Tag Archives: SMP N 1 Cluring

Mengenang Guru-Guru Kami

… waktu mengajarkan pada kita, bahwa kita tak pernah tahu dengan pasti apa dan kapan yang akan terjadi di hari depan. waktu juga mengajarkan pada kita bahwa kefanaan kita adalah sebuah kepastian. Kita semua akan membusuk, hancur, untuk dilupakan atau dikenang selama-lamanya. - A Random Thought

pak_sugiarwadi

Pak Sugi, No.2 dari Kanan

07 September 2014

Inna lillahi, wainna ilaihi rojiun. Segalanya berasal dan akan kembali kepada Nya. Lagi, duka kehilangan bergelayut di hati ku hari ini kawan ! Tentang berita kematian, kepergian orang-orang yang pernah hidup di persilangan waktu dengan kita. Misteri kematian yang selalu terasa menakutkan, dan kita tidak seorang makhluk Tuhan pun, yang mampu menghitung dengan pasti, kapan dia akan datang.

Hari ini, seorang kawan memberi kabar di grup facebook alumni SMP Negeri 1 Cluring Banyuwangi, bahwa salah seorang guru kita dipanggil kembali kehadirat Allah SWT. Beliau adalah Pak Sugiyarwadi, guru Matematika kami. Setahu saya, beliau adalah guru kami yang ketiga yang dipanggil dahulu oleh Allah SWT. Sebelumnya, Pak Asmu’i Hardiadmodjo, SH dan Pak Suryadi . Berikut sedikit kenangan yang masih saya ingat dari beliau-beliau ini.

Pak Sugiyarwadi

Kami bertemu beliau waktu kami di kelas 3F, kelas kumpulan anak-anak yang katanya paling pintar se sekolah. Sebagaimana guru-guru lainya di sekolah kami, beliau adalah guru matematika yang hebat. Sayang keterbatasan memori otak saya, tidak mampu merekam semua kenangan dengan beliau.

Salah satu kenangan yang saya ingat adalah, kebiasaan beliau menyuruh salah satu dari muridnya untuk mengoreksi ujian ulangan teman-teman lainya satu kelas, tanpa diberi kunci jawaban. Saya salah satu yang pernah ketiban sampur itu. Padahal, asisten dosen di kampus saja dikasih tahu kunci jawabanya sama dosen. Ini anak kelas 3 SMP, suruh bikin kunci jawabanya sendiri. Ternyata, hal itu terulang lagi saat ini. Saat saya menjadi asisten dosen pembimbing riset S3 saya. Kenangan lainya adalah waktu beliau mengumumkan hasil olimpiade matematika se kabupaten Banyuwangi. Ada 10 orang di kelas kita yang masuk 25 besar, termasuk sayang, tapi tak satu pun yang masuk 3 besar. Justru, anak dari SMP yang tidak terkenal yang menjadi juaranya. Saya ingat betul, raut muka kekecewaan beliau saat itu.

Pak Suryadi

Beliau adalah guru Fisika kami  di kelas 2F. Kelas pojokan, paling sempit dekat kantin pojok tempat jual nasi pecel. Tetapi, kumpulan anak-anak paling pintar di antara siswa kelas 2. Penghuni kelas ini akan berubah setiap 4 bulan sekali. Siswa yang nilai raport nya lebih rendah dari nilai siswa dari kelas lain, maka dia harus merelakan kursi panasnya direbut oleh siswa dari kelas lain tersebut. Keadaan kelas yang sangat kompetitif sekali. Keadaan ini, membuat bisnis les-lesan private laris manis.

Tentang teori Fisika Pak Sur ini jangan ditanya lagi kemahiranya. Semua konsep-konsep fisika sudah hafal di luar kepala. Sehingga, beliau kalau mengajar  tidak pernah sekalipun membawa buku.  Berbagai konsep dan rumus fisika yang rumit itu menjadi begitu mudah dipahami dan diingat jika beliau yang menyampaikan. Beliau juga punya cara unik agar rumus-rumus fisika itu mudah diingat dan dipahami. Namanya: Rumus Segitiga.  Ada satu kata yang sering diucapkan beliau, yaitu kata mboys. 

Piye Rek, tulisan ku mboys to?

Dengan cara pelafalan kata mboys beliau yang khas, dan selalu disambut oleh senyum dan tawa kecil murid-muridnya.

Satu lagi yang unik dari beliau adalah ujian lisan. Berbeda dengan kebanyakan guru lainya yang biasanya selalu mengadakan ujian tulis untuk setiap ulangan, beliau sering sekali mengadakan ujian lisan. Kita dipanggil ke depan secara acak oleh beliau, kemudian dikasih pertanyaan misterius yang spontan keluar dari kepala beliau. Biasanya hanya 3 pertanyaan dari berbab-bab materi yang diujikan. Dan setiap siswa akan mendapatkan pertanyaan yang berbeda. Duh, deg-degan nya bikin rasanya pengen kencing berdiri.

Selepas jam sekolah, beliau mengadakan les privat fisika di kediaman beliau yang tidak jauh dari sekolah kami. Sayang, les privat tersebut tidak gratis. Sehingga, saya tidak pernah ikut les privat di rumah beliau. Walaupun demikian, beliau dengan kebaikan hatinya selalu memberi nilai 9 di raport saya, nilai tertinggi  karena sepanjang sekolah kami, belum pernah ada nilai raport sempurna 10 saat itu. Beliau sering sekali mengatakan di depan kelas:

Masio, kalian ikut les privat di tempat saya, bukan jaminan kalian akan mendapatkan nilai bagus. Begitu juga sebaliknya !

Beliau orangnya sangat tenang, kalem, irit bicara. Tetapi, sering bercerita tentang hal-hal di luar pelajaran Fisika.

Pak Asmu’i Hardiadmodjo, S.H

Beliau adalah kepala sekolah kami yang fenomenal. Gebrakanya out of the box. Beliau yang membuat program kelas unggulan, program lab. bahasa inggris, lab. komputer di sekolah kami. Beliau juga yang mengadakan program lomba kelas terbersih setiap minggunya, serta memberi bendera hitam untuk kelas terkotor. Dalam hal akademis, beliau memasukkan muatan lokal seni tari dan peternakan dalam kurikulum sekolah kami. Masih ingat sekali, dahulu waktu kelas 1, kami disuruh membuat mesin penetas telur.

Meskipun bergelar Sarjana Hukum, Pak Asmu’i  adalah seorang budayawan tulen, khususnya budaya osing banyuwangi. Beliau memiliki sanggar karawitan di rumahnya. Pun, kegiatan ekstrakurikulur seni tari dan karawitan di sekolah kami adalah satu yang maju pesat saat itu, disamping ekstrakurikuler Drum Band. Karena budayawan, di sekolah kami banyak sekali patung-patung. Di Gerbang pintu masuk sekolah, ada patung perempuan penari gandrung, bertuliskan selamat datang di kampus 289 (kode UU no 2. tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional). Belum lagi, patung raksasa tokoh Bima sedang bertarung dengan naga, yang dikisahkan dalam lakon wayang Dewa Ruci, di tengah-tengah lapangan sekolah kami.

Waktu kami kelas 3, beliau dipindah tugaskan di SMA Negeri 1 Genteng, salah satu SMA terbaik di Kabupaten Banyuwangi. Karena, hampir semua teman-teman saya satu kelas di SMP hanya pindah kelas saja di SMA ini, teman-teman akhirnya bertemu lagi dengan beliau. Saya salah satu sedikit pengecualian, yang memilih melanjutkan di pesantren ketimbang melanjutkan ke SMA umum.

Setiap dari beliau-beliau ini telah membentuk kami-kami sekarang. Alhamdulilah, senang sekali melihat teman-teman sekelas SMP saya ini sukses menjalani karir nya masing-masing. Tujuh  di antara kami sudah menjadi dokter, ada juga yang berprofesi sebagai apoteker, insinyur, akuntan, pengusaha, dan profesi lainya yang dipandang sukses oleh masyarakat pada umumnya.

Pastinya, kita semua merasa kehilangan dengan kepergian beliau. Kami akan selalu mengenang nya, meskipun tak lagi mungkin berjumpa lagi dengan beliau di dunia fana ini. Tetapi, ilmu yang telah ditularkan beliau akan selalu hidup di antara kita para murid-muridnya. Ilmu yang bermanfaat, yang akan selalu mengalir pahalanya, meskipun beliau-beliau sudah tiada. Untuk guru-guru kami yang sudah tiada, semoga diberi syurga yang terindah disisiNya. Untuk beliau-beliau semuanya, lahumul fatihah ………


When I remembered Who I was

20130510_212754

It was Friday (10/05/2013). Again, I felt the time went so swiftly. It was near to the middle of May, and I felt I had done nothing for my PhD Journey. Today, I made a little but great change in my PhD life. You know what was it?  I went to campus at 6 am in the morning. It was the most earliest time I was leaving for campus recorded so far. It was great. I felt so happy in the morning. The lab was still very quite and my mind was ultimately fresh. It was a perfect time to study, indeed. Really, I enjoyed to start my activities at the very early morning. Starting from that time on, I promised to my self to go to the campus very earlier in the morning.

Thanks God. I was quite encouraged and vigorous. The thing that reminded me to be fully encouraged was my memory of my childhood. This lonely tearful long PhD Journey rang me the bell of my childhood.

**

When I was at Elementary School i.e. SDN Plampangrejo 3, and Yunior High School i.e. SMP N 1 Cluring Banyuwangi, I was so simple, modest, lonely, very hard-working and extremely diligent student despite of all my limitations When I was Elementary school student, Every morning at 06.30 am I must go to the school on foot while majority of my friends went to the school by their bicycle. Still recorded in my mind, everyday I must walks through paddy field, in very terribly bad footpath to the school that was also located in the midlle of paddy field. When it was raining, my parent had no money to buy me even a very cheap umbrella. I just sheltered myself  and more importantly my bag containing my hand-written note book from the rain under a banana leaf.  When the rain was so very heavy, frequently my uniform and book were so wet.

The only learning resource I can access was my hand-written notebook.  I wrote everything what my teachers taught in the class on my shabby thin, low quality paper  notebooks. My parents had no money to buy me high quality paper notebooks such as “Sinar Dunia” books. The brand that I really wanted to because it was advertised too much on the Television. But I never had ones.  I learnt solely from that book at night. My school had no library providing books, magazines, to be borrowed by the students. For sure, I had no text books. It was surely unaffordable for students from family in very rural village, where I was living. However, I was the only student who was very lucky. Because, one of my teachers, Bu Hariani, kindly borrowed me a textbook for Bahasa Indonesia subject.

That was the only textbook I had, when I was at 4th, 5th, and 6th Grade. I really owed a huge debt to her very much. Oh God, please give her full of your blessing in her life. Despite of the very bad learning facilities, I was very happy I had ever won a math competition at  district level.  Finally, I graduated from the elementary school with very excellent national examination mark. I got 43.54  of 50.00, while the average of my classmate mark was only 23.00. My elementary school tenure must be very painful, but I felt it was not. I never felt that what I had at that time was so phatetic.

When I was a Junior High school student the condition was even worse. I must went to the school located at the city from the village where I was living by bicycle for 15 km distance one way. In other words, I must travel for 30 km everyday. Since, the school started at 06.30 am, I must left my home at around 05.30 am in the morning. What a terribly too far distance to be traveled by bicycle, Indeed. Frequently, I had problem with my bike such as puncture and  broken chain on my way to or from the school. If that happened, the situation became much more terrible, since I must walk with my bicycle.

I was in the class where all the students were very smart. It was an excellent class program, in which the students were 40 students with the highest mark selected quarterly from all students in the same level.  It was really not easy for me to adapt, to make friend with my class mates. I was extremely inferior. I felt I was the most stupid student in the class. I felt I would never survive with them. Since, they were from rich family, the looked very smart in my eyes.

I felt very lucky with my new school. It was much better than my prior school in elementary level. The school provided quite self-contained a bunch of books collection that I can borrow for free. I also had excellent teachers who were very expert in their own expertise. My school also had very prominent laboratories such as English lab, Natural Sciences Lab, Computer Lab. as well as sport facilities.

In this school I was a very study oriented, self-centered student. I had no another life but to study. But, it was typical student in my class. Because if we had worse mark than the other students from other classes mark, we should be ready to be kicked out from the class. Fortunately, I did enjoy studying very hard at that time. In the school,  I heavily owed debt with one of teachers namely Bu Mahmudah. She was the one who made me got scholarship from the government. I was so grateful.

It was so painful that finally paid off  at the end I was at the school. When I graduated from the school, I achived the best result on the final national examination.

**

Remembering all those memory really gave me recharging energy to keep carry on my PhD journey. When I felt so sad and down, I told to my self that I used to dealing with those kind of feeling and you had proven that you were able to succeed.

*

20130510_212832

In the morning, I was working on my First Year Review Report and reading the latest journal of the operational research society until Jum’at prayer time. I went to Protland building for Jumah prayer after wards. I really enjoyed this moment, to meet with my brothers in Islam. Seeing their sincere smiles, shaking their warm hands really could erase all sorrow and sadness in my heart and replacing them with genuine happiness.

20130510_161952

Afterwards, I went to Hyson Green before finally I went back to the lab in the campus until at around 11 pm at Night. Thanks God, for the day.


Laskar Kempyeng: sebuah romansa masa lalu yang meneguhkan.

foto_SMP

…terkadang kita perlu menoleh ke belakang, untuk meneguhkan kembali langkah kita ke depan. terkadang kita juga perlu mundur satu, dua langkah untuk meloncat jauh lebih tinggi ke depan.

01 Januari 2013

Akhirnya, kita ditakdirkan untuk tetap melanjutkan cerita  hidup, merajut mimpi-mimpi, dan menggerakkan roda-roda kehidupan kembali di awal tahun 2013. Ternyata ramalan suku Maya akan kiamat di penghujung akhir tahun 2012 tidaklah benar. Yah, begitulah ternyata ramalan itu  hanyalah tinggallah ramalan. sebuah ramalan yang memang seharusnya tidak selalu benar.  Di pagi hari di pembuka tahun 2013 itu, sinar matahari pagi menerobos jendela kaca kamar ku di lantai dua. Tak seperti biasanya, matahari yang biasanya malas-malasan menampakkan diri di musim dingin ini, hari ini dia terlihat begitu sangat cerah. Sinarnya menantang ranting-ranting pepohonan yang sudah kehilangan semua daun-daun nya pada saat musim gugur sebulan sebelumnya. Matahari pagi itu, seolah memancarkan semangat, harapan, dan mimpi-mimpi baru untuk para penghuni bumi Nottingham.

Tetapi, tidak demikian pula adanya dengan ku. Ketika orang-orang dengan semangat  menulis resolusi-resolusinya di tahun 2013 ini, aku hanya datar-datar saja. Dalam hati kecilku, aku berkata yah yang akan terjadi ya terjadilah. Entah kenapa, hari itu yang aku jadwalkan untuk pergi “ngelab” di kampus, berubah menjadi acara “leyeh-leyeh” di kamar. Aku tahu, ini hari adalah hari libur, tapi aku tak pernah merasa semalas ini. Berlindung di balik duve-selimut tebal dalam kondisi masih sarungan, bersandarkan bantal, ditemani tumpukan buku, tumpukan thesis, sebuah netbook, dan sebuah mainan baru i.e Kindle. di dalam kamar sendirian, oh itu adalah sebuah kondisi untuk bermalas-malasan yang sempurna. Aku coba sesekali untuk membaca sebuah paper: “Variable Neigborhood Search”  di kindle baru ku, nyaman sekali memang seperti membaca sebuah tulisan dalam kertas, membuat aktivitas membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tetapi  begitu ketemu formula, simbol matematis,  dan grafik mataku segera beralih ke netbook. Yah, apalagi kalau bukan mantengin facebook. Ngeliat resolusi teman-teman di tahun 2013, status pemujaan pesta malam tahun baru, bahkan status hujatan kegiatan sia-sia dari sebuah perayaan tahun baru.

Sampai suatu saat mata ku tertahan lama pada sebuah foto yang di posting oleh seorang kawan saya, Bima Indrawan di group teman SMP N 1 Cluring. Sebuah foto jadul sekitar tahun 1996 pada saat kami duduk di kelas 2, kelas 2 F tepatnya. Aku benar-benar tertegun dengan foto itu, tak bosan-bosan nya ku pandangi foto lama itu. Foto bocah-bocah SMP yang lugu  nan bersahaja sedang bermain “kempyeng” i.e. tutup botol di dalam sebuah kelas yang sangat sederhana. Kempyeng adalah permainan tradisional sederhana yang menggunakan 5 tutup botol. Saya tidak yakin, apakah jaman sekarang masih ada yang melestarikan permainan sangat sederhana itu. Itulah kondisi kelas kami, 16 tahun yang lalu. Kelas F adalah kelas Unggulan di sekolah kami pada saat itu. Setiap catur wulan selalu ada perubahan komposisi siswanya, tergantung peringkat nilai raport yang di rangking satu sekolah. Hanya 40 siswa dengan nilai raport tertinggi setiap catur wulan lah yang akan menghuni kelas “panas” F. Begitulah, cara kepala sekolah kami pada saat itu, Bapak Asmui Hardiadmodjo, S.H. untuk memacu semangat belajar siswa siswinya, di sekolah pinggiran selatan kabupaten Banyuwangi. Yang konon pada saat itu, meskipun sekolah pinggiran, tetapi merupakan salah satu sekolah SMP terbaik di kabupaten Banyuwangi. Hampir setiap tahun nya, Nilai Ebtanas Murni (NEM) nya selalu terbaik seantero kabupaten Banyuwangi.

Ingatan masa lalu

Foto itu, membawa anganku kedalam pusaran romansa kenangan masa lalu. Foto itu mengingatkanku, masa kecilku yang harus mengayuh sepeda ontel bersama kawan-kawan, sejauah 12 kilo meter dari desa kami tinggal, Plampangrejo,  menuju sekolah yang terletak di kecamatan Cluring itu. Menembuh dingin nya pagi, menyusuri pinggiran sungai, dan menerobos hamparan sawah yang begitu luas di lereng gunung raung. Masih teringat jelas, gagahnya gunung raung yang terlihat begitu memesona di setiap pagi-pagi kami. Foto itu juga mengingatkan ku bahwa kami pernah kehujanan, basah kuyup, di kala musim hujan tiba. Foto itu juga mengingatkan kami akan sosok guru-guru kami yang luar biasa. Ada Pak Imron, wali kelas kami, guru matematika yang terkenal kalau membuat soal ulangan, susahnya minta ampun. Saya bahkan pernah dapat nilai NOL, benar-benar memalukan. Tidak hanya itu saja, Pak Imron punya tradisi untuk memanggil muridnya satu persatu maju kedepan. Di kasih satu pertanyaan, di luar materi yang pernah beliau sampaikan. Jikalau tidak bisa menjawab dengan tepat pertanyaan itu, maka penggaris kayu panjang warna coklat itu akan menyabet dengan ganasnya di kedua kaki kami.

Saya masih ingat betul, saya disuruh maju dan di kasih sebuah pertnyaan i.e. Apakah diagonal itu? dan akupun menjawab: sebuah garis yang menghubungkan antara 2 sudut yang berhadapan. Tetapi jawaban itu sama sekali tidak menyelamatkanku dari sabetan penggaris bertuah itu. Nyaris hampir semua teman-teman pernah merasakan sabetan penggaris bertuah itu. Begitulah cara Pak Imron mengajari kami untuk belajar sangat-sangat keras tidak hanya sebatas materi dari yang disampaikan oleh guru saja. Begitu juga dengan Guru Fisika kami, Pak Sur, yang selalu mengadakan tes lisan selain tes tulis. Dan tidak hanya Pak Imron dan Pak Sur saja, kami memiliki guru-guru lain  yang luar biasa.

Dan kini,

Kini sudah 16 tahun berlalu, kami para laskar kempyeng (sebutan yang diberikan oleh kawan saya, Bima Indrawan) sudah memiliki kehidupan masing-masing. Satu hal yang aku rasakan kini adalah kebanggan yang luar biasa atas teman-teman ku. Meskipun dari sekolah pinggiran di pelosok kabupaten paling ujung di propinsi Jawa Timur, tetapi teman-teman ku sudah membuktikan bahwa mereka bisa meraih mimpi nya masing-masing. Sedikitnya 6 orang dari kelas kami yang saat ini berprofesi sebagai dokter, banyak juga yang bekerja di perusahaan mentereng di ibu kota jakarta, ada yang jadi Polisi, Pegawai Negeri, bahkan wirausahawan yang sukses, intinya mereka sudah membuktikan bahwa, kesederhanaan dan keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih mimpi setingi-tingginya.

Refleksi Diri,

Mengingat masa SMP yang penuh dengan keterbatasan tetapi dengan semangat luar biasa itu kini aku jadi malu. Aku yang saat ini diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar di salah satu 75 kampus terbaik di dunia, di salah satu 10 kampus terbaik di Inggris dengan fasilitas belajar dan kesempatan yang sungguh luar biasa. Sebuah kampus yang konon adalah syurganya bagi para penuntut ilmu. Sebuah kampus, yang diantara dosen-dosen nya adalah penerima Nobel di dunia.

foto_kampus

Tetapi Oh kenapa, semangat ku tak menggebu seperti dulu?

Trent Building

Tuhan, maafkanlah aku. Terima kasih kawan atas foto itu, yang meneguhkan ku kembali untuk bersemangat menuntut ilmu. Terima kasih, guru-guru SMP ku, ingatan akan diri mu, menggugah kembali semangat belajar ku seperti dulu.

foto_kampus2

Nottingham. 02-01-2013; 21:49, Automated Scheduling Optimization and Planning  Lab., School of Computer Science, University of Nottingham, UK.

Acknowledgement:

(1) Bima Indrawan for the valuable photo.
(2) Kempyeng, http://ohperantau.blogspot.co.uk/


Arfiandhani

A Snapshot

Fathul Wahid

Just another humble person

Sketsa Umar Kayam

Mangan Ora Mangan Kumpul

Langsung Kunjungi DZOFAR.COM Saja Ya!!

Abaikan Blog ini Kakak. Blog saya DZOFAR.COM yah.. Terimakasih..

duniadev

satu kisah biasa

Tulisan-ku

collection_of_my_stories_,_thoughts_,_imaginations_,_etc

Agustri Weblog

Mari Bercerita,

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,390 other followers