Hingga Senja di Kota Leed

… kota ini adalah tempat sempurna untuk melihat dimana nuansa klasik dan modern kawin secara menakjubkan – catatan perjalanan biasa

leed_18

Salah Satu Arsitektur Bangunan Futuristik di Kota Leed, Inggris

Ini sekedar catatan perjalanan yang telah lalu, perjalanan yang biasa-biasa saja. Daripada terlupakan begitu saja, bukankah lebih baik dicatat saja. Siapa tahu, catatan ini menemukan pembacanya sendiri. Ya, betul kamu!

leed_1

Bangunan Kantor Pos

Ini perjalanan yang tidak direncanakan sama sekali. Hanya semata-mata, karena ada promo tiket super murah, dari perusahaan bus National Express, hanya seharga £2, Nottingham-Leed PP. Sayang, jika tidak dimanfaatkan. Itu harga iket sekali jalan dari rumah ke city centre saja, dengan promo ini, utility function nya ter extended untuk perjalanan keluar kota, sejauh 2.5 jam perjalanan.

leed_2

Sepeda Ontel

Begitu sampai di kota ini, alam pikiran ku langsung teringat sebuah maqolah yang sering diulang-ulang oleh para kyai di pesantren dulu. Sebuah filosofi yang dipegangteguh pesantren dalam menghadapi gelombang perubahan jaman yang begitu menderu.

Al-muhafadzatu ‘alal qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

leed_3

Shop, Cafe, Gallery, and Library

Yah, di kota Leed inilah, nuansa klasik dan modern bisa kawin, berdiri sejajar, saling menguatkan, saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Sebuah pasar tradisional, dengan nuansa klasik yang menyejarah beratusan tahun yang ada tukang sol sepatu di dalamnya, i.e. Kirkgate Market, begitu mereka menyebutnya, masih lestari, berjajar dengan mall-mall bergedung megah dengan arsitektur futuristic tempat jualan barang-barang branded milik korporasi multi-national dalam sistem ekonomi kapitalis.

leed_4

Leed City Museum

Pun demikian, gedung-gedung yang menjubeli kota. Gedung-gedung berarsitektur klasik nan gothic, berusia ratusan tahun, berjejeran dengan gedung-gedung modern futuristic. Kota ini membawa suasana hati ke tempo dulu, kekinian, dan masa depan sekaligus.

leed_5

Bnagunan Klasik di Kota Leed

Aku jalan sendirian menyusuri kota ini. Tanpa survey, apalagi menyiapkan itenary sebelumnya. Hanya menuruti krentek hati, kubawa langkah kaki ini menyusuri jalan. Dengan bantuan penunjuk arah di sudut-sudut jalan.

leed_6

Gedung Klasik Berdampingan Dengan Gedung Modern

Pertama, aku menyusuri pusat kota, dari coach station, train station, sudut-sudut jalan di tengah-tengah kota, menyinggahi bangunan-bangunan yang nampak menarik, blusukan ke dalam kampus Universitas Leed, dan kembali lagi ke coach station, saat senja datang, memanggil untuk segera pulang kembali ke kota Nottingham. Aku selalu merasa jatuh cinta untuk merasai nuansa khas yang ditawarkan setiap kota. Termasuk kota Leed ini.

leed_7

Arsitektur Bangunan yang Futuristik

Salah satu tempat yang cukup lama saya singgahi adalah Leed City Museum. Setiap mengunjungi kota, museum adalah tempat yang wajib aku kunjungi. Dari museum inilah, aku bisa melihat apa yang kulihat lebih well-rounded dan komperehensif. Tidak ahistoris. Setiap kelaur dari museum, muncul kesadaran yang mendalam bahwa, apa yang kulihat saat ini, saling terkait dan berkelindan dengan sejarah panjang di masa lampau, pun demikian dengan masa depan.

leed_8

Universitas Leed

Ada satu hal yang unik menurut ku. Hampir dipastikan di setiap kota di Inggris, sekecil apapun kota itu, disitu ada museum. Dan disetiap museum itu bisa dipastikan menyimpan mumi asli dari Mesir. Dalam hati aku mbatin,  berapa banyak mumi yang telah dicuri Inggris dari mesir?

leed_10

Gedung Di Dalam Kampus Universitas Leed

Selain museum, aku juga cukup lama blusukan ke gedung-gedung Universitas Leed. Entahlah, aku sangat senang melihat suasana akademik seperti ini. Melihat, gedung-gedung laboratorium yang gagah, mahasiswa-mahasiswi yang sibuk berlalu lalang, perpustakaan yang megah, dan suasana kampus yang adem, seolah-seolah membawa alam pikiranku ke masa depan. Di kampus-kampus inilah, masa depan peradaban manusia sedang dibentuk.

leed_11

Salah Satu Gedung Kuliah di Universitas Leed

Aku duduk-duduk di salah satu bangku kosong yang cukup banyak tersedia di dalam kampus. Sambil mataku menyapu setiap sudut, memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Banyak terlihat mahasiswa dari Malaysia, tapi sayang aku belum menemukan mahasiswa Indonesia yang kebetulan lewat di depan ku.

dsc_0643

Salah satu sudut kota

Dari blusukan kampus, aku kembali menyusuri jalan-jalan pedistrian menuju tengah-tengah kota kembali. Merasakan suasana kota saat menjelang senja. Para mahasiswa terlihat menuju kembali ke rumahnya masing-masing. Suasana senja kota pun ramai orang-orang menikmati hidup, menghabiskan sisa-sisa hari.

leed_15

Sudut Kota Leed

Saat matahari tenggelam, menjemput malam aku kembali ke kota ku, Nottingham. Kota ini mengajarkan kepada ku dalam memahami pembangunan. Bahwa pembangunan itu tidak mesti memberangus yang lalu.

leed_14

Landmark Universitas Leed, Inggris

Bisa jadi yang kita anggap kemajuan, jangan-jangan malah kemunduran. Masa lalu dan masa depan, mestinya menjadi dialektika abadi, untuk membangun yang ada saat ini. Tepat, seperti kearifan para kyai pesantren itu.

Sampai jumpa di catatan perjalanku selanjutnya!

Satu Hari di Kota Trieste, Italia

… Trieste adalah kota bahari yang cantik dan menyimpan sejarah kejayaan yang sangat panjang – catatan perjalanan

trieste_1

Bersepeda di Pantai Trieste, Italia

Kota ini adalah kota terakhir yang aku kunjungi selama lawatan ku di Italia pada musim panas kemaren. Aku datang ke kota ini, ikut rombongan gratis, yang difasilitasi panitia konferensi internasional, di kota udine (lihat catatan perjalanan saya sebelumnya disini). Dari kota Udine, kami berangkat dengan satu bus besar dan satu bus kecil, tepat setelah makan siang.

trieste_2

Numpang Pamer Batik

Selama perjalanan dalam bus, kurang lebih satu setengah jam, dari Udine ke Trieste, aku menikmati suasana alam pedesaan negara Italia ini. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, tidak jauh beda dengan Indonesia. Jalan-jalan raya pun sempit, tidak selapang di Inggris. Sepertinya, dalam hal infrastruktur, Italia ini jauh dibawah Inggris.

trieste_3

Pusat Kota Trieste

Dari balik jendela kaca bus, aku bisa menyaksikan sebagian besar sawah di negara ini ditanami jagung dan anggur. Tentu tak semenakjubkan hamparan padi di tanah jawa. Hanya saja penggunaan teknologi pertanian terlihat lebih maju disini. Tak terlihat irigasi memang, tetapi tananman disirami air yang bisa dikendalikan secara otomatis dengan teknologi.

trieste_4

Sebuah Gereja di Trieste

Pemandangan pertama dari kota ini adalah pantai yang dikelilingi bukit-bukit. Air lautnya biru kehijau-hijauan. Tidak terlihat pasir pantai disana-sini. Tetapi banyak sekali terlihat pengunjung yang berjemur di bibir pantai, mereka terlihat nyaris telanjang memamerkan auratnya yang subhanallah, indah sekali. Padahal, cuacanya sangat puanas sekali.

trieste_5

Brondong Itali, Cakep ndak mbak? :p

Kami berkeliling kota Trieste dengan bus. Sang tour guide, menjelaskan secara detail setiap sudut dari kota ini. Dan aku malas sekali mendengarkanya. Karena apa yang diucapkanya pasti akan menguap begitu saja dari memori ingatanku. Intinya, kota Trieste ini adalah kota bahari, kampung nelayan, yang dulu sumber ekonomi utama dari kota ini adalah sumber daya laut.

trieste_7

Kanal di Kota Trieste

Banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah, castle, gereja-gereja yang menyimpan kenangan kejayaan kota ini di masa lalu yang sangat panjang. Setelah tour kliling kota dalam bus. Tour guide mengajak kami menyusuri pantai dan kota Trieste dengan berjalan kaki.

trieste_6

Gereja Ortodox Serbia yang Mirip Masjid

Sebenarnya aku kurang menikmati perjalanan seperti ini. Sudah rombongan dalam jumlah besar, pakai tour guide lagi. Kesanya seperti dikejar-kejar waktu, agar sampai pada tempat-tempat sebanyak mungkin. Tetapi lupa menikmati perjalanan itu sendiri. Aku lebih menikmati perjalanan casual sendiri atau berdua saja.

trieste_8

Jalanan di kota Trieste, Italia

Kami diajak keliling menyusuri sudut-sudut kota Trieste. Yang didominasi bangunan-bangunan kuno yang megah serta gereja-gereja megah yang banyak sekali jumlahnya di kota ini. Konon banyak aliran gereja di kota ini. Ada sebuah gereja yang sekilas bentuknya seperti masjid. Katanya, ini adalah gereja ortodox Serbia. Saat masuk kedalamnya, terdengar nyanyian puji-pujian berbahasa Arab, yang mirip sholawatan di kampung-kampung di Jawa Timur.

trieste_9

Bangunan di Kota Trieste

Bangunan yang padat, nyaris tanpa ada tumbuhan, dan suasana pantai yang sangat panas, membuat jalan-jalan di kota ini pada siang hari terasa kurang nyaman. Sepertinya, waktu ideal jalan-jalan di kota ini adalah saat senja di musim panas yang panjang. Selain tidak panas, nuansanya pun pastinya menjadi lebih romantis. Dan pemandangan dan nuansa yang akan menjadi paling istimewa di kota ini adalah duduk-duduk di kanal, melihat perahu-perahu bersandar sambil menunggu senja ditelan malam.

trieste_10

Para perahu wisata memenuhi pantai Trieste

Begitulah sedikit cerita perjalanan ku di Kota Trieste. Kota ini mengajarkan kepada ku bahwa kota yang pernah berjaya dengan sumber daya baharinya itu pernah ada dan itu nyata. Ada sebuah negeri di timur sana, yang dianugerahi sumber daya bahari yang sangat luar biasa melimpahnya, tetapi tempat terdekat dengan lautnya menjadi kantung-kantung kemiskinan yang terpampang begitu nyata. Tempat para nelayan, menyambung hidup dibawah bayang-bayang kemiskinan. Padahal kekayaan laut yang begitu melimpah, tetapi sayang kemakmuran dari hasil laut itu bukan mereka yang punya.

Di kota Trieste ini kulihat, wilayah terdekat dengan laut, menjadi pusat peradaban yang menakjubkan. Tidak hanya bangunan megah, istana pun dibangun di wilayah terdekat dengan laut. Mungkin kita perlu belajar dari kota ini, untuk mengobati kepekoan berjamaah cara berfikir kita.

 

Kapan Kita Ngopi Bareng Lagi?

… pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi – a random thought

20160825_074035

Ilustrasi : Secangkir Kopi

Duh Gusti!, waktu sudah bergulir hampir di penghujung tahun saja. November, sebentar lagi Desember dan berganti dengan tahun baru kembali, ada apa? Argh, biarlah, kehidupan senantiasa berdenyut dengan segenap simpanan rahasia-rahasianya. Tak perlu mengira-ngira, tak perlu menganalisa.

Menjelang akhir tahun begini, suhu di kota ku, semakin mendekati suhu nol derajat celcius saja. Kalau cerah, matahari muncul sebentar saja. Tetapi, lebih seringnya suasana mendung, langit tertutup mendung kelabu sepanjang hari. Terkadang hujan gerimis sepanjang hari. Dan malam pun semakin panjang dari hari kehari. Hari sudah gelap, saat pukul 16.00. Sungguh suasana yang sangat sendu, apalagi jika sampean sedang kesepian memendam rindu dendam pada orang-orang tersayang yang jauh disana. Malam-malam dingin, sunyi nan panjang, adalah waktu yang tepat untuk memperangkap diri dalam jebakan ratapan duka.

Biasanya, aku adalah penikmat kesunyian. Malam-malam panjang yang sunyi adalah waktu yang sempurna untuk asyik dengan dunia ku sendiri. Dunia mahasiswa PhD ilmu komputer, yang lebih asyik bercengkerama dengan baris-baris kode program komputer dan alam pikiranya sendiri ketimbang bercanda ria dengan anak-istri. Bahkan hingga dini hari. Tak berlebihan jika ada yang menyebut manusia nerd, yang nyaris kehilangan kemanusianya. Empat tahun sudah berlalu, masa-masa jahiliyah itu mestinya akan segera berlalu.

Belakangan, karena beban fikiran untuk menyelesiakan tesis selama bertahun-tahun itu sedikit berkurang. Aku mencoba, menghidupi hidup dengan sedikit berbeda. Diantaranya menghabiskan akhir pekan dengan keluarga di rumah, dari sebelum-sebelumnya yang lebih sering kuhabiskan di lab. juga. Dan salah satu yang kucoba untuk memulihkan rasa kemanusianku adalah minum kopi bareng teman.

Mungkin diantara sampean adalah salah satu pecandu warung kopi. Memesan, secangkir kopi, rokok, lalu larut dalam obrolan dan guyonan berjam-jam. Kebetulan aku sebaliknya, aku bukanlah penikmat obrolan di warung kopi. Sepertinya aku adalah teman ngobrol di warung kopi yang paling menyebalkan di dunia. Aku pernah berfikir bahwa ngopi bareng teman adalah kegiatan paling mubadzir di dunia, membuang-buang waktu saja. Kalau ingat itu, rasanya aku merasa paling bersalah dengan teman-teman yang dulu rajin mengajak ku ngopi bareng.

Tetapi, ceritanya sedikit berbeda dengan belakangan ini. Kebetulan di kampus ku ada sebuah tempat nongkrong paling asyik buat mahasiswa post-gradutae, namanya graduate centre. Nah, di tempat ini disediakn teh dan kopi gratis unlimited. Belakangan, aku cukup sering nongkrong di tempat ini, bahkan kadang hingga larut malam. Bukan kopi dan teh gratisnya yang bikin nikmat, tetapi obrolan dengan teman sambil menyeruput kopi panas lah yang membuat suasananya istimewa.

Rupanya, obrolan dengan bermuwajahah langsung itu tak tergantikan nuansanya dengan obrolan di whatsapp, facebook, twitter, instagram, atau aplikasi media sosial apa pun namanya. Rupanya, mendengar perspektif kehidupan dari orang lain itu begitu mengasyikkan. Ternyata, menyimak seorang kawan bertutur tentang pengalaman hidupnya itu begitu memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan. Berdiskusi, beradu argumentasi dengan kawan dari latar belakang keilmuwan yang berbeda itu jauh lebih menggairahkan dari diskusi di konferensi-konferensi internasional bidang keilmuwan yang pernah kuhadiri sebelumnya. Tak sadar, orang-orang sekolahan menganggap dunia ini bak rumah besar yang tersekat-sekat menjadi kamar-kamar, layaknya tembok-tembok fakultas di universitas. Padahal, sejatinya dunia nyata adalah rumah besar satu ruang yang dapat dimasuki dari banyak pintu, pintu pemahaman kita masing-masing terhadap dunia yang kompleks. Itulah sebabnya, mendengar perspektif orang lain itu sama pentingnya mematangkan perspektif diri terhadap dunia yang kompleks ini.

Diskusi organic sebagai manusia-manusia biasa tanpa kepentingan di `warung’ kopi memang tak ada tandingan. Sayang, seringnya kita terjebak pada kesibukan-kesibukan dan urusan-urusan sendiri-sendiri masing-masing. Bahkan jika kebetulan ada kesempatan, kadang kita lebih asyik bermain dengan gadget kita masing-masing. Kadang kita enggan bersinggungan jika tidak ada kepentingan. Pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi ini. Jadi, kapan kita ngopi bareng lagi? Kalau ada sumur di ladang, boleh kita numpang mandi. Kalau ada umur panjang, bolehlah kita ngopi bareng lagi.

 

Penggembala Rasa

… sekedar puisi-puisian di musim dingin – a random feeling

penikmat_sastra_edit

Ilustrasi: Gembala Kambing

Tuhan,
Kau telah uji aku dengan segenap rasa,
Rasa-rasa kehidupan milik Mu.

Dari yang menyesakkan rongga dada,
Hingga yang melegakanya.
Atau di antara keduanya.

Dari yang membuat jiwa melayang,
dan seluruh urat senyum terkembang,
Hingga yang menundukkan muka,
dan mengalirkan air mata.
Atau di antara keduanya.

Dari yang begitu menggairahkan hidup,
Hingga kekosongan yang mendera jiwa.
Atau di antara keduanya.

Kadang kau uji aku dengan ketakutan,
dan bayang-bayang keputus-asaan.
Kadang kau sisipkan rasa penuh harap,
dan keberanian menjalani tantangan hidup.

Kadang ku dalam kobar api dendam dan kebencian,
Kadang ku dalam dendang cinta dan kerinduan.

Kadang aku pun terjebak dalam rasa,
Yang tak bisa kuucap maupun kutuliskan

Dan,
Aku hanyalah sang penggembala rasa,
Cah angon yang menggiring setiap rasa,
Tetap menuju Mu.

Kadang aku baik-baik saja,
Kadang aku lupa dan terlena,

Kadang aku di jalan yang benar,
Kadang aku tersesat,
Kadang aku kembali.

Tuhan, maafkan segala ketidaksempurnaan ini,
Apa pun rasa kehidupan ini,
manis, pahit, getar, asam, asin, hambar,
Dan rasa yang hanya dapat dirasa saja
dengan segenap misterinya

Bimbinglah aku agar dapat menggiringnya,
Menggembalakan semua hanya menuju Mu.
Kembali ke rumah Mu, sepenuh kerinduan
saat perjumpaan dengan Mu, nanti.

Nottingham, 07/11/2016

Pemilik Rasa Ini

…. sekedar puisi-puisian menjelang musim dingin – a random feeling

snow_nott

Ilustrasi: Musim Dingin

Ada berbagai warna di dunia,
Karenanya, jadilah indah alam jagat raya,
Dan,
Tentulah Dia pemiliknya.

Ada ribuan rupa di dunia,
Karenanya, jadilah menarik panggung kehidupan semesta,
Dan,
Tentulah Dia juga pemiliknya.

Ada milyaran peristiwa di dunia,
Karenanya, jadilah bermakna cerita perjalanan manusia,
Dan,
Tentulah Dia jua pemiliknya.

Kemaren, angin musim gugur berhembus sangat kencang,
Menghempaskan nyaris seluruh daun pepohonan
Di taman bermain samping rumah ku,
Meninggalkan jutaan rasa merubung di dalam jiwa.

Saat malam-malam telah memanjang,
Dengan segenap nyanyian sunyi dan hawa dingin yang mengiringinya,
Rasa ini tumpah ruah menghajar hati,

Ku tahu, tentang rasa ini,
Untuk siapa, dan siapakah pemiliknya.
Tetapi,
Aku tak pernah tahu, untuk apakah gerangan Dia menciptakanya?

Nottingham, 05/11/2016