jalan dusun yang sempit.

desa_ontel

Sepeda Ontel Di Tengah Sawah

Selebihnya tak banyak yang berubah. Rumah-rumah masih sesederhana yang dahulu. Orang-orang pun sebagian masih berprofesi seperti dahulu. Bertani di sawah, mengais rejeki di alas (hutan) yang sudah dikuasai pemerintah, beternak sapi dan domba, atau sekedar berjualan ala kadarnya seperti jamu atau kebutuhan sehari-hari. Kecuali sebagian besar para generasi mudanya, yang enggan atau lebih tepatnya gengsi untuk terjun ke sawah atau ke hutan, seperti leluhurnya. Mereka memilih bekerja di kota, walaupun hanya menjadi pembantu rumah orang-orang kaya atau menjadi buruh pabrik. Atau jika tidak, pergi sekalian ke luar negeri, ke hongkong, korea, saudi, atau ke malaysia.

desa_pergi_kesawah

Pergi Ke Sawah

Suara riuh ayam kampung, auman sapi dan embik kambing atau domba, serta cici cuit burung, masih terdengar seperti dahulu. Aku keluar dari rumah, mengayuh sepeda ontel warna merahku, perlahan menyusuri jalanan dusun yang membelah sawah-sawah luas yang terbentang di kiri dan kanan jalan.

desa_ngarit

Ngarit

Di tengah perjalanan, aku berseberangan dengan seorang pak tani yang menggiring ratusan bebek miliknya dari sawah menuju kandangnya. Kwek-kwek, riuh benar suara bebek-bebek itu. Lalu, di persimpangan jalan yang menuju hutan wonoasri itu aku berhenti. Kujagang sepeda ku, aku duduk di pinggir sawah. Mataku nanar menanap bentangan sawah sejauh mata memandang. Di sudut pandangan mata sana kulihat seorang petani sedang sibuk bekerja.

Lubuk hatiku ingin menyapa: apa kabar wahai dusun ku? Sawah-sawah itu seolah ingin bercerita kepada ku, tentang keluh kesah nasib para petani yang begitu-begitu saja. Nasib yang tak kunjung mentas dari kubangan kemiskinan. Tentang para penguasa negeri yang selalu luput dan alpa dalam menegakkan keadilan sosial.

Di pinggir jalanan desa itu ku dengar derit-derit sepeda ontel yang sudah renta. Seolah mendendangkan lagu-lagu penderitaan orang-orang dusun yang giat bekerja mencari kayu bakar atau rumput dari hutan di sebelah ujung sawah sana. Tetapi mungkin aku yang salah. Buktinya, senyum tulus dan ramah senantiasa tersungging di wajah-wajah polos dan tulus mereka. Wajah-wajah yang begitu ikhlas menerima apa saja yang hidup beri, tanpa perlu berkeluh kesah.

[bersambung]

Advertisements

Teman Saat Lelah Berjuang

… dan teman yang sejati adalah teman yang ada ketika lelah berjuang – a random thought

sahabat_lama_di_solo

Teman Seperjuangan Di Kota Robinhood

Tuhan menakdirkan orang-orang untuk hadir di sekitar kita. Sebagian, datang dan pergi begitu saja. Sebagian datang, pergi, dan meninggalkan kesan yang teramat dalam. Diantara orang-orang yang meninggalkan kesan mendalam itu adalah teman yang hadir saat kita sedang berlelah-lelah dalam sebuah perjuangan. Dari merekalah, sering muncul yang namanya teman sejati.

Saat pulang ke tanah air kemaren, setelah penerbangan lokal Jakarta-Solo. Di kota Solo, alhamdulilah, rasanya suenang sekali dipertemukan kembali beberapa teman seperjuangan di kota robinhood Nottingham. Mereka adalah Mbak Wahyu dan Mbak Mar. Dua doktor dalam bidang farmasi yang saat ini mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Solo.

sahabat_di_solo

Reuni Mantan Warga Nottingham di Solo

Bahagia tak terkira rasaya, bertemu kembali dengan teman-teman ketika kita pernah ditakdirkan dalam senasib dan seperjuangan. Kami mengingat kembali beberapa episode kehidupan kami sebelumnya. Saat-saat menyedihkan. Saat-saat pernah merasakan setengah gila. Saat-saat merasakan berada diambang keputusasaan. Saat-saat pernah berada pada satu titik waktu yang pernah kita percaya sebagawai waktu yang tepat menyerah. Saat kita pernah berderai air mata saat lelah dan jengah di tengah perjuangan. Saat merasa berjalan dalam jalan panjang tak berujung.

Beruntungnya, kami ditakdirkan tetap bertahan, dan ternyata setiap jalan pasti ada ujungnya. Rasanya, semua kisah sedih di episode hidup kami sebelumnya itu kini hanya menjadi lelucon, yang bisa kita tertawakan bersama-sama. Sungguh, tak ada yang lebih lucu dari menertawakan diri sendiri. Atau sepenggalan kisah hidup yang akan menjadi kenangan abadi sepanjang usia kita.

Pertemuan itu, mengingatkan kami, bahwa tak ada ikhtiar yang sia-sia. Hasil tidak akan pernah ingkar dengan ikhtiar. Bahwa satu-satunya jalan untuk gagal dalam perjuangan adalah berhenti berjuang. Bahwa kenikmatan setelah berlelah-lelah merantau dalam perih pedih perjuangan itu sungguh luar biasa rasa syukurnya.

 

Menyapa Jakarta (Kembali)

… suruh siapa datang ke Jakarta? – anonim

ilyas_di_depok

Wajah Kota Depok di Pagi Hari

Satu Maret dua ribu tujuh belas, Pukul lima sore lebih lima belas menit, kami akhirnya tiba di bandara sukarno hata Jakarta. Setelah perjalanan panjang tiga belas setengah jam lamanya dari bandara Heathrow London. Sumuk dan gerah rasanya. Maklum, kami meninggalkan kota Nottingham saat masih diselimuti musim dingin.

Bagasi kami langsung ditransfer ke pesawat untuk penerbangan ke Solo hari berikutnya. Karenanya dari pesawat kami langsung ke nursery room, untuk ganti popok Alisa, anak wedok yang baru 3 bulan itu. Lalu, langsung menuju ke pintu keluar.

Di pintu keluar telah menunggu Mas Ilham sekeluarga, tetangga kami waktu sang kawan tinggal di kota Nottingham. Saling salam dan peluk hangat sesudahnya. Duh haru dan senang sekali rasanya bertemu kembali dengan sahabat lama.

Tak lama berselang, setelah adzan maghrib di Jakarta berlalu, datang pula pakde Yadin, sahabat kami lainya yang pernah satu kali berkunjung di rumah kontrakan kami di Nottingham. Sahabat baik kadang terasa lebih dekat dari saudara sendiri.

Pakde membawa kami keluar dari bandara menuju kota Depok lewat Jakarta. Lewat jalan tol sebenarnya, tapi bukan jalan bebas hambatan seperti hafalan ku waktu pelajaran bahasa indonesia di jaman SD. Macet luar biasa. Mobil dan truk-truk besar menyesaki jalanan. Dari balik mobil, mataku nanar menatap wajah ibu kota. Kelap-kelip lampu dari hutan beton berwujud gedung-gedung pencakar langit dan mall-mall besar mengundang tanya hati kecilku: Jakarta dibangun untuk kepentingan siapa? Para pemilik modal ataukah? entahlah, yang jelas kutahu banyak teman yang tak mampu sekedarmemiliki tempat berteduh di kota ini.

Berjam-jam kami terjebak dalam kemacetan kota. Tetapi aku tidaklah mengapa. Obrolan hangat dengan Pakde membuat perjalanan tetap menyenangkan.

Keluar dari jalan tol, keadaan semakin parah. Jakarta benar-benar semakin tidak manusiawi batinku. Motor, mobil, truk, bus, angkot seolah berdesak-desakan berebut sejengkal ruang sempit di jalanan. Berisik sudah pasti. Bunyi klakson dan deru mesin terasa begitu memekkakkan telinga.

Beruntung aku berada di dalam mobil Pajero Sport yang masih gress. Tak terbayang olehku bagaimana rasanya berada di dalam angkot yang penuh sesak itu. Rupanya ada kecelakaan di depan, sehingga banyak kendaraan yang berbalik arah di jalan satu arah itu. Duh, kacau balau jadinya.

Tetapi aku tetap berusaha menikmati perjalanan. Iyalah, aku hanya duduk diam. Tak perlu memikirkan bagaimana peliknya nyetir dalam kondisi jalanan seperti itu. Dari dalam mobil kuperhatikan ada yang berbeda dari tiga tahun yang lalu. Yaitu banyaknya tukang ojek berseragam label ojek berbasis aplikasi mobile. Gojek, uber, dan grab yang terlihat mata.

Setelah berjam-jam bergelut dengan kemacetan, akhirnya kami berhasil keluar dari leher botol Jakarta yang terasa begitu menjepit rasa. Luega rasanya. Mobil melaju kencang menyusuri jalan dalam hutan kampus Universitas Indonesia Depok. Kami fikir, kami akan menginap di rumah Pakde. Rupanya beliau menginapkan kami di The Margo Hotel, tidak jauh dari kampus UI.

Di loby hotel, bude dan adiknya bude sudah menunggu. Duh, teramat bahagia dan terharu rasanya. Seperti bertemu keluarga dekat sendiri yang sudah terlalu lama tidak bertemu. Hati-hati kami terasa sangat dekat dalam obrolan yang begitu gayeng dan bersahabat.

Obrolan kami berlanjut sambil makan malam bersama, lesehan di dalam kamar di lantai 17. Lidah kami berasa sangat dimanjakan dengan cita rasa masakan indonesia yang sudah terlalu lama kami rindukan. Ditambah menu sarapan pagi di hotel yang kaya dengan cita rasa lokal nusantara yang begitu menggoda.

makanan_ndeso_ala_hotel

Makanan Ndeso ala Hotel Berbintang

Rasanya semua makanan senusantara hadir disini. Ada soto, gudeg, kedelai godok, gedang godog, ketan keju, jamu beras kencur, jamu kunyit asem, dawet, dan buanyak lagi lainya. Duh sarapan pagi yang benar-benar geplek ilat. What a superb treat buat kami yang baru datang kembali setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah air. Thank a bunch Pak De dan Bu De. Jazakumullah khoiral jazak!

Pulang Kampung

… hidup kadang menghadapkan kita pada keharusan membuat sebuah keputusan, tetap tinggal disini atau pulang. Dan kampung halaman, tempat kita dilahirkan dan bertumbuh kembang, seburuk apapun rupanya selalu menjadi alasan untuk segera pulang – a random thought

ilyas_pulang_kampung

Tulisan Anak Lanang Untuk Teman Sekelasnya

Selasa, tanggal 28 Februari 2017 kemarin, menjadi hari yang menyejarah bagiku. Iya, aku dan segenap keluarga ku akhirnya sampai pada saat yang paling tepat dan terindah untuk pulang. Meninggalkan kota kecil, Nottingham, yang penuh kenangan for good, most likely untuk selama-lamanya. Empat tahun lebih, hari-hari telah kulalui penuh dengan segenap rasa di kota yang nyaman ini. Oh God, I missed this city already.

Hari itu perasaanku campur aduk jadi satu. Bercampur antara bahagia, sedih, dan haru. Selama perjalanan dalam taxi dari rumah kontrakan di Nottingham ke Bandara Heathrow, London. Hati ku, pikiran ku masih larut dalam keharuan yang dalam. Terbayang-bayang lambaian tangan teman-teman melepas kepergianku. Tak terasa, air mata merembes tak tertahankan dari setiap sudut kelopak mata. Bahkan saat cerita ini kutuliskan.

Ada sedikit terbesit rasa bahagia, lega, dan bangga. Karena aku pulang dengan membawa sejumput kesuksesan. Terlepas, ukuran apa yang patut untuk mengukur kesuksesan. Setidaknya, tugas utama ku untuk belajar di kota ini, meski dengan susah payah, pada akhirnya terselesaikan juga. Tidak terbayang, betapa menyesakkan dadanya, ketika harus pulang dengan sebuah kegagalan.

Ada keharuan dan kesedihan menyelimuti hati. Bagaimanapun kehidupan  yang menyertai tugas belajarku di kota ini jauh lebih berkesan. Ada persahabatan, kesetiakawanan, dan persaudaraan yang begitu tulus yang tertinggal. Yang rasanya, akan sulit kutemukan di kemudian hari kembali. Atau bahkan tidak akan sama sekali.

Kami pulang dengan pesawat Garuda Indonesia, nomor penerbangan GA087. Dalam penerbangan langsung selama 13, 5 jam London-Jakarta, berangkat pukul 20.15 malam. Awalnya, kami sangat cemas, karena harus membawa bayi 3 bulan dalam penerbangan jauh. Tapi alhamdulilah, rupanya tak seburuk yang terbayangkan. Si kecil menangis sebentar, ketika awal-awal naik pesawat. Tetapi pada akhirnya, lebih banyak tertidur pulas di dalam basinet yang disediakan oleh cabin crew, pesawat Garuda Indonesia.

Selama di dalam pesawat yang sudah berasa seperti Indonesia itu, pikiran ku penuh dengan bayangan betapa semakin sulitnya hidup di Indonesia. Pendidikan yang masih carut marut tidak jelas konsepnya, jalanan yang semakin macet parah, suasana kota yang pengap penuh sesak, dan semakin tidak manusiawi, gaya dan nilai hidup masyarakat yang semakin konsumtif dan materialistis akut, internet yang lelet, agama yang semakin bergeser menjadi komoditas dan simbol belaka, pelayanan publik yang masih saja korup, menyulitkan, dan tidak memanusiakan. Jangan tanyakan keadilan sosial, entahlah!

Hanya saja, seburuk apapun rupanya, kampung halaman selalu menjadi alasan untuk segera pulang. Bukankah tidak ada tempat yang sempurna untuk hidup di dunia ini? Bukankah hidup hanya tempat bertanam dan berjuang? Bukankah hidup bukan untuk menikmati hidup belaka? Bukankah hidup untuk mengabdi, lalu mati?

Entahlah!  biarlah air kehidupan terus mengalir apa adanya, dan akan membawa ku kemana? Wahai ibu pertiwi, aku berniat kembali untuk mengabdi. #prett

 

Hidup Sederhana (Saja)

… banyak orang yang menghidupi hidup yang sejatinya bukan seperti nurani kecil mereka inginkan, tetapi hidup yang seperti apa orang lain ingin memandang – a random thought

snow_nott

Ilustrasi: Hidup yang terlihat

Kala sedang melihat kehidupan orang-orang yang menurut orang modern adalah terbelakang, ketinggalan jaman, seperti orang baduy, tengger, atau suku di pedalaman nusa tenggara sana, ataupun orang-orang desa aku sering bertanya-tanya. Betapa hidup itu begitu sederhana saja sebenarnya. Betapa semua kebutuhan hidup tersedia oleh alam. Dan mereka mengambil dari alam sebutuhnya saja.

Bukankah hidup sebenarnya sederhana saja? kita makan pun tak lebih 3 piring saja bukan? Sayang orang modern begitu serakah. Ingin menumpuk-numpuk kekayaan sendiri sebanyak-banyaknya. Untuk hidup selama-lamanya di dunia? Nyatanya tak seorangpun mampu bertahan hidup lebih dari dua ratus tahun, bukan? Diatas 60 tahun saja, hidup mu sudah sakit-sakitan?

Pun kebahagiaan, begitu sederhana juga bukan? Sesederhana seorang bocah mengumbar seulas senyum selepas mencium sekuntum melati mekar di taman di depan rumah di sore hari.

Hanya saja, kehidupan dibuat-buat semakin kompleks. Kebutuhan pun dibuat-dibuat. Orang-orang menghidupi hidup yang sejatinya, tak seperti nurani kecil mereka inginkan. Tetapi menghidupi hidup yang orang lain ingin melihat.

Orang-orang ingin menghidupi hidup seperti yang diinginkan para penjual gaya hidup. Penjual mobil, penjual rumah, penjual gadget, penjual hiburan, penjual syahwat. Para penjual pemilik keserakahan hidup. Sungguh hidup yang begitu menyebalkan dan menyesakkan. Hidup yang penuh kebutuhan yang terus dan terus bertambah. Disaat yang sama kulihat ketimpangan hidup yang semakin menganga. Kulihat kerusakan alam yang semakin memiriskan dada.

Setiap hari, kulihat banyak orang-orang memamerkan kebahagian, tetapi diam-diam hatinya menyimpan duka kesedihan yang dalam. Kulihat banyak orang memamerkan kesempurnaan hidup, tetapi diam-diam hatinya menyembunyikan kemunafikan yang menjijikkan.

Haruskah hidup penuh kepura-puraan ini kita lanjutkan? Jika ia, entah seperti apa pada akhirnya jadinya? Kalau aku bisa memilih, akan kupilih hidup sederhana saja. Bahagia yang sederhana saja. Tetapi memilih hidup sederhana di jaman ini justru tidaklah sederhana.