Tips Membeli Tiket Pesawat agar Dapat Harga Murah

“… beli tiket pesawat? di Bukalapak saja ! – bukalapak.

tiket_Murah

Membeli tiket secara online menjadi pilihan banyak orang saat ini. Yang mendasari mengapa banyak orang lebih suka membeli tiket pesawat secara online di antaranya adalah karena harganya yang relatif murah, banyak promo, mudah dan bisa dilakukan kapan saja serta dimana saja selama ada koneksi internet.

Bagi kamu yang ingin mendapatkan tiket pesawat murah , saya merekomendasikan kamu untuk membeli di toko online seperti Bukalapak. Kesempatan besar mendapatkan promo di toko online adalah penyebab mengapa saya merekomendasikan kamu membeli tiket pesawat di toko online saja. Namun sebenarnya, tanpa promo sekalipun kita tetap bisa mendapatkan harga tiket pesawat murah.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah cara mendapatkan tiket pesawat murah melalui toko online seperti Bukalapak.

Cari promo voucher belanja dan diskon

Menteri Perhubungan telah mengeluarkan peraturan tentang batas batas
penawaran harga terendah tiket pesawat sehingga, saat ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan tiket promo pesawat.

Tapi tentu saja, itu bukan halangan bagi kita untuk bisa mendapatkan harga tiket pesawat murah. karena di toko online Bukalapak, sering tersedia voucher belanja, voucher diskon, dan juga cashback.

Jika ingin mendapatkan voucher belanja maupun diskon, sebaiknya kunjungi halaman promo di Bukalapak. kemudian cobalah menemukan cara belanja yang bisa kamu gunakan untuk mengurangi harga tiket pesawat.

Selain dengan mengunjungi halaman www.bukalapak.com/promo kamu juga bisa mendapatkan informasi terbaru mengenai ketersediaan promo pesawat maupun penawaran menarik lainnya apabila mau:

  • Berlangganan newsletter dengan menggunakan email yang aktif di smartphone agar setiap kali ada penawaran kamu akan dikirimkan email oleh pihak Bukalapak
  • Follow akun Instagram mereka serta beberapa akun sosial media lainnya seperti Twitter, Google Plus, serta Facebook. melalui berbagai sosial media tersebut, Bukalapak biasanya memberikan bocoran tentang ketersediaan voucher belanja, diskon, ataupun cashback agar dapat tiket pesawat dengan harga murah

Memantau harga tiket

Menurut pengalaman, maskapai Lion Air sering mengubah harga tiket yang mereka tawarkan. Dalam sehari, Lion Air bisa merubah harga tiket pesawat mereka hingga 2 atau 3 kali. di antaranya adalah di pagi hari, siang, dan juga tengah malam.

Jika memungkinkan Jangan melakukan perjalanan pada saat peak season
Membeli tiket pada saat di mana umumnya permintaan tiket sangat tinggi seperti disaat sekolah maupun instansi pemerintah libur bukanlah pilihan tepat. Pasalnya, ketika permintaan tiket sangat tinggi, otomatis harga tiket pun akan naik.

Jadi jika ingin mengambil cuti untuk liburan, cobalah memilih low season. Pada saat itu, kunjungan wisata yang rendah dan permintaan tiket yang sedikit membuat maskapai penerbangan mau tak mau terpaksa harus menurunkan harga tiket pesawat atau memberikan promo menarik agar orang mau berlibur dan membeli tiket.

Beli tiket saat ada diskon besar-besaran

Keuntungan membeli tiket pesawat di toko online selain kita bisa berburu diskon maupun voucher setiap hari. Sebenarnya ada juga momen-momen di mana toko online begitu royal dengan diskon besar-besaran, cashback, dan berbagai promo menarik lainnya.

Karena kita bisa membeli tiket beberapa bulan sebelum hari keberangkatan, maka kesempatan membeli tiket murah di moment promo sebaiknya tidak kamu lewatkan. Di antara beberapa momen terbaik membeli tiket pesawat murah di toko online adalah pada saat:

  • Harbolnas yang biasanya jatuh pada tanggal 12 bulan 12
  • Pesta diskon yang biasanya jatuh pada tanggal 10 bulan 10 atau tanggal 11 bulan 11
Advertisements

Galengan Sawah Bercerita: Desa Mencari Makna

…. tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan? – a random thought

desaku_1

Tengah Sawah, Dusun Ringinpitu, Plampangrejo, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur

Jejak langkah.

Pernahkah merenung sudah seberapa jauh kaki melangkah menapaki jalan kehidupan kita? Pernahkan bertanya kemana langkah kaki menuju dan apakah kita melangkah ke jalan yang benar? Ada ribuan tanya mengiringi setiap gerak langkah perjalanan, saat kita berusaha memaknai.

Jalan hidup defaultnya terasa lempeng-lempeng dan lurus-lurus saja. Hanya sesekali terasa mendaki atau tak sadar kita telah jauh melangkah menurun. Terkadang terjal dan berliku. Ada kalanya kita sampai pada persimpangan, banyak jalan yang tebentang di hadapan dan kita dituntut untuk membuat sebuah keputusan: memilih. Tanpa tahu dengan pasti, bagaimana dan dimana jalan yang kita pilih akan berujung.

Ada yang menapaki perjalanan sebagai langkah-langkah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Ada yang menapaki perjalanan penuh dengan strategi dan perhitungan untuk sebuah kata kunci: menjadi pemenang kehidupan. Ada yang sekedar mengikuti kata hati, kemana nurani bicara disanalah dia akan pergi. Adapula yang berfikir bahwa setiap peristiwa kehidupan tak ubahnya bilangan random yang tak perlu disiati, karena itulah inti dari seninya perjalanan hidup. Tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan?

Menyusur Jejak Langkah

Peristiwa mudik, pulang kampung kembali ke desa, ke dusun tempat kita lahir dan tumbuh, buatku adalah peristiwa sakral yang selalu istimewa. Disinilah, titik nol langkah perjalanan hidup kita dimulai. Dan menyusurinya kembali adalah peristiwa transendental yang mengingatkan kita untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita tempuh: are we on the right track?

Adalah jalan setapak, galengan sawah, jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang diantara petak-petak sawah yang dahulu pernah, selama tak kurang dari enam tahun aku menyusurinya pulang pergi. Jalan terpendek dari rumah menuju SD ‘Inpres’ Negeri, yang terletak di pinggir sawah di dusun kami. Saat itu ada lima SD Negeri dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa kami, desa Plampangrejo. SD Negeri Plampangrejo 3 adalah satu-satunya sekolah di dusun kami, dusun Ringinpitu. Sebelum akhirnya kesuksesan program KB di era orde baru yang berakibat menurunya jumlah anak-anak membuat salah satu sekolah harus ditutup, kekurangan murid. Dan sekolah ku berubah nama menjadi SDN Plampangrejo 2. Dan hari itu, kami menyusuri galengan sawah itu kembali.

Galengan Sawah Bercerita

Bagiku, menapaki kembali jalan galengan sawah itu seperti membuka dan membaca kembali buku cerita lama. Bayangkan sedikitnya enam tahun aku menyusuri jalan yang sama, sepanjang hampir 2 km itu, setiap hari.

Secara fisik, meski puluhan tahun berlalu tak banyak yang berubah. Ceritanya yang berganti. Dahulu, di jalan itu, setiap pagi dan siang hari, ramai anak-anak berseragam merah putih, berjalan, meniti (jembatan papan kayu), dan melompat (kalen, saluran irigasi), menyusur setapak dan demi setapak dengan riang hati. Bila musim hujan tiba, daun pisang menjadi payung, tas dan sepatu harus dibungkus keresek. Seringkali kami harus menempuh jalur yang lebih panjang karena jembatan papan kayu hanyut oleh deras arus air kalen. Sepeda Ontel dan Payung adalah sebuah kemewahan buat kami saat itu.

Kini, yang ada hanyalah hening dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak berjalan kaki menuju sekolah. Yang bersepeda ontel pun nyaris tidak ada. Kemajuan zaman membuat manusia semakin merasa nyaman, anak-anak dusun pun diuntungkan, antar jemput pakai sepeda motor dan mobil menjadi kebiasaan. Hidup boleh di desa, tetapi gaya hidup tak boleh kalah dengan orang kota- imajinasi kesuksesan hidup yang selalu mereka bayangkan lewat tayangan sinetron di TV.

Di jalan itu banyak cerita. Di bawah rumpun pohon bambu, ada rumah Lek Man Gun dan Bek Saudah. Keduanya kini telah tiada, Allahu yarhamhum. Pasangan suami istri ini selalu terlihat bekerja keras sebagai pengrajin alat-alat dapur dan pertanian dari bahan dasar bambu yang melimpah ruah di dusun kami. Ada tampah, tompo, dan banyak lagi yang bahkan aku sudah tak mampu mengingat namanya. Sebelum akhirnya alat-alat dapur dari bambu itu tergantikan oleh peralatan plastik made in negeri tirai bambu yang serba murah. Peralatan plastik itu menggempur pasar desa, dan kehidupan Lek Man Gun dan Bek Saudah pun kian merana. Barang-barang hasil tanganya yang terampil itu tak lagi laku di pasar desa.

Lek Man Gun adalah leleki gagah, tinggi besar, dan kulitnya kuning langsat. Begitun Bek Saudah, kulitnya kuning langsat tak seperti kebanyakan orang-orang desa kebanyakan yang kulitnya buluk kusam. Sayang kesempurnaan fisik mereka tak seindah cerita hidup yang menyertainya, setidaknya menurut ukuran kesuksesan hidup orang modern jaman sekarang. Kami masih ingat betul senyum tulus khas keduanya. Meski tengah sibuk berkarya, sapaan hangatnya tak pernah alpa menyapa kami yang melintas di depanya. Merekalah saksi hidup kami, yang mengamati kami tumbuh dari anak-anak hingga tumbuh menjadi remaja hari demi hari. Kini, di tempat yang sama yang ada hanyalah sunyi.

Selain rimbunan pohon bambu, tegalan pekarangan rumah Lek Man Gun juga dikelilingi oleh pagar hidup dari tanaman waribang, alias bunga sepatu. Bunga yang belakangan kutahu adalah bunga kebangsaan negara Malaysia. Bunganya indah berwarna merah, meski tidak pernah berubah jadi buah, yang sering diminta bawa oleh Guru kami di kelas untuk menerangkan alat reproduksi tumbuhan: Benang sari dan Putik. Ada juga bunga sejenis, berwarna merah lebih muda, tetapi tidak pernah mekar, dan jika dipetik dan dihisap pangkalnya, ada cairan yang manis sekali, semanis madu. Jika dulu tegalan itu hanya ditanami pohon pisang, kini tegalan itu jadi perkebunan buah naga.

Beberapa puluh langkah kemudian, pemandangan berikutnya adalah rimbunan pohon kelapa. Dahulu, di antara pohon kelapa itu adalah tanaman singkong. Yang merupakan bahan pokok industri panganan getuk lindri. Zaman berubah, selera cita rasa makanan orang-orang desa pun ikut berubah. Getuk warna-warni dengan taburan parutan kelapa diatasnya telah tergantikan cake warna-warni berbahan terigu dengan parutan keju di atasnya. Wajarlah, jika orang-orang desa mulai malas menanam singkong yang tidak ada harganya. Tegalan singkong pun kini berubah jadi hamparan tanaman padi, dengan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya.

Jejak langkah kami terhenti, ketika kami sampai pada tempat jembatan papan kayu dulu itu berada. Jembatan itu benar-benar telah tiada, dan kalen saluran irigasi itu terlalu lebar buat kami untuk dapat meloncatinya. Dari kejauhan kulihat galengan-galengan sawah lebakan dengan tanaman mendong yang legendaris itu benar-benar telah raib. Tergantikan oleh rerimbunan pohon kelapa berpagar yang tak bisa lagi terlewati oleh pejalan kaki.

Tanaman mendong atau mensiang, bahan baku tikar kini pun telah tiada. Dahulu saat masih banyak ibu-ibu rumah tangga menganyam tikar mendong, tanaman ini adalah komoditas yang menjanjikan. Lagi-lagi, kondisi pasar desa tak lagi bersahabat saat tikar berbahan plastik sintesis dari pabrik menyerbu pasar desa. Lagian, sudah tak jaman, hari gini tidur di atas dipan beralaskan tikar. Spring Bed sudah terbeli oleh orang-orang desa.

Karena langkah terhenti, pagi itu, kami hanya bisa duduk-duduk di galengan-pematang sawah. Merenung, menyatu dengan alam. Pemandangan yang hijau, udara yang segar, hawa yang sejuk, suasana yang hening, hanya terdengar orkestra nyanyian kodok, jangkrik dan burung truwok yang hendak bertelur. Bukankah itu kemewahan bagi orang-orang kota?

Di pematang sawah, jangkar alam fikiranku terbawa pada cerita-cerita masa lalu. Tentang ikan kutuk alias gabus besar-besar dan belut yang dulu begitu melimpah di tempat ini, tentang burung gemak alias puyuh dan burung pitik-pitikan yang wujudnya mirip dengan ayam. Dulu kami, sering mengejar dan memburunya. Sarang dan telurnya mudah kami temukan di antara rimbun tanaman mendong. Belum lagi tentang burung emprit, kutilang, prenjak, srikatan, waakhowatuha. Entah dimana mereka kini rimbanya. Hilang tanpa meninggalkan pesan. Belakangan aku tahu, burung yang kami sebut burung pitik-pitikan itu hidup bebas berdampingan dengan manusia di kampusku, Universitas Nottingham, Inggris. Tak seorang pun berani menangkapnya. Terbesit rasa sesal, kenapa dulu kami begitu kejam memburunya.

Di pematang sawah itu rasa keprihatinanku menyergap. Cerita klasik ekonomi pedesaan yang bak lingkaran setan, sangat tidak menguntungkan dalam rantai sistem ekonomi. Terus berulang, entah dimana juntrungnya. Tentang harga benih, pupuk, dan obat hama yang mahal di masa tanam, kemudian harga jual yang tiba-tiba anjlok saat panen tiba. Panen raya saja merugi, apalagi jika gagal panen? Juga tentang komoditas pertanian lainya yang tak ada harganya di pasar. Aku sangat awam dengan ilmu ekonomi, kalaupun aku seorang Profesor di bidang ekonomi pun, aku tak yakin bisa mengatasi keadaan. Benar, keadaan sistemik yang tidak menguntungkan.

Masa depan ekonomi pertanian di pedesaan rasanya begitu suram. Lebih-lebih arah pembangunan pemerintah yang tidak pernah memihak. Ironi saat puncak kekuasaan dikuasai partai yang sloganya partainya wong cilik. Ironi di negeri agraris dan maritim yang arah pembangunan negerinya tak berpihak untuk bidang keduanya. Alangkah lucunya, masya alloh di negeri yang garis pantainya terluas di dunia, garam saja harus impor. Di hamparan tanah yang subur, tongkat dilempar jadi tanaman saja, bahan pangan masih harus impor.

Tak heran, jika tak seorang pun, dari pemuda-pemudi desa yang berminat jadi petani muda, harapan masa depan. Kecuali petani muda sloganistik, yang biasanya hanya abang-abang lambe. Hanya kamuflase, yang sebentar saja tak ada rimbanya. Buat muda-mudi desa, memilih menjadi petani itu tak ubahnya memperpanjang rantai kemiskinan yang turun temurun.

Untuk memutus rantai kemiskinan itu, yang beruntung, punya otak agak encer, menempuh pendidikan tinggi, untuk kemudian menjadi priyayi di kota. Yang kurang beruntung di bidang akademik, dan orang tua punya modal yang cukup memilih bekerja di luar negeri, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang agak kurang beruntung lagi, yah merantau di kota-kota dimana uang banyak beredar, Denpasar salah satu tujuan utamanya. Yang tidak punya pilihan, kerja serabutan di desa, dengan konsekuensi menerima apa pun yang diberikan oleh hidup di desa. Masih adakah anak muda yang menggenggam asa untuk membangun desanya?

Dari sudut pandang uang saja, apalah yang bisa diharapkan dari desa? Tetapi, dari sudut pandang kehidupan keseluruhanya, kita perlu belajar kembali dari desa. Tentang ketulusan, kepolosan, kesederhanaan, kepasrahan, dan mendefinisikan kembali: apa yang kita cari dalam hidup. Desa adalah tempat untuk meraba-meraba kembali kemanusian kita, yang secara tak sadar, kesibukan telah menjadikan kita tak ubahnya mur baut mesin industri pencipta uang. Desa kembali mengingatkan kita kembali bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang lebih penting dari sekedar uang.

Tet Li: Setangkup Cerita Perjalanan

… hidup tak seindah yang terlihat.  hanya sawang-sinawang. Karenanya, agar terasa indah, sesekali kita perlu menjadi penonton kehidupan – a random thought

tetli_tanjung_pinang

Danau Kaloin Tet Li, a random place in Bangka Island.

Acara seminar internasional yang sedianya diadakan tiga hari, rupa-rupanya berakhir di hari pertama. Acara city tour yang janjinya sudah include biaya pendaftaran pun dibatalkan tanpa penjelasan sepatah kata. Haha, aku pun ketawa saja. Mungkin panitia kehabisan uang fikirku.

Yang penting sudah menggugurkan kwajiban, mempresentasikan makalah ku di forum (literally) internasional, meskipun jujur 100% di forumku itu hanya ada orang Indonesia. Lalu, dapat sertifikat dan empat buah stempel basah dari panitia di atas dua lembar kertas dari kolegaku di bagian keuangan.

Di hari kedua, aku dan tiga orang yang baru ku kenal di tempat seminar menyusun sebuah rencana. Sopir taksi online, yang baru kenal dengan salah satu dari kami di Bandara, hari itu bersedia mengantar kami berpetualang menyusuri pulau Bangka.

Tujuan pertama kami adalah danau Tetli. Danau bekas tambang timah ini kabarnya keindahanya luar biasa. Dari atas pesawat sebelum mendapat di Bandara Depati Amir danau-danau itu terlihat  begitu cantik memesona, airnya jernih biru kehijau-hijauan.

Rupanya, Mas Sopir pun belum pernah ke tempat satu ini. Jadilah, google map menjadi penunjuk jalan kami. Awalnya kami baik-baik saja. Tetapi kami menjadi sedikit was-was ketika petunjuk google map membawa kami menyusuri jalan-jalan makadam tak beraspal di tengah-tengah hutan.

Di jalan sempit itu, kiri-kanan kami hanyalah pohon-pohon kelapa yang lebat. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya jarang-jarang di tengah-tengah hutan. Rumah yang halamanya terlalu luas, lengkap dengan kandang babi. Terlihat oleh kami seekor babi berlari-larian di pekarangan. Sesekali terlihat kelapa sawit, dan rerimbunan pohon pala yang merambat, atau rimbun pohon cocoa. Yang lebih sering kami jumpai adalah kuburan cina yang ukuranya besar-besar di sepanjang jalan itu.

Uniknya, hampir semua plang masuk ke desa bertuliskan huruf cina. Kami hampir saja berputus asa, merasa tersesat dan tak tahu jalan pulang. Beruntunglah, seorang warga yang kebetulan berpapasan dengan kami memberi kami petunjuk jalan.

Akhirnya yang kami cari kami temukan juga. Sebuah danau di tengah-tengah hutan yang terlihat tak bertuan. Kami adalah satu-satunya pengunjung danau itu. Oila, begitu instagramable betul danau itu. Sebuah danau yang jernih airnya, biru kehijau-hijauan (torquise) yang dikelilingi gundukan pasir putih.

Andai saja ada perahu sampan warna-warni, ingin rasanya berkeliling mendayung sampan mengitari danau itu. Tetapi yang ada hanyalah kesunyian dan desau suara angin.  Aku duduk di tepi danau, menatap, merenung, mengagumi dan diam menatap keindahan alam itu. Menenangkan, tetapi ketakutan akan kesunyian itu tiba-tiba saja datang menyergap.

Aku berlarian menuju mobil yang siap meninggalakan tempat, saat seekor serigala keluar dari balik gundukan batuan gamping putih yang tadi kududuki dan kuinjak-injak. Dan kami pun segera berlalu, melanjutkan perjalanan.

Pangkal Pinang, 04/10/2018

Related Links:

 

Jakarta Sabtu Pagi: Monas – Munas – Kota Tua

“… mungkin aku terlalu udik, aku tak tahu bagaimana cara menikmati hidup di Ibu kota – a random thought.

jakarta_munas

Lampu Pedistrian By Monumen dan Museum Nasional

Untuk menunggu penerbangan sore hari ke Surabaya, Sabtu pagi aku harus mencari cara untuk membunuh waktu. Dan cara yang aku pilih adalah ‘to feel being grass-root Jakartans’. Dari penginapan murah meriah, kelas melati di bilangan karet, kuningan (katanya sih kos-kosan wanita-wanita simpanan para esmud sukses tajir bergelimang harta di Jakarta), aku bersama seorang teman, keluar menyusuri gang-gang sempit padat penduduk.

Diantara himpitan gedung-gedung yang megah, gagah, menjulang, mencakar langit, Jakarta menyimpan banyak ironi. Kawasan padat penduduk, kumuh, pengap, berisik, bau, yang tak menyisakan tempat buat anak-anak untuk bermain. Aku bayangkan: alangkah susahnya, hidup menjadi anak-anak orang-orang ‘pinggiran’ Jakarta ini. Sejengkal tanah kosong di kota ini, amatlah mahal harganya. Bahkan mencari ruang sekedar untuk selonjor saja susah sekali.

Diam-diam aku merasa bersyukur sekali, kuhabiskan masa kecilku di dusun yang hamparan tanahnya melimpah ruah, udaranya segar alamiah, pemandanganya hijau royo-royo sejauh mata memandang. Airnya bersih dan segar. Suasananya tenang menenangkan. Dan yang paling penting aku bisa bermain berlarian, gulung-gulung di tanah, bermain lumpur di sawah, berlarian bermain layang-layang, renang di sungai, tanpa sedikit pun rasa takut. Makanan dan buah-buahan disediakan gratis oleh alam.

Aku mampir sejenak di Warteg, di Gang sempit itu. Ada beberapa alasan, warteg menjadi warung pilihan ketika di Jakarta. Pertama, sudah dapat dipastikan penjualnya adalah orang Jawa, cita rasa masakanya cocok, dan yang paling penting harganya sangat ramah dengan kantong. Tetapi, yang paling membahagiakan diantara semuanya adalah bisa merasakan sensasi hidup sebagai orang pinggiran di Jakarta.

Teh anget, sayur lodeh, tempe goreng, dan ikan kembung goreng ditemani kerupuk gembreng adalah menu andalan. Sayang size nasinya sering tidak bersahabat. Mungkin terlihat wajahku terlihat wajah susah, si penjual ngasih nasinya ukuran jumbo. Jadilah, aku tak sanggup menghabiskanya kawan.

Keluar dari gang-gang sempit, kami keluar menyusuri pinggiran jalan besar. Melewati jalur pedistrian di depan kantor-kantor besar yang kurang bersahabat. Idih, tampang satpamnya seram-seram, pagar tamannya dilengkapi dengan kawat berduri pula, atau dibuat lancip. Duh, padahal sekedar ingin menyandarkan bokong, kok ya ndak boleh.

Setelah ratusan meter berjalan merasakan sensasi susahnya jadi pejalan kaki di kota ini. Akhirnya sampai juga di Halte Busway terdekat. Naik JPO, yang alamak ekstrim juga tanjakanya. Tidak kebayang, betapa repotnya saudara kami yang berkursi roda mengakses JPO ini. Atau bahkan tidak bisa mengakses sama sekali.

Meski lumayan sering bolak-balik ke Jakarta, sudah lama rasanya aku tidak naik busway. Sejak ada layanan ojek dan taksi online, naik bus way rasanya sangat merepotkan. Dari pakai tiket yang dimasukkan ke mesin, pakai tiket kertas sobek, hingga kini sudah paper-less menggunakan e-money. Jauh lebih praktis. Menariknya kita bisa berbagi satu kartu e-money.

Di halte pun ada kemajuan cukup significant, sudah ada sistem informasi yang cukup reliable menginformasikan waktu kedatangan bus secara real time. Hal yang sangat lumrah di negara-negara maju. Argh, aku jadi tertarik menganalisa ‘big data’ waktu kedatangan bus way di kota ini. Apalagi jika data passenger keluar masuk halte dan bus ter-record dengan baik, tentunya banyak ‘knowledge’ menarik yang bisa digali. Kemudian, knowledge itu bisa digunakan untuk improve rute bus way agar semakin tidak semrawut.

Kondisi bus pun masih nyaman seperti dulu, mungkin karena akhir pekan, tidak ada penumpang yang berdesak-desakan. Hanya saja informasi suara mesin yang menginformasikan halte berikutnya sudah tidak berfungsi atau sengaja tidak difungsikan. Fungsinya digantikan oleh mas-mas berbaju batik penjaga pintu bus yang terlihat sangat kelelahan. Sesekali tertangkap mataku, matanya tertidur dalam posisi berdiri.

Di bus yang sama, tanpa janjian kami tak sengaja bertemu dengan teman SMP ku yang sudah lebih satu dasa warsa mengadu keberuntungan hidup di Jakarta. Kami turun di halte Monumen Nasional. Landmark kebanggaan kota Jakarta. Jika London punya Bigben, Kuala Lumpur punya Twin Tower, Jakarta punya Monas. Landmark yang sangat bersahaja. Kami duduk-duduk di bangku di pinggir jalanan monas. Sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali kulihat beberapa turis berjalan sendirian sambil menenteng kamera dan khusuk membaca kitab sucinya para turis dunia, the lonely planet.

Sejenak, pikiranku teringat suasana kota kelahiran shakesphere. Duduk-duduk menikmati suasana kota yang tenang dan nyaman, sambil mendengarkan alunan musik musisi jalanan yang suaranya melelehkan perasaan. Tetapi Jakarta adalah Jakarta. Hawa yang sumuk, deru kota yang berisiak dan hari yang mulai terik, membuatku tak betah berlama-lama duduk di bangku itu.

Kami beranjak dari bangku dan menuju ke bangunan seberang monas, museum nasional. Ada zebra cross, dilengkapi dengan tombol pedistrian layaknya di Eropa. Tetapi di kota ini lain cerita. Lampu sudah merah, dan banyak pedistrian ancang-ancang mau menyeberang, tetapi ajaibnya para pengendara kendaraan tak ada yang mau berhenti, aliah-alih mengurangi kecepatan, eh malah kencang-kencang. Kecuali jika para pedistrian, memaksa menyeberang, dengan terpaksa para pengendara kendaraan pun berhenti. Dan kami pun menyeberang setengah berlari penuh ketakutan. Bahkan lampu indikator menyeberang jalan pun, berupa orang berlari, bukan berjalan. Betapa menakutkanya bukan peristiwa menyeberang jalan di kota ini? Entah kapan, hak pejalan kaki yang budiman diperhatikan di kota ini.

Hanya perlu bayar Rp. 5000 untuk masuk Munas. Di lantai dasar terlihat seperangkat gamelan. Dan sedang berlangsung latihan menari yang sebagian besar diikuti anak-anak perempuan. Layaknya museum pada umumnya, museum ini bercerita tentang perjalanan kebudayaan manusia Indonesia. Mulai dari jaman pra-sejarah, manusia Indonesi di Jaman batu, jaman kerajaan-kerajaan, hingga menjadi manusia Indonesia modern.

Sejarah selalu mengajarkan kesementaraan. Tak ada kejayaan yang terlalu lama. Semua ada waktunya. Semua akan sirna dan terlupakan pada waktunya. Semua yang bisa terlihat oleh kasat mata adalah fana. Menuju kefanaan hanyalah fungsi waktu belaka, tak terlalu lama kita akan terlupakan untuk selama-lamanya. Dan sejarah hanyalah milik yang pernah berkuasa. Yang jelata? yah terlupakan begitu saja.

Aku cuman bisa membayangkan, saat semua serba digital seperti jaman ini, jika Tuhan meruntuhkan peradaban kita satu waktu, apa kira-kira yang bisa dipelajari oleh manusia generasi berikutnya?

Jika sampean pernah berkunjung ke British Museum di London, museum nasional ini rasanya tidak ada apa-apanya. Bisa jadi bahkan sejarah kebudayaan Indonesia lebih lengkap bisa kita lihat disana atau di Leiden, Belanda.

Dari Munas, kami naik bus double decker gratis yang sudah ready di halte depan museum. Di bus double decker itu uniknya sopir dan kondektur yang membagikan tiket gratis adalah emak-emak semua. The power of emak-emak. Busnya cukup nyaman, tak kalah deh dengan bus merah double decker London sight seeing yang cukup mahal tiketnya itu. Tidak kalah juga dengan Busnya kota Surabaya yang pakai bayar dengan 6 botol bekas air minum kemasan.

Dari Munas, kami turun di Jakarta Kota Tua. Bus berhenti di halte yang tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota. Yang baru dari Jakarta kota tua adalah pusat oleh-oleh Krisna. Yes, pusat oleh-oleh di kota Denpasar Bali itu buka cabang di Kota Jakarta. Selain oleh-oleh khas Bali, di Krisna Jakarta ini, ada oleh-oleh khas Jakarta. Emang ada? Yah, setidaknya ada oleh-oleh yang ada tulisanya Jakarta, dalam wujud kaos, gantungan kunci, atau sandal jepit.

Yang aku suka, di Krisna Jakarta kota tua ini ada mushola yang cukup luas dan nyaman di Lantai dua, lengkap dengan tempat wudlu yang bersih. Lalu, di lantai dasar juga ada restoran padang yang tempatnya cukup luas, confy dan cozy. Pelayanya asyik-asyik yang kostumnya tematik. Harganya pun untuk ukuran kota Jakarta masih lumayan bersahabat. Ada menu andalan kesukaan: eseng-eseng pare dicampur dengan petai dan cabe hijau yang aroma, rasa, dan pedasnya sangat sensasional. Lengkap sudah, tempat beli oleh-oleh, tempat sholat, istirahat, dan makan ada di tempat ini.

Dari Krisna, kami memesan taksi online, cukup murah, hanya enampuluh ribuan saja kami sudah sampai bandara dengan nyaman dan aman. Good Bye Jakarta! Sampai bersambung dengan cerita berikutnya.

Kyai Mad dan Tafsir Jalalain

“… beliau-beliau adalah teladan hidup dalam kesederhanaan, keikhlasan, kebersahajaan, kerendahhatian, dan ‘wirai’ dalam menjalani hidup.” – a random thought

kyai_mad_banyuwangi

Kyai Ahmad Qusairy Syafaat (alm.) – Instagram

Jumat, 31 Agustus 2018

Hidup dan Mati, Suka dan Duka, Bahagia dan Sengsara adalah gerak alamiah biasa dari peristiwa kehidupan. Tetapi, akankah setiap peristiwa itu akan pergi begitu saja, atau meninggalkan satu makna?

trio_syafaat

Kyai Kami

Hari ini, berita duka itu menyita alam fikiran ku. Salah satu kyai kami yang bersahaja, Kyai Ahmad Qusairy Syafaat, berpulang untuk selama-lamanya. Beliau adalah salah satu pengasuh pondok pesantren Darussalam, Blokagung, Karangndoro, Tegalsari, Banyuwangi. Tempat kami pernah ngalap barokah ilmu.

Karena kehidupan dan kematian adalah semata takdir Tuhan, bukanlah sesuatu yang pantas untuk meratapi kepergian sang kyai. Catatan kecil ini sekedar untuk menuliskan kembali, kenang-kenangan ingatan ku, yang pernah menjadi salah satu dari ribuan santrinya.

Sebentar memang aku ngalap barokah ilmu di pesantren Blokagung. Bahkan satu tahun saja belum genap. Tetapi, perjalanan takdir yang singkat itu begitu mengendap dalam hati dan fikiran ku, kini dan mungkin sampai kapan pun jua. Hingga saat setiap ingatan satu per satu akan meluruh di penghujung usia nanti tiba.

Perjumpaan ku dengan para kyai, bu nyai, para ustadz, para guru, dan juga teman-teman di pesantren ini adalah sesuatu yang sangat saya syukuri hingga detik ini. A stage that really shapes my horizon of life, and I really appreciate it.

Saat aku di Pesantren, selain kepada para ustad, guru, dan sesama santri, aku belajar kehidupan dari tiga sosok kyai. Ketiganya adalah tiga bersaudara, kakak beradik, putra dari Kyai Mukhtar Syafaat, Allahu yarhamhu, pendiri pondok Blokagung ini. Mbah yai Syafaat adalah kyai kharismatik yang kekyaianya begitu melegenda di tanah blambangan. Sayang aku tak sempat menjadi santrinya.

Yai Hisyam, Yai Hasyim, dan Yai Mad begitulah trio putra mbah yai syafaat ini biasa kami sapa. Ketiganya saling melengkapi, bersama-sama melanjutkan perjuangan sang ayahanda. Yai Hisyam dan Yai Hasyim bergantian ngaji kitab Ihya Ulumuddiin, setiap pagi dan sore hari di masjid induk pondok. Sementara Yai mad, ngaji kitab tafsir jalalain, setiap habis maghrib.

Pada Yai Mad lah, aku pertama kali ikut mengaji kitab tafsir Jalalain. Kitab kuning yang cukup tebal, buat ukuran santri anyaran kayak aku. Masih teringat, kitab ku banyak yang ‘bolong-bolong’ belum dimaknai dan diberi catatan pinggir dengan huruf pegon menggunkan pena besi dan tinta gosok dari cina itu. Bolong, bukan karena sering bolos, tetapi semata-mata karena aku sering tertidur ketika mengaji. Biar tidak ketahuan Yai, aku biasanya ambil duduk yang paling belakang, di serambi masjid paling luar. Walaupun tidak sampai khatam, aku sempat melanjutkan mengaji kitab yang sama dengan Kyai Hannan Maksum (alm.), Gus Sobih Hannan, dan Kyai Holil Dahlan di pondok rejoso Jombang. Dan sekali lagi, lagi-lagi sayangnya belum khatam juga.

Masih teringat sekali dalam ingatanku, betapa adem, begitu lembut, begitu menenangkan, suara yai mad ketika mengaji. Seolah suaranya menggetarkan firman-firman Tuhan yang begitu welas asih pada hambanya. Jauh sekali dari kesan menakut-nakuti, meledak-ledak seperti kebanyakan ustad ‘karbitan’ di media, yang rasanya Tuhan itu begitu menakutkan. Mungkin karena suara yai mad yang begitu menentramkan pulalah, yang membuat aku mudah berpindah ke alam mimpi.

Aku senang sekali mengaji tafsir quran yang kebanyakan adalah cerita-cerita penuh hikmah dari umat-umat terdahulu. Yang sampai sekarang masih saya ingat dari cerita Yai Mad adalah tentang cerita Samiri, patung sapi yang bisa bicara dan bani Israil yang pintar tapi keras kepala. Selebihnya, aku sudah banyak yang lupa.

Seiring perjalanan waktu, tentu saja banyak pitutur, petuah, wejangan, nasehat, ilmu atau apapun itu, yang luntur dari ingatanku. Tetapi bahwa, sosok beliau yang sederhana, rendah hati, bersahaja, ikhlas, sabar, wirai, berilmu, yang lebih memilih kehidupan akhirat dibanding kehidupan dunia adalah ingatan yang tidak mudah terlupakan. Adalah inspirasi terus-menerus, yang tak lekang oleh perubahan zaman.

Mungkin sosok yai mad kalah populer dengan ustad-ustad di TV dan Medsos. Tetapi aku bersaksi, yai mad adalah yai yang dekat dengan konstituen di tataran akar rumput. Yai mad bukanlah yai yang asyik berkutat saja di kerajaan kecil bernama pesantren. Tetapi aktif menyapa orang-orang kampung, di desa-desa, di dusun-dusun, di pulau-pulau kecil, di daerah pedalaman. Menyapa dan menghibur, teman-teman TKI/TKW yang berjuang demi menyelenggarakan hidup yang layak. Mengobati luka hati rakyat kecil atas kebijakan penguasa yang tak pernah berpihak sepenuhnya kepada mereka. Menghibur duka hati rakyat yang terlemahkan oleh sistem ekonomi dan politik yang tak pernah adil terhadap mereka.

Menitipkan semangat optimisme menjalani hidup rakyat kecil, seberat apapun itu. Bahwa, kehidupan di dunia bukanlah tujuan. Kehidupan dunia bukanlah final destination. Urip sedilut mong mampir ngombe. Dunia memang tempatnya segala ujian dan cobaan. Dan akhiratlah, sebenar-benar kehidupan. Bahwa, bisa jadi mereka terlihat hina, kalah, sengsara dalam panggung kehidupan dunia yang semakin materialistis. Tetapi mereka mulia di hadapan Tuhan. Penuh kebahagiaan dan ketenangan di dalam hatinya, karena hati mereka begitu rido, terhadap apa-apa yang sudah digariskan oleh Tuhan.

Selamat Jalan, Yai! Sugeng Tindak! Allahu yarhamka. Ilmu-ilmu yang kau tularkan kepada kami. Insya Allah, akan abadi, menjadi getok tular, pada kami-kami santri panjenengan. Sampai berjumpa kembali, insya Allah di Taman Syurga.